
"Kakak inginkan aku kesakitan. Lihat, aku sudah kesakitan. Keinginanmu sudah terkabul. Padahal putrimu sudah mau aku ajak kompromi untuk keluar diam diam," kata Tini ketika mulas itu berhenti sejenak. Hampir setiap ada waktu Tini mengajak bayi untuk bisa lahir normal dan tidak menyakitkan. Kini dia kembali meringis. Butuh sekitar satu jam lagi untuk menunggu si bayi lahir. Dokter baru saja memeriksa jalan lahir. Masih buka tujuh. Ada tiga bukaan lagi harus ditunggu.
"Kalau melahirkan itu memang sakit sayang. Itu pertanda bayi kita sehat dan kuat," jawab Sean asal.
"Kak, ternyata membuat dan mengeluarkan bayi itu sangat jauh berbeda. Pas membuat enak enak dan mengeluarkan sakitnya luar biasa," kata Tini. Dia baru saja merasakan mulas yang sakit dahsyat. Sean menahan untuk tidak tertawa mendengar perkataan istrinya.
"Iya iyalah sayang. Kalau mengeluarkan bayi juga enak enak. Sudah dipastikan para wanita bersuami melahirkan setiap tahun. Sedangkan hanya membuat saja enak enak. Angka pertumbuhan penduduk sangat meningkat."
Tini kembali meringis. Sean seketika sigap mengelus pinggang istrinya sesuai dengan apa yang disuruh dokter tadi.
"Semangat sayang. Kamu pasti bisa," kata Sean menyemangati istrinya. Tini juga sudah berkali kali menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
"Tanya dokter kak. Mungkin ini sudah saatnya dikeluarkan," kata Tini hampir menangis. Sean melihat jam dipergelangan tangannya. Masih lima belas menit dokter berlaku dari ruangan itu. Itu artinya Tini belum saatnya melahirkan.
"Sebentar lagi sayang. Tadi kata dokter kan paling cepat satu jam lagi," jawab Sean sambil terus mengelus pinggang istrinya. Tini menghempaskan tangan itu kasar dan bergerak untuk tidur telentang. Rasa sakit itu menjalar dari perut hingga ke pinggang. Rasa sakit itu juga membuat Tini hampir berhenti bernafas.
Tini tidak kuasa lagi untuk menyuruh Sean untuk memanggil Dokter. Tini mengikuti nalurinya untuk berbuat sesuai dengan rasa sakit itu. Rasa sakit itu seakan memaksa Tini untuk mengejan. Tini mengejan. Dia tidak perduli ada dokter atau tidak di ruangan itu.
"Bu, jangan dulu," kata perawat yang berjaga di ruangan itu. Dia mendekat ke ranjang Tini dan seketika memekik panik. Dia menyuruh Sean untuk memanggil dokter segera. Tidak berapa lama kemudian dokter sudah muncul di ruangan itu dengan tergesa-gesa.
Dokter melihat jalan lahir. Kepala sang bayi sudah nampak di jalan lahir tersebut. Dokter menyuruh Tini untuk mengejan kembali. Hanya satu kali mengejan. Dokter sudah berhasil menarik bagi itu dari perut Tini. Suara tangis bagi bergema di ruangan itu. Sean tertegun melihat bayi yang ada di tangan sang Dokter. Dia tidak bisa berkata apa karena sangat bahagia.
"Bayinya perempuan ya Bu. Pak. Semua organ tubuh lengkap," kata dokter kemudian meletakkan bayi itu di dada Tini. Tini tersenyum. Rasa bahagia mengalahkan rasa sakit yang dialaminya tadi. Tini mendekap bayi merah yang berusaha mencari sumber susu baginya. Sean juga mengelus punggung bayi itu dengan setitik air mata bahagia di pelupuk matanya. Sean tidak bisa melukisan rasa bahagia yang dialami saat ini. Sean mencium kepala bayinya dan kemudian beralih mencium kening istrinya.
"Kamu punya saingan sayang," bisik Tini dan mengarahkan matanya kepada sang bayi yang sudah berhasil mendapatkan sumber susu itu. Sean terkekeh dan mengelus rambut Tini. Kemudian matanya beralih kepada sang dokter yang masih sibuk membersihkan area jalan lahir. Sean merasa malu kalau sampai dokter mendengar bisikan istrinya tadi.
__ADS_1
Kini bayi itu sudah dibersihkan dan dikenakan pakaian bayi.
"Selanjutnya bagaimana dokter?" tanya Tini kepada dokter Sarita.
"Ada koyak sedikit jadi harus dijahit. Ibu tidak perlu khawatir tidak akan sakit," kata dokter menenangkan Tini. Dokternya itu sudah memegang jarum untuk menjahit jalan lahir yang koyak. Tini mengarah tangannya supaya Sean mendekatkan kuping ke mulutnya.
"Jangan lupa mengingat dokter. Lubang jangan dijahit semua," kata Tini bercanda. Sean pun akhirnya tertawa. Di setiap waktu jika ada kesempatan istri pasti selalu bercanda. Kalau tidak ada dokter di tempat itu. Sean ingin rasanya membungkam mulut istrinya dengan ciuman maut.
"Ada apa pak?" tanya dokter Sarita juga menahan untuk tidak tertawa. Dia juga mendengar setiap bisikan yang diucapkan Tini kepada suaminya.
"Tidak apa-apa Dokter," jawab Sean singkat. Dia tidak mungkin menceritakan apa yang dibisikkan Tini kepadanya.
"Selesai. Koyaknya sudah tertutup sempurna," kata dokter setelah menyelesaikan pekerjaannya. Sean tertegun dan menatap dokter itu tidak percaya. Tini sudah menyembunyikan senyumnya.
"Kok ditutup semua dokter?" tanya Sean. Tini sudah hampir tertawa. Suaranya hampir keluar tapi batal karena Tini langsung merasa sakit di bagian inti tubuhnya.
"Bikin malu saja," gerutu Tini setelah dokter keluar dari ruangan itu. Sean hanya terkekeh menyadari kebodohannya.
"Kali saja. Dokternya benar benar lupa sayang. Kan kasihan kamu. Bagaimana kita membuat adik untuk putri kita jika semua ditutup."
"Dasar suami mesum. Baru saja melahirkan tapi sudah memikirkan untuk buat bayi."
Sean tertawa mendengar perkataan istrinya. Dia mengecup kening Tini.
"I love you. I love you honey," kata Sean sambil membelai wajah istrinya. Dia tidak malu mengungkapkan isi hatinya walau seorang perawat bertugas di ruangan itu hendak memindahkan Tini ke ruang perawatan. Bayinya juga sudah berada di kamar bayi.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian. Setelah tidur sebentar. Tini terbangun dengan suara suara berisik dari para sahabatnya yang sudah berkumpul di ruangan itu. Yang seharusnya mereka berada di restoran saat ini kini tiga sahabatnya Elsa, Indah dan Cici sudah berada di ruangan itu. Ronal juga berada di ruangan tersebut. Ronal datang hanya beberapa menit dari kedatangan Radit di ruangan itu.
Seperti biasa. Bayi yang baru lahir menjadi idola baru dan menjadi rebutan diantara wanita wanita yang ada di ruangan itu. Termasuk Sinta dan Vina. Walau mereka sudah mempunyai anak. Tetap saja dua wanita itu tidak mau ketinggalan untuk menggendong bayi Tini dan Sean.
"Siapa namanya Tini?" tanya Sinta. Kini bayi itu berada di pangkuannya. Sinta duduk di sofa dengan Andre di sampingnya. Sedangkan Vina dan Radit duduk bersebelahan tanpa ada jarak. Radit terus menautkan tangannya di pinggang Vina. Seakan menunjukkan kepada Ronal bahwa mereka berdua tidak akan terpisahkan. Sampai saat ini. Radit belum pernah mau bertegur sapa dengan Ronal.
"Ayu Dewi," jawab Sean. Nama cantik yang sudah mereka persiapkan setelah mengetahui bayi mereka berjenis kelamin perempuan. Perdebatan demi perdebatan untuk memutuskan nama yang cantik untuk putri mereka. Hingga mereka memutuskan memberi nama bayi itu dengan Ayu Dewi. Baik Tini dan Sean sama sama fans berat dari salah satu artis yang bernama Ayu Dewi tersebut. Mereka berdua sama sama terhibur setiap melihat artis tersebut di layar kaca. Mereka berharap kelahiran putri mereka adalah keceriaan dan kegembiraan bagi mereka sepanjang masa. Bagaimana hal artis itu yang bisa membuat mereka selalu tertawa.
"Nama yang bagus. Aku suka bayi dan namanya," kata Vina. Sinta mengangguk setuju dengan perkataan sahabatnya. Sean dan Tini tersenyum bangga dan bahagia. Sean masih tetap berada di samping tempat tidur istrinya.
"Gak ada nama yang lain. Tini saja bernama asli Anggun bersikap seperti laki laki. Bisa saja setelah besar keponakan aku ini tidak terima namanya Ayu Dewi. Bisa bisa dia mengganti namanya menjadi Bayu Dewa," kata Andre cuek. Kini saatnya dia membalaskan semua perkataan Tini kepadanya dulu. Sean dan Tini sudah menatap Andre tajam. Andre pura pura tidak melihat.
"Jangan sembarang kamu Andre mengatai calon mantuku seperti itu," kata Radit. Dia juga tidak terima mendengar perkataan sahabatnya. Sinta juga menatap suaminya dengan kesal.
"Maaf maaf. Cuma bercanda," kata Andre akhirnya. Dia juga tidak enak mendapat tatapan beberapa orang yang menatap dirinya dengan tajam.
"Maaf diterima. Tapi jika sekali lagi memplesetkan nama bayiku. Siap siap saja kak Andre berganti nama," kata Tini yang sudah bisa duduk bersandar. Tini mengepalkan tangannya dan menunjukkan ke Andre. Andre yang sudah mendengar bagaimana jika Tini marah dari Radit hanya bisa menelan ludahnya kasar.
"Oke, oke dek. Tidak akan lagi. Ampun dah. Daripada berganti nama jadi pasien darurat. Bisa bisa kamu yang pulang duluan ke rumah daripada aku," kata Andre lagi. Semua yang ada di ruangan itu tertawa melihat wajah Andre yang ketakutan.
"Bang Andre, takut wanita ternyata," kata Ronal.
"Bukan takut bro. Hanya saja. Aku memang salah. Sini sayang. Aku mau gendong calon mantu kita," kata Andre sambil mengulurkan tangannya. Sinta meletakkan bayi itu di tangan Andre. Radit tentu saja tidak terima dengan perkataan Andre itu.
"Dari tadi kamu sibuk memeluk pinggang aku yah. Sampai kamu lupa untuk menggendong cucu kita," kata Vina memanasi kuping Radit. Radit melepaskan tangannya dari pinggang Vina dan meminta bayi itu.
__ADS_1
"Sini calon mantuku Andre. Kamu jangan kebiasaan menikung jodoh putraku. Andra sudah sama Kalina. Jangan rakus kamu," kata Radit. Andre hanya terkekeh. Dia memberikan bayi itu kepada Radit. Radit tersenyum melihat wajah bayi itu. Radit bahkan bersenandung sambil membelai wajah calon mantunya. Vina, Sinta dan Sean menggelengkan kepalanya. Sedangkan Tini tersenyum. Sejak awal dirinya menginginkan bayinya perempuan supaya bisa Elvano menjadi menantunya.
"Kak Sean. Kakak sudah mengabari Tante Mia dan om Handoko tentang Ayu Dewi?" tanya Vina tiba tiba. Sean menepuk keningnya. Karena terlalu bahagia dia lupa mengabari orang tua dan kedua mertuanya.