
Tini memajukan bibirnya beberapa centi. Kecewa dengan sikap Sean yang terkesan lebih mementingkan sahabatnya daripada dirinya. Wanita itu bahkan masih diam dan cemberut. Sedangkan Sean sudah berusaha menjelaskan alasan untuk menemui Radit.
Hari ini mereka memang berencana untuk berkencan. Tini sudah menantikan saat ini setelah semalam mereka gagal berkencan. Kalau tahu hari ini bakalan gagal, Tini tidak perlu untuk merias wajahnya supaya tampil beda. Sesuatu yang tidak pernah dilakukannya tapi demi Sean, Tini rela berubah.
Sean memutar kemudinya menuju alamat yang disebutkan Radit. Hingga mereka tiba di kafe yang disebutkan Radit tadi. Tini masih diam. Tini tetap mengikuti langkah Sean untuk memasuki kafe itu.
Tini melirik malas ke suami sahabatnya itu. Berhadapan dengan pria itu entah mengapa membuat hati Tini selalu memanas. Tapi hari ini, Tini melihat ada hal yang berbeda di diri Radit. Tini tidak perduli. Dia masih lebih mementingkan ngambeknya daripada harus perduli ke Radit. Tini masih diam dan menatap sinis ke Radit.
"Mau pesan apa sayang," Sean menyentuh tangan Tini lembut. Radit menatap Sean heran. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Apa yang ada aja kak,"
"Banyak nih yang ada. Semua saja kita pesan," jawab Sean bercanda. Tini meraih buku menu itu. Mengamati sebentar kemudian mengembalikan ke Sean.
"Yang mau aku pesan tidak ada di buku menu itu,"
"Memangnya mau pesan apa?"
"Karcis bioskop." Sean terkekeh. Dia mengacak lembut rambut Tini. Tini masih merajuk. Hal itu juga tidak luput dari penglihatan Radit.
"Ada apa bro?" tanya Sean ke Radit yang masih menatap mereka berdua.
"Kalian pacaran?" Sean mengangguk. Sedangkan Tini hanya menoleh saja ke Sean. Tini merasa senang karena melihat Sean yang mengangguk tanpa ragu.
"Vina pergi lagi," kata Radit pelan dan kecewa. Tini terkejut. Dia langsung menatap Radit tajam.
"Dijemput orang tuanya," kata Radit lagi. Tini akhirnya menarik nafas lega.
"Kapan?"
"Tadi siang,"
"Baguslah, ini berita baik bagiku," jawab Tini senang. Radit balas menatapnya tajam. Tini tidak perduli. Bahkan dia memanggil pelayan untuk memesan makanan. Moodnya membaik setelah mendengar Vina kembali ke rumah orangtuanya. Tini memesan makanan dan minuman untuk mereka bertiga. Dia bahkan mengatakan akan mentraktir Radit dan Sean sebagai gambaran bahwa dia sangat senang hati ini. Radit mendengus kesal.
"Sean, tolong kondisikan mulut pacar kamu ini!"
"Jangan begitu Radit, Tini pasti punya alasan untuk mengatakan hal itu," jawab Sean membela kekasihnya. Tini semakin tersenyum lebar. Mendapat pembelaan dari Sean membuat Tini bahagia. Tini menjulurkan lidahnya ke Radit. Radit terlihat ingin melempar Tini dengan tissue bekas tapi tatapan tajam Sean membuat Radit meletakkan kembali tissue bekas tersebut.
__ADS_1
"Lagi pula, Vina kembali ke rumah orangtuanya bagiku tidak masalah, itu lebih bagus daripada di rumah kamu bro. Di rumah orangtuanya, Vina bisa merasa leluasa dan terhibur. Bandingkan jika di rumah kamu. Kecuali kalau kamu memberinya cinta yang tulus, baru bisa kami menyayangkan sikap Vina dan orangtuanya," kata Sean. Sean ingin Radit sadar akan semua yang diperbuatnya ke Vina adalah kesalahan besar yang sulit dimaafkan.
"Aku memikirkan janinku bro,"
"Kamu, mahluk yang belum terbentuk saja sudah kepikiran, bagaimana dengan orang tua Vina. Pasti mereka juga memikirkan keadaan Vina setiap saat, apalagi setelah mengetahui perbuatan mu," kata Sean kesal. Radit belum menampakkan sikap menyesal dari perbuatannya.
"Kak Radit itu bohong kak Sean, dia bukan hanya memikirkan janinnya. Tetapi karena cinta untuk Vina sudah bertumbuh tanpa disadarinya," kata Tini sambil menyesap minuman. Dia sebenarnya hanya berkata asal. Sean meneliti wajah sahabat untuk mencari kebenaran akan pernyataan kekasihnya.
"Aku sangat membencinya," jawab Radit datar. Tini kembali terkejut. Sebenarnya Vina yang harus mengucapkan kata seperti itu untuk Radit. Tapi detik ini justru kalimat itu terdengar dari mulut Radit. Tini terdiam. Pikirannya masih terus bertanya alasan apa Radit membenci Vina. Untuk bertanya langsung, Tini merasa sungkan.
"Kamu membencinya, tapi sekarang dia mengandung janin mu. Samping kapan kamu membencinya?" tanya Sean tajam. Sean menatap Radit malas. Sahabatnya itu suka membesarkan masalah yang seharusnya bisa tidak dianggap jadi masalah. Tahu begini, Sean jadi menyesal bertemu dengan Radit.
"Benci sama cinta beda tipis loh kak Radit,"
"Jaga bicaramu Tini. Aku mengajak Sean bertemu untuk mengundangnya dia acara pernikahan aku lusa." Tini menutup mulutnya tidak percaya. Vina yang akan diduakan, tapi dadanya yang sesak mendengar Radit akan menikah lagi. Tini kembali menatap Radit tajam. Tapi pria itu seakan tidak perduli dengan tatapan itu.
"Terserah kamu bro, aku tidak bisa datang. Tapi satu hal yang perlu kamu ingat. Jangan sampai kejadian Andre terjadi kepadamu. Karena tidak banyak wanita seperti Sinta di dunia ini. Mau menerima suaminya kembali setelah diduakan. Dan aku yakin Vina bukan seperti Sinta. Sedangkan Ronal saja cinta matinya bisa terlupakan setelah menikah dengan mu. Apalagi kamu yang jelas jelas selalu menyakitinya. Kami cabut bro. Ayo sayang. Biar saja dia yang bayar," ajak Sean sambil menarik tangan Tini. Tini menahan tangan Sean dan masih berdiri di hadapan Radit.
"Kak Radit, pernahkah kamu berpikir mengapa kandungan Vina sangat lemah?". Radit mendongak dan menggelengkan kepalanya. Pria itu memang benar benar tidak menyadari perbuatan dan perkataan yang selalu menyakiti Vina.
"Di rahimnya tumbuh tiga janin kak, Pemerkosaan yang kamu perbuat itu semakin memperlemah kandungan Vina. Jika kakak masih ingin menyia-nyiakan Vina. Maka ada tiga manusia yang hidup tanpa kasih sayang yang utuh dari orangtuanya. Aku berharap. Salah satu dari anakmu tidak mewarisi sifat iblis mu ini." Tini menarik tangan Sean. Dan segera berlalu dari kafe itu. Tini terpaksa mengungkapkan itu untuk menyadarkan Radit. Jauh di lubuk hatinya, Tini berharap Radit bisa berubah seperti Andre. Melihat Sinta berbahagia, Tini juga ingin melihat Vina berbahagia.
Seperti kaset rusak, perkataan Tini terus berputar putar di kepalanya. Kebenciannya kepada Vina bukan hanya menyebabkan tiga janin bersemayam di rahim Vina. Tetapi juga mengancam janin tersebut untuk keluar sebelum waktunya.
Radit mengacak rambutnya sendiri. Tidak ingin berlama lama di kafe itu, Radit memanggil pelayan. Dia meletakkan dua lembar uang seratusan dan lima puluhan kemudian segera berlalu dari tempat itu.
Radit menghentikan motornya, berbeda seperti sebelumnya entah mengapa hari ini ada rasa takut dan segan di hatinya untuk masuk ke rumah itu. Entah karena sudah menghina mertuanya atau karena merasa bersalah kepada ketiga janinnya, Radit seakan enggan untuk turun. Radit memandangi rumah itu. Dengan sedikit ragu akhirnya, Radit turun.
"Om," sapa Radit pelan. Tiga kepala langsung menoleh ke arah Radit. Vina dan kedua orangtuanya sedang berbincang bincang di ruang tamu. Berbeda dengan Vina dan mamanya yang memasang wajah masam, Hendrik justru menggerakkan tangannya untuk menyuruh Radit duduk.
"Ada apalagi?. Apa uangnya kurang?. Berapa kekurangannya?" tanya Hendrik datar. Radit merasa tidak enak dengan Vina, ketika Hendrik kembali menyinggung tentang uang yang sudah dikembalikan itu. Perkataan Vina yang mengatakan dirinya adalah jaminan langsung hinggap di pikiran Radit.
"Bukan om, aku hanya untuk mengantarkan es krim ini untuk Vina. Tadi dia ingin makan es krim tiga rasa," jawab Radit pelan. Dia menyodorkan sekantong es krim untuk Vina.
"Wah, wah. Kamu bisa juga menjilat ludah sendiri ya Radit. Tadi kamu sendiri yang bilang es krim tidak bagus untuk janin. Sekarang justru kamu membelikan es krim sebanyak ini untuk aku. Aku sudah gak ingin lagi Radit. Bawa saja pulang," tolak Vina sambil mendorong kantong plastik tersebut. Radit menelan ludahnya kasar dan meletakkan kantong plastik di atas meja. Setelah mendengarkan perkataan Tini tadi, Radit hanya menduga Vina mengidam. Dan tiga rasa itu adalah keinginan ketiga janin yang di rahim Vina.
"Aku berubah pikiran setelah mengetahui bahwa kamu mengandung tiga janin. Aku menduga Es krim tiga rasa itu adalah keinginan janin yang ada di rahimmu," jawab Radit sambil melirik ke arah perut Vina. Baru dia sadari, ternyata perut itu tidak lagi rata. Sudah menonjol, hanya karena baju yang agak longgar makanya perut itu tidak begitu kentara.
__ADS_1
"Aku sudah baru saja makan eskrim. Terlalu banyak, itu yang tidak bagus Radit," jawab Vina pelan. Vina menolak es krim itu. Radit terlihat kecewa tetapi Vina tidak perduli. Hendrik meliriknya Radit sekilas.
"Darimana kamu tahu, Vina hamil kembar?"
"Dari Tini,"sahut Radit cepat.
"Benar benar calon ayah yang buruk. Aku kira kamu tahu dari dokter ternyata dari Tini," kata Hendrik sinis. Radit menunduk.
"Kalau aku jadi kamu Radit, aku pasti malu datang ke rumah ini. Setelah apa yang kamu sudah katakan dan lakukan ke Vina," kata Hendrik lagi. Radit pun sebenarnya seperti itu, tapi entah mengapa Radit seperti ada sesuatu yang mempengaruhi hati Radit untuk mengantar es krim tersebut. Sesuatu yang tidak bisa menahan langkahnya. Radit meyakini itu karena tiga janin kembarnya.
"Mungkin dia datang ada maksud lain papa, mengundang kita ke pernikahannya mungkin," kata Vina cuek. Dia teringat perkataan Radit yang akan menikah.
"Oya. Mana undangannya?. Dengan senang hati kami akan datang," kata Hendrik sambil tersenyum. Hendrik benar benar senang. Jika Radit menikah sebelum bercerai dari Vina, itu akan mempermudah untuk mereka bercerai. Radit menoleh ke Vina. Wanita itu seperti tidak ada beban sama sekali. Vina juga berpikiran yang sama dengan papanya.
"Aku kemari murni untuk mengantarkan es krim ini om,"
"Baiklah, Kalau tidak ada yang lain. Kamu boleh pergi. Ada hal yang penting yang harus kami bicarakan sekarang. Kedatangan kamu membuat kami terganggu," jawab Hendrik datar. Dia menyuruh mamanya Vina untuk menyimpan es krim itu ke kulkas. Bisa saja sebenarnya Hendrik menolak es krim tersebut. Tapi Hendrik berencana membuang es krim itu jika Radit sudah pulang.
Radit seketika gugup dan malu. Jika diijinkan, Radit masih ingin duduk di sofa itu untuk berbicara dengan Vina. Tapi pengusiran dari Hendrik membuat Radit seperti duduk di atas kawat duri. Apalagi Vina dan mamanya tidak ada bersuara untuk menahannya. Radit bisa merasakan perubahan Vina. Wanita itu seperti tidak menganggapnya ada di ruangan itu.
"Om, boleh aku berbicara dengan Vina berdua?" tanya Radit akhirnya. Radit menunggu jawaban dari Hendrik sambil menunduk.
"Apa setelah aku menebus Vina. Kamu merasa punya hak atas Vina?. Vina dan seluruh yang ada di dalam tubuhnya termasuk janin itu. Bukan lagi milikmu. Ingat!. Berani kamu macam macam, maka aku tidak segan segan menjebloskan kamu ke penjara," kata Hendrik tajam sambil menyuruh Vina dan mamanya masuk ke kamar. Radit terkejut. Dia tidak menyangka mendapat penolakan sekejam ini dari Hendrik. Radit mengepalkan tangan. Amarahnya sudah tersulut. Dia berusaha menahan marah.
"Apa maksudmu om?" tanya Radit marah. Matanya mengikuti Vina yang berjalan meninggalkan sofa itu.
"Ternyata selain pemarah. Kamu juga bodoh Radit. Kamu yang mengatakan aku sudah menjual Vina secara tidak langsung. Dan aku sudah mengembalikan uang orangtuamu. Apa lagi yang harus kamu tuntut," kata Hendrik marah.
"Tetapi Vina mengandung janinku." Hendrik tertawa terbahak-bahak. Kemudian dia menatap Radit tajam.
"Aku sudah memberi kamu kesempatan kedua, tapi kamu kembali membahayakan janinnya. Setelah apa yang sudah kamu lakukan. Masih layakkah kamu menyebut janin yang dikandung Vina itu adalah milikmu?"
"Dasar gila harta. Aku akan membawa orangtuaku kemari." Radit semakin marah dan mengumpat. Hendrik hanya tertawa sinis menanggapinya.
"Baguslah. Kamu mengingatkan aku akan ke dua orangtuamu. Aku akan menyuruh mereka kemari sekarang juga. Kamu bisa menunggu di sofa ini dengan bermain game," jawab Hendrik santai. Hendrik beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke kamar dimana istri dan putrinya berada.
"Apa Radit sudah pulang," tanya mamanya Vina sambil membelai rambut Vina yang sudah berbaring di ranjang. Hendrik mengisyaratkan supaya istrinya untuk diam. Panggilan di ponselnya sudah tersambung.
__ADS_1
"Pa, mama takut," kata mamanya Vina khawatir. Mengetahui siapa barusan yang dihubungi suaminya. Dia takut Vina kembali ke rumah Radit.
"Jangan khawatir ma. Aku siap menghadapi orang tua Radit. Jika mereka membela Radit. Malam ini juga. Kita membawa Vina pergi jauh dari sini," jawab Hendrik. Hendrik menghargai orang tua Radit, itulah sebabnya Hendrik berusaha menyelesaikan masalah ini dengan kekeluargaan. Hendrik bahkan sudah menyusup beberapa rencana sebelum menjemput Vina hari ini.