Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Andre dan Cindy


__ADS_3

Andre mengendarai mobilnya menuju rumah Cindy. Karena ujian semester sudah usai, Andre tidak ke kampus. Andre bisa bersantai dari rutinitasnya. Sepanjang perjalanan Andre memikirkan tingkah Sinta mulai dari tadi malam. Jelas Sinta semakin menjaga jarak dengannya. Sejujurnya Andre berat melepas gadis itu pulang kampung , tetapi Andre tidak tega juga apalagi melihat Sinta menangis.


Sinta gadis yang baik dan penurut. Hampir empat bulan, menikah dengan Andre, Sinta mandiri dan tidak merepotkan. Sinta juga bukan gadis matre. Sinta mengatur jatah bulannya dengan baik. Andre jelas mengetahui, jika Sinta bersedia menjadi istri simpanannya murni karena terdesak uang kuliah. Dan selama empat bulan ini, Andre bisa melihat Sinta tidak banyak menuntut apapun. Bahkan dengan uang yang tergolong lebih cukup. Sinta masih saja hidup sesederhana mungkin.


Setelah mengucap salam, Andre masuk ke rumah Cindy. Mama Ratih dan Papa Doni orangtuanya Cindy kebetulan sedang bersantai di ruang tamu. Papa Doni yang tak menyangka tamu yang datang adalah Andre langsung berdiri dan melakukan joss dengan Andre. Papa Doni sedikit terkejut dan penasaran dengan kedatangan Andre. Karena papa Doni belum tahu tentang hubungan antara Cindy dan Andre. Mama Ratih tersenyum dan mempersilahkan Andre untuk duduk.


"Apa kabar om dan Tante?" tanya Andre sopan. Andre sudah duduk bersandar di sofa itu.


"Seperti yang kamu lihat Nak, aku dan tante mu sehat." Mama Ratih tersenyum.


"Andre, kalau boleh tahu ada keperluan apa?. Kog tumben datang ke rumah om," tanya Papa Andre setelah basa basi dari tadi.


"Iya, om dan Tante. aku ingin bertemu dengan Cindy. Apa Cindy di rumah om?"


"O Cindy, ada nak. Ma, tolong panggil anak gadismu itu!" perintah papa Doni kepada istrinya. Mama Ratih tersenyum ke Andre dan melangkah menaiki tangga menuju kamar Cindy.


Hanya berselang beberapa menit, Mama Ratih dan Cindy terlihat menuruni tangga. Dari tangga Cindy bisa melihat Andre. Di bibirnya tersungging senyum yang sangat manis.


"Mas Andre, tumben singgah dan kenapa tidak mengabari aku," kata Cindy dan langsung duduk di samping Andre. Papa Doni tidak heran melihat Cindy berlaku seperti itu, karena mulai dari kecil Andre dan Cindy sudah dekat bahkan Cindy sangat dimanjakan Andre. Permintaan Cindy akan selalu dituruti Andre. Andre tersenyum dan mengacak rambut Cindy. Cindy cemberut manja membuat Andre merasa gemas dan mencubit pelan kedua pipi sang kekasih.


"Aku harap nak Andre tidak membenci Cindy karena penolakan perjodohan itu," kata papa Doni. Papa Doni melihat interaksi sepasang kekasih itu. Sikap itu sikap yang sama yang ditunjukkan oleh Andre dan Cindy sebelum lamaran dari pihak Andre ditolak. Papa Doni ingin memastikan jika Andre tidak membenci putri semata wayangnya.


"Tidak om, aku tidak membencinya."


"Diminum tehnya Andre!" kata mama Ratih ketika sang art meletakkan minuman dan cemilan di meja.


"Iya Tante, terimakasih."


"Mas, ada apa sampai repot repot datang ke rumah, apa ada yang penting?" tanya Cindy yang sudah bergelayut manja di lengan Andre.

__ADS_1


"Iya Cindy. Ada yang mau saya bicarakan dengan kamu dan juga sama Om dan Tante. Tapi sebelumnya kita harus memberitahu Om dan tentang hubungan kita."


" Maksudnya apa ini?" tanya papa Doni yang melihat Andre serius berbicara.


"Pa, sebenarnya Cindy dan Andre dalam beberapa bulan ini sudah berpacaran pa." Mama Ratih menjelaskan dan papa Doni terkejut kemudian tersenyum.


"Nak Andre, Om senang kalau kalian berjodoh. Om merestui kalian," kata papa Doni mantap. Siapa yang tidak senang mendapat menantu seperti Andre. Doni mengenal Andre sejak kecil dan Andre juga dikenal dengan pemuda yang baik dan juga mapan.


" Makasih Om atas restunya. Papa saya juga meminta kalau boleh pernikahan antara saya dan Cindy dipercepat, tapi semuanya saya serahkan ke Cindy aja."


"Bagaimana Cindy?" tanya papa Doni dan Cindy tersenyum Malu-malu. "Bagaimana kalau tiga bulan lagi?" tanya papa Doni lagi dan kembali Cindy hanya mengangguk, Andre tersenyum ingin rasanya dia langsung memeluk Cindy yang mengiyakan untuk menikah tiga bulan lagi. Andre senang teramat senang membayangkan wanita pujaannya sebentar lagi akan menjadi miliknya.


"Menurut mama, jangan secepat itu, Butuh persiapan untuk menggelar pernikahan. Bagaimana kalau enam bulan lagi?. Jadi persiapannya nanti matang dan hasil memuaskan." Papa Doni melihat kedua sejoli yang di depannya, berpikir sebentar dan menganggukkan kepala.


"Bagaimana nak Andre? saran dari Tante." Andre mengangguk setelah bertanya ke Cindy. Dengan berat hati Cindy setuju. Ditengah pembicaraan mereka, terdengar suara ponsel berbunyi dan ternyata ponsel itu milik papa Doni. Papa Doni menerima panggilan itu dan agak menjauh dari ruang tamu.


" Iya om, aku juga bentar lagi udah mau pulang kog."


"Jangan terburu buru pulang Andre, makan siang lah di sini. Tadi Tante masak banyak," kata mama Ratih. Cindy mengangguk. Berharap Andre bersedia makan siang bersama dirinya di rumah ini.


" Iya Tante terima kasih, kebetulan juga aku rindu dengan masakan Tante."


"Iya udah, kami jalan dulu ya Andre, Cindy."


"Iya pa, hati hati bawa mobilnya," kata Cindy dan Andre hanya tersenyum saja


Setelah kedua orang tua Cindy pergi, Cindy merapatkan dirinya duduk ke Andre. Cindy menghadapkan tubuhnya ke tubuh Andre sehingga mereka saling bertatapan. Menginginkan lebih Cindy memejamkan matanya, Andre yang paham keinginan Cindy langsung menerkam bibir manis itu.


Cukup lama mereka berciuman, bukan ciuman pertama bagi mereka. Hampir empat bulan berpacaran mereka tidak melewati norma. Mereka hanya sekedar berciuman. Andre bisa menahan diri. Setelah melepaskan ciumannya, Cindy lebih agresif membelai bagian tubuh Andre. Andre yang tidak dapat jatah tadi malam tentu saja ingin menuntaskan hasratnya detik ini juga. Tapi Andre menahan diri, karena Cindy belum halal baginya.

__ADS_1


"Jangan seperti ini sayang, kamu membuat sesuatu tegak berdiri," kata Andre menahan hasrat. Tanpa menghiraukan ucapan Andre, Cindy semakin aktif dan duduk di pangkuan Andre.


"Cindy, malu di lihat orang. Ada art mu di rumah. Jangan menggodaku sayang!"


"Ya udah ayo kita ke kamarku," ajak Cindy sambil menarik tangan Andre. Perkataan Andre justru seperti peluang untuk melakukan hal yang lebih. Andre yang sudah di bakar gairah menurut. Dia lupa akan statusnya yang sudah menjadi suami siri dadi Sinta.


Sesampai di kamar ciuman panas itu kembali terjadi. Bahkan tanpa malu Cindy yang lebih agresif. Andre ingin menolak, tapi kenikmatan yang di berikan Cindy sangat memabukkan Andre. Cindy sangat pandai membangkitkan sesuatu yang tidak seharusnya bangkit tegak berdiri.


Pelan tapi pasti kenikmatan itu mereka rasakan bersama. Cindy tersenyum puas. Setelah kegiatan panas itu Andre masih berbaring di ranjang dan melihat langit langit kamar.


" Kamu luar biasa mas dan sepertinya sangat berpengalaman," kata Cindy sambil memeluk dada bidang Andre. Dia sangat puas setelah merasakan tubuh Andree dengan tenaga yang super.


"Kamu lebih berpengalaman Cindy, ternyata aku bukan yang pertama bagimu," kata Andre dengan penuh kekecewaan.


"Aku memberitahumu lewat cara ini mas, ke depannya terserahmu. Mau menerimaku atau tidak aku sudah pasrah. Maafkan aku mas!. Ini kejujuran ku. Aku tidak mau membohongimu. Aku juga tidak mau kamu mengetahui nya setelah pernikahan. Pasti itu lebih menyakitkan. Tapi satu yang perlu kamu tahu, aku sangat mencintaimu mas," kata Cindy berurai air mata.


Andre berpikir sejenak, dia juga menyadari bahwa dirinya bukan yang pertama bagi Cindy. Dia sudah mengingat status sirinya dengan Sinta. Tetapi bukan itu menjadikan dia untuk melepaskan diri dari Cindy. Yang ada Andre menghargai kejujuran Cindy. Menyadari cintanya yang teramat besar untuk Cindy. Andre memaafkan Cindy. Dia tidak perduli kekurangan besar yabg ada pada diri Cindy.


"Lupakan masa lalu, aku memaafkan mu Cindy, dan jangan khianati aku!. Hanya satu kesempatan untukmu. Aku akan meninggalkan mu jika kamu berkhianat dariku!. Cindy memeluk Andre erat berkali kali mengucap terima kasih. Cindy tidak menyangka Andre mau menerima semua kekurangannya.


"Terima kasih mas, aku akan setia. Aku mencintaimu."


Andre memeluk Cindy begitu erat, Cindy sangat bahagia. Cinta Andre begitu tulus baginya. Cindy kembali mencium bibir itu dengan lembut dan kadang kasar. Andre menyukainya. Cindy kembali melancarkan serangannya. Andre juga lupa akan dosa. Andre hanya ingin keinginan tubuhnya untuk memasuki sesuatu yang sepantasnya dimasuki oleh inti tubuhnya. Tapi Cindy terlihat sangat lihai. Dia naik ke atas tubuh Andre. Bukan Andre yang memasuki Cindy tapi Cindy yang memasukkan tubuhnya ke inti tubuh milik Andre. Andre hanya bisa memejamkan mata menikmati tarian di atas tubuhnya.


Cindy bergerak cepat di atas tubuh kekasihnya. Andre yang tidak ingin Cindy kelelahan langsung membantu Cindy untuk berbaring. Kini sudah Andre yang menari di atas tubuh Cindy. Mereka saling menerima dan memberi. Hingga akhirnya mereka terkulai lemas.


Setelah mengenakan pakaian kembali, Andre dan Cindy menuju meja makan. Cindy melayani Andre dengan baik. Cindy senang dan bahagia.


"Makan yang banyak mas," kata Cindy sambil tersenyum. Andre membalas senyuman itu dengan manis.

__ADS_1


__ADS_2