
"Masih tutup kak," kata Tini kecewa. Radit dan Tini saling berpandangan. Kafe Bella masih tutup. Radit melirik jam tangannya dan menghembuskan nafas.
"Masih jam sembilan kurang Tini, ya wajarlah masih tutup,"
"Ya ampun. Jadi kita kemana nih kak, mau balik ke kampus juga tidak mungkin. Sudah telat," jawab Tini sambil memukul setirnya.
"Kita ke kantor ku saja,"
"Tidak. Kita ke rumah Sinta saja, Hari ini Sinta juga tidak masuk kuliah," jawab Tini. Tanpa persetujuan dari Radit, Tini memutar mobilnya menuju rumah Sinta. Sedangkan Radit mengirimkan pesan ke Andre memberi kabar jika dirinya dan Tini akan bertamu ke rumah Andre. Berselang setengah jam, Tini sudah menghentikan mobilnya di halaman rumah Sinta.
Sinta menatap heran ke Tini dan Radit yang sudah duduk di sofa ruang tamunya. Kedatangan mereka yang tiba tiba menimbulkan banyak tanya di benak Sinta.
"Biasa saja lihatnya Sinta. Sini duduk," panggil Tini melihat Sinta masih berdiri dekat pintu kamar. Seperti biasa, Tini tidak ada merasa segan jika di rumah Sinta. Caranya, seperti dia saja yang punya rumah.
"Ya. Sebentar," kata Sinta kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya untuk mengganti dasternya yang lebih tertutup. Tadi Sinta memakai daster yang sangat terbuka dan tali spaghetti.
Sinta sudah duduk di sofa itu. Sinta menatap Radit yang menunduk. Kemudian Sinta melihat Tini. Gadis itu memberi kode jika Radit dalam keadaan yang bersedih. Sinta yang mengerti kode itu hanya mengangguk.
"Ada apa kak. Ada masalah?" tanya Sinta. Radit mengangkat kepalanya dan mengangguk.
"Vina menggugat cerai aku Sinta," jawab Radit sedih. Sinta juga sudah menduga hal itu ketika Tini memberinya kode.
"Ya aku tidak bisa berkomentar apa apa kak. Aku pernah di posisi seperti Vina. Tersakiti dan tidak dianggap. Rasanya untuk kembali kepada orang yang menyakiti itu adalah hal terberat dalam hidupku. Kenyataannya memang aku kembali bersama mas Andre, tetapi rasa sakit itu masih saja terselip di hati," jawab Sinta jujur. Itulah yang dialami Sinta setelah kembali rujuk. Setinggi apapun dia menaruh kepercayaan terhadap Andre, tetap saja rasa curiga itu ada walau sedikit.
"Jujur, aku ingin seperti keluarga kalian Sinta, diawal pernikahan diterpa badai tapi seiring dengan waktu bisa berbahagia seperti ini."
"Kuncinya ada diantara kalian berdua kak, tapi karena letak kesalahan ada di diri kak Radit. Sebaiknya kakak yang berusaha untuk memenangkan hati Vina. Kakak sadari atau tidak. Kesalahan kakak sangat fatal kak," kata Sinta lagi. Sinta berusaha membuat Radit benar benar menyesali perbuatannya.
"Aku sadar itu Sinta," kata Radit pelan.
"Setiap wanita pasti menginginkan seorang pria yang baik dan bertanggung jawab. Untuk menjadi pendamping hidupnya kak. Jika kakak merasa tertolak dan tidak dihargai karena Vina berusaha kabur menjelang pernikahan kalian. Karena Vina sudah mengetahui siapa kakak sebenarnya. Semuanya, Vina sudah tahu. Wajar kan jika dia menolak. Jangan menyalahkan Vina akan hal itu kak."
"Atau adakah wanita yang sudah kakak cintai sebelum Vina menjadi istri kakak?" tanya Sinta lagi. Radit kembali menundukkan kepalanya.
"Ayo cerita kak. Aku sampai bolos kuliah untuk mendengar cerita kakak. Kalau sampai tidak cerita, siap siap lah nanti kakak aku jadikan sambal," kata Tini serius dan bersemangat. Dari tadi dia hanya diam mendengar mereka berbicara. Tini langsung mengutarakan tujuannya bolos ketika ada celah.
"Yang minta kamu bolos siapa?. Pakai ancam segala lagi," jawab Radit sewot. Radit kemudian menarik nafas panjang. Seperti biasa Tini hanya terkekeh.
"Aku pernah menyukai seseorang. Hubungan kami sudah sangat dalam. Aku memberikan semua yang aku punya untuk dia. Hati, materi dan semua yang dia minta. Aku bahkan menerima semua kekurangan dia. Tapi yang aku terima adalah pengkhianatan. Bukan hanya sekedar pengkhianatan. Dia bahkan mempermalukan aku di hadapan teman teman. Aku bukan tipenya." Radit bercerita tentang masa lalunya sedikit. Sinta dan Tini bisa melihat kesedihan di mata Radit. Mereka berdua saling berpandangan. Mereka tidak menyangka jika masa lalu Radit seperti itu dan sahabat mereka yang menjadi pelampiasan sakit hati tersebut.
"Apa wanita itu masih hidup atau sudah mati," tanya Tini kesal. Walau Radit hanya bercerita sedikit. Tini bisa menyimpulkan jika Radit sangat mencintai wanita tersebut.
__ADS_1
"Masih hidup tin," jawab Radit pelan.
"Sayang sekali. Wanita tidak tahu diri seperti itu harus mati saja," sahut Tini masih kesal.
"Apa kakak masih mencintainya?" tanya Sinta pelan dan lembut. Radit kembali menghembuskan nafas.
"Kalau mencintai tidak lagi. Hanya saja sejak saat itu. Aku tidak ingin terikat dengan wanita. Seperti yang kalian ketahui, aku jadi penikmat wanita malam," jawab Radit jujur. Ini lah selama ini yang menjadikan wanita malam menjadi pelampiasannya.
"Apa yang membuat kakak dendam. Kakak memberikan apa yang dia mau. Tapi kakak juga mendapat apa yang kakak mau. Jadi kalian kan impas," kata Tini. Mendengar cerita Radit. Tini dapat menyimpulkan hubungan Radit dan wanita itu seperti apa.
"Tidak impas tin, aku bahkan sempat melawan orangtuaku hanya demi dia. Aku membela dia di depan orang tuaku. Tapi dia meludahi aku di depan teman temanku," kata Radit lagi menyambung cerita masa lalunya. Berat rasanya Radit untuk mengungkapkan itu semua. Tapi Radit juga tidak mau untuk menyimpan cerita itu lagi di hatinya. Demi perbaikan diri untuk lebih baik lagi.
"Aku bisa mengerti kebencian kakak akan wanita itu kak, tapi tetap saja. Perbuatan kakak terhadap Vina tidak dibenarkan. Bukan hanya tersakiti dan tidak dianggap. Vina juga sudah menjadi sasaran pembalasan dendam kakak. Ini tidak adil bagi Vina kak," kata Sinta datar. Mengingat penderitaan Vina, Sinta sedih.
"Aku juga tidak mengerti Sinta, kenapa aku bisa berbuat bejad seperti itu kepada Vina," jawab Radit dengan penuh penyesalan
"Sudahlah kak Radit. Perbaiki hidup kakak. Ini mungkin jalannya kakak harus memperistri wanita baik baik. Masa lalu untuk disesali dan diperbaiki. Aku percaya, jika kakak berhasil memenangkan hati Vina. Kalian pasti menjadi keluarga yang bahagia nantinya. Ada tiga hati yang harus kalian didik menjadi penerus bangsa," kata Tini lembut sambil tersenyum. Baru kali ini Radit mendengar wanita tomboi itu berbicara lembut dan bijaksana. Radit merasa bersemangat setelah menceritakan masa lalunya dan mendengar tanggapan dari Sinta dan Tini.
"Terima kasih Sinta, Tini. Tidak sia sia aku tidak ke kantor hari ini," kata Radit. Sorot kesedihan di matanya sudah mulai menghilang.
"Sama kak, aku juga tidak sia sia bolos kuliah hari ini. Aku bisa melihat Radit yang selama ini angkuh, sombong dan sok jago. Hari ini aku melihatnya seperti manusia yang paling bodoh sejahat raya. Ingat kak, Penyesalan tanpa tindakan. Akan membuat kakak semakin menyesal. Cepatlah bertindak sebelum Vina membuka hati kepada pria lain yang melebihi segalanya dari kakak," kata Tini bangga.
"Ooo tidak bisa. Vina akan tetap jadi istriku. Tidak akan kubiarkan pria manapun mendekati apalagi menyentuhnya," kata Radit cepat. Dia sungguh tidak rela jika yang dikatakan Tini tadi terjadi.
"Sok tahu kamu tin," sahut Andre dari pintu sambil tertawa. Dia bisa mendengar semua apa yang dikatakan Tini. Sinta yang merasa malu mendengar nasehat Tini ke Radit merasa senang dengan kepulangan suaminya. Sinta tidak ingin mendengar nasehat Tini membahas tentang kegiatan ranjang. Bagaimanapun dia adalah seorang istri. Dan ada suami dari sahabatnya. Sinta merasa tidak pantas untuk mendengarkan hal hal begituan.
Andre semakin mendekat. Dia meletakkan bungkusan kue yang sengaja dibawanya dari toko kue miliknya. Andre meninju lengan Tini pelan dan juga melakukan tos dengan Radit. Andre kemudian duduk di sebelah Sinta. Badannya bersandar ke sofa dan tangan kirinya membentang hingga ke bahu Sinta. Andre kemudian mengelus perut isterinya dengan penuh kasih sayang.
"Pamer, pamer," kata Tini kencang. Andre tertawa Sedangkan Radit membayangkan dirinya berlaku seperti itu ke Vina. Radit bisa melihat Andre sangat bahagia.
"Makanya menikah. Percuma punya pacar. Tapi tidak bisa diajak menikah," balas Andre membuat Tini cemberut. Bibirnya entah sudah berapa centi maju ke depan.
"Dia tidak mau seperti aku dan Vina mas, Tini maunya dapat ijazah dulu baru dapat anak," kata Sinta. Dia masih ingat perkataan Tini tentang hal itu ketika di rumah Vina.
"Aku sebenarnya sudah berubah pikiran Sinta, karena ternyata kak Sean juga berencana ingin menikah paling lama akhir tahun ini. Tapi ketika aku ajak ketemuan dengan kedua orangtuaku. Kak Sean malah tidak membicarakan niatnya ke papa dan mamaku," kata Tini sedih. Entah mengapa sejak kejadian berciuman di mobil depan rumahnya. Tini meragukan cinta Sean kepadanya. Dan selama tiga bulan ini, hanya beberapa kali mereka bertemu. Terakhir ketika menjenguk Vina ke rumah sakit. Jika Tini mengajak kencan, alasan Sean selalu sibuk.
Radit, Andre dan Sinta saling berpandangan. Selama ini berteman dengan Tini baru kali ini melihat wanita tomboi itu sedih.
"Mungkin Sean ilfil dengan sikap bar bar mu itu Tini. Jadi wanita itu, belajar lebih lembut."
Radit bukannya menghibur Tini yang terlihat sedih. Radit bahkan membalaskan semua perkataan Tini yang selalu memojokkannya. Tini menatap Radit dengan tajam. Radit tersenyum. Baru kali dia mempunyai celah untuk membalas dendam ke Tini.
__ADS_1
"Tuh kan lihat Andre, Sinta. Tini hendak memakan aku, masa hanya mendengar apa yang aku bilang, dia sudah mau berubah menjadi singa betina yang kelaparan," kata Radit lagi sambil terkekeh. Dia menunjuk Tini yang masih melotot kepadanya dan tangan terkepal yang dipukulkan ke pahanya sendiri.
"Dasar kak Radit yang kurang ajar. Berani mengatai aku seperti itu lagi. Aku pastikan aku akan menjodohkan Vina dengan kakak kandung ku sendiri," kata Tini dengan nada ancaman yang serius, membuat Radit berhenti terkekeh. Dia langsung mati kutu mendengar perkataan Tini.
"Jangan tin, jangan ya. Aku janji tidak akan berkata seperti itu lagi. Aku telepon Sean sekarang ya," jawab Radit ketakutan. Dia tidak ingin Tini benar benar melakukan ancamannya tadi. Dia harus menelepon pawang yang bisa menjinakkan Tini. Andre kembali tertawa melihat tingkah dua manusia yang jarang akur itu. Sedangkan Tini sudah tersenyum puas karena bisa mengancam Radit. Yang membuat Tini lebih senang lagi Radit menelpon pujaan hatinya.
"Bagaimana kabar si kembar Radit?" tanya Andre setelah Radit selesai menghubungi Sean. Radit tersenyum karena mengingat ketiga bayi kembarnya. Radit kembali bercerita apa yang sedang terjadi dengan dirinya dan Vina saat ini.
"Aku selalu mendukung kamu bro. Asal itu positif. Hanya satu yang ingin aku katakan kepada kamu. Kita harus banyak bersyukur. Pria nakal seperti kita masih diberi kesempatan untuk mempunyai istri yang baik, cantik dan juga masih muda. Aku rasa, Vina sangat layak untuk diperjuangkan," kata Andre bijak. Radit mengangguk. Sinta menatap wajah suaminya. Hatinya senang mendengar apa yang diucapkan Andre barusan.
Radit dan Andre masih saja berbincang bincang seputar dunia bisnis. Sedangkan Sinta dan Tini sudah berpindah ke dapur untuk membuat makan siang untuk mereka. Suatu kebiasaan jika mereka berkumpul. Tidak akan melewatkan acara makan makan.
"Biar aku saja yang antar Sinta, kamu duluan saja ke depan" kata Tini sambil mengambil baki dari tangan Sinta. Dia kasihan melihat Sinta kalau harus mondar mandir dengan perut buncitnya. Sinta memberikan baki tersebut dan berjalan menuju ruang tamu. Sedangkan Tini berjalan ke arah kulkas dan mengeluarkan minuman bersoda dari sana. Dia tidak suka minum jus alpukat yang baru saja mereka buat.
"Kalau week end pasti bisa. Apa yang tidak bisa untuk orang istimewa seperti kamu. Aku pastikan pelayanan yang akan aku berikan pasti memuaskan."
Tini mengernyitkan keningnya mendengar suara itu. Walau suara itu dari arah pintu utama. Tini bisa mengenali pemiliknya. Tini melambai ke Lidia art Sinta. Tini menyuruh Lidia untuk mengantar baki tersebut ke ruang tamu. Mendengar perkataan Sean barusan Tini merasa ada sesuatu yang sembunyikan Sean darinya.
Tini meremas dadanya yang sesak. Rasa curiga sudah bersarang di kepalanya. Mereka jarang menghabiskan weekend bersama. Dan Tini sudah mengetahui alasannya sekarang. Tini marah dan sakit hati, Tini malas bertemu Sean hari ini. Mendengar Sean akan menyusul mereka ke rumah Sinta membuat hatinya merasa senang. Tetapi setelah mendengar perkataan Sean barusan Tini merasa sakit hati dan bodoh. Tini lebih memilih memainkan ponselnya daripada harus kembali ke ruang tamu.
Sementara di ruang tamu. Sean, Andre dan Radit saling berbagi cerita. Ketiga pria bersahabat itu terdengar tertawa terbahak bahak. Banyak hal membuat mereka larut dalam pembicaraan. Mulai dari bisnis, wanita dan hobi.
"Sayang, Tini kemana?" tanya Andre setelah berhenti tertawa.
"Masih di dapur mas."
"Tini disini juga?" tanya Sean terkejut. Radit hanya menyuruhnya ke rumah Andre tanpa memberitahu Tini juga berada di sini. Sean beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah dapur. Tini masuk ke kamar mandi setelah mendengar suara derap langkah menuju dapur.
"Tini. Sayang," panggil Sean sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur. Tini masih diam, dan tidak berniat menjawab. Lidia juga sudah tidak di dapur lagi.
"Aku tahu kamu di dalam. Buka pintunya Tini," panggil Sean lagi. Dia sudah di depan kamar mandi. Tini masih bungkam.
"Kalau kamu tidak mau membuka pintunya. Aku dobrak pintu ya. Satu, dua, ti..."
Ceklek, pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Tini keluar dari kamar mandi. Tini tidak memandang Sean sedikitpun membuat Sean heran. Sean menarik tangan Tini ketika wanita itu hendak berjalan ke ruang tamu.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Sean heran dan khawatir. Sean menarik tangan Tini untuk duduk di bangku di dapur itu.
"Aku sudah tahu apa alasan kenapa kita tidak pernah bisa menghabiskan weekend bersama. Ternyata kamu menghabiskan weekend dengan orang yang istimewa," kata Tini datar. Tini berusaha untuk tidak terlihat marah. Ingin rasanya dia mengangkat bangku yang sedang didudukinya itu dan menghantamkannya ke tubuh Sean. Tapi otaknya masih bisa untuk berpikir jernih. Dia tidak akan membuat keributan di rumah sahabatnya ini. Sedangkan Sean hanya tersenyum mendengar perkataan Tini.
Sean membantu Tini untuk berdiri. Kemudian Sean menarik tubuh Tini untuk duduk di pahanya. Tini berontak. Tetapi tenaga Sean lebih besar dibandingkan tenaga Tini. Sean berhasil mendudukkan Tini di pahanya dan memeluk gadis tomboi itu sangat erat.
__ADS_1
"Jangan langsung berprasangka buruk sayang," kata Sean sambil menyandarkan kepalanya di dada Tini. Tini merasa muak dan memaksa terlepas dari pelukan Sean. Setelah lepas, Tini akhirnya ke ruang tamu.