
Tini menggenggam tangan Sean erat. Telapak tangan itu sudah dingin. Tini menatap Vina yang juga sudah mulai curiga tentang si Banka. Tini sungguh takut jika niat membantu Radit hari ini akan membuat Vina kecewa akan mereka. Akhirnya Tini menunduk. Ini lebih bagus daripada harus menatap Vina dan Hendrik yang masih menatap Radit penuh selidik.
Sama seperti Tini, Andre juga merasa tidak enak dengan situasi seperti ini. Andre menatap Radit dan Hendrik secara bergantian. Radit masih posisi seperti semula. Berakting seperti yang disebutkan Tini. Bisu dan Tuli. Dalam hati, Andre berharap Radit lebih baik membuka jati dirinya daripada harus berakting seperti itu. Radit harus bersikap gentleman daripada harus meneruskan aktingnya pura pura buta dan bisu.
Vina semakin mengamati si Banka. Dari kepala botak sampai ke ujung sepatu. Dari penampilan Radit yang seperti itu, Radit memang bisa mengelabui Vina dan Hendrik. Tetapi sebagai istri yang sudah hidup selama tiga bulan di atap yang sama. Vina bisa mengenali Radit dari tahi lalat kecil yang ada di punggung tangan kanan Radit. Apalagi postur tubuhnya yang tidak bisa berbohong. Vina menarik nafas panjang kemudian menoleh ke arah papanya yang masih betah di kamar itu menunggu Banka untuk membuka masker dan kaca mata hitam.
Vina sudah tahu dan sangat yakin jika Banka itu adalah Radit. Vina diam dan tidak akan memberitahu papanya. Biarlah hari ini mereka kecolongan. Tapi entah mengapa, melihat usaha Radit sampai sejauh ini. Tidak ada rasa marah di hatinya baik ke Radit maupun ke para sahabatnya.
"Kenapa belum dibuka?. Apa kalian semua menyembunyikan sesuatu dari kami?" tanya Hendrik penuh penekanan. Tini semakin mengeratkan genggamannya di tangan Sean. Sedangkan Sinta juga langsung meraih tangan Andre dan menggenggamnya. Radit juga menjadi ragu, membuka maskernya atau terus berakting menjadi orang bisu dan buta.
"Biar saja pa, jangan memaksa dia membuka maskernya. Itu hak dia. Dia hanya mengikuti Tini kemari," kata Vina pelan. Dia tidak ingin papanya murka bila mengetahui yang sebenarnya.
"Baiklah. Tetapi aku rasa daripada pakai masker dan kaca mata hitam. Lebih bagus dia datang kemari pakai daster. Dengan seperti itu, aku mungkin bisa tidak mengenalinya. Kamu salah. Aku tahu kamu Radit," kata Hendrik menyindir dan langsung menebak. Tebakannya benar.
"Om, boleh kita berbicara di ruang tamu saja?" kata Andre hati hati. Andre beranjak dari duduknya dan mengajak Hendrik untuk keluar dari kamar itu. Hendrik menurut setelah kembali menatap penuh kebencian ke Radit. Tini, Sinta dan Cici merasa lega. Mereka mengetahui Hendrik marah tapi setidaknya kemarahan Hendrik tidak bermain fisik.
Melihat Hendrik dan Andre sudah keluar dari kamar Vina. Radit membuka kaca mata dan maskernya. Radit berdiri dan menoleh sebentar ke Vina. Vina sama sekali tidak terkejut. Kemudian Radit menyusul Andre dan Radit ke ruang tamu.
"Mau kemana kak?. Di sini saja," kata Tini sambil menahan tangan Sean. Sean juga ingin ke ruang tamu.
"Aku mau ke ruang tamu sayang. Aku ingin juga memberikan penjelasan ke om Hendrik tentang ini semua,"
"Tidak perlu kak, biar saja kak Andre yang menangani itu. Mereka sama sama berpengalaman menyakiti wanita. Jadi biarkan mereka saja yang tolong menolong untuk meredam kemarahan om Hendrik," jawab Tini sambil menarik tangan Sean untuk duduk kembali. Sean menurut.
"Vina, kami minta maaf," kata Sinta lirih. Vina hanya menatap sahabatnya itu tanpa menjawab.
"Radit sampai memohon Vin, kami jadi tidak tega," sambung Cici memberi penjelasan.
"Kok bisa bisanya kalian membantu Radit Tini?"
"Maaf Vina, seperti yang dikatakan Cici. Radit sampai memohon demi ingin melihat kamu. Kamu tidak lihat perjuangannya. Aku suruh mencukur segala bulu. Dia menurut," jawab Tini tenang. Dia tidak gugup lagi.
"Kamu Yang, segala bulu. Kamu kira Radit itu ayam atau sejenisnya. Cukur rambut bukan bulu," kata Sean sambil tertawa.
"Ya terserahlah mau bulu atau rambut itu sama saja. Yang jelas Radit mencukur semua bulu di di tubuhnya demi melihat kamu Vina, jadi kamu jangan kaget. Suamimu si banci kaleng itu tidak lagi berbulu," jawab Tini tertawa sambil menyenggol tubuh Sean. Vina juga tidak kuasa untuk tidak tertawa.
"Dasar gak sopan. Calon kakak ipar yang tidak punya akhlak," gerutu Cici sambil cemberut. Sean yang duduk dekat Tini dan Cici hanya bisa menggelengkan kepala dan mengacak kepala Tini dan Cici secara bergantian.
__ADS_1
"Yang sopan Cici, jangan mengatai Tini sembarangan," kata Sean pelan. Cici semakin cemberut dan menjauh dari Tini dan Sean. Dimana dan kapan saja Sean selalu membela Tini. Tini tersenyum dan memandang Cici.
"Yang begini nih, buat aku kemarin kemarin makan hati. Berusaha menjaga perasaan dia dan rela melepas kak Sean untuk dia ternyata mereka hanya sepupu," cibir Tini sambil memandang Cici yang sudah duduk di tepi ranjang Vina.
"Biarin. Kamu kena prank kan?" jawab Cici sambil tertawa.
"Bukan hanya kena prank. Tini sampai merasa bersalah karena kamu langsung berlari ketika mendengar pengumuman ciuman pertama mereka berdua."
Cici dan Sinta tertawa terbahak-bahak. Hampir dua bulan kejadian itu sudah berlalu. Tetapi setiap mengingatnya, Cici merasa berhasil mengerjai para sahabatnya walaupun tidak sengaja.
"Saat itu perut aku mulas. Ketika mendengar pengumuman ciuman itu, perutku makin mulas karena terkejut," kata Cici setelah berhenti tertawa.
"Ganti topik saja, Vina jadi bingung," kata Tini malu. Sean hanya tersenyum.
"Ya benar. Aku bingung," kata Vina pelan.
"Vina, Semua ini kami lakukan murni untuk membantu Radit. Kami tidak akan mengulanginya lagi," kata Sean lagi. Dari tadi Vina masih menunggu penjelasan para sahabatnya tentang penyamaran Radit. Vina belum puas akan jawaban Tini tadi yang terkesan bercanda.
"Ya sudahlah. Toh semuanya sudah terjadi. Tapi lain kali aku tidak mau, kejadian seperti ini terulang," jawab Vina pasrah. Sinta dan Tini hampir bersamaan mengangguk.
Sinta dan Tini merasa lega. Vina tidak membesar besarkan masalah penyamaran Radit. Kini mereka sudah tertawa riang karena bercanda. Hal seperti ini sungguh membuat Vina senang. Kunjungan para sahabatnya bisa membuatnya dirinya terhibur walau hanya hitungan jam.
"Rencana itu ada. Aku pribadi sebenarnya sudah siap menikah. Sekarang tergantung Tini saja," jawab Sean sambil mengelus punggung Tini lembut. Tini juga senang mendengar jawaban itu. Dia menoleh ke Sean dengan sorot mata berbinar.
"Ayo Tini, kak Sean sudah siap tuh. Kalian cepatlah menikah. Dan buat keponakan yang lucu buat aku," goda Cici sambil tersenyum.
"Enak saja dirimu menyuruh aku menikah. Kuliah saja belum kelar. Yang ada bukan ijazah yang didapat duluan. Tapi anak. Seperti mereka berdua ini nih," jawab Tini bercanda. Sean melemas mendengar jawaban Tini. Walau tadi Sean berkata menunggu kesiapan dari Tini. Dia juga berharap bisa menikah dalam tahun ini. Selain umurnya sudah matang dan desakan orangtuanya untuk menikah. Sean juga sudah ingin mempunyai keluarga kecil yang harmonis seperti keluarga Andre dan Sinta.
Sean kecewa mendengar jawaban Tini. Dari jawaban itu Sean mengambil kesimpulan bahwa Tini belum siap untuk menikah sebelum lulus kuliah.
"Mau kemana kak?" tanya Tini ketika melihat Sean berdiri. Sean tidak menghiraukan pertanyaan Tini, dia terus melangkah keluar dari kamar. Tini bingung melihat perubahan sikap Sean.
Sean bergabung dengan Andre, Radit dan Hendrik di ruang tamu. Dari tadi dia ingin ikut bergabung di pembicaraan para pria dewasa ini. Tapi Tini melarangnya dan harus menelan kecewa karena jawaban Tini. Sean hanya terdiam mendengar Radit yang terus memohon maaf kepada Hendrik.
"Apa yang harus aku lakukan pa, Aku benar benar memohon maaf." Radit menunduk dan putus asa. Hendrik masih saja tidak memberikan maaf padanya. Andre menatap sahabatnya itu kasihan. Dari tadi hanya kata maaf yang keluar dari mulutnya. Tetapi Hendrik masih saja menggelengkan kepala.
"Om, Aku juga minta maaf karena sudah lancang membantu Radit untuk menemui Vina. Ini aku lakukan, karena aku belajar dari pengalaman aku sebelumnya om. Aku juga pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal terhadap Sinta dan putriku," kata Andre. Kemudian Andre menceritakan kisahnya sendiri sampai dimana Airia lahir yang hampir tidak bisa diselamatkan.
__ADS_1
"Kontak batin itu pasti ada om. Kalau om, tidak bisa menganggap Radit sebagai menantu dan suami Vina. Bagaimanapun dia akan tetap manjadi ayah biologis bagi ketiga janin kembar. Radit juga sudah menyesal. Aku rasa Radit harus melihat bagaimana kesulitan Vina selama mengandung," kata Andre lagi. Tetapi Hendrik masih diam.
Radit masih menunduk menunggu jawaban dari Hendrik. Mertuanya itu masih diam. Kemudian tanpa berkata sepatah katapun. Hendrik beranjak dari ruang tamu itu dan masuk ke kamarnya. Radit kembali melemas. Dia menatap punggung Hendrik yang semakin menjauh dari ruang tamu.
"Masuk ke kamar Vina dan berbicaralah dengan nya," bisik Andre. Radit terlihat ragu.
"Aku takut papa Hendrik marah besar bro," bisik Radit.
"Pergilah. Om Hendrik diam itu artinya dia memberikan kamu kesempatan," bisik Andre lagi. Radit menatap Andre dan Sean bergantian. Radit masih terlihat ragu tapi kemudian menurut dan masuk ke kamar Vina.
"Sinta, Tini dan Cici. Bisa tinggalkan kami berdua?" tanya Radit setelah masuk ke kamar Vina. Ketiga sahabat itu mengangguk.
"Buktikan dia tidak berbulu luar dalam," bisik Tini ke Vina sambil terkekeh. Vina mendorong tubuh Tini pelan. Ketiga sahabat Vina itu akhirnya keluar dari kamar Vina. Seperti biasa Tini heboh dan terdengar memanggil nama sang perawat Vina.
"Mbak Ira. Ada yang dingin dingin tidak?" tanya Tini. Sinta hanya bisa menggelengkan kepala melihat Tini. Tini memang selain suka bercanda juga tidak malu malu jika butuh sesuatu.
Berduaan di kamar membuat Radit merasa canggung menghadapi Vina. Wanita hamil itu masih saja dengan posisi semula. Dari wajahnya jelas, kalau Vina tidak menyukai situasi seperti ini. Radit menarik bangku plastik dan meletakkan dekat ranjang Vina. Jarak mereka kini tidak lebih dari satu meter. Membuat Vina gugup. Vina mengamati sekitar kamarnya. Vina berdecak kesal, Ira yang biasanya duduk dekat pintu juga tidak ada di sana.
"Vina, aku minta maaf," kata Radit. Satu hari ini entah sudah berapa kali dia mengucapkan kata maaf. Maaf yang tidak dimaafkan oleh mertuanya. Radit mendongak menatap tubuh istrinya yang terbaring. Perut buncit itu mengundang tangannya untuk mengelus, tapi Radit tidak mau gegabah. Dia harus mendapatkan maaf dulu dari Vina.
Vina menarik selimut sampai batas lehernya ketika menyadari tatapan Radit ke perutnya.
"Vina," kata Radit lagi. Vina masih diam.
"Pergilah Radit," usir Vina datar.
"Tidak adakah kesempatan untuk aku. Aku ingin berubah Vina. Jujur, melihat kamu kesulitan seperti ini. Hatiku juga terasa sakit Vina. Tolong maafkan aku Vina. Demi janin kembar kita," kata Radit memohon.
"Manusia berhati iblis seperti kamu, tidak akan pernah bisa berubah. Seenaknya kamu minta maaf dan mengatakan sudah berubah setelah semua perbuatan dan penghinaan yang kamu kepada aku. Pergilah. Aku bukan lagi barang dagangan yang bisa diperdagangkan. Sampai kapanpun, tidak ada lagi kesempatan kepada kamu," kata Vina sinis. Hatinya belum bisa terbuka untuk memaafkan Radit.
"Vina," kata Radit lirih. Vina menggelengkan kepalanya sambil menunjuk pintu kamar. Radit masih terdiam di bangku plastik itu.
"Aku bilang keluar!" teriak Vina kemudian meringis karena perutnya kembali kram.
"Kamu kenapa?" tanya Radit khawatir.
"Kedatangan kamu hanya menambah kesulitan bagiku Radit, pulanglah. Jangan pernah kembali kemari atau meminta bantuan para sahabatku."
__ADS_1
Radit menatap Vina. Sorot matanya penuh dengan kekecewaan. Radit akhirnya berdiri dan keluar dari kamar itu. Seperti perkataan Vina, Radit tidak ingin menambah kesulitan Vina karena kehadiran di kamar itu.
"Aku pulang Vina," pamit Radit dengan suara serak. Vina hanya diam tidak menggubris. Radit akhirnya keluar dari kamar Vina dengan lesu.