Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Menemani Sinta Bersalin


__ADS_3

"Sinta...." Sinta menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Seorang pria yang bersandar ke mobil sedang tersenyum kepadanya. Sinta berpikir sejenak, setelah mengingat pria itu, Sinta tersenyum. Dengan memegang perut buncitnya Sinta menghampiri pria itu. Pria itu adalah Sean, sudah hampir dua Minggu dia sering singgah di sini. Depan swalayan dimana Sinta diturunkan waktu pertama kali mereka bertemu. Dan sore ini adalah hari keberuntungannya, bisa berjumpa dengan Sinta.


"Kak Sean di sini?, ngapain?" tanya Sinta heran dan semakin mendekat ke Sean.


"Yuk, duduk sana!" ajak Sean menunjuk ke sebuah tenda penjual kelapa muda dekat swalayan. Beriringan berjalan ke arah penjual kelapa tapi tidak ada sepatah kata pun terucap dari keduanya.


Sean memberikan kursi plastik tanpa sandaran kepada Sinta, Kemudian mengambil kursi plastik untuk dirinya.


"Bang, air kelapa dua ya!, yang satunya tidak usah pakai es." Sean memesan air kelapa untuk mereka berdua.


"Kak, kakak belum menjawab pertanyaan ku,"


"Pertanyaan yang mana?"


"Kakak, ngapain di sini?" tanya Sinta dengan suara yang sengaja dikeraskan. Sean terkekeh.


"Kakak, kebetulan lewat. Ingat kamu jadi singgah sebentar. Ternyata aku beruntung. Kamu datang dan kita di sini sekarang. Minum air kelapa muda biar kita semakin muda," kata Sean bercanda, Sinta terkekeh.


"Besok besok banyak minum air kelapa muda ah, biar semakin awet muda," balas Sinta membuat keduanya sama sama terkekeh.


"Kalau kamu bukan hanya semakin awet muda tapi memudahkan mengeluarkan yang paling muda," canda Sean membuat mereka tertawa lepas. Penjual air kelapa muda sampai ikut tertawa.


Sean mengambil air kelapa muda tanpa es dari tangan penjual kemudian memberikannya kepada Sinta. Untuk Sean sendiri air kelapanya memakai es.


"Bumil tidak boleh banyak minum es malah kalau boleh tidak usah minum es," kata Sean, Sinta hanya mengangguk mengiyakan. Hati Sinta menghangat, perhatian yang seharusnya didapat dari ayah janinnya justru orang lain yang memberi perhatian.


"Masih kerja di kafe?" tanya Sean. Sinta menggeleng. Sejak bertemu dengan keluarga Andre di rumah sakit dua Minggu yang lalu, besoknya Sinta mengundurkan diri dari kafe Bella. Sinta tidak mau berurusan dengan keluarga Andre lagi. Sinta berjanji akan membalas kebaikan Bella dengan caranya sendiri.


"Kenapa?"


"Aku mau istirahat dulu kak, biar ada tenaga nanti untuk bertarung nyawa melahirkan," jawab Sinta pelan.


"Normal atau Caesar,"


"Maunya sih normal kak,"


"Kamu pasti bisa normal. Semangat ya!, jangan banyak berpikir. Kamu pasti bisa normal," ucap Sean.


"Terima kasih kak," jawab Sinta menunduk.


Cukup lama mereka mengobrol, mereka cepat akrab. Saling bercanda dan tertawa bersama mewarnai obrolan mereka sore ini.


"Sinta, boleh nanya tid..."


"Tidak kak," potong Sinta cepat membuat mereka kembali tertawa.


"Iya, iya. Boleh. Nanya apa Kaka?" tanya Sinta lagi. Membuat Sean gemas. Ingin rasanya dia mencubit pipi Sinta tapi mereka belum sedekat itu. Akhirnya Sean hanya bisa menggeleng sambil tersenyum.

__ADS_1


"Aku pernah melihatmu bersama Andre di depan kafe melati dan di stasiun. Itu beneran kamu kan?" tanya Sean masih penasaran.


"Iya ampun, kakak kan sudah dengar sendiri jawaban pak Andre, itu bukan aku," jawab Sinta sambil memalingkan wajahnya ke sebelah kanan. Sean belum puas dengan jawaban Sinta. Sinta kemudian terdiam. Diam diam Sean mengamati wajah Sinta. Raut wajah itu biasa saja tetapi entah mengapa Sean merasa iba dan ingin memberikan perlindungan ke Sinta.


"Baiklah, kalau itu bukan kamu. Mataku aja mungkin yang salah," jawab Sean akhirnya. Sinta tidak menanggapi ucapan Sean, dia memilih minum air kelapanya.


****


Dikelilingi oleh orang baik di sekitarnya membawa dampak positif ke kehidupan Sinta. Bella, yang sudah menganggap Sinta seperti adiknya sendiri selalu memberi perhatiannya. Bahkan bulan ini Bella mentransfer dua bulan gaji untuknya. Gaji bulan lalu dan gaji bulan ini. Padahal bulan lalu saja dia hanya bekerja dua Minggu dan bulan ini dia tidak bekerja sama sekali. Ketika Sinta protes, Bella mengatakan itu rejeki untuk janin Sinta.


Sean, walau jarang bertemu. Pria itu selalu mengirimi Sinta pesan pesan motivasi. Membuat Sinta semakin termotivasi dan lebih semangat. Bahkan, tak jarang Sinta tersenyum sendiri membaca pesan dari Sean.


Para sahabatnya juga demikian. Mereka bahkan menjaga Sinta lebih dari yang lain. Keenam sahabatnya itu bagaikan saudara bagi Sinta.


Hari ini, Sinta merasa lega. Ujian tengah semester untuk semester genap atau semester empat untuk Sinta sudah dilalui. Sinta memang tidak mau cuti kuliah, dengan perut buncit itu Sinta selalu ke kampus. Dan sesuai dengan hari perkiraan lahir. Sinta akan melahirkan dua Minggu lagi.


Besoknya pagi hari di kediaman Sinta, wanita itu terlihat santai di teras rumahnya. Karena hari ini hari Sabtu Sinta tidak kemana mana. Sinta meletakkan susu hamilnya sebelum meminum. Tendangan janin di perutnya membuat pinggangnya terasa nyeri, kemudian nyeri itu hilang, setelah Sinta mengusap perutnya.


Menyadari itu hanya kontraksi palsu, Sinta kembali mengitari halaman rumahnya. Katanya banyak bergerak menjelang lahiran akan mempercepat pembukaan lahir. Sinta berhenti ketika kontraksi itu kembali muncul. Ketika sudah hilang Sinta masuk ke rumah untuk membersihkan tubuhnya.


Di kamar mandi, Sinta terkejut melihat bercak merah di pakaian dalamnya. Walau sedikit, menurut keterangan dokter, itu merupakan salah satu tanda mau melahirkan, Sinta cepat cepat membersihkan tubuhnya.


Sinta semakin merasakan kontraksi yang lebih hebat. Dengan meringis dan kaki bergetar Sinta meraih jubah mandinya. Seketika Sinta merasa ketakutan. Dengan berpegangan ke dinding Sinta akhirnya bisa keluar dari kamar mandi. Kontraksi itu kembali hilang. Sinta mengenakan pakaiannya.


Sinta melirik jam, jarum jam menunjuk ke angka sembilan. Sinta membuka ponselnya. Melihat status Vina, Sinta membalas. Mengucapkan selamat bersenang-senang untuk keenam sahabatnya. Semalam sesudah ujian tengah semester, keenam sahabatnya itu keluar kota untuk liburan dan besok baru kembali ke kota.


"Hari inikah waktunya nak?, sahabat bunda besok pulang dari liburannya. Bisakah kamu menunggu sampai besok? Bisa saja sebenarnya bunda menyuruh mereka pulang sekarang, tapi bunda tidak mau menganggu liburan mereka nak, bunda sudah banyak menyusahkan mereka. Hanya mereka yang kita punya di kota ini nak." Sinta mengelus perutnya sambil berkata. Mencoba membujuk bayinya untuk menunggu besok.


Bujukan Sinta tidak mempan untuk bayinya. Malah dengan semakin sering, kontraksi itu menyerang. Sinta bangkit dari ranjangnya. Memasukkan ponsel ke tas sandangnya dan menyeret tas kecil berisi pakaian bayi ke luar kamar. Sinta ke dapur untuk memastikan kompor tidak menyala dan memeriksa pintu kulkas. Sinta berhenti dan berpegangan ke dinding ketika sakit itu kembali menyerang. Dan berjalan kembali ketika sakit itu berhenti.


Sinta mengelap keringatnya sendiri. Taksi online yang dipesannya belum muncul. Kontraksi itu semakin teratur muncul per lima belas menit. Sinta yakin inilah hari kelahiran bayinya.


Dengan dibantu supir online, Sinta masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan Sinta menahan sakit, supir yang meliriknya dari spion merasa kasihan tetapi tidak bisa berbuat apa apa. Pria setengah baya itu paham bagaimana sakitnya melahirkan.


"Pak, bi.. bisa saya minta to..tolong?" tanya Sinta terbata ketika mobil tiba di parkiran rumah sakit.


"Bisa non," jawab supir itu cepat. Tidak tega melihat Sinta kesakitan. Sinta mengeluarkan uang dua lembar ratusan ribu dan menyerahkan ke supir.


"Ini pak, sisanya tolong beli Pampers ukuran bayi baru lahir. Aku tidak sempat membelinya," kata Sinta sambil menahan sakit dan berusaha keluar dari mobil. Dengan cepat supir keluar dari mobil dan membantu Sinta keluar. Supir memanggil suster yang berjaga. Supir meletakkan tas berisi pakaian bayi di pangkuan Sinta yang sudah duduk di kursi. Dengan cepat suster mendorong kursi Sinta masuk ke rumah sakit.


Teriakan supir taksi yang memanggil suster rupanya didengar seseorang yang menuju mobilnya. Seseorang itu adalah Andre. Orang yang seharusnya menemani Sinta berjuang untuk melahirkan bayinya. Andre di rumah sakit ini, membawa putrinya untuk imunisasi. Kebetulan botol susu putrinya tertinggal di mobil dan Cindy menyuruhnya mengambil botol susu tersebut.


Dengan jelas Andre dapat melihat Sinta yang meringis kesakitan dan wajahnya yang pucat. Andre terdiam di tempatnya. Sungguh, Andre sangat merasakan sesak di dadanya. Melihat Sinta sendiri dengan memangku tas di kursinya membuat Andre teriris. Andre masuk ke mobil dan duduk di belakang kemudi. Andre memukul setir meluapkan sesak di dadanya. Matanya memanas, pria itu tidak sadar pipinya basah oleh air mata. Andre menghapus air matanya dan keluar dari mobil setelah mengambil botol susu.


Andre menyerahkan botol susu itu ke Cindy tanpa berbicara. Pikirannya dipenuhi dengan Sinta yang dilihatnya di parkiran. Andre mengikuti Cindy ke ruangan dokter ketika nama Cindy dipanggil. Andre tersentak ketika mendengar tangisan putrinya yang disuntik.


Keluar dari ruangan dokter, Andre mengikuti langkah Cindy dengan menentang tas perlengkapan bayi. Pria itu mengeluarkan ponsel dari sakunya.

__ADS_1


"Sayang, aku ada keperluan ke kampus. Kamu pulang naik taksi ya. Aku sudah pesan taksinya," ucap Andre sambil meneliti plat mobil yang masuk ke parkiran, kemudian dia melambaikan tangan ke salah satu mobil.


"Mas, ini kan hari Sabtu," jawab Cindy sewot.


"Hanya sebentar, ada draft mahasiswa yang harus ditandatangani," jawab Andre sambil membuka pintu mobil. Memasukkan tas perlengkapan bayi dan mendorong Cindy pelan masuk ke mobil.


"Jangan lama pulangnya mas." Andre mengangguk. Andre kembali masuk ke rumah sakit setelah memastikan taksi benar benar keluar dari parkiran.


Andre menyusuri koridor rumah sakit, mencari ruangan VK seperti yang diberitahu perawat tadi. Andre membelokkan langkahnya ke sebelah kanan ketika mendengar seseorang menitip Pampers ke seorang perawat.


"Bapak, siapanya pasien?" tanya perawat setelah menerima Pampers dari pria setengah baya itu.


"Aku supir taksi yang membawa non tadi suster. Dia meminta tolong membelikan Pampers ini, katanya gak sempat beli. Sekalian sus, ini kembalian nya," kata supir itu kemudian melewati Andre yang semakin mendekat ke ruang VK.


"Suster, pasien yang bernama Sinta. Apa benar ini ruangannya?"


"Bapak, siapanya pasien?"


"Saya suaminya dok,"


"Syukurlah bapak datang, silahkan masuk pak," kata perawat itu sambil membukakan pintu.


"Masih buka lima," kata dokter setelah memeriksa jalan lahir Sinta. Dokter membuka sarung tangannya dan membuangnya ke tong sampah yang ada di ruangan itu.


"Suami ibu tidak ikut," tanya dokter itu pelan. Sinta menggeleng.


"Saya suaminya dokter," sahut Andre dari arah pintu. Sinta menoleh. Melihat Andre membuat Sinta kesal. Sinta hanya diam. Dia tidak mau dokter dan perawat tersebut mengetahui lebih banyak tentang dirinya.


"Kira kira berapa jam lagi baru lahir dok?" tanya Sinta. Kontraksi itu kembali muncul. Sinta meringis dan berpegangan ke sisi bed. Wajahnya pucat dengan keringat yang bercucuran.


"Paling lama tiga atau empat jam lagi, untuk mengurangi rasa sakit, bapak boleh mengusap pinggang ibu ini," kata dokter itu kemudian keluar dari ruangan.


"Ibu boleh memanggil kami dengan memencet bel ini," kata perawat kepada Sinta. Perawat itu juga keluar dari ruangan.


Andre mendekat dan duduk di samping bed Sinta. Sinta ingin berbicara tetapi sakit itu kembali muncul. Sinta yang tidak ingin melihat Andre memilih membelakanginya. Andre mengikuti saran dokter, dengan lembut dia mengusap perut Sinta. Sinta menghempaskan tangan Andre.


"Pergilah, aku tidak ingin melihatmu," kata Sinta setelah rasa sakitnya berhenti.


"Sinta, aku minta maaf. Biarkan aku menemanimu bersalin," jawab Andre lesu. Entah mengapa hatinya ingin tetap di samping Sinta saat ini.


"Aku memaafkan mu. Pergilah aku bisa sen..." Sinta merasakan sakit yang lebih dashyat hingga bed ikut bergetar akibat getaran tubuh Sinta. Sinta menarik nafas dan membuangnya perlahan.


Andre mengambil handuk kecil yang terletak di meja. Andre mengelap keringat Sinta yang sebesar biji jagung. Sinta kembali merintih, bayinya seakan mendesak mau keluar. Sakit di sekitar perut dan pinggangnya membuat nafasnya tercekat di tenggorokan. Kontraksi itu semakin sering dan sering. Andre yang melihat itu menekan bel. Perawat datang.


Melihat kesakitan Sinta yang luar biasa, perawat memanggil dokter.


"Masih buka tujuh," kata dokter.

__ADS_1


__ADS_2