Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Gara Gara Tini


__ADS_3

Sudah hampir tiga bulan sejak rujuknya Andre dan Sinta, bahkan Sinta juga sudah selesai ujian tengah semester enam. Dan selama tiga bulan itu pula, Sinta dan para sahabatnya tidak pernah berkumpul seperti biasanya. Dulu sebelum Andre dan Sinta rujuk, hampir tiap hari mereka berkumpul di rumah Sinta walau hanya satu jam atau dua jam.


Apalagi Sinta sudah berhenti berjualan online, semakin tidak ada alasan mereka untuk berkumpul. Sungguh Sinta rindu akan masa masa itu. Dia pun memberanikan diri meminta ijin kepada Andre. Ijin untuk berkumpul di rumahnya setelah ujian tengah semester usai. Andre dengan senang hati sangat menyetujui permintaan Sinta tersebut. Selain itu, dia juga ia sudah mulai akrab dengan para sahabat Sinta. Tetapi lain jika di kampus. Andre memperlakukan Sinta dan para sahabatnya itu seperti mahasiswa lainnya. Tidak pandang bulu.


Sementara itu, pagi hari di sebuah rumah mewah. Vina menghembuskan nafas kasar. Vina dan Radit sedang sarapan. Lebih tepatnya Vina yang sarapan sedangkan Radit asyik dengan ponselnya. Vina melirik Radit dengan ekor matanya. Pria itu masih saja tidak menyentuh sarapan yang sudah disiapkan Vina untuknya.


"Radit," panggil Vina pelan. Radit hanya menoleh dan kembali fokus ke layar ponselnya. Jari jarinya menari indah di layar ponsel tersebut. Dari gerakan jarinya, bisa dipastikan bahwa Radit mengetik pesan.


"Aku dan para sahabatku berencana untuk berkumpul hari ini di rumah Sinta. Bolehkan?" tanya Vina takut meminta izin kepada Radit.


"Siapa yang ingin mencampuri urusan kamu, kalau mau pergi. Silahkan saja pergi. Asal jangan sampai aku duluan di rumah," jawab Radit datar. Pandangannya tidak beralih sedikit dari ponselnya.


"Baiklah Radit. Terima kasih karena sudah memberi ijin. Boleh aku tahu, kamu jam berapa pulang nanti?" tanya Vina lagi sangat lembut.


"Jangan mencampuri urusan aku!, pergi saja belum sudah bertanya jam berapa pulang," jawab Radit ketus. Padahal maksud Vina bertanya supaya dia tahu pulang sebelum jam kepulangan Radit.


"Biasanya kalau kumpul, kami akan bubar sore hari sekitar jam lima. Jam enam aku sudah di rumah. Boleh kan Radit?" tanya Vina lagi. Dia berusaha menjelaskan ke Radit supaya Radit tidak pulang di jam yang disebutkan Vina tadi,"


"Terserah," jawab Radit singkat dan ketus.


"Aku anggap itu sebagai ijin Radit. Makanlah!" kata Vina lagi. Vina mendorong piring berisi nasi goreng ke hadapan Radit supaya lebih dekat.


"Aku tidak suka sarapannya. Buang saja!" kata Radit sambil melirik nasi goreng buatan Vina. Dia tidak pernah sarapan nasi goreng bahkan jarang makan nasi goreng.


"Sesekali tidak apa apa sarapan nasi goreng. Coba dulu!. Jangan langsung main buang. Di luar sana banyak yang tidak bisa sarapan karena susahnya hidup."


Radit tidak menjawab perkataan Vina, dia menarik piring berisi nasi goreng tersebut. Dengan kesal, Radit menyendok sesendok nasi goreng ke mulutnya. Satu sendok, dua sendok hingga nasi goreng yang di piring itu ludes tidak bersisa.


"Tadi sok nolak dan suruh buang, eh ternyata nasi gorengnya dibuang ke perut," kata Vina sinis setelah melihat piring kosong Radit.


"Aku hanya menghargai bibi Ina yang membuatnya," jawab Radit acuh.


"Sayangnya yang buat itu bukan bibi Ina tapi aku," kata Vina lagi. Radit memandangnya tidak percaya. Radit spontan memegang perutnya.


"Mau dimuntahkan? Tuh wastafel. Buang di sana saja," kata Vina lagi. Dia beranjak dari duduknya.


"Berani ya kamu sama aku. Tidak akan aku ijinkan kamu berkumpul dengan sahabatmu itu," kata Radit sangat kesal. Vina memang seperti itu. Bisa lembut, cuek bahkan sinis kepada Radit.


"Aku hanya butuh ijin kamu yang pertama. Ludah yang dibuang jangan dijilat kembali. Pamali!" kata Vina cuek. Dia terus melangkah menaiki tangga, hanya untuk mengambil tas.


Vina kembali turun, dia mendekat ke meja makan. Radit masih betah di sana sambil menenggang gelas kaca berisi teh buatan Vina.


"Radit, aku pamit ya!, ingat jangan pulang sebelum jam enam."


Radit hanya menatap Vina sekilas tanpa menjawab Vina. Dengan santai gadis itu melangkah ke keluar rumah.


Hanya butuh sekitar satu jam Vina di perjalanan. Kini dia sudah di rumah Sinta. Gerbang yang tidak dikunci membuat Vina tanpa berteriak bisa langsung masuk. Jam menunjuk angka sepuluh ketika Vina sudah tiba. Tak lama kemudian Tini, Indah, Cici juga Ronal juga tiba. Elsa tidak bisa datang karena mamanya sakit.


Kelima sahabat itu menyerbu Airia. Airia berpindah tangan dari Vina ke Tini. Hingga yang terakhir ke tangan Ronal. Pria itu tersenyum sambil mencubit pipi Airia. Baik Vina dan Ronal mereka sudah bisa melupakan kisah yang pernah terjadi diantara mereka. Mereka berkumpul di ruang tamu rumah Sinta. Andre juga ikut berkumpul bersama sahabat Sinta.


"Sayang, kuenya sudah bisa dikeluarkan, semua kan sudah berkumpul," kata Andre lembut. Vina dan yang lainnya terkejut mendengar Andre memanggil Sinta dengan sebutan sayang.

__ADS_1


"Cie cie yang sudah sayang sayangan. Bentar lagi Airia pasti dapat adik tuh," kata Tini. Sinta menyentil kening Tini.


"Kue apa bang?" tanya Ronal.


"Siapa yang kamu sebut Abang?" tanya Tini. Ronal menunjuk Andre.


"Ga apa apa. Di luar kampus kalian boleh memanggil aku dengan bebas termasuk kakak atau Abang. Tapi jangan panggil nama ya. Tidak sopan itu namanya," kata Andre tersenyum. Bersama sahabat Sinta, Andre juga merasa happy.


"Baik bang," jawab Meraka hampir bersamaan. Sinta dan Andre tertawa.


"Kue apa tadi bang?" tanya Tini lagi. Gadis tomboi seperti mengejek ketika menyebut Andre dengan Abang.


"Putri kami Airia berulang tahun yang pertama hari ini. Kalian sebagai orang yang banyak membantu Sinta. Harus ikut merayakan momen ini,"


"Ya ampun, kok bisa sampai lupa ya. Udah gak bawa kado lagi," kata Vina sambil menepuk jidatnya.


"Kado terbaik adalah doa dan ketulusan Vina. Aku hanya mengharapkan itu dari kalian," kata Sinta tulus.


"Ya udah mana kuenya. Biar tiup lilin kita," kata Tini tidak sabaran. Dia tidak sarapan tadi di rumah. Hingga mendengar kue saja, perutnya semakin keroncongan.


"Tunggu kak Sean dulu Tini, aku juga mengundangnya," jawab Sinta membuat Andre spontan menatapnya. Walau Sean sahabat Andre, dia tidak suka Sinta mengundangnya. Sebelumnya Sinta hanya mengatakan mengundang para sahabatnya.


"Loh Sean juga diundang. Kamu tidak mengatakan sebelumnya," kata Andre tidak percaya tapi dari nada bicaranya, Sinta tahu bahwa Andre protes tidak setuju.


"Ya harus diundang donk mas, kamu lupa?, dia dulu menjaga Airia ketika aku ujian, lagipula kak Sean itu sahabat kamu juga kok," jawab Sinta tenang. Andre diam. Dia tidak mau berdebat. Lagipula apa yang diucapkan Sinta, semuanya benar.


"Sinta, aku lapar. Ada makanan tidak selain kue ulangtahun Airia?" tanya Tini yang semakin tidak bisa menahan lapar. Sudah jam sepuluh lewat dua puluh menit. Wajar saja Tini sangat lapar.


Tini langsung ke dapur. Perutnya tidak bisa diajak kompromi. Beruntung Lidia juga di dapur jadi tidak sulit bagi Tini untuk mencari makanan yang dimaksudkan Tini. Tini makan sangat lahap. Bisa dipastikan dia tidak makan siang lagi karena banyaknya yang dimakan saat ini. Hingga piringnya kosong.


Tini belum merasa puas karena tidak memakan buah. Suatu kebiasaan baginya jika makan siang. Harus makan buah atau minum jus. Tini beranjak menuju kulkas. Membuka kulkas dan melihat isinya. Hanya buah import. Tini kembali menutup kulkas. Dia paling tidak suka dengan buah import. Dia lebih suka jeruk lokal dan buah lokal lainnya. Tidak puas dengan mencari di kulkas, Tini bahkan mencari di setiap sudut dapur itu. Lidia yang melihat Tini merasa heran.


"Cari apa mbak?" tanya Lidia kesal. Tini hanya sebagai tamu tapi sok tahu tentang sudut dapur itu. Dia tidak tahu bahwa Tini sering di rumah itu sebelum Sinta rujuk dengan Andre.


"Cari buah,"


"Kan sudah dicari di kulkas mbak, di kulkas banyak buah."


"Aku tidak suka buah import," jawab Tini sambil membuka lemari gantung. Benar dugaannya di situ ada mangga yang hampir masak. Tini memilih mangga yang agak kuning. Ketika memilih mangga tersebut. Tini melihat kantong plastik. Penasaran Tini mengambil kantong tersebut. Tini kembali meletakkan plastik tersebut di tempatnya semula.


Setelah makan beberapa mangga. Tini kembali bergabung ke ruang tamu. Sean juga sudah ada di sana. Tini tersenyum dan merasa senang. Bisa bertemu dengan Sean adalah kebahagian bagi Tini.


"Sinta selamat ya," kata Tini sambil menyentuh lengan Sinta. Sinta mengerutkan keningnya. Temannya itu setelah kenyang mengucapkan selamat kepadanya.


"Selamat untuk apa?"


"Selamat untuk kehamilan kamu yang kedua," kata Tini tenang. Sinta seketika terkejut. Dia heran darimana Tini tahu tentang kehamilannya. Sementara itu masih dia rahasiakan sendiri bahkan dari Andre. Andre yang mendengar itu juga terkejut. Dia sama sekali tidak tahu jika Sinta hamil. Apalagi Sinta yang melihat segar bugar. Tidak terlihat seperti ibu hamil muda lainnya. Andre diam. Dia tidak menampakkan ketidaktahuannya. Andre tidak mau para sahabat Sinta menilai dia semakin jelek karena tidak mengetahui Sinta hamil. Pura pura tahu adalah jalan terbaik. Biarlah setelah para sahabat Sinta pulang. Andre akan menanyakannya ke Sinta.


"Yeah, Airia akan punya adik,"


"Selamat ya Sinta, bang Andre,"

__ADS_1


"Selamat bro,"


Ucapan selamat terdengar di ruangan itu. Andre hanya tersenyum dan membalas ucapan selamat dari mereka. Sedangkan Sinta masih menatap Tini.


"Kamu tahu darimana?" tanya Sinta berbisik ke Tini.


"Aku melihat susu hamil di tempat mangga yang kamu peram," jawab Tini tidak berbisik. Sehingga mereka mendengar perkataan Tini. Susah payah Sinta menyembunyikan susu hamil itu dari Andre. Tapi dengan mudah Tini bisa menemukannya. Sinta melirik ke Andre. Tepat saat suaminya itu menatapnya. Andre tersenyum sangat manis. Tidak ada raut kecewa di wajahnya.


"Ya sudah. Berhubung semua sudah di sini. Saatnya Airia tiup lilin," kata Andre yang sudah menyuruh Lidia mengambil kue ulang tahun Airia. Airia juga sudah didandani sangat lucu oleh Indah dan Vina. Andre ingin acara ulang tahun Airia ini cepat berakhir supaya dia bisa bertanya langsung tentang kehamilan Sinta. Hingga tiup lilin dan acara ulangtahun Airia selesai jam sebelas lewat.


Andre merasakan waktu berjalan sangat lambat. Belum lagi makan siang. Andre ingin rasanya membungkus makan siang itu dan membagikannya kepada Vina dan yang lainnya dan menyuruh mereka langsung pulang saja. Tetapi Andre tidak melakukan itu. Dia tidak mau Sinta marah hanya karena hal konyol seperti itu.


Andre sedikit lega. Makan siang telah usai. Mereka kembali ke ruang tamu. Jam sudah menunjukkan angka satu. Sejak mendengar ucapan selamat dari Tini, Andre sudah tidak fokus lagi tentang apapun yang dibicarakan. Matanya terus melirik jam dinding.


"Sinta, untuk Airia," kata Sean sambil menyodorkan kado kecil kepada Sinta. Sinta menerimanya.


"Harusnya tidak perlu repot-repot kak,"


"Gak repot kok, jangan lihat dari isinya ya. Lihat ketulusan hati kakak."


Andre langsung berdehem. Setiap Sinta berbicara dengan Sean, Andre sangat tidak menyukainya. Andre kembali melirik jarum jam.


"Dari tadi itu mata bolak balik lihat jam. Mau ngusir kami ya bang," tanya Tini sewot. Dia memperhatikan Andre sejak tadi. Keberadaan susu hamil di tempat tersembunyi juga masih tanda tanya baginya.


"Nggak kok Tini, kamu aja yang langsung pemikiran negatif," jawab Andre beralasan. Jauh di lubuk hatinya. Dia membenarkan ucapan Tini itu.


"Ya sudah. Aku rencananya mau menginap di sini. Sudah lama tidak tidur di sini," jawab Tini asal. Andre yang mendengar itu langsung kesal. Jika Tini menginap di sini itu artinya keinginan tahuannya tentang kehamilan Sinta akan tertunda.


"Sean, jangan biarkan Tini menginap di sini. Dia hanya menganggu aku dan Sinta nantinya," kata Andre kepada Sean.


"Kok aku sih, dia kan bisa pulang sendirian,"


"Hanya kamu yang bisa menjinakkannya,"


"Emang aku binatang?. Harus dijinakkan. Jangan sembarangan kalau ngomong ya bung. Lagipula aku sudah move on dari kak Sean. Jangan sangkut pautkan aku dengannya," kata Tini kesal. Dari tadi dia tidak menyapa Sean sama sekali. Melihat Sean yang selalu duduk dan Cici membuatnya Tini merasa cemburu. Tini berusaha menekan perasaan itu dengan bercanda. Lagi lagi Sinta dan yang lainnya menganggap permata Tini hanya candaan semata.


"Tini, kamu tidak mau nebeng?" tanya Sean setelah hari sudah sore. Tini hanya menggelengkan kepala. Tini merasa tersinggung ketika Sean mengatakan Tini bisa pulang sendiri. Bagi Tini, ajakan Sean hanya basa basi baginya. Sean dan yang lain akan pulang membuat Andre sedikit lega. Andre dan Sinta mengantar tamu hingga ke halaman rumah.


"Tini, terima kasih banyak ya," ucap Andre kepada Tini yang belakangan pulang. Tini mengangguk kepala. Hatinya merasa hampa melihat Cici nebeng ke mobil Sean. Sedangkan indah pulang bareng Ronal dan Vina pulang naik taksi. Sedangkan Andre mengucapkan terimakasih kepada Tini karena Tini yang memberitahukan tentang kehamilan Sinta. Seandainya Tini tidak menemukan susu hamil yang disembunyikan Sinta. Andre pasti tidak tahu sampai sekarang tentang kehamilan itu.


Andre menggandeng tangan Sinta masuk kembali ke rumah. Dia menggiring Sinta langsung ke kamar.


"Makasih ya sayang, kamu hamil lagi. Kenapa kamu tidak memberitahu aku?" tanya Andre lembut. Dia memeluk Sinta dengan sayang.


"Apa itu perlu mas, kamu terlalu sibuk akhir akhir ini. Aku kira kamu sibuk mencari keberadaan Cindy," tanya Sinta balik. Satu bulan terakhir ini Andre tidak pernah pulang cepat. Paling cepat dia pulang ke rumah jam delapan malam. Sinta mengira Andre juga ikut mencari keberadaan Cindy yang menghilang sejak ayahnya meninggal. Bahkan untuk penguburan Dion. Cindy tidak ada.


"Aku tidak perduli tentang Cindy lagi sayang. Jangan sebut dia lagi di hadapan aku," jawab Andre lagi masih lembut. Dia masih memeluk Sinta.


"Hanya kamu wanita yang aku cintai sekarang dan sampai akhir hidupku," kata Andre lagi. Membuat jantung Sinta berdebar sangat kencang. Sinta merasa di alam mimpi. Sinta mencubit pinggang Andre. Andre meringis.


"Kok dicubit sih sayang?" tanya Andre lagi. Dia tidak marah walau cubitan Sinta sangat terasa menyakitkan.

__ADS_1


__ADS_2