
Sinta merasa lega, ujian semester empat atau semester genap telah selesai. Dengan bantuan Sean menjaga baby Airia. Sinta dapat ujian sesuai dengan jadwal yang diberikan kampus. Lima hari menguras otak untuk menjawab ujian semester akhir. Sinta dan Tini bersantai di rumah Sinta akhir pekan ini. Tini menginap di rumah Sinta untuk dua hari. Jumat malam dan Sabtu malam. Mulai Senin depan, perkuliahan tidak aktif karena ujian semester sudah selesai.
Setelah sarapan pagi, mereka berjemur di halaman rumah Sinta. Sinta memangku baby Airia sedangkan Tini bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain untuk mencari buah yang masak. Kali ini jambu merah, sawo dan jambu madu yang berbuah.
Sinta merasa khawatir dengan Tini, takut Tini jatuh atau pohonnya yang ambruk.
"Tini, hati hati. Aku takut kamu jatuh. Pohon sawo itu lebih kecil dibandingkan pohon jambu," teriak Sinta ketika Tini hendak memanjat buah sawo. Baby Airia sampai tersentak mendengar teriakan Sinta. Sinta langsung mendekap tubuh Airia dan meminta maaf kepada bayinya.
"Santai saja Sinta, kalau jatuh kan ketahuan. Yang sakit juga aku bukan kamu," kata Tini santai. Dia tetap naik ke pohon sawo.
"Oalah Tini, ada yang simpel tapi mau yang ribet. Tinggal ambil bangku untuk berpijak sudah dapat buahnya," kata Sinta
"Pakai bangku tidak seru, Ini baru seru. Sinta libur ini tidak ada rencana?" tanya Tini yang sudah di atas pohon sawo.
"Aku mau kerja lagi Tini, mbak Bella mau menerima aku kerja lagi. Dan pengasuh Rey yang akan menjaga Airia," jawab Sinta.
"Tidak berencana mau pulang kampung dulu?"
"Pertanyaan apa itu Tini, kamu tahu masalahku. Tapi kamu bertanya tentang pulang kampung," jawab Sinta jengkel. Tini terkekeh di atas pohon sawo.
"Aku belum selesai ngomong. Kamu langsung menjawab. Kalau kamu mau, aku bersedia menemani. Nanti biar aku saja yang mengaku bundanya Airia," kata Tini lagi.
"Aku tidak mau pulang kampung dulu Tini, bagaimanapun nanti kalau kita ke sana, pasti ketahuan. Ikatan batin antara ibu dan anak itu tidak bisa berbohong. Bisa bisa papa aku langsung stroke mengetahui statusku. Lagipula badanku saja nampak baru melahirkan," jawab Sinta sedih.
Jujur, Sinta merindukan keluarganya. Satu tahun sudah dia tidak bertemu keluarganya. Keadaannya tidak memungkinkan saat ini untuk bertemu keluarga. Kalau Sinta mau, Dia bisa saja setuju dengan saran Tini. Tapi dia tidak mau menyangkal baby Airia.
Sinta mengelap keringat baby Airia. Memandang bayinya dengan sedih. Walau keluarga Andre menerima baby Airia dengan baik, tetap saja ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Menyembunyikan baby Airia dari keluarganya sendiri merupakan beban terberat bagi Sinta. Sinta menghela nafas panjang dan membawa baby Airia masuk ke dalam rumah.
"Sinta,,,," panggil Tini dari luar. Sinta masih memakaikan baju untuk baby Airia. Baby Airia baru selesai mandi.
"Apa sih Tini?," jawab Sinta setelah di depan pintu. Sinta cepat memakaikan baju baby Airia karena panggilan Tini dari luar. Dan meninggalkan baby Airia sendirian di kamar.
"Tuh, lihat!" Kapan kamu pesan barang barang itu?" tanya Tini sambil menunjuk pick up di luar gerbang.
"Aku tidak pesan apa apa," jawab Sinta bingung. Tini masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci gerbang. Cuaca yang semakin terik membuat Sinta hanya menunggu di teras rumah.
__ADS_1
Pick up semakin masuk ke halaman setelah Tini membuka gerbang.
"Dengan ibu Sinta?" tanya supir pick up sopan, Sinta hanya mengangguk. Supir menyerahkan kertas ke Sinta.
"Tanda tangan di sini ibu," kata supir itu.
"Saya tidak ada memesan ini semua pak," kata Sinta. Dua orang sudah menurunkan barang barang dari pick up. Mesin cuci satu tabung, Vacuum cleaner, Box bayi dan kereta dorong bayi.
"Seseorang memesan untuk anda ibu," jawab supir itu dan menyerahkan kertas itu ke Sinta. Sinta ragu dan masih memandang barang barang yang sudah diturunkan.
"Langsung saja bawa ke dalam rumah pak," suruh Tini, kedua pria tersebut langsung membawa mesin cuci ke dalam rumah. Sedangkan Tini membawa Vacuum cleaner.
"Jangan dulu langsung dibawa ke rumah Tini, kita belum tahu siapa yang memesan ini. Bisa saja ini salah alamat," kata Sinta. Tini tidak perduli. Dia tetap membawa Vacuum cleaner tersebut ke dalam rumah. Tini juga merasa bahwa Sinta sangat membutuhkan barang itu semua.
"Tidak salah alamat lagi ibu, di sini jelas alamat rumah dan nama ibu. Tolong jangan persulit kami ibu. Kami juga harus mengantar pesanan yang lain," kata supir itu lagi. Melihat wajah lelah sang supir, akhirnya Sinta membubuhkan tanda tangan di atas kertas tersebut. Supir merasa lega.
Sinta masih bertanya tanya dalam hatinya tentang siapa pengirim Misterius itu. Dugaannya ada pada Agnes tetapi hatinya berkata tidak bahwa bukan Agnes pengirim barang barang tersebut.
"Sudah, tidak perlu dipikirin siapa pengirimnya. Anggap saja itu rejeki baby Airia. Lagipula kamu sangat membutuhkan barang barang itu," kata Tini santai.
"Harus tahu juga Tini, setidaknya mengucapkan terimakasih kan perlu," jawab Sinta lagi. Pandangan kedua sahabat itu beralih ke arah suara motor yang memasuki halaman rumah Sinta. Sinta memandang Tini kesal. Dia sudah menyuruh Tini untuk menutup gerbang setelah pick up tadi keluar. Tapi Tini dengan santai malah duduk di bangku kayu di teras rumah.
"Itu pak Andre, aku mendukungmu membuat wajahnya babak belur hari ini," bisik Sinta. Tini menelan ludahnya kasar. Andre sudah terlihat mendekat ke teras rumah dan menenteng beberapa paper bag.
"Apa kabar Sinta, apa ujian kamu lancar," tanya Andre lembut setelah di hadapan Sinta dan Tini. Tini memandang Andre kesal. Sinta hanya mengangguk dan menyodorkan bangku ke Andre.
"Aku ingin melihat putriku," kata Andre lagi.
"Aku akan membawanya keluar. Tunggu sebentar pak," kata Sinta. Tini masih diam mendengar mantan suami istri itu.
"Apa aku tidak bisa masuk ke dalam. Ada sahabatmu di sini. Aku rasa tidak apa apa kalau aku masuk ke dalam," kata Andre sambil melirik ke Tini.
"Silahkan pak," jawab Tini datar. Andre melangkah masuk ke dalam rumah. Sinta menarik tangan Tini untuk masuk juga. Tapi Tini menahan tangan Sinta di pintu rumah. Sedangkan Andre langsung masuk ke kamar Sinta dan membawa bayi itu keluar dari kamar.
"Aku ingin benar benar menghajar wajahnya Sinta," bisik Tini.
__ADS_1
"Ya sudah. Lakukan saja. Bukankah itu keinginanmu sejak melihat aku menderita?" bisik Sinta lagi. Mereka memandang Andre yang sudah duduk di sofa ruang tamu sambil menciumi wajah baby Airia.
"Tapi aku takut, jika itu aku lakukan akan berdampak ke nilai aku nantinya," bisik Tini lagi.
"Kalau begitu. Tidak usah lakukan. Aku tidak ingin kamu ada masalah karena aku. Dukungan kalian selama ini, sudah merupakan berkat luar biasa bagiku." Sinta memeluk Tini. Tini menarik tangan Sinta untuk duduk di sofa.
Sinta dan Tini duduk bersebelahan di hadapan Andre. Andre tidak merasa takut atau risih dengan keberadaan Tini di rumah itu. Andre masih memandang wajah putrinya sambil tersenyum.
"Sinta, untuk bekerja lagi di kafe mbak Bella. Tolong kamu pikirkan ulang. Menurut aku, kamu lebih baik fokus kuliah dan baby Airia. Untuk keperluan kalian, jangan kamu khawatir!. Aku akan bertanggung jawab untuk itu. Kamu boleh menolak rujuk denganku. Tapi untuk tanggung jawab ini. Aku mohon jangan tolak," pinta Andre. Sinta masih diam. Sinta merasa tidak perlu menjawab perkataan Andre.
"Selama libur ini. Mungkin aku tidak bisa berkunjung kemari. Jangan berpikiran bahwa aku tidak merindukan putriku atau tidak perduli kepada kalian. Aku ada tugas penting ke luar kota," kata Andre lagi. Sinta terkejut. Luar kota yang dimaksud Andre adalah kampung halamannya. Tetapi dia tidak mau memberitahu bahwa luar kota yang dimaksud Andre adalah kampung halamannya.
"Tugas apa di sana pak?" tanya Sinta penasaran. Andre sangat senang mendapat pertanyaan itu dari Sinta.
"Papa akan membangun penginapan di tempat wisata yang ada di sana. Papa meminta aku untuk mengawasi pembangunannya," kata Andre senang dan tersenyum. Sinta hanya mengangguk tanda mengerti.
"Mau dibawakan oleh oleh?" tanya Andre lagi. Sinta menggelengkan kepala. Andre terlihat kecewa.
"Tini, aku sangat berterima kasih kepada kalian sahabat Sinta. Kalian menjaga Sinta dengan baik. Terima kasih," kata Andre kepada Tini. Tini yang sedari tadi diam kini menatap Andre.
"Sebenarnya aku sangat kecewa dengan bapak. Dari awal ketika melihat Sinta hamil dan menderita. Aku berjanji untuk menghajar mantan suaminya," jawab Tini. Wajahnya masih datar dan menatap tajam Andre.
"Kalau dengan itu bisa membalas kebaikan kalian terhadap Sinta dan putriku. Lakukanlah. Aku siap kamu hajar." jawab Andre pasrah. Tangannya menyerahkan baby Airia ke Sinta.
"Tidak pak, aku tidak akan melakukan itu. Aku hanya ingin kebahagian Sinta dan putrinya. Lagi pula aku masih waras pak. Jika aku menghajar bapak pasti berimbas ke nilai aku nantinya." Andre terkekeh mendengar perkataan gadis tomboi itu. Tapi hatinya berdenyut nyeri ketika Tini menyebut kehamilan dan penderitaan Sinta.
Andre melirik jam di pergelangan tangannya. Andre mengambil dompet dari saku celananya.
"Pegang ini Sinta, untuk keperluan kalian," kata Andre menyodorkan sebuah ATM ke Sinta. Sinta tidak bergeming. Andre meletakkan ATM tersebut di atas meja sofa.
"Pin nya tanggal pernikahan kita," kata Andre lagi. Tangannya terulur menggapai wajah baby Airia.
"Aku pamit," kata Andre. Sinta tidak membalas perkataan Andre sama sekali. Walau Tini sudah menyenggol bahu Sinta. Tidak ada jawaban dari Sinta, Andre menundukkan kepala ke Tini. Kemudian keluar dari rumah Sinta.
"Sinta, sepertinya mantan kamu sudah tobat," kata Tini bercanda setelah mendengar suara motor menjauh dari halaman Sinta.
__ADS_1
"Tobat apanya?, dulu juga sebelum cerai baiknya minta ampun. Aku sampai tidak bisa menilai tulus apa tidak perlakuannya terhadapku," jawab Sinta sewot.
"Setidaknya dia menyesal dan bertanggung jawab Sinta, banyak pria di luar sana menyakiti istri atau wanita tetapi tidak menyesal atau bertanggung jawab. Jangan jangan barang tadi semua, mantanmu yang pesan," kata Tini. Tini menepuk jidatnya. Pikirannya tidak sampai ke situ. Dia hanya terpaku melihat Andre yang terlihat sangat menyayangi baby Airia.