Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Bisu dan Buta


__ADS_3

Satu bulan kemudian. Kehamilan Vina semakin membesar. Usia kandungannya masih empat bulan tapi besar perutnya seperti kandungan berusia delapan bulan. Selain itu, Vina juga semakin merasa kandungannya lemah. Sering terasa kram di tambah lagi Vina cepat kelelahan.


Karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Vina akhirnya mengambil cuti kuliah. Vina sungguh tidak sanggup untuk ke kampus. Padahal sejak mengetahui dirinya hamil. Vina sudah ikut ujian tengah semester. Tapi untuk ujian akhir semester ini. Vina merasa tidak sanggup lagi. Dia rela harus mengorbankan uang kuliah yang sudah sempat dibayarkan dan mata kuliah yang sudah diikutinya bisa dipastikan akan gagal.


Vina menjalani hari harinya selama sebulan ini hanya di rumah saja. Sangat membosankan memang. Tetapi Vina tidak bisa berdaya, hanya untuk jalan ke simpang saja, Vina merasa tidak sanggup. Janin kembarnya pasti berulah. Kalau tidak kram. Vina pasti langsung kelelahan.


Hingga kehamilan itu kini berumur lima bulan. Vina semakin tidak berdaya. Perutnya sangat besar. Sehingga Vina tidak bisa bebas bergerak. Geraknya semakin terbatas hanya berbaring di kamar dan ke kamar mandi. Di tempat tidur, Vina juga tidak bisa bergerak sesukanya. Untuk miring ke kiri dan ke kanan. Vina harus dibantu dengan memegang perutnya.


Untuk ke kamar mandi, Vina juga harus dibantu. Hendrik memperkerjakan satu perawat khusus menjaga Vina. Vina pasrah menjalani hari harinya. Vina tidak bisa tanpa bantuan perawat tersebut. Mandi, buang air kecil dan besar, mengganti baju, semuanya harus dibantu.


Selama dua bulan hanya berdiam diri di rumah demi janin kembarnya. Selama itu juga Radit berusaha untuk menemui Vina. Tapi Hendrik tetap pada pendiriannya. Radit tidak boleh memasuki rumahnya apalagi harus bertemu dengan Vina. Kesempatan pada Radit sepertinya memang tidak ada lagi. Radit sangat menyesal. Tetapi penyesalannya tidak berarti bagi Vina. Hendrik benar benar menepati perkataannya. Bahwa penyesalan Radit adalah hal yang sia sia dan sudah terlambat.


Vina tentu saja mengetahui usaha Radit yang ingin menemuinya. Sama seperti Hendrik papanya. Vina juga tidak ingin bertemu dengan Radit. Setiap mengingat nama Radit. Vina mengingat apa apa saja yang dilakukan Radit kepadanya selama tiga bulan hidup satu atap. Sakit hati itu masih ada, Vina sama sekali tidak tersentuh dengan segala usaha yang dilakukan Radit.


Hari ini Vina sangat senang. Para sahabatnya mengabari Vina akan berkumpuldi rumah. Hari Sabtu seperti ini, terkadang para sahabatnya datang berkunjung. Selama dua bulan ini, hampir setiap hari Sabtu Sinta dan Tini selalu datang bergantian. Hal itu sedikit bisa membunuh rasa bosan yang dialami Vina.


Vina bersiap menyambut para sahabatnya. Vina merasa tidak sabaran untuk menunggu. Dia melirik jam dinding sudah menunjuk angka sepuluh. Satu jam sudah terlambat dari yang mereka katakan di grup wa. Bahwa mereka akan sudah sampai di rumah Vina tepat jam sembilan. Karena siangnya Sinta dan Andre ada acara, sehingga tidak boleh berlama lama di rumah Vina.


Vina meminta sang perawat untuk membantunya untuk tidur miring menghadap tembok. Sedari tadi berbaring dengan menumpu ke sisi tubuhnya sebelah kiri. Vina ingin menghadap ke arah tembok.


"Makasih mbak Ira," kata Vina pelan.


"Sama sama Vina,"


"Mbak, sudah ingat kan wajah Radit. Kalau dia datang jangan buka pintu ya,"


"Sudah ingat Vina, lagi pula pak Hendrik dan ibu juga sebentar lagi sudah pulang. Kamu tidak perlu takut," jawab Ira sambil tersenyum. Hendrik dan istrinya sedang ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan mamanya Vina.


"Sebentar lagi mungkin Sinta dan sahabatku yang lain akan datang mbak, Pintunya langsung ditutup begitu mereka sudah masuk ke rumah ya," kata Vina waspada. Dia tidak mau ketika para sahabatnya ada di rumah, Radit datang dan masuk ke dalam rumah. Ira hanya mengangguk saja.


"Sebentar Vina, sepertinya ada mobil berhenti," kata Ira sambil berjalan ke arah pintu. Tidak lama kemudian Vina sudah mendengar suara Tini.


"Mbak, kami datang rame rame. Tidak apa apa kan?" Vina mendengar suara Tini. Vina mengernyitkan keningnya karena mendengar Tini berkata mereka datang rame rame. Di grup wa yang bisa datang untuk hari ini ke rumahnya hanya Sinta, Tini dan Cici sedangkan indah dan Elsa tidak bisa untuk ikut.

__ADS_1


"Langsung ke kamar saja," kata Ira kepada sahabat sahabatnya Vina.


"Vina, we are coming," teriak Tini dari ruang tamu. Vina hanya menjawab iya dari kamar. Tini masuk diikuti dengan yang lain ke kamar Vina. Vina menggerakkan kepalanya melihat para sahabatnya itu.


"Silahkan duduk. Sebentar ya!. Tunggu mbak Ira dulu membantu aku berbalik," kata Vina. Vina memanggil Ira.


Ira memegang kedua sisi perut Vina. Kemudian dengan perlahan lahan, Vina menggerakkan tubuhnya untuk menghadap ke kiri. Vina meringis karena setelah dia berhasil tidur miring ke kiri. Perut bagian bawah sebelah kiri terasa kram.


"Kenapa Vina?" tanya Sinta dan Tini bersamaan.


"Hanya kram biasa. Hal seperti ini hampir setiap jam terjadi," kata Vina pelan. Vina menarik nafas kemudian membuangnya dari mulut. Kramnya belum juga hilang.


Andre, Sean, Cici dan juga Radit hanya bisa melongo melihat keadaan Vina. Perutnya jauh lebih besar dibandingkan dengan kandungan berusia sembilan bulan. Ini yang pertama bagi mereka melihat Vina setelah mengandung lima bulan. Kedatangan para sahabat Vina hari ini adalah untuk membantu Radit untuk melihat keadaan Vina. Pria itu bahkan memohon kepada Sinta dan Tini untuk membantunya bertemu dengan Vina.


Tini dan Sinta tidak kuasa menolak permintaan Radit. Untuk membujuk Hendrik atau Vina tentu saja tidak mungkin. Karena sudah sangat jelas, keluarga Vina tidak memberi ampun atas segala perbuatan Radit.


Akhirnya Tini menemukan ide. Radit boleh ikut mereka untuk mengunjungi Vina. Tini menyuruh Radit untuk mencukur rambutnya sampai botak dan menyuruh Radit untuk memakai masker dan kaca mata hitam. Ide itu masuk akal bagi Radit. Penampilan seperti itu bermaksud untuk mengecoh Hendrik dan keluarganya. Dan tentu saja ide itu berhasil. Vina tidak mengenali Radit sama sekali.


"Siapa?" tanya Vina sambil menggerakkan dagunya ke arah Radit. Radit seketika gugup. Beruntung dia duduk agak tersembunyi di belakang Andre. Baik Vina dan yang lain tidak menyadari kegugupan Radit. Ditambah lagi Radit memakai masker jadi rona wajahnya tidak kelihatan. Radit memegang bahu Andre kencang untuk menutupi kegugupannya.


"Ini temanku Vina, tidak perlu di ajak bicara dia bisu dan buta," jawab Tini tenang. Andre dan Sean hampir kelepasan untuk tertawa. Sedangkan Radit, ingin rasanya dia menjitak kepala Tini. Radit melotot ke Tini. Tentu saja Tini tidak melihatnya. Sinta dan Cici menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajah mereka yang mencoba untuk tidak tertawa. Sedangkan Tini memamerkan senyum manisnya.


"Vina, ini kandungan kamu masih berumur lima bulan. Tujuh atau delapan bulan gimana lagi besarnya ya?" tanya Sean sambil menggelengkan kepala. Antara takjub dan kasihan bercampur melihat keadaan Vina yang hanya bisa berbaring miring.


"Ya pasti lebih besarlah kak, bayi aku makin besar di dalam ya otomatis perut aku juga makin besar," jawab Vina sambil membetulkan letak bantalnya. Badanku sudah mulai pegal. Tetapi tidak mungkin baginya untuk tidur miring ke kanan menghadap tembok.


"Jadi kalau bab atau yang lainnya yang berurusan ke kamar mandi, bagaimana Vina," tanya Andre kasihan.


"Harus dibantu mbak Ira kak, di pegangin perut aku seperti tadi,"


"Radit, pernah tidak kemari?" tanya Cici. Tini menyenggol tangan Cici pelan. Cici menutup mulutnya, Cici tidak sengaja bertanya.


"Pernah beberapa kali tapi sampai pintu depan saja. Papaku tidak membiarkan dia masuk. Aku juga tidak ingin bertemu dengannya. Untuk apa dia datang kalau hanya untuk menambah luka,"

__ADS_1


"Bagus Vina. Aku setuju dengan kamu. Radit si banci kaleng itu jangan kasih kendor. Biar tahu rasa dia," kata Tini lagi. Dia merapatkan giginya hanya untuk mengatakan itu. Sean menyentuh lengan Tini bermaksud untuk mengingatkan Tini, bahwa Radit juga ada bersama mereka sekarang. Tini tidak perduli. Dia memang bermaksud untuk menyindir Radit.


Radit hanya bisa mendengarkan apa yang sudah dikatakan Vina dan Tini lagi. Tidak seperti biasanya Radit yang gampang marah kali ini dia merasa sedih setiap melihat Vina. Radit bahkan tidak marah atau tersinggung ketika Tini menyebutnya si banci kaleng. Melihat kesulitan yang dialami Vina seperti ini, Radit berterima jika sebutan itu melekat kepada dirinya.


"Vina, mendendam itu tidak bagus. Apalagi bakalan ada anak diantara kalian. Harusnya kamu membiarkan dia masuk ke rumah. Biar Radit mengetahui bagaimana perjuangan kamu mulai dari mengandung si kembar. Tiga orang anak loh Vina," kata Andre. Radit tersenyum dibalik maskernya mendengar perkataan sahabatnya itu. Radit berharap perkataan Andre bisa mempengaruhi Vina.


"Aku tidak dendam kak. Tapi untuk melihat wajahnya. Itu akan memperburuk suasana hatiku. Aku tidak ingin kandungan aku kenapa kenapa. Radit tidak bisa dibantah. Padahal selama hamil ini entah mengapa. Aku juga sangat sensitif dan tidak tahan mendengar suara yang keras apalagi membentak," jawab Vina pelan. Radit melemas di belakang Andre. Harapannya untuk kembali bersama Vina sepertinya tidak ada lagi. Dari balik kaca matanya. Radit hanya bisa melihat Vina sendu. Vina dan Hendrik benar benar tidak memberikan ampun baginya.


"Mbak Ira, buka pintu!. Papa dan mama sudah pulang," kata Vina. Ira yang duduk dekat pintu berdiri dan menuju pintu. Radit semakin gugup. Dia takut kedatangannya bisa diketahui Hendrik.


Hendrik langsung menuju kamar Vina. Dia tersenyum melihat sahabat sahabat putrinya.


"Yang tiga orang, aku sudah kenal. Yang tiga orang lagi. Aku belum mengenal kalian," kata Hendrik sambil menunjuk Tini, Sean dan Sinta. Andre dan Cici berdiri dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Andre memperkenalkan diri sebagai dosennya Vina dan suami dari Sinta. Hendrik tersenyum dan menatap ke arah Radit. Pria itu sadar ditatap oleh mertuanya. Radit pura pura menatap lurus ke depan.


"Kalau ini teman aku om, Dia tuna netra, tuna rungu. Pokoknya segala yang tuna tuna semua sama dia semua om," kata Tini terkekeh sambil menunjuk Radit. Semua yang ada di ruangan itu tertawa mendengar perkataan Tini kecuali Vina. Tini berharap dengan penjelasannya Hendrik tidak curiga.


"Tini, dia memang tidak mendengar kamu berbicara seperti itu. Tapi setidaknya kamu cukup menyebutkan namanya saja. Bukan malah menyebutkan segala kekurangannya," kata Vina sambil mengelus perutnya. Hati Radit menghangat mendengar pembelaan dari Vina. Walau apa yang dikatakan Tini itu adalah untuk menutupi jati dirinya, Radit sangat senang mendapat pembelaan dari Vina. Yang lain terdiam. Radit tersenyum kembali dibalik maskernya.


"Benar kata Vina sayang, harusnya kamu cukup menyebutkan nama saja," kata Sean sambil menyenggol lengan Tini pelan. Hendrik mengangguk setuju dengan perkataan Vina dan Sean. Tini mengumpat Sean dalam hati. Kekasihnya itu seakan akan mendukung jika jati diri Radit terbongkar. Dia harus mencari nama samaran untuk Radit.


"Namanya Banka," jawab Tini singkat. Andre spontan tertawa. Andre tahu bahwa kepanjangan dari Banka itu adalah banci kaleng. Sinta, Cici dan Sean juga akhirnya ikut tertawa. Sedangkan Vina semakin curiga. Dia mengulang kata Banka dalam hatinya.


Hendrik menatap Radit. Dia sedikit curiga. Walau kepalanya botak dan pakai masker dan kaca mata hitam. Tetap saja postur tubuh Radit tidak bisa berbohong. Postur tubuh yang sangat dikenalnya dan tidak diharapkan untuk masuk ke rumah ini. Radit. Hendrik sudah mencurigai jika pria botak berkaca mata itu adalah Radit sang menantu yang tidak dianggap lagi.


"Kenapa harus pakai masker dan kaca mata?" tanya Hendrik semakin curiga.


"Dia bisu dan buta om," jawab Tini memperjelas.


"Bisu tidak harus pakai masker kan. Buka saja maskernya," kata Hendrik penuh selidik. Radit sudah semakin gugup. Bisa saja dia langsung membuka maskernya dan menunjukkan siapa dirinya. Tapi Radit malu jika Andre dan Sean harus melihat dirinya dipermalukan oleh papa mertuanya. Ditambah lagi ada Sinta, Tini dan Cici.


Tini dan yang lainnya juga terdiam. Mereka tidak tahu mau berkata apa untuk menyembunyikan Radit. Sama seperti Radit, Tini juga sudah ketakutan karena dia yang banyak berbicara untuk menyembunyikan jati diri Radit. Tini takut jika hal ini terbongkar Vina membenci dirinya dan memutuskan persahabatan mereka. Tini sudah merasa nyaman bersahabat dengan mereka.


"Buka saja," kata Hendrik lagi. Hendrik masih saja berdiri di kamar itu menunggu Radit membuka dan kaca mata hitamnya.

__ADS_1


__ADS_2