Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Pertengkaran Di Pagi Hari


__ADS_3

Vina menurunkan kedua kakinya dari taksi. Dia tidak sabaran menunggu kembalian uangnya dari sang supir. Di pikirannya saat ini adalah bisa secepatnya tiba di rumah. Dia sudah berjanji akan di rumah duluan sebelum Radit. Tetapi sepertinya hal itu tidak akan terjadi. Mobil Radit sudah terparkir di garasi. Itu artinya Radit sudah pulang atau memang tidak Keluar sama sekali sejak pagi.


Vina menetralkan detak jantungnya. Entah apa hukumannya kali ini. Vina berusaha pasrah untuk menerima hukuman tersebut. Setelah merasa detak jantungnya normal. Vina melangkah kakinya masuk ke dalam rumah. Dia terkejut. Dia mendengar Radit berbincang dengan seseorang. Suara orang sedang berbicara dengan suaminya bukanlah pembantu atau pekerja lainnya di rumah itu. Dibalik dinding pemisah ruang tamu dan ruang santai di rumah itu. Vina berdiri dan menajamkan pendengarannya.


Vina merasa geram dan marah, Radit bisa berbicara lembut dan mesra kepada wanita itu. Entah siapa itu bahkan Vina malas untuk melihat nya. Berbanding berbalik jika kepadanya. Radit akan sering membentak, ketus dan bahkan bersikap dingin. Sedangkan wanita yang bersama Radit itu, dia juga terdengar berbicara manja kepada Radit.


Vina keluar dari persembunyiannya. Dia bisa melihat dua kepala manusia yang duduk bersebelahan sedang bersandar membelakanginya. Radit dan wanita itu sedang menghadap ke telivisi sehingga mereka tidak menyadari bahwa di belakang mereka Vina sudah berdiri sambil memperhatikan tingkah mereka.


Tangan Radit yang membelai rambut wanita, jelas menunjukkan bahwa Radit mencintai wanita tersebut. Kepada Vina istri sahnya saja Radit tidak pernah berlaku seperti itu. Hubungan Vina dan Radit memang sangat kaku. Vina yang memang tidak mau melayani Radit di ranjang membuat pria itu tidak menganggap Vina sama sekali. Bukan tidak mau sebenarnya, hanya saja Vina meminta Radit untuk berubah. Maka dia juga akan berubah menjadi istri yang baik.


Vina memberanikan diri untuk bergabung dengan suami dan wanita itu. Dia berdehem sambil berjalan. Seakan baru tiba di rumah vina duduk di hadapan pasangan tersebut. Wanita itu terlihat canggung sedangkan Radit biasa saja. Wanita bernama Donna itu jelas tahu bahwa Vina adalah istri dari kekasihnya. Tetapi baru ini pertama kali langsung bertemu muka dengan Vina. Tidak ingin terlihat konyol di hadapan Radit dan Donna. Vina mengulurkan tangannya ke Vina.


"Kenalkan mbak. Vina," kata Vina tenang. Dengan gugup Donna mengulurkan tangannya.


"Donna," jawab Donna singkat. Radit yang melihat itu terlihat sangat tenang sekali. Dia tidak merasa seperti orang yang ketahuan berselingkuh. Jelas saat ini dia berselingkuh. Tapi pria itu dengan santai mengganti channel telivisi.


"Ya ampun mas, gadis yang semalam kamu bawa namanya Donna juga kan?. Aku tidak menyangka mas Radit ternyata mengoleksi wanita yang bernama Donna," kata Vina sangat tenang. Melihat Radit yang tenang terbersit dipikirkannya untuk mengerjai suami laknatnya itu. Vina menghitung jari jarinya. Sedangkan Donna yang mendengar perkataan Vina terkejut dan marah. Dia menatap protes ke Radit. Radit juga terkejut dan ingin membentak Vina saat itu juga. Tapi Radit menahannya dia tidak mau Donna semakin menilai dirinya negatif.


"Kalau tidak salah ada tiga mbak. Wanita yang bernama Donna dibawanya ke rumah ini. Kalau kamu mau mas, teman aku juga ada yang bernama Donna. Tapi itu tadi, Donna teman aku itu bisa dipake orang. Kamu bisa menambah koleksi kamu mas," kata Vina lagi. Gadis itu terlihat sangat tenang mengatakan itu. Aktingnya benar benar bisa mendapatkan jempol. Perkataannya tidak menunjukkan kebohongan sama sekali. Radit memang belum berubah. Dia masih juga suka memakai wanita malam untuk memuaskan hasratnya.


"Vina, masuk ke kamar mu," bentak Radit dengan suara yang meninggi. Radit marah.Dia juga tahu bahwa Vina sengaja berkata seperti itu supaya Donna marah. Bukan ini yang pertama Vina berbuat seperti ini. Sejak menikah dengan Radit Vina selalu memprovokasi teman wanitanya.


Tanpa membantah Vina naik ke lantai menuju kamarnya. Bibirnya tersenyum mendengar Donna dan Radit yang sudah adu mulut. Dia berharap pasangan non halal itu cepat keluar dari rumah. Vina masuk ke kamar. Dia sengaja membuka pintu kamar sedikit. Suara itu semakin mendekat dan melewati kamarnya. Vina mengintip dan melihat Radit menyeret Donna masuk ke dalam kamar tamu.


Hingga tengah malam. Radit juga tidak keluar dari kamar itu. Walau hubungan mereka tidak baik Vina dan Radit tidur satu kamar dan satu ranjang. Vina merasakan dadanya sesak. Wanita mana yang ingin suaminya tidur dengan wanita lain apalagi di atap yang sama. Tiga bulan berumah tangga dengan Radit. Vina berusaha menyadarkan Radit dari kebiasaan buruknya. Sepanjang malam Vina sulit untuk memejamkan matanya. Ingin rasanya dia menghampiri kamar itu untuk sekedar menguping. Tapi Vina mengurungkan niat itu.


Pagi hari, Radit masuk ke dalam kamarnya bersama Vina. Vina yang sudah bangun langsung menyingkapkan selimutnya dan duduk bersandar di ranjang.


"Radit...."

__ADS_1


"Diam lah wanita sialan. Di depan Donna kamu memanggil aku dengan sebutan mas. Jika berdua begini kamu memanggil aku dengan nama aku sendiri. Dasar wanita bermuka dua," potong Radit cepat. Kemarahannya belum lenyap padahal satu malam sudah berlalu.


"Mulai hari ini, Donna akan tinggal disini," kata Radit lagi membuat Vina semakin terkejut.


"Tega kamu Radit,"


"Kamu penyebabnya, seandainya kamu tidak berkata seperti semalam itu. Dia tidak akan meminta tinggal di sini,"


"Dan kamu yang bodoh dan tidak punya hati mengijinkan ****** kamu itu tinggal di sini," kata Vina sengit. Harga dirinya sebagai wanita dan istri terasa di injak injak oleh Radit dan Donna.


"Aku membutuhkannya Vina, kamu saja yang sudah istri sah tidak pernah memberi aku nafkah batin. Ya wajar kalau aku masih memakainya. Aku tidak bisa hidup tanpa kebutuhan biologis itu," kata Radit tenang. Dia membuka bajunya dan melempar baju itu asal. Vina dapat melihat banyak tanda merah di dada dan punggung Radit akibat keganasan Donna.


"Mati saja kau brengsek kalau hanya hidup untuk berbuat dosa," maki Vina beringas. Dia menatap tajam Radit.


"Aku memang berengsek. Tapi kamu juga bukan wanita yang bebas dari dosa. Tidak memberi aku nafkah batin. Kamu juga sudah termasuk wanita pendosa," balas Radit juga marah.


"Aku bukan tidak memberi kamu nafkah itu. Hanya saja aku ingin kamu berubah Radit. Berubah menjadi orang baik dan suami yang baik," jawab Vina pelan. Kemarahannya lenyap


"Aku bahkan menerima masa lalu yang kelam. Jika kamu berubah. Apa itu tidak cukup?" tanya Vina lagi dengan suara yang serak. Radit memandangnya sekilas kemudian berjalan hendak ke kamar mandi.


"Radit,,,," panggil Vina cepat. Radit berhenti dan kembali berjalan ke arah ranjang.


"Masih ingin menceramahi aku?" tanya Radit sinis. Vina menggelengkan kepala.


"Seperti yang aku katakan sebelumnya. Jika kita tidak bisa saling mencintai setidaknya jangan saling menyakiti. Aku tahu kamu sangat mencintai wanita itu. Sebaiknya kita bercerai saja," kata Vina lagi. Dia menarik nafas panjang setelah mengucapkan kata kata itu. Radit sama sekali tidak terkejut dengan ucapan Vina. Radit bahkan melempar Vina pakai bantal. Bantal itu tepat mengenai wajah Vina. Demi apapun diperlakukan kasar seperti itu, Vina tidak dapat lagi menahan tangisnya. Vina menutup wajahnya dengan bantal itu. Dia menangis sesenggukan.


"Berlaku lah sesuka kamu. Aku tidak akan mencampuri urusan kamu. Tapi jangan meminta cerai. Bukan karena aku tidak mau bercerai dari kamu tapi orang tua kita yang akan jadi korbannya. Berkorban lah untuk orang tua kamu dan aku juga berkorban untuk orang tua aku. Simpel kan?" kata Radit tenang.


"Kalau begitu jangan biarkan wanita ****** itu di rumah ini,"

__ADS_1


"Dia akan tetap di sini,"


"Baiklah. Kalau kamu tidak bisa mengusirnya. Maka aku yang akan pergi dari rumah ini,"


"Silahkan kamu pergi. Melangkah kamu dari rumah ini. Aku akan memberitahu orang tua kamu. Entah apa yang terjadi pada mereka jika kamu keluar dari rumah ini. Aku sih tidak apa apa,"


"Radit sialan kamu, Kalau begitu aku yang akan mengusir wanita sialan itu," kata Vina marah. Dia beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar. Vina berjalan dengan cepat menuju kamar tamu yang ada di paling ujung belakang rumah itu. Dengan marah, dia membuka kamar tamu tersebut. Donna yang masih tidur tidak terusik sama sekali dengan suara pintu yang berderit.


"Bangun kamu berengsek, dan keluar dari rumah ini sekarang juga," kata Vina. Dia menarik tangan Donna tanpa menyingkapkan selimut. Donna tentu saja terkejut. Dia hampir terjatuh dari ranjang. Belum lagi Donna duduk sempurna di ranjang tersebut. Vina sudah mendaratkan tamparan di wajah Donna. Donna meringis. Dan hendak melawan Vina. Tetapi Vina bisa membaca gerakan Donna. Dengan cepat Vina meninju kedua lengan Donna. Donna kembali meringis dan merasakan kedua tangannya tidak berdaya.


"Dasar wanita murahan. Sudah tahu suami orang tetapi masih mau juga di tusuk tusuk," maki Vina. Dia kembali meninju kedua lengan Donna.


"Dia kekasih aku dan selamanya seperti itu. Kamu hanya istri tidak berguna baginya," jawab Donna sambil meringis. Dia ingin berdiri tetapi secepat kilat Vina menendang tulang kering kakinya.


"Jadi wanita pelampiasan saja bangga. Jangan harap kamu bisa tinggal di rumah ini. Cepat pergi dari sini," kata Vina sambil menunjuk pintu kamar.


"Aku akan tinggal di sini. Kami akan menikah. Kamu mau apa?" tantang Donna sengit. Dia tidak merasa takut. Vina yang semakin marah akhirnya menyeret Donna dari kamar itu. Donna tidak bisa melawan karena kedua tangannya terasa lemah. Bukan hanya keluar dari kamar. Vina bahkan menyeret Donna hingga menuruni tangga. Donna berteriak memanggil nama Radit. Pria itu entah kemana, sudah berkali kali Donna memanggil namanya tetapi pria itu tidak kunjung muncul.


Hingga Donna di seret sampai keluar dari rumah. Radit belum juga keluar.


"Pergilah!. Jika kamu masih ngotot untuk tinggal disini dan menikah dengan Radit setidaknya kamu sudah tahu sifat asli aku. Aku bisa lembut dan baik. Tergantung sikap kamu terhadap aku," kata Vina sambil mendorong tubuh Donna. Vina menulikan telinganya ketika Donna memakinya dari luar. Dia menutup pintu dari dalam rumah.


Vina kembali masuk ke dalam kamarnya. Amarahnya sudah reda. Dia memikirkan perbuatan kepada Donna. Dia menyadari itu keterlaluan. Tetapi Vina tidak mau wanita itu semakin menginjak harga dirinya. Bukan tanpa alasan dia berbuat seperti itu. Seandainya Donna tidak mengetahui Radit sudah beristri. Vina akan maklum.


"Wanita murahan itu sudah aku usir dan sudah di luar rumah. Jika kamu ingin menyusulnya. Silahkan. Dia mungkin belum jauh dari rumah ini. Atau bisa saja dia masih di bawah menunggu kamu," kata Vina ketika melihat Radit keluar dari kamar mandi.


"Apa yang sudah kamu lakukan?"


"Aku memberinya sedikit pelajaran. Hanya sedikit. Jika kalian menikah. Akan banyak pelajaran yang akan aku berikan," jawab Vina tenang. Radit cepat memakai pakaiannya dan setengah berlari keluar dari kamar. Vina kembali merasakan matanya memanas. Melihat Radit begitu mengkhawatirkan Donna. Vina merasakan hatinya berdenyut nyeri.

__ADS_1


Radit naik kembali ke atas dan masuk kedalam rumah. Matanya memerah karena marah. Dia bahkan membanting pintu kamar dengan sangat keras. Vina yang menutup wajahnya pakai banyak terkejut. Sisa air matanya masih jelas terlihat di pipinya.


"Kurang ajar kamu Vina. Aku selalu berusaha menahan amarahku tetapi kamu semakin menjadi jadi," kata Radit marah. Dia mendorong tubuh Vina yang duduk di tepi ranjang. Vina tertidur di ranjang dengan kedua kakinya menjuntai ke lantai. Dengan kasar, Radit menarik paksa celana panjang Vina. Vina yang sadar akan hal itu. Berusaha duduk. Tetapi dia kalah cepat. Radit langsung menindih tubuhnya. Radit memegang kedua tangan Vina. Dia menarik tubuh Vina ke tengah ranjang. Radit bahkan mengikat kedua tangan Vina dengan tali pinggang. Vina meronta dan memohon ampun. Radit tidak perduli. Untuk kedua kalinya. Radit kembali menggagahi Vina dengan paksa.


__ADS_2