
Tidak ada lagi kata kata yang keluar dari mulut Radit. Ancamannya cukup ampuh untuk membuat Vina dan keduanya orangtuanya tidak berkutik. Vina kembali ke rumahnya, itu merupakan kemenangan bagi dirinya sendiri. Radit tersenyum lebar, senyuman mengejek untuk Tini yang juga tidak bisa berkata apa apa lagi.
Radit bahkan hanya membungkuk hormat kepada kedua orang tua Vina ketika hendak keluar dari rumah. Radit memastikan dahulu Vina masuk ke dalam mobil Sean, baru kemudian dia masuk ke dalam mobilnya. Posisi mobilnya yang berada di depan mobil Sean. Membuat dia harus duluan jalan dibandingkan mobil Sean.
Di persimpangan kompleks, mobil Radit berhenti, dia membuka pintu mobil dan mempersilahkan mobil Sean berjalan di depan. Dia akan mengikuti mobil Sean dari belakang. Vina ada bersama Tini. Melihat kebencian Tini kepadanya. Radit sedikit takut Tini akan memprovokasi Vina untuk kabur. Dengan mengikuti dari belakang, Radit siap bila harus kejar kejaran jika Tini dan Sean membawa Vina kabur.
Radit menghentikan mobilnya ketika dilihatnya mobil Sean berhenti. Tini terlihat keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam supermarket. Tidak lama kemudian, Tini terlihat menenteng kantong belanjaan dan masuk ke dalam mobil.
"Nih."
Tini menyodorkan sebotol air mineral ke Vina. Vina mengulurkan tangan meraih botol tersebut. Vina membuka tutup botol dan meneguk air mineral tersebut. Hal yang sama juga dilakukan oleh Tini dan Sean. Walau sudah menjelang sore, hari masih terasa terik. Membuat mereka sangat kehausan.
"Sebentar kak," kata Tini ketika Sean hendak menjalankan mobilnya. Tini mengambil buah pear dari kantong plastik dan mencucinya ke luar mobil dengan air mineral yang masih tersisa di botol miliknya sendiri. Tini mencuci tiga buah pear. Tini menyodorkan tangannya dengan sebuah pear ke Vina. Kemudian memberikan satu lagi ke Sean. Tetapi karena kedua tangan Sean memegang setir. Tini masih memegang buah yang seharusnya untuk Sean.
Vina dan Tini sudah menggigit buahnya masing masing. Sedangkan Sean masih saja fokus memegang setir dengan kedua tangannya. Merasa tidak enak karena hanya mereka berdua makan, akhirnya Tini menyodorkan buah pear itu ke arah mulut Sean, Sean menggigit buah itu dengan pandangan masih fokus ke jalanan.
Vina tentu saja heran melihat kedekatan Sean dan Tini. Dia bahkan berhenti mengunyah buah yang sudah di mulutnya.
"Lagi sayang," kata Sean ketika buah yang di mulutnya sudah habis. Tangan Tini kembali mengarahkan buah itu ke mulut Sean. Tini tentu saja merasa malu tetapi berdebar. Hari ini adalah hari bersejarah bagi dunia percintaannya. Masih hitungan jam mereka menjadi pasangan kekasih. Sean langsung memanggilnya dengan sebutan sayang. Dan ada Vina yang mendengar sebutan sayang dari Sean untuk Tini yang pertama kalinya.
Vina membulatkan matanya mendengar ucapan sayang itu. Dia mengira Sean hanya bercanda untuk membalas candaan Tini yang sering bercanda keterlaluan jika ada Sean. Vina kembali menggigit buah itu dengan santai. Tetapi ketika Tini menoleh ke Sean, Vina bisa melihat wajah Tini yang bersemu merah.
"Mau lagi kak?" tanya Tini ketika melihat Sean tidak mengunyah lagi.
"Iya sayang, disuapin seperti ini oleh yayang beib, siapa yang tidak mau," jawab Sean tersenyum. Dia berkata genit seperti itu sambil mengedipkan sebelah matanya. Tini semakin malu. Mereka tidak menyadari bahwa di bangku belakang ada Vina yang semakin ternganga mendengar perkataan Sean.
"Baiklah ayang bebs aku yang ganteng dan baik. Di setiap kesempatan, aku akan selalu menyuapi kakak seperti ini. Tetapi dengan satu syarat,"
"Syarat apa?"
"Tetap lah menjaga hatimu untuk aku," jawab Tini sambil menatap Sean penuh cinta. Sean mengangguk pasti dengan permintaan Tini. Dibandingkan Tini, mungkin Sean yang lebih cinta mati ke Tini.
"Itu pasti sayang. Tapi lain kali. Disuapin pakai mulut. Boleh?"
"Ha, apa itu maksud kakak berciuman. Tadi kan udah?" jawab Tini sambil meninju pelan lengan Sean. Sean terkekeh. Tini memang paling tidak bisa menyaring setiap ucapan yang akan keluar dari mulutnya. Tadi, sebelum ke rumah Vina, mereka sempat berciuman di depan supermarket setelah balasan pernyataan cinta Sean. Kalau tidak karena klakson motor yang akan mundur, bisa dipastikan ciuman kedua Sean dan Tini berlangsung sampai beberapa menit.
Sean menarik tubuh Tini dan memeluknya dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya memegang setir dan pandangan fokus ke depan. Mendapat perlakuan seperti itu, Tini merasakan berbagai macam bunga tumbuh dan bermekaran di hatinya. Tini merasa bahagia. Ada sekitar lima menit, Tini dalam posisi dipeluk Sean sambil menyetir.
"Apa aku disini sebagai obat nyamuk?" tanya Vina pelan dari belakang. Kedua telapak tangannya berbunyi seolah olah menangkap nyamuk. Dari tadi mendengar pembicaraan Sean dan Tini. Vina sudah dapat menyimpulkan bahwa dua orang yang duduk di depannya sudah menjadi sepasang kekasih.
__ADS_1
Vina melepaskan diri dari pelukan Sean. Terlena dengan pembicaraannya dengan Sean membuat dia tidak menyadari bahwa Vina ada juga di mobil itu. Sedangkan Sean menggaruk kepalanya karena merasa malu.
"Apa ada nyamuk di mobil ini?" tanya Tini setelah rasa groginya hilang. Dia tahu arti ucapan Vina. Tini merasa malu kalau harus menanggapi serius pertanyaan Vina. Sean tersenyum dengan pertanyaan balik dari Tini.
"Tidak ada, hanya saja. Baru kali ini aku melihat sepasang kekasih yang kasmaran hingga merasa dunia milik berdua. Yang lain jangankan dianggap ngontrak. Yang lain justru dianggap tidak ada," sindir Vina sambil kembali menggigit buah pear nya.
"Kamu baru kali ini. Aku justru, hari hari aku dulu sering disuguhkan dengan hal seperti itu. Sayangnya asmara mereka tidak berakhir indah. Sekarang gantian yang jadi obat nyamuk. Dulu aku dan yang lainnya menjadi obat nyamuk bagi kamu dan Ronal. Gak sadar kamu," sindir Tini ketus. Vina terdiam. Berpacaran dengan Ronal sangat berbanding terbalik dengan menjadi istri Radit. Ronal yang lembut dan romantis sedangkan Radit kasar dan cuek.
"Jangan ingatkan aku tentang Ronal Tini.
Dia hanya masa lalu yang tidak perlu dikenang," jawab Vina sendu. Dia yang meninggalkan Ronal tetapi setiap Mengingat kisahnya dengan Ronal hatinya tercabik. Bukan karena masih cinta, tetapi karena rasa bersalah karena menyakiti laki laki sebaik Ronal. Banyak yang ingin ditanyakan Vina sebelumnya tentang Sean dan Tini, tetapi pertanyaan itu lenyap karena Tini menyebut nama Ronal.
"Vina, apa kamu yakin kembali ke rumah Radit. Kalau kamu mau, kamu masih mempunyai kesempatan untuk kabur,"
"Sayang, jangan memprovokasi Vina, Radit tidak pernah main main di setiap ucapannya. Aku dan Andre sudah hafal betul karakter keras Radit," larang Sean. Dia tidak ingin berurusan dengan kemarahan Radit. Jika Vina kabur saat ini. Bisa dipastikan Radit akan marah besar.
"Iya Tini, tiga bulan bersama Radit satu atap. Aku dapat melihat karakter keras yang dikatakan kak Sean. Semakin aku melawan dia pasti semakin gila. Biarlah aku mengalah Aku harus menghadapinya Tini. Aku yakin bisa melalui enam bulan ke depan Tini. Kamu tidak perlu khawatir," kata Vina sedih. Mulutnya berkat bisa tetapi hatinya masih ragu.
"Terserah kamu Vina, tetapi lain kali. Kalau dia berlaku kasar. Kamu simpan buktinya. Kita bisa melaporkan banci kaleng itu ke polisi," kata Tini sambil menoleh ke belakang. Vina mengangguk.
"Tini, kak Sean boleh bertanya sesuatu?" tanya Vina hati hati. Apa yang terganjal di hatinya tadi. Kini Vina mengingatnya.
"Kalau kalian punya hubungan seperti ini, bagaiman dengan Cici?.
Tini melirik ke Sean. Tini terkekeh. Tini tersenyum mengingat beberapa hari yang lalu. Menyiksa diri dengan menjaga jarak dari Sean demi menjaga perasaan Cici yang ternyata adalah saudara sepupu.
"Cici itu adik sepupu aku Vina," jawab Sean. Vina tidak bertanya lagi. Tetapi di hatinya masih banyak tersimpan pertanyaan. Ingatan Vina melayang ketika pertama bertemu dengan Sean di rumah Sinta. Waktu itu Cici juga ada. Tetapi kala itu. Mereka seperti dua manusia yang baru saling kenal.
Sean membunyikan klakson ketika tiba di depan gerbang rumah Radit. Seorang satpam mendekat. Tanpa menunggu satpam bertanya. Sean membuka kaca mobil dan menunjuk ke arah Vina. Satpam itu akhirnya membuka gerbang. Tidak lama kemudian mobil Radit juga sudah berhenti di halaman rumah itu.
Radit terlebih dahulu masuk melangkah ke dalam rumah. Vina, Tini dan Sean mengikuti dari belakang. Tini menatap sinis ke sebuah foto yang terpampang di ruang tamu itu. Foto pernikahan Radit dan Vina. Foto itu berada di dinding itu bukan kemauan Radit dan Vina melainkan kemauan orang tua Radit.
Dua pasangan itu sudah duduk di sofa. Sean dan Tini duduk berdampingan sedangkan Vina duduk di depan Sean dan Tini. Sedangkan Radit duduk di sofa tunggal.
Sean, masih hitungan jam menjadi kekasih Tini sudah menunjukkan sifat posesifnya. Sean sengaja membawa ransel Tini yang seharusnya bisa ditinggal di mobil. Pria itu meletakkan ransel di paha Tini karena celana jeans Tini yang model koyak koyak di bagian paha.
Perhatian kecil itu berbanding terbalik dengan apa yang dialami Vina. Di saat hamil seperti ini, seharusnya dia mendapat perhatian. Tetapi sejak duduk di sofa itu, Radit lebih tertarik berbicara dengan Sean daripada ke dirinya. Vina memang tidak berharap banyak dari Radit. Tetapi melihat perhatian Sean ke Tini. Sejujurnya dia juga menginginkan perhatian seperti itu.
Radit masih berbincang bincang dengan Sean. Sedangkan Tini juga merasa bosan. Vina yang masih kondisinya lemah hanya bisa menyandarkan tubuhnya ke sofa. Sesekali dia menarik nafas panjang. Tetapi tidak sekalipun Radit menoleh kepadanya. Vina seperti tidak ada bagi Radit. Begitulah yang dirasakan Vina.
__ADS_1
Ingin rasanya Vina masuk ke kamar dan berbaring. Tetapi Vina merasa tidak enak hati meninggalkan Tini dan Sean. Selain itu, dia belum tahu kamar mana yang akan menjadi kamarnya. Untuk kembali ke kamar yang dulu bersama Radit, Vina tidak mau. Kamar itu menyimpan kenangan luka untuknya.
"Vina, kalau kamu mau istirahat, istirahatlah. Kondisi kamu masih harus banyak berbaring," kata Tini kasihan. Dari tadi dia memperhatikan Vina yang sering memejamkan mata sambil bersandar. Selain itu, Tini berharap dengan ucapannya. Sean segera pamit undur diri. Dia juga sudah sangat bosan mendengar pembicaraan dua sahabat itu yang dari tadi membicarakan soal pekerjaan masing masing.
Radit dan Sean bersamaan menoleh ke Vina. Terlalu asyik berbincang mereka tidak menyadari bahwa ada Vina duduk menahan lelah di tempat itu.
"Kamar kamu yang itu. Bibi Ina sudah aku suruh tadi mempersiapkannya," kata Radit dingin. Dia menunjuk sebuah kamar di ruangan itu. Vina hanya mengangguk saja.
"Ini Vina, tadi aku hanya membeli sekotak. Aku rasa suami kamu banyak uang untuk membeli berbagai varian rasa untuk kamu," kata Tini setelah mengambil sekotak susu hamil dari ranselnya. Vina menerima susu tersebut.
"Diminum, jangan diliatin saja. Janin kamu perlu nutrisi," kata Tini tegas. Vina hanya mengangguk kepala mendapat perhatian dari sahabat itu. Sedangkan Radit dia hanya menatap Vina. Duduk tegak seperti patung yang tidak bernafas. Bahkan Radit hanya mengangguk ketika Sean dan Tini pamit pulang.
Vina membawa susu hamil itu ke dapur. Seperti saran Tini, dia harus meminum susu itu. Sejak di rawat di rumah sakit, ***** makannya berkurang. Vina berpikir dengan meminum susu akan berguna bagi janinnya.
Vina membawa segelas susu hamil itu ke kamar yang ditunjukkan Radit tadi. Dia melewati Radit yang masih duduk mematung di sofa. Entah apa yang di pikiran pria keras kepala itu, Dia tidak menyadari bahwa Vina sudah masuk ke kamar.
Vina kini sudah berbaring di ranjang. Susunya masih utuh terletak di atas meja kecil dekat ranjangnya. Walau tidak beraktivitas. Tubuhnya cepat mengalami kelelahan. Padahal dia hanya naik mobil tetapi rasa lelah itu seperti habis lari maraton sekilo meter.
Vina menoleh ke arah pintu. Radit sudah berjalan mendekat ke arah ranjangnya. Berduaan di dalam kamar seperti ini, entah mengapa Vina justru mengingat pemerkosaan itu. Vina mengeratkan selimutnya. Hanya kepala yang tersembul dari balik selimut itu. Tubuhnya sudah bergetar di balik selimut karena takut.
"Kamu boleh menuliskan semua kebutuhan kamu. Aku akan menyuruh bibi Ina untuk membelinya," kata Radit datar. Dia berdiri di samping ranjang Vina. Tapi matanya melirik ke arah susu hamil yang belum berkurang sama sekali. Vina hanya mengangguk. Vina benar benar istri yang tidak dianggap. Radit bahkan lebih mempercayakan uangnya untuk dibelanjakan bibi Ina daripada Vina sendiri yang membelanjakan. Tapi Vina tidak perduli. Toh pernikahan ini tinggal beberapa bulan lagi.
"Apa kamu takut kepada aku?" tanya Radit lagi. Dia bisa melihat kaki Vina yang bergetar.
"Kalau tidak ada lagi yang mau kamu bicarakan. Keluarlah Radit. Aku mau istirahat," jawab Vina pelan. Dia tidak menjawab pertanyaan Radit. Karena itulah kenyataannya.
"Jangan munafik Vina. Kalau kamu tidak menikmati kejadian pertama malam itu. Tidak mungkin kamu hamil begini," kata Radit sinis. Bukannya keluar Radit malah mengingatkan luka yang dibuatnya. Vina berusaha tidak terpancing dengan perkataan Radit. Vina sebenarnya merasa terhina mendengarkan perkataan Radit. Dia lebih memilih memejamkan mata. Terserah apa kata Radit. Dia yang tahu seperti apa sakitnya malam itu. Diberitahu pun percuma. Vina tidak berharap belas kasihan Radit, jika Radit tahu sesungguhnya sakit ketika pemerkosaan yang pertama.
"Dan kamu jangan besar kepala karena aku memaksa kamu kembali tinggal di sini. Itu aku lakukan semata mata untuk janin yang kamu kandung itu," kata Radit lagi. Dia hendak melangkah keluar dari kamar itu. Perkataannya barusan berbanding terbalik dengan janjinya di rumah Vina tadi.
"Radit berhenti," teriak Vina. Vina duduk dan bersandar di kepala ranjang. Radit berhenti dan berbalik badan menatap Vina.
"Apa kamu kira aku senang kembali ke rumah ini?. Apa kamu kira aku bahagia dengan kehamilan?. Aku justru sedih. Janin ini bukan hasil dari buah cinta. Tapi janin ini ada karena kebejatan diri kamu. Kamu memang gila. Tetapi aku bisa lebih gila. Jika janin ini alasan kamu untuk menahan dan menyiksa aku di rumah ini. Maka aku juga tidak menginginkan kehamilan ini," kata Vina pelan. Walau hati marah tapi dia berusaha berkata pelan. Sejak dulu berusaha mengalah tapi tidak berarti apa apa bagi Radit. Radit yang memaksanya untuk kembali ke rumahnya.
"Aku tidak butuh ini."
Vina meraih susu hamil yang masih hangat itu dan melemparkan ke arah Radit. Tetapi hanya gelas yang sampai tepat di dekat kaki Radit. sedangkan isinya tercecer di atas ranjang. Radit terpaku melihat kemarahan Vina. Kemarahan tanpa suara yang kencang.
"Keluar. Apa kamu ingin melihat aku lebih gila lagi?" tanya Vina marah. Vina menyingkapkan selimutnya dan berjalan untuk keluar kamar. Tetapi tangan Radit cepat menangkap pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Kamu boleh lebih gila bila anak ini lahir. Terjadi apa apa padanya. Maka hal yang tidak pernah kamu duga akan kamu terima," ancam Radit juga marah. Dia menarik tangan Vina untuk kembali berbaring.