Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Berenang


__ADS_3

Sean terlihat ragu ragu untuk memasukkan mobilnya. Dia menatap Sean jika Tini benar benar berkata serius. Tini meyakinkan Sean untuk masuk. Akhirnya Sean menurut dan memasukkan mobil itu ke halaman rumah Tini. Tini turun dari mobil dan menghampiri pos satpam. Tini terlihat berbicara dengan salah satu satpam. Kemudian Tini kembali ke mobil dan menyuruh Sean untuk turun.


Sean menurunkan kakinya masih dengan ragu. Ketika Sean sudah menutup pintu mobil. Tini menarik tangan Sean untuk memasuki rumah mewah itu. Senyum bahagia terukir dari wajahnya. Tini benar benar dapat merasakan cinta Sean yang teramat besar dan tulus kepadanya. Berbeda dengan Sean yang seakan segan untuk masuk. Jantungnya berdebar, berjumpa dengan calon mertua untuk kedua kalinya. Apalagi ini masih jam kerja. Sean takut kedua orang tua Tini menganggapnya sebagai pria pemalas.


"Kedua orang tuaku dan kedua kakakku tidak ada di rumah kak. Meraka ke luar kota untuk mengunjungi nenekku. Tenang saja!" kata Tini seakan mengetahui apa yang ada di pikiran Sean. Tini bahkan berani memeluk pinggang Sean. Sean bukannya merasa lega justru merasa tidak enak. Lebih baik berkunjung ke rumah ini ketika kedua orang tua Tini berada di rumah daripada berkunjung seperti ini tanpa orang tua Tini.


"Kenapa kamu tidak ikut?"


"Aku tadinya tidak ingin bolos kuliah, tapi tanpa ikut dengan mereka tetap saja aku bolos karena kak Radit. Aku tidak tega melihat dia tadi bersedih kak. Wajahnya seperti wajah orang bodoh tadi," jawab Tini sambil menghempaskan bokongnya ke sofa. Sean ikut duduk di sebelahnya.


"Jangan sering sering bolos. Apalagi karena alasan seperti itu. Itu tidak baik sayang."


"Oke kak, bolosnya pas di hari kita nikah saja ya!" jawab Tini sambil tersenyum. Sean juga tersenyum dan mengacak rambut Tini. Tini selalu bisa bercanda di setiap perkataan yang dia dengar.


"Kamu serius bersedia menikah dengan aku secepatnya?"


"Sangat bersedia kak. Apalagi melihat Airia dan si kembar. Ingin rasanya aku hamil kembar Lima biar bisa mengalahkan orang itu," jawab Tini serius. Sean menjangkau kepala Tini dan menyandarkan di lengannya. Melihat kebahagiaan Sinta dan Andre. Tini juga ingin merasakan kebahagiaan berumah tangga seperti sahabatnya itu. Apalagi dia dan Sean saling mencintai. Tini yakin mereka akan bahagia nantinya.


"Aku justru tidak suka jika harus kembar sayang. Kasihan kamu. Melihat Vina saja aku tidak tega apalagi kamu."


"Sesudah lahir, terbayarkan rasa sakit itu kak. Tidak apa apa. Kembar tiga juga gak apa apa. Anak kita nantinya pasti lucu lucu," jawab Tini serius. Sean terkekeh sambil membelai rambut Tini. Jauh di lubuk hatinya. Sean juga ingin mempunyai anak seperti kedua sahabatnya. Tetapi untuk itu dia butuh restu dari kedua orang tua Tini. Jika kedua orang tua Tini belum memberi restu. Sean sudah menyiapkan hatinya untuk menunggu Tini sampai lulus kuliah. Dia tidak akan menikahi Tini tanpa restu orangtuanya.


"Tini, ada Cctv tidak?"


"Ada. Kenapa kak?"


"Aku ingin mencium bibir kamu supaya berhenti berbicara bayi kembar," jawab Sean sambil tertawa. Dia menyentuh bibir Tini lembut dengan ujung jari telunjuknya. Dari tadi melihat bibir Tini yang bergerak ketika berbicara membuat Sean ingin melahap bibir itu.


"Aku matikan Cctv nya ya kak," kata Tini polos sambil menangkap jari telunjuk itu.


"Tidak perlu. Berhentilah berbicara bayi kembar supaya aku tidak mencium bibir kamu," jawab Sean. Bagaimanapun ini bukan tempat yang tepat untuk berciuman. Dia hanya sebagai tamu yang harus mengerti tata krama bertamu.


"Tapi aku serius loh kak, aku ingin mengandung bayi kem...." Tini tidak bisa melanjutkan perkataannya. Karena bibir Sean sudah mendarat cantik di bibirnya. Sean tidak perduli lagi dengan Cctv dan tata Krama bertamu. Yang ingin dia rasakan adalah melahap bibir mungil itu yang terus mengoceh. Hingga ciuman di mobil tadi kembali terulang di ruang tamu. Sean dan Tini seakan tidak menyadari tempat dimana mereka berada. Bahkan ciuman di mobil tadi tidak ada apa apanya dibandingkan yang terjadi di ruang tamu ini. Tini bahkan sudah berbaring di sofa panjang itu dan Sean diatasnya. Tidak ingin berbuat lebih jauh lagi. Sean melepaskan bibirnya dari bibir Tini. Dia menatap wajah kekasihnya itu dengan lembut. Seperti biasa, Tini merasa malu jika sudah selesai berciuman.

__ADS_1


Tini mendorong kepala Sean lembut dan Tini kembali duduk di sofa. Keduanya sama sama tertawa ketika menyadari jika perbuatan mereka semakin berani. Tini beranjak dari duduknya dan menarik tangan kekasihnya menyusuri rumah itu hingga ke belakang rumah.


"Bisa berenang kak?" tanya Tini. Mereka sudah berada di tepi kolam renang milik keluarga Tini.


"Bisa tapi tidak begitu mahir," jawab Sean sambil memijit hidungnya. Sean memang tidak pandai berenang. Sedangkan Tini mengerutkan keningnya. Dia masih ingat Sean mengatakan Edwin bodoh karena meminta Tini untuk mengajari berenang. Tini jadi penasaran.


"Tidak begitu mahir atau sama sekali tidak bisa?" tanya Tini sambil tersenyum menggoda. Sean hanya mengangguk. Tini tertawa terbahak-bahak.


" Sok mengatakan Edwin bodoh ternyata sama sama bodoh. Aku akan mengajari kakak," kata Tini lagi. Sean terkekeh dan mencubit pipi Tini pelan. Tini menyuruh Sean untuk mengganti bajunya di kamar Tini.


"Tini, kita cari kegiatan lain selain berenang ya."


"Kenapa kak, Ayolah. Bosan hanya duduk sambil berbicara. Yuk. Ganti baju kakak. Aku punya celana pendek untuk kakak pakai berenang." kata Tini bersemangat.


Sean masih berdiri di tempatnya semula. Dia merasa tidak enak jika harus masuk ke kamar Tini. Apalagi kedua orang tua dan kedua kakak Tini tidak di rumah. Sean takut mendapat penilaian negatif dari calon mertua. Jika suatu saat nanti kedua orang tua Tini mengetahui dirinya masuk ke kamar Tini sebelum menikah. Apalagi banyak art di rumah ini. Sean kembali merasa takut. Jika dia masuk kamar Tini dan salah satu dari art itu melapor ke orang tua Tini.


Tapi rasa takut dan rasa tidak enak hati itu hanya bersarang di otaknya. Ketika Tini menarik tangannya untuk memasuki kamar, Sean tidak bisa menolak. Sean menurut menaiki tangga itu satu persatu hingga masuk ke kamar Tini. Bahkan seperti terhipnotis, Sean membuka bajunya dan mengganti celananya dengan celana karet milik Tini. Sedangkan Tini juga mengganti pakaiannya di kamar mandi. Sean menarik nafas lega. Tini tidak memakai baju renang melainkan memakai celana pendek dan kaos oblong. Dia tidak bisa membayangkan jika Tini memakai baju renang di saat mereka berduaan. Sebagai pria dewasa. Sejujurnya Sean takut khilaf. Apalagi ketika mengingat berciuman di sofa tadi. Jika tidak takut dosa. Mungkin mereka sudah berbuat semakin jauh.


"Tini, bisa minta tolong kepada salah satu art kamu untuk membeli segitiga pengaman untuk aku?" tanya Sean setelah mereka berjalan menuruni tangga. Dia tidak melepaskan segitiga pengamannya. Walau Tini adalah kekasihnya. Sean masih punya rasa malu jika burung merpati itu tidak memakai sangkar. Sean malu jika burung merpati itu tercetak sempurna jika celana karet yang dikenakannya nantinya basah.


Tini mengejutkan Sean dengan mengendap dari belakang tubuh Sean. Sean duduk di tepi kolam dengan kaki menjuntai ke kolam. Pria itu spontan terjatuh ke kolam karena Tini tidak sengaja mendorong tubuhnya. Tini langsung melompat dan memegang tubuh Sean.


"Kakak benar tidak bisa berenang?" tanya Tini heran setelah mereka berdiri di dalam kolam. Sean hampir saja tenggelam. Bagai botol yang masuk ke air. Air kolam sudah mulai masuk ke mulut Sean. Jika Tini tidak cepat melompat, entah apa jadinya Sean hari ini. Sean memukul dadanya dan batuk. Air yang sempat masuk ke mulutnya tidak bisa dikeluarkan lagi.


"Kan sudah kakak bilang tadi tidak begitu mahir. Kakak hanya bisa berdiri seperti ini. Untung kolamnya dangkal kalau tidak, kamu pasti kehilangan aku," jawab Sean setelah tenang. Sean berkata sambil merajuk. Dia hanya mengalihkan perhatian Tini supaya tidak mengejeknya. Dan terbukti, Tini terlihat sangat khawatir dan mengajak Sean merapat ke dinding kolam renang.


Jarak yang sangat berdekatan itu lebih tepatnya tubuh Tini yang lengket ke tubuh Sean. Sebenarnya membuat desiran aneh di sekujur tubuh Sean. Apalagi tubuh atas Sean yang tanpa kulit menyentuh tubuh Tini. Sean dapat merasakan sesuatu yang tidak harus berdiri kini sudah berdiri tegak. Sedangkan Tini dengan polosnya masih memeluk Sean hingga mereka bisa bersandar di dinding kolam itu.


"Kak, mau kan aku ajarin berenang."


"Iya mau sayang," jawab Sean. Dia ingin mengalihkan sesuatu yang sudah berdiri tegak itu dengan melakukan kegiatan.


Tini memberi pengarahan ke Sean bagaimana caranya berenang. Cara mengapungkan diri dan bernafas ketika di dalam air. Dengan telaten Sean belajar dengan bantuan Tini. Mereka tertawa bersama jika Sean lupa apa yang diajarkan Tini. Terkadang Tini memegang tubuh Sean ketika pria itu belajar mengapungkan dirinya. Hingga perlahan ,Sean bisa berenang sedikit. Dan yang berdiri tadi kini menjadi loyo. Sean merasa lega.

__ADS_1


Setelah menyadari berenang itu ternyata asyik, Sean semakin ingin belajar dan banyak bertanya ke Tini. Tini dengan senang hati mengajari kekasihnya. Tini merasa bangga dan bahagia bisa menjadi seseorang yang berarti untuk Sean. Mungkin ini adalah salah satu pengalaman yang tidak terlupakan kelak dan akan mereka ceritakan ke anak cucunya nanti.


"Ayo kak, semangat," kata Tini ketika Sean belajar berenang dengan jarak tempuh dua meter. Sean tentu saja bersemangat. Sean tergolong orang yang cepat dan bisa menangkap apa yang diajarkan Tini. Berbeda dengan guru olahraga yang mengajari dirinya dulu berenang. Sean tidak berminat sama sekali. Tetapi dengan Tini, Sean bersemangat dan sudah mulai bisa berenang.


"Sudah hampir bisa kak," kata Tini bersemangat. Sean tersenyum bangga.


Sean menatap tubuh Tini yang sudah ke luar dari kolam renang. Sean juga sudah duduk di tepi kolam renang tersebut. Kaos oblong Tini yang basah mencetak lekuk tubuh sang kekasih. Sean bisa melihat lekukan tubuh Tini yang ternyata sangat bagus. Pinggang yang ramping dan bokong yang padat sungguh menggoda imannya. Ternyata selama ini ,Tini menyembunyikan body yang bagus dengan memakai kemeja yang selalu terlihat longgar.


"Ini kak," kata Tini sambil menyodorkan minuman kaleng kepada Sean. Sean mengulurkan tangannya dan menyuruh Tini duduk di sebelahnya. Dia menatap wajah Tini, Sean bisa melihat kecantikan alami dari kekasihnya. Rambutnya yang basah dengan wajah yang segar membuat Sean meneguk ludahnya. Ingin rasanya dia menyambar bibir yang terlihat memucat itu. Sean berusaha menahan keinginan itu. Dia tidak ingin salah satu art melihat, jika dia melakukan hal itu.


Tini mengayunkan kakinya di dalam air. Sesekali kepalanya menoleh ke Sean. Dia tidak menyadari bahwa Sean sedang mati matian berusaha menahan keinginannya untuk mencium Tini. Andaikan mereka di mobil atau di tempat lain, Sean sudah pasti menyambar bibir itu. Bibir yang selalu membuat bibirnya tersenyum. Setiap mengingat ciuman pertama mereka, Sean terkadang seperti orang gila.


"Tini, bisa kamu ambilkan pakaian aku tadi?" kata Sean. Lebih baik menyudahi berenang ini daripada merasakan sesak di bagian inti tubuhnya. Tini yang tidak menyadari dan tidak mengetahui keadaan Sean, mengajak pria itu kembali belajar berenang. Sean dengan tegas menggelengkan kepala. Dia tidak mau khilaf dan berbuat melewati batas normal berpacaran. Bagaimanapun, dirinya adalah pria dewasa. Dia takut untuk mengulang kegiatan di sofa tadi.


"Tini, ambilkan pakaian aku sayang. Aku sudah sangat kedinginan," kata Sean lagi. Dia berharap ini alasan yang tepat untuk menyudahi berenang. Dia berharap Tini secepatnya mengambil pakaiannya. Hatinya sedikit tidak tenang tanpa tahu apa penyebabnya.


Tini cemberut, dia menginginkan lebih dari sekedar berenang. Tini memukul tangan Sean karena kesal. Dia ingin melanjutkan sesuatu terjadi di mobil dan di ruang tamu tadi. Untuk memulai terlebih dahulu, Tini merasa malu. Tini menunggu Sean untuk memulai. Tetapi Sean justru menyuruhnya untuk mengambil baju ganti.


"Kenapa cemberut sayang?"


"Tau ah. Malas," jawab Tini kesal. Sean memegang bahu Tini membuat mereka duduk berhadapan.


"Kenapa?" tanya Sean lagi penuh selidik. Dia merasa tidak membuat kesalahan apapun.


Tini memajukan bibirnya beberapa centi. Sean terkekeh kemudian mencubit kedua pipi Tini dengan gemas.


"Cctv tidak ada disini kak," kata Tini. Tini sengaja memberi sinyal kepada Sean untuk menciumnya.


"Art kan ada Tini. Ini bukan tempat yang aman untuk itu," jawab Sean. Tini kembali memajukan bibirnya beberapa centi. Sean bukannya tidak mengerti keinginan Tini. Tapi entah mengapa hatinya berkata tidak untuk melakukan itu.


Cup


Tini akhirnya memberanikan diri untuk mencium Sean terlebih dahulu. Awalnya Sean ragu untuk membalas ciuman itu, tapi akhirnya Sean kalah. Godaan ini sungguh membuat Sean tidak bisa mengendalikan diri. Sean bahkan membalas ciuman itu dengan rakus. Tangannya juga sudah ikut berpetualang di tubuh Tini.

__ADS_1


Tini dan Sean sama sama melepaskan ciuman itu. Suara yang menggelegar membuat keduanya terkejut. Tini membalikkan tubuhnya dan melihat sang papa berdiri di ujung kolam.


__ADS_2