Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Kebahagian Andre


__ADS_3

Edwin terdiam di tempatnya. Sejak mengetahui Sinta hamil, laki laki itu hanya memandang punggung Sinta dari duduknya. Sorot matanya memancarkan kekecewaan. Edwin tidak menyangka bahwa wanita yang sangat dicintainya itu sudah menikah dan hamil pula. Cinta bertepuk sebelah tangan, patah hati itu yang dirasanya sekarang.


Sebelumnya Edwin masih berharap akan Sinta. Setelah mengetahui kenyataan tentang Sinta, bukan berarti Edwin bisa melupakan cintanya. Edwin menghela nafas kasar. Untuk kedepannya Edwin berusaha ikhlas. Edwin Sedikit kecewa dengan Ronal yang menutupi status Sinta.


Ketika ketujuh sahabat itu keluar dari ruangan. Edwin masih betah di tempat duduknya. Akan lebih baik baginya untuk tidak berkomunikasi dulu dengan Sinta dan sahabatnya.


Berjalan dengan lesu, Edwin menuju parkiran. Dia tidak menyangka Ronal menunggunya di parkiran. Tanpa perduli Edwin berjalan terus ke arah motor yang di ujung parkiran.


"Bro," panggil Ronal. Edwin berhenti dan menoleh.


"Kamu sudah tahu status Sinta. Kenapa tidak memberitahu aku?" jawab Edwin. Wajahnya menunduk menyembunyikan sorot matanya yang penuh kecewa. Edwin merasa dipermainkan oleh Ronal.


"Maaf Edwin, aku tidak memberitahumu. Bukan bermaksud menyembunyikan darimu. Kehamilan itu tidak bisa ditutupi dan akhirnya kamu tahu sekarang. Hanya saja aku menghargai Sinta, aku tidak mau membeberkan masalah pribadinya," jawab Ronal.


"Baiklah, aku pergi sekarang," kata Edwin cuek dan naik ke motornya.


"Kalau cintamu tulus, masih ada kesempatan buatmu bro," kata Ronal agak keras karena Edwin sudah menghidupkan motornya. Edwin mengerutkan keningnya.


"Aku tidak mau jadi pebinor," jawab Edwin kemudian benar benar berlalu dari parkiran.


"Kamu tidak mencintainya Edwin hanya terobsesi dengan Sinta," gumam Ronal sambil memandangi Edwin yang semakin menjauh.


****


Andre merebahkan dirinya di ranjang setelah terlebih dahulu meletakkan ponsel dan jam tangannya di meja. Menyusul Cindy yang sudah berbaring terlebih dahulu. Andre sangat bahagia. Mendengar detak jantung anaknya ketika periksa kehamilan Cindy tadi membuatnya berdebar tidak sabaran ingin cepat melihat putrinya lahir.


Seminggu lagi, Cindy akan melahirkan secara Caesar. Ketika dokter menyarankan Cindy melahirkan normal, Cindy malah memilih Caesar. Padahal dari segi kesehatan Cindy dan letak bayi, memungkinkan Cindy untuk melahirkan normal. Dokter sudah memberitahu dampak positif dan dampak negatif dari Caesar. Dan juga dampak positif dari melahirkan normal. Tetap saja Cindy ngotot untuk Caesar.


Andre mencium perut buncit Cindy kemudian mengelusnya lembut. Cindy tersenyum. Perempuan itu bagai hidup di negeri dongeng. Semua kemauannya terwujud. Entah sudah berapa banyak rupiah dari Andre mengalir ke rekeningnya. Walau usaha kafe tidak jadi dan apartemen dijual, Andre tidak marah. Andre tidak perduli. Pakaian bayi yang seharusnya tidak perlu terlalu banyak, tapi Cindy membelinya sangat banyak dan dari merek ternama. Mama Ningsih dan Bella Sampai menggelengkan kepala melihat persiapan Cindy menyambut putrinya dengan materi yang berlebihan. Andre tidak jauh berbeda dari Cindy. Andre juga sangat antusias menyambut kelahiran putrinya. Bahkan kamar untuk putrinya, Andre sendiri yang mendesain.


"Sayang, aku mau menunjukkan sesuatu padamu," kata Andre masih mengelus perut Cindy. Wajahnya yang tersenyum dengan mata yang berbinar menunjukkan bahwa Andre sangat bahagia.

__ADS_1


"Menunjukkan apa mas" tanya Cindy penasaran dan spontan membuka matanya. Andre duduk dan turun dari ranjang. Berdiri dan berjalan ke arah meja dan mengambil sebuah kunci dari laci. Andre kemudian mendekat ke Cindy, membantu wanita hamil itu berdiri dan menuntunnya ke luar kamar.


"Kita mau kemana mas?"


"Nanti kamu akan tahu," jawab Andre dan membuka pintu kamar yang terletak di sebelah kamar mereka. Cindy tercengang. Kamar untuk bayinya sangat bagus dengan paduan warna warni yang lembut. Box bayi warna pink serasi dengan kelambu warna putih. Lampu gantung kristal yang membuat kamar itu semakin mewah. Sedangkan di sudut kamar diletakkan tumbuhan imitasi membuat kamar itu terlihat segar.


Sedangkan di sudut lainnya terdapat banyak boneka dan Barbie yang disusun di rak yang atasnya mengerucut. Lemari untuk pakaian baby yang warna pink sangat serasi dengan cat dinding yang didominasi dengan warna warna lembut.


Cindy menutup mulutnya tidak percaya dengan kejutan yang diberikan Andre. Cindy membalikkan badannya dan memeluk Andre.


"Aku suka mas, kapan kamu siapkan ini semua?" tanya Cindy senang. Kepalanya masih bersandar di bahu Andre.


"Setiap kamu keluar rumah," jawab Andre tenang. Dia menuntun Cindy masuk ke dalam kamar. Dengan wajah sumringah Cindy mengitari kamar itu senang dan sesekali menyentuh perlengkapan bayinya.


"Ada yang kurang mas," kata Cindy menyentuh boneka yang tersusun di rak.


"Apanya yang kurang sayang?"


"Tidak perlu sayang, begini saja sudah cukup," jawab Andre dan mendekat ke Cindy. Andre dengan mesra memeluk Cindy dari belakang.


"Kenapa tidak mau melahirkan normal?" tanya Andre pelan.


"Lahir normal itu lebih sakit dari Caesar mas, Sakit akibat kontraksi itu tidak ada obatnya sedangkan sakit karena disayat sudah ada obatnya," jawab Cindy enteng.


"Terserah mu sayang, yang penting kalian berdua sehat." Andre mengecup pelan leher Cindy. Tubuh Cindy berdenyut dan langsung membalikkan badannya. Mengalungkan tangannya di leher Andre dan mencium rakus bibir Andre.


"Kita coba di kamar ini mas," kata Cindy serak. Cindy sudah bergairah. Cindy menunjukkan ranjang kecil yang dikhususkan untuk baby sitter. Andre menuntunnya ke sana.


"Dari belakang aja," kata Cindy lagi. Mereka sudah polos bagaikan bayi. Cindy memunggungi Andre. Andre yang sudah paham mengangkat satu kaki Cindy dan memulai aksinya.


"Kamu luar biasa sayang," kata Andre setelah mereka selesai bercinta. Andre duduk dan mencium perut Cindy. Turun dari ranjang, memungut pakaian mereka berdua. Andre membantu Cindy berpakaian kemudian memakai pakaiannya sendiri.

__ADS_1


****


Andre dan Cindy sudah di rumah sakit. Hari ini jadwal Caesar Cindy. Cindy harus menjalani enam jam berpuasa sebelum dibedah. Segala persiapan seperti pakaian bayi dan popok sudah mereka persiapkan dari rumah. Andre tidak henti hentinya berdoa untuk keselamatan Cindy dan bayinya. Terkadang Andre takut membayang sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Melahirkan itu taruhannya nyawa walau Caesar sama saja bertaruh dengan nyawa.


Andre menggenggam tangan Cindy ketika mau dimasukkan ke ruang operasi. Kemudian mencium kening dan menyemangati Cindy. Cindy hanya tersenyum. Dia pun sebenarnya merasa takut membayangkan pisau menyayat perutnya.


Tidak sampai satu jam Cindy di ruang operasi, seorang perawat sudah membawa bayi Cindy keluar dari ruangan itu. Andre yang duduk di depan ruang operasi langsung berdiri dan menghampiri perawat tersebut.


"Ini putriku suster?" tanya Andre dan hanya dibalas dengan anggukan suster. Andre mengelus pipi bayinya dan tersenyum.


"Putri bapak akan dimasukkan dulu ke inkubator di ruang bayi," jawab suster itu dan pamit ke Andre. Andre senang dan bahagia kini dia sudah menjadi seorang ayah.


Andre segera menghubungi orangtuanya memberitahu kelahiran putrinya. Tidak berapa lama kemudian Cindy keluar dari ruang operasi. Karena pengaruh obat, Cindy tertidur. Tiga jam kemudian Cindy sudah bangun dan dipindahkan ke ruang perawatan


"Terima kasih sayang, kamu membuat hidupku berwarna dan sempurna," kata Andre terharu dan mencium kening Cindy. Cindy hanya tersenyum.


Tak berapa lama kemudian, kamar perawatan Cindy sudah dipenuhi oleh keluarga Andre dan orang tua Cindy. Mereka juga ikut merasakan kebahagiaan Andre. Kenzo dan Rey bahkan tidak mau berpindah dari depan kamar baby. Agnes sampai kesal membujuk keduanya untuk berlalu dari depan kamar baby.


"Kenzo dan Rey mana Agnes?" tanya mama Ningsih khawatir ketika melihat Agnes sendirian masuk ke ruangan Cindy.


"Mereka masih di depan kamar bayi ma," jawab Agnes. Maya yang mendengar jawaban Agnes langsung keluar menyusul Kenzo dan Rey. Mama Ningsih tersenyum.


"Bayu, Andi. Lihat tuh anak kalian. Udah perlu dikasih adik," kata Mama Ningsih kepada kedua anaknya.


"Maunya juga begitu ma. Udah macam gaya dibuat, tetap aja Bella belum hamil," jawab Andi, Bella sampai sebel mendengar jawaban suaminya. Bella memutar matanya malas sedangkan yang lain terkekeh.


"Kalau aku ma, pulang dari sini harus kejar target ma. Tenang aja ma, tahun depan cucumu pasti bertambah," jawab Bayu. Papa Rahmat masih terkekeh melihat kelakuan kedua anaknya.


"Hah, kalau kamu Andre lain lagi. Kamu harus cuti sampai satu tahun," kata Andi membuat Andre melotot. Bayu dan Papa Rahmat tertawa terbahak-bahak.


"Kok, satu tahun kak, gak kelamaan itu?" tanya Andre, Andi mengangguk. Andre menoleh ke Bayu, Bayu juga mengangguk sedangkan papa Rahmat pura pura sibuk membuka ponsel. Mereka bertiga sengaja mengerjai Andre.

__ADS_1


Bella yang malu mendengar pembicaraan keempat laki laki itu langsung menyibukkan diri bercanda dengan ibu mertuanya. Sedangkan Agnes sibuk dengan membaca novel online sehingga dia tidak begitu menyimak pembicaraan ayah dengan ketiga kakaknya.


__ADS_2