Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Penyesalan Selalu Datang Terlambat


__ADS_3

Tidak terasa waktu terus berputar. Vina sudah lima hari dirawat di rumah sakit. Keadaannya juga berangsur pulih. Menurut perkiraan dokter, dua hari lagi Vina bisa bed rest di rumah. Vina tentu saja senang. Dia berusaha pulih secepatnya. Dukungan dari sahabat dan mama Rita membuat Vina semakin bersemangat.


Sedangkan Radit, selama lima hari ini. Dia selalu pulang sore. Bahkan jam empat sore Radit sudah tiba si rumahnya. Setiap harinya dia berharap menjumpai Vina di rumahnya. Harapannya nihil. Jangan kan Vina, bayangan Vina saja tidak sudi lagi datang ke rumah Radit.


Radit memanggil bibi Ina dengan berteriak. Dia melemparkan jasnya asal dan duduk di sofa ruang tamu. Tubuhnya bersandar ke sofa dengan tangan membentang. Kepalanya menengadah dengan mata terpejam. Kepergian Vina dari rumah sangat menguras pikirannya. Entah apa yang terjadi pada Radit jika orangtuanya mengetahui kepergian Vina. Vina adalah menantu pilihan bagi kedua orangtuanya. Kedua orang tua Radit sangat menyayangi Vina. Selain Radit tidak memiliki saudara, Vina adalah sosok wanita yang baik dan lembut. Itulah yang membuat kedua orang tua Radit menjodohkannya dengan Vina.


Bibi Ina dengan setengah berlari mendekat ke ruang tamu. Dia tahu untuk apa Radit memanggil dirinya. Sama seperti Radit, bibi Ina juga mengharapkan Vina cepat kembali. Selama empat hari Vina tidak di rumah. Bibi Ina merasa kesepian. Biasanya Vina akan membantu pekerjaannya. Selain itu Vina juga tidak segan segan memijit badan bibi Ina, bila bibi Ina kecapean. Selama lima hari ini. Bibi Ina sungguh merasa kehilangan. Vina sudah dianggapnya seperti putrinya sendiri.


"Ya tuan," kata bibi Ina setelah berdiri di hadapan Radit. Bibi Ina menunduk.


"Apa Vina belum kembali bibi?" tanya Radit masih dengan posisi seperti semula.


.


"Belum tuan,"


Radit membuka matanya dan berdiri. Dia mendekat ke bibi Ina. Bibi Ina semakin ketakutan. Pertengkaran Vina dan Radit lima hari yang lalu melintas di pikirannya. Apalagi setelah pertengkaran itu, bibi Ina melihat wajah Radit yang seram dengan kilatan amarah di matanya. Seketika bibi Ina bergidik ngeri.


"Apa bibi menyembunyikan sesuatu?" tanya Radit penuh selidik. Bibi Ina menggelengkan kepala. Radit curiga bibi Ina bersekongkol dengan Vina. Radit juga tahu bahwa bibi Ina dan Vina sangat dekat.


"Awas saja kalau sampai bibi Ina berbohong dan berkhianat dari aku," ancam Radit marah. Bibi Ina kembali menggelengkan kepala.


"Vina pernah kembali kan bibi?" tanya Radit lagi dengan suara yang meninggi. Dia sengaja berbicara dengan kencang supaya bibi Ina mau membuka mulut.


"Benar tuan, sejak pagi itu. Non Vina tidak pernah kembali ke rumah ini," jawab bibi Ina takut. Dia masih menunduk.


"Vina sialan dimana kamu, awas saja kalau aku menemukan kamu. Aku akan menghukumnya lebih dari yang sudah kamu terima," kata Radit marah. Bibi Ina kembali merasa takut. Dalam hatinya bibi Ina berharap Vina tidak pernah kembali setelah mendengar perkataan Radit. Bibi Ina tidak ingin Vina tersakiti lagi karena kebengisan Radit. Pagi itu bibi Ina tahu apa yang terjadi terhadap Vina. Tapi dia tidak berani menolong.


"Bibi, sekali lagi aku bertanya. Apa Vina pernah kembali?" tanya Radit lagi. Nada bicaranya masih menunjukkan kemarahan. Kedua tangannya terletak di pinggang.


"Benar tuan, kalau tuan tidak percaya, kenapa tidak memeriksa Cctv saja." jawab bibi Ina pelan. Radit merasa seperti menemukan titik terang setelah mendengar jawaban bibi Ina. Dia berlalu menaiki tangga dengan tergesa. Bibi Ina yang melihat itu hanya bisa menggerutu dalam hati. Bibi Ina juga merasa lega karena lepas dari kemarahan Radit.


Radit membuka ponselnya setelah duduk di sofa yang ada di kamarnya. Radit memeriksa beberapa video hasil tangkapan Cctv yang terpasang di beberapa sudut rumahnya. Cctv itu terhubung langsung ke ponsel pintarnya. Radit bisa melihat video lima hari yang lalu. Vina keluar dari kamar dengan memegang perut. Menuruni tangga sambil meringis. Pakaian Vina tidak menggambarkan bahwa wanita itu mau kabur. Dan Radit juga bisa melihat Vina masuk ke dalam taksi. Radit tidak bisa melihat perbuatannya yang memperkosa Vina, karena kamar nya tidak dipasang Cctv. Radit kembali memeriksa Cctv untuk beberapa hari ini. Benar kata bibi Ina, bahwa Vina tidak pernah kembali.


Radit meletakkan ponsel itu di meja. Melihat Vina meringis kesakitan membuat Radit mengingat perbuatan pagi itu terhadap Vina. Kesakitan Vina dan perbuatannya yang brutal menggagahi Vina melintas di pikirannya. Radit terdiam. Entah apa isi pikirannya sekarang.


Radit keluar dari kamar itu setelah mengganti pakaian dengan yang lebih santai. Tanpa mandi, Radit masuk ke dalam mobilnya. Tujuannya adalah rumah Andre. Dia sangat yakin bahwa Andre dan Sinta mengetahui keberadaan Vina.


Radit tiba di depan gerbang rumah Andre. Sinta yang saat itu menyiram bunga bunga kesayangannya, menoleh ke arah suara mobil yang berhenti. Dengan menarik selang air, Sinta mendekat hendak membuka gerbang. Sinta kembali menyiram bunga bunga setelah tahu bahwa Radit lah yang turun dari mobil tersebut. Sinta tidak jadi membuka gerbang tersebut. Dia merasa malas hanya untuk melihat Radit.


"Sinta, boleh aku masuk?" kata Sean. Sean sudah memegang gerbang besi sebatas dadanya.


"Maaf kak, mas Andre tidak di rumah. Sebagai wanita yang sudah bersuami, aku takut untuk memasukkan laki laki lain ke rumah walaupun kakak itu sahabat suami aku sendiri. Aku takut ada fitnah," kata Sinta sopan. Dia sebenarnya bisa mengijinkan Radit masuk, karena ada Oni dan Lidia di rumah. Tetapi mengingat perlakuan Radit ke Vina. Jangankan berbicara untuk melihat saja, Sinta merasa malas. Radit mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman rumah. Dia melihat mobil Andre terparkir di garasi.


"Jangan bohong kamu Sinta, Andre di rumah. Itu mobilnya. Jangan jangan Vina juga ada di rumah kamu," kata Radit sambil menunjuk mobil Andre. Sinta menatap Radit kesal. Selang air itu sengaja di arahkan Sinta ke arah Radit. Hingga percikan air itu mengena ke tubuh Radit. Radit bergeser agak menjauh.

__ADS_1


"Mas Andre naik motor kak, tentang Vina. Dia tidak ada di rumah ini. Kenapa kakak selalu mencarinya kemari?" tanya Sinta kesal. Sinta kembali menunduk. Dia takut Radit bisa membaca raut wajahnya yang berbohong. Radit sampai dua kali datang ke rumahnya dengan tujuan yang sama, itu artinya bahwa Radit menaruh curiga kepada dirinya. Dan kecurigaan itu memang benar. Tapi Sinta sudah berjanji dalam hatinya untuk tetap tutup mulut. Walaupun nantinya Radit bisa menemukan Vina, yang penting informasi itu tidak keluar dari mulutnya.


"Karena aku yakin. Kamu tahu tentang Vina. Kamu Sahabatnya. Tidak mungkin kamu tidak tahu dia dimana." jawab Radit sangat yakin.


"Sedangkan kakak saja sebagai suaminya tidak tahu keberadaan Vina. Apalagi aku yang hanya sahabat. Bukankah hubungan suami istri itu lebih dekat daripada hubungan sahabat. Kakak juga pasti tahu alasan kenapa Vina sampai meninggalkan rumah. Sedangkan aku, aku tidak tahu tentang Vina. Jadi jangan lagi mencari Vina kemari. Tanya orangtuanya!. Bisa jadi dia ke sana," kata Sinta sinis tanpa berhenti menyiram bunga. Kalau Radit peka, itu adalah sindiran baginya. Ingin rasanya Sinta menyiram tubuh Radit sampai kedinginan saking kesal melihat pria itu.


"Tidak mungkin dia ke sana..."


"Apa yang tidak mungkin kak?. Wanita cantik dan sebaik Vina saja bisa jadi istri dari seorang Radit yang titik titik. Kak Radit sendiri mengisi titik yang aku sebutkan tadi. Apalagi hanya untuk pulang ke rumah orangtuanya. Vina tidak ada disini," kata Sinta memotong perkataan Radit. Radit terdiam. Maksud dari titik yang disebutkan Sinta tadi, Radit paham maksudnya. Radit menoleh ke belakang. Suara klakson motor membungkam mulutnya untuk bertanya lagi kepada Sinta. Sinta meletakkan selang air. Dia berjalan hendak membuka gerbang. Andre terlihat membuka helm dan masih di atas motor matic milik Sinta.


"Geser dikit kak," kata Sinta sopan kepada Radit yang masih memegang gerbang. Radit bergeser dan Sinta membuka gerbang sedikit. Andre kembali menjalankan motornya masuk ke pekarangan rumah.


"Ada apa bro?" tanya Andre setelah turun dari motor matic. Dia tidak menyuruh Radit untuk masuk.


"Vina belum pulang Andre, entah mengapa aku sangat yakin kalian berdua mengetahui keberadaan Vina," kata Radit lesu. Dia ingin masuk tetapi melihat Andre yang terkesan cuek. Radit merasa enggan.


"Terserah kamu bro. Seberapa besar keyakinan kamu, kami mengetahui keberadaan Vina. Tetap saja kamu tidak menemukan Vina atau informasi tentang Vina dari kami. Karena kami tidak mengetahui keberadaan Vina," kata Andre tegas.Dia tidak ingin Radit lebih lama di sini.


Jelas mereka tahu dimana Vina saat ini. Tapi untuk memberitahu Radit. Andre dan Sinta memegang janjinya kepada Vina. Apalagi mereka tahu bahwa mamanya Vina mendukung keputusan Vina untuk menjauh dari Radit. Tidak ada alasan untuk membantu Radit untuk mencari keberadaan Vina. Radit menarik nafas panjang mendengar perkataan Andre.


"Andre, tolonglah bro," pinta Radit memohon. Andre menatap Radit. Sahabat yang membawa efek buruk bagi Andre menjadi pria berengsek. Sebagai sesama laki laki, Andre tahu bahwa Radit khawatir akan Vina. Tapi Andre tetap pada janjinya. Tidak akan memberitahu Radit.


"Sori bro, bukan maksud aku untuk mengusir. Sekali lagi aku katakan Vina tidak ada di sini. Pulanglah. Aku dan istriku belum mandi. Biasanya sore begini kami akan mandi bersama. Tanpa aku jelaskan kamu pasti tahu maksudku. Aku sudah gerah," usir Andre halus. Sinta membulatkan matanya mendengar perkataan Andre. Memang sore ini dia belum mandi, tetapi untuk mandi bersama setiap sore itu tidak pernah terjadi. Apalagi perkataan Andre menyiratkan mereka akan melakukan lebih dari sekedar mandi. Sinta tersenyum. Dia berpura pura membenarkan ucapan suaminya supaya Radit cepat pergi dari situ.


"Baiklah bro, selamat menikmati hari mu bersama istri. Tentang pinjaman Seratus juta kemarin. Aku minta maaf Andre. Kalau kamu masih butuh. Aku bersedia meminjamkannya kembali kepadamu," kata Radit pelan. Dia masih merasa bersalah karena gertakannya kemarin. Selain itu Radit juga tidak ingin Andre sakit hati karena hal itu. Mereka sudah bersahabat sejak lama. Sudah saling tahu karakter masing masing. Radit juga takut Andre memutuskan persahabatan mereka.


"Sekali lagi maaf bro,"


"Radit, penyesalan memang selalu datang terlambat. Tetapi lebih baik terlambat daripada tidak menyesal sama sekali. Kamu pasti tahu apa penyebab Vina kabur dari rumahmu. Tidak ada satu orang wanita di dunia yang rela melihat suaminya bermain dengan wanita lain. Memang sudah terlambat. Vina sudah kabur. Tapi tidak ada salahnya kamu merubah diri menjadi lebih baik. Ini hanya saran bro. Selanjutnya kamu yang menentukan sikap kamu," kata Andre sambil menatap Radit. Kedua tangannya diletakkan ke dalam sakunya. Sebagai sahabat, Andre ingin Radit berubah. Sinta yang masih berdiri di sampingnya, hanya bisa menatap Andre.


"Terima kasih bro, aku pamit," jawab Sean sambil mengangguk. Dia masuk ke dalam mobil dan berlalu dari tempat itu.


"Ayo sayang kita mandi," ajak Andre sambil merangkul pundak Sinta. Sinta melepaskan tangan Andre dan menggulung selang air.


"Duluan aja mas," jawab Sinta sambil tersenyum. Dia ingat perkataan Andre tadi tentang mandi bersama.


"Mandi sama sayang,"


"Duluan saja mas,"


"Yee, padahal tadi sudah pamer ke Radit mau mandi sama,"


"Itu kan keinginan kamu mas, bukan keinginan aku,"


"Sinta, kalau dipikir-pikir. Bagus juga ya kalau setiap sore kita mandi sama. Gimana sayang?. Kamu gosok punggung aku dan aku menggosok punggung kamu. Kita saling menggosok dan selanjutnya ehem ehem, Aktivis seperti itu pasti akan meningkatkan semangat hidup," kata Andre sambil tersenyum. Dia mengikuti Sinta yang hendak menyimpan selang air. Sinta membalas tersenyum. Sinta meletakkan selang air itu di sudut halaman dan kemudian membalikkan badannya.

__ADS_1


"Bagus juga ide kamu mas. Aku bersedia setiap hari mandi sama dengan kamu tapi itu hanya terjadi dalam mimpimu," jawab Sinta sambil tersenyum. Andre yang awalnya tersenyum mendengar perkataan Sinta kini senyum itu hilang. Sinta tertawa melihat mimik Andre.


"Kalau sesekali mandi sama ya tidak apa apa. Tapi kalau setiap hari itu bukan kerjaan, itu namanya mesum tingkat tinggi," gerutu Sinta lagi. Andre kini tertawa. Melihat Sinta menggerutu, seperti hiburan bagi Andre.


"Manisnya istri aku," kata Andre sambil meraih tubuh Sinta. Dia kembali meletakkan tangannya di pundak Sinta.


"Gombal, gombal. Tidak mempan mas. Tetap saja kamu mandi duluan,"


"Iya, iya. Sini dulu. Gara gara Radit aku jadi lupa sesuatu," kata Andre sambil kembali membawa Sinta ke garasi. Dia membuka jok motor dan mengambil rujak dari dalam jok dan memberikannya ke Sinta.


"Ya ampun mas, pas pula aku mau makan rujak. Kok tahu sih mas?"


"Tau donk. Kan suami sayang istri," kata Andre bangga. Dia membuka jaketnya dan meletakkan di stang motor. Tetapi Sinta mengambil jaket itu untuk dibawa ke rumah.


Di mobil, sambil menyetir, Radit merenungkan kata kata Andre. Kata kata merubah diri menjadi lebih baik sungguh menyentuh hatinya. Perbuatannya perbuatan mesumnya bersama wanita malam terlintas di pikirannya. Radit mengingat bagaiman Vina selalu mengingatkannya untuk berubah. Mengajaknya untuk menjalani pernikahan seperti pasangan lain tanpa saling menyakiti. Radit seketika merindukan Vina. Merindukan kata katanya setiap pagi yang membangunkan tidurnya.


"Vina maafkan aku. Dimana kamu Vina?. Aku akan memperbaiki diri aku Vina. Aku akan berubah seperti keinginan mu. Aku mohon, kembalilah Vina, aku menyesal," batin Radit dalam hati. Dia menjalankan mobilnya menuju rumah Vina. Dia menuruti saran Sinta untuk mencari Vina ke rumah orangtuanya.


Mama Rita menatap Radit sinis yang sudah duduk di hadapannya. Radit menunduk. Semua cerita Vina tentang perlakuan Radit masih tersimpan di memorinya. Mama Rita bisa menebak maksud kedatangan menantunya. Mama Rita masih diam, menunggu Radit untuk bertanya tentang keberadaan Sinta. Sedangkan suaminya Hendrik masih di kamar.


"Radit, kamu datang sendiri?, mana Vina?" tanya Hendrik yang baru bergabung di ruang tamu. Radit seketika gugup. Papa mertuanya bertanya tentang Vina. Itu artinya Vina tidak ada di rumah ini.


"Aku sendiri pa," jawab Radit sopan. Dia tidak menjawab pertanyaan mertuanya tentang Vina. Mama Rita semakin memperhatikan tingkah Radit.


"Ada keperluan apa nak, tidak biasanya kamu mampir seperti ini?" tanya Hendrik lembut. Radit semakin gugup. Dia tidak tahu harus memulai darimana untuk menanyakan keberadaan Vina.


"Pa, sebenarnya. Kedatangan aku kemari untuk mencari Vina. Sudah lima hari Vina tidak pulang," jawab Radit pelan. Dia kembali menunduk. Sedangkan Hendrik terkejut mendengar perkataan Radit.


"Apa maksud kamu Radit. Apa kalian bertengkar. Empat hari yang lalu dia menghubungi aku untuk pulang ke rumah. Aku tidak mengijinkan karena aku tahu Vina sudah menjadi tanggung jawab mu. Kalau sudah seperti ini, kemana kita harus mencari Vina."


"Maaf pa,"


"Radit, aku kecewa kepada kamu. Tidak mungkin Vina tidak pulang kalau tidak ada alasannya. Apa yang kamu lakukan kepada putriku?" tanya Hendrik marah. Radit terdiam. Dia tidak mungkin memberitahu mertuanya bahwa sebelum Vina pergi dia memperkosanya. Mama Rita semakin sinis dan muak melihat Radit. Rasa benci memenuhi hatinya tetapi mama Rita berusaha bersikap biasa supaya Radit dan Hendrik tidak curiga bahwa dia tahu tentang Vina.


"Radit, Vina pernah bercerita sebelum kalian menikah tepatnya ketika dia tidak berhasil kabur. Kamu membawa Vina ke hotel dekat bandara dan memperkosanya. Apa kamu mengulangi kesalahan yang sama?" tanya mama Rita lembut. Dari tadi diam, mama Rita mencari kata yang tepat untuk membongkar perbuatan Radit tanpa membuat Radit dan Hendrik curiga. Radit kembali gugup. Tubuhnya sudah mulai berkeringat dingin. Radit sudah ketakutan. Dia tidak menyangka bahwa Vina bercerita tentang perbuatannya dulu di hotel dekat bandara itu.


memperkosa putriku sebelum menikah?" tanya Hendrik marah. Dia berdiri dan mendekat ke Radit. Hendrik tanpa ampun melayangkan tinjunya ke wajah Radit. Hendrik benar benar marah. Walau dia mau menjodohkan Vina dengan Radit karena uang tetapi mendengar putrinya di perlakukan seperti itu. Tetap saja Hendrik tidak terima.


"Asal kamu tahu. Aku setuju menikahkan kamu dengan Vina bukan karena uang semata. Itu karena kamu bersandiwara seperti pria baik baik dihadapan aku. Andaikan kamu menunjukkan wujud aslimu. Aku juga tidak sudi punya menantu binatang seperti kamu," kata Hendrik marah. Hendrik benar benar menyesal menyetujui perjodohan Vina dan Radit.


"Maafkan aku pa, aku juga menyesal melakukan itu," kata Radit pelan. Dia sama sekali tidak melawan ketika Hendrik memukulnya.


"Aku juga menyesal mempunyai menanti seperti kamu Radit. Pergilah!. Cari Vina sampai ketemu. Setelah itu kamu harus menceraikannya. Aku matikan pun kamu disini tidak ada gunanya. Aku hanya menginginkan putriku kembali," kata Hendrik pelan penuh penyesalan.


"Pergilah Radit, keberadaan kamu disini hanya membuat kami semakin membencimu," kata mama Rita marah.

__ADS_1


Radit beranjak dari duduknya. Kedua mertuanya sudah mengusir dirinya secara langsung. Setalah ini entah kemana dia mencari Vina.


__ADS_2