Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Prasangka Buruk


__ADS_3

Tini bersikap biasa seolah-olah dirinya tidak mempunyai beban pikiran. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapapun termasuk Sean sang kekasih. Tini paling tidak menyukai pria berengsek yang mempermainkan hati wanita. Itulah sebabnya dia membenci Andre dan Radit sebelum dosennya itu bertobat. Tetapi untuk Sean, Tini masih harus menggali informasi dan mengetahui pasti siapa sebenarnya orang istimewa yang dimaksudkannya tadi. Tini tidak mau gegabah. Dia akan menunggu Sean untuk menjelaskannya.


Tini menanggapi setiap candaan yang dilontarkan para lawan bicaranya. Terkadang Tini heran menilai para lelaki yang duduk bersamanya di ruang tamu rumah Sinta. Radit yang tadi terlihat sangat sedih bisa tertawa terbahak-bahak. Seperti tidak ada masalah atau beban pikiran. Hanya beberapa jam, pria itu seperti sudah bisa melupakan kesedihannya. Tini tahu bahwa Radit hanya mengalihkan kesedihannya dengan bercanda dan tertawa. Tini akan mencontoh laki laki itu untuk menyembunyikan kegundahan hatinya.


Seperti biasa, jika ada beban pikiran, porsi makan Tini akan selalu bertambah. Mereka memilih makan siang bersama di ruang tamu daripada di meja makan. Selain lebih santai. Dari sini mereka bisa memantau Airia yang bermain di karpet di ruangan itu. Radit hanya menggelengkan kepala melihat Tini yang masih makan sementara yang lainnya sudah menyimpan piring kotor. Wanita itu seakan tidak perduli dengan tatapan heran dari tiga pria bersahabat itu. Dengan santai, Tini memasukkan makanan itu ke mulutnya dan mengunyah. Duduk di lantai dan bersandar ke sofa. Kakinya diluruskan. Membuat Tini merasa nyaman dengan perut yang sudah berisi banyak makanan.


"Yang mau diisi perut atau tong sih Tini?" tanya Radit sambil terkekeh. Dari tadi Radit sudah berkali kali menggelengkan kepalanya melihat Tibi. Andre dan Sean juga heran dengan Tini yang bisa menghabiskan hampir dua piring makanan. Sinta juga begitu. Walau mereka bersahabat, Sinta tidak mengetahui hal yang satu ini tentang Tini. Ini pertama kalinya, Sinta melihat Tini makan dengan porsi yang sangat banyak. Karena hal seperti ini terjadi jika Tini mempunyai banyak beban pikiran. Sementara diantara para sahabatnya, Tini yang tidak banyak masalah dan jikapun ada Tini pintar untuk menyembunyikannya.


"Perut tong kak," jawabnya sambil mengunyah. Sinta masih heran dan memperhatikan cara makan Tini. Walau banyak makan seperti itu, badan Tini masih terlihat langsing.


"Ih, anak gadis makannya banyak seperti itu kalah kuli bangunan," kata Andre lagi. Tini tidak perduli. Dia masih saja makan dengan santai.


"Aku tidak perduli. Kalau ada yang ilfill karena ini dan mulut pedas aku, terserah," jawab Tini enteng. Walau niat hatinya menunggu penjelasan dari Sean, hatinya juga sangat kecewa. Terlalu banyak teka teki tentang Sean membuat Tini pasrah jika akhirnya dia dan Sean tidak berjodoh. Bagi Tini, keterbukaan dalam menjalani hubungan adalah penting. Beberapa bulan berpacaran dengan Sean, pria itu tidak terbuka kepadanya. Sean hanya memperlakukan dirinya sangat manis. Tentu saja Tini menyukainya. Tetapi Tini juga menginginkan Sean menjadikan dirinya sebagai tempat berbagi baik suka atau duka. Menganggapnya sahabat sekaligus kekasih seperti pasangan kekasih pada umumnya.


"Kamu pasrah jika Sean ilfill dengan dirimu yang seperti ini?" tanya Radit sambil tertawa. Radit bisa menangkap kata kata itu ditujukan untuk Sean. Tini hanya mengangkat bahunya. Walau sering kesal karena perkataan pedas dari mulut Tini, Radit makin lama makin bisa mengerti sikap Tini. Tini yang tulus dan baik. Tini tidak mentolerir jika ada sahabatnya tersakiti karena laki laki. Radit makin kesini makin mengagumi sikap Tini. Setelah mempunyai bayi kembar dengan dua putri, Radit berharap putri putrinya memiliki sikap seperti Tini. Walau terkesan judes, tapi begitulah cara Tini untuk menjaga dirinya dan para sahabatnya.


Sean yang sedari tadi diam, hanya menatap Tini. Dia juga mengetahui jika kata kata itu tertuju untuknya. Tetapi Sean bukan laki laki yang cepat gampang terpancing dan gampang marah. Dia lebih memilih memperhatikan gerak gerik Tini yang memasukkan makanan ke mulutnya. Sean juga sebenarnya bingung. Apa maksud dari sindiran itu. Hubungan mereka selama ini baik baik saja. Jika karena perkataannya tadi di telepon. Sean pasti akan menjelaskan ke Tini. Tapi waktunya bukan sekarang.


Sean mengambil piring kotor dari tangan Tini tanpa berbicara. Kemudian memberikannya gadis itu air mineral. Seperti tidak ada beban, Tini menerimanya tanpa bantahan. Dia membuka tutup botol air mineral biru dan meneguknya sedangkan Sean bangkit dari duduknya dan menyimpan piring kotor Tini ke dapur. Sinta tersenyum melihat perlakuan Sean yang terlihat sangat manis menurutnya. Walau perhatian kecil tapi menunjukkan cinta yang begitu besar. Sinta sendiri bisa merasakan perhatian sekecil itu dari Andre yang makin hari makin bisa Sinta merasakan cinta tulus sang suami.


"Kenyang... Terima kasih Sinta, kak Andre," kata Tini sambil menepuk perutnya sendiri. Andre dan Radit hanya menggelengkan kepala melihat gadis itu. Mata mereka membulat ketika Tini masih bisa memasukkan dua buah pisang ke mulutnya. Dan mengunyah dengan santai. Tidak perduli dengan beberapa pasang mata yang melihat dirinya heran. Tini mencampakkan kulit pisang itu ke asbak yang ada di atas meja.


"Bisa menang kamu tin, jika ada lomba makan," kata Andre sambil terkekeh. Sama seperti Andre dan Radit, Sean juga sangat heran melihat Tini hari ini. Dia ingin menghentikan tangan Tini untuk mengambil pisang kedua. Tapi tatapan tajam membuat tangan Sean berhenti dan membiarkan gadis tomboi itu menikmati pisang kedua.

__ADS_1


"Kak Radit, semoga perjalananmu besok menyenangkan dan selamat sampai tujuan. Jika kembali ke kota ini jangan lupa membawa oleh oleh. Kak Sean, aku pulang duluan," kata Tini sambil mengambil tasnya. Dia menghampiri Airia dan menciumi wajah bayi itu. Airia tertawa riang. Ketika Tini meminta bayi itu untuk mencium pipinya. Bayi itu menurut dan mencium pipi Tini bergantian. Tini kemudian memeluk bayi itu erat dan menggelitiknya. Tini dan Airia sama sama tertawa riang. Tini pamit ke Airia dan mendudukkan kembali di karpet.


"Terima kasih Tini. Kamu mau oleh oleh apa?. Kamu tidak diantar Sean?" tanya Radit heran. Biasanya jika bertemu seperti ini Tini akan terus lengket ke sahabatnya Sean. Hari ini Radit bisa melihat, Tini seperti menghindari Sean.


"Oleh oleh apa saja kak. Besok kakak berangkat. Aku rasa, sebagai sahabat. Kalian bertiga bisa bersenang-senang sampai sore," kata Tini santai dan tersenyum. Itu hanya alasan. Tini terlanjur kecewa dengan sikap Sean yang penuh teka teki.


"Ayo, aku antar kamu sampai ke depan," kata Sinta sambil menggandeng tangan Tini. Sean, Andre dan Radit saling berpandangan. Sean merasa asing dengan tingkah Tini hari ini.


Sean menepuk lengan Radit yang berdekatan dengannya. Radit yang mengerti akan tepukan itu hanya mengangguk. Kemudian Sean berjalan melangkah keluar. Langkanya cepat dan mendahului Tini dan Sinta yang berjalan pelan sambil bercerita. Sean berdiri di samping mobil. Ketika Tini mendekat, Sean membuka pintu mobil dan menarik Tini untuk masuk ke dalam. Tini tidak bisa menolak atau menghindar. Gerakan Sean terlalu cepat dan tidak bisa mengelak.


Sean menjalankan mobil dengan diam. Begitu juga dengan Tini. Weekend, pelayanan dan memuaskan, tiga kata yang selalu terngiang di telinganya. "Apakah laki laki yang aku cintai adalah seorang gigolo," batin Tini curiga. Membayangkan saja Tini bergidik nyeri. Dia menggelengkan kepala menyakinkan dirinya sendiri bahwa Sean tidak seperti yang di pikirannya. Jika sampai hal itu benar, Tini berjanji dalam hati tidak memaafkan Sean. Tini berusaha mengingat tingkah Sean sejak pertama kali bertemu. Tidak ada hal yang mencurigakan. Hanya perkataan tadi yang membuat Tini curiga. Tiga kata yang membuat Tini mampu berprasangka buruk dan gusar. Tini tidak dapat membayangkan jika Sean benar seperti kecurigaannya. Tini terlalu mencintai pria itu tetapi tidak akan menerima kesalahan fatal jika kecurigaannya benar benar nyata. Apalagi kesalahan itu menyangkut dengan seorang wanita.


Tini masih mempertahankan egonya. Dia masih diam, bahkan headset sudah terpasang di kedua telinganya. Tini memejamkan mata sambil menikmati lagu dari ponsel. Berlaku seperti tidak ada beban pikiran. Sean melirik ke sampingnya. Sean menghembuskan nafas. Tangannya terulur menarik sebelah headset itu. Tini protes dalam diam. Tini melepaskan headset sebelahnya. Menunggu Sean berbicara memberikan penjelasan.


"Aku rasa kamu harus memikirkan pelayanan yang terbaik untuk memuaskan orang istimewa itu," jawab Tini tajam. Dia tidak perduli jika hari ini ada perdebatan sengit antara dirinya dan Sean. Mereka ada di mobil. Menurut Tini, ini tempat yang tepat untuk meminta kejelasan dari Sean. Aman, tidak akan ada orang lain yang mendengar. Di rumah Sinta, Tini sudah berhasil untuk meredam kemarahan itu. Tetapi setelah berdua seperti ini. Tini tidak sanggup lagi. Dia butuh penjelasan Sean secepatnya.


"Jangan mudah berprasangka buruk jika belum mengetahui sesuatu itu secara pasti dan benar," jawab Sean tenang. Tini merasa tidak puas dengan jawaban itu. Tini diam. Dia tidak akan meminta penjelasan apapun. Jawaban Sean jelas, bahwa dia tidak ada penjelasan dari apa yang dia dengar. Tini marah dalam diam. Kecewa tentu hatinya sangat kecewa. Dia butuh penjelasan tetapi Sean masih bisa berkata tenang seperti tidak ada masalah.


"Mendengar kata pelayanan dan memuaskan, apa yang ada di pikiran kamu?" tanya Sean lagi. Sean ingin membuka pikiran Tini. Jika kata kata itu tidak hanya ditujukan untuk adegan suami istri. Tini malas untuk menjawab. Dia tidak ingin bersusah payah berpikir untuk menjawab pertanyaan itu. Dia hanya ingin penjelasan yang membuat hatinya puas dan lega dari mulut Sean. Diam adalah jalan untuk tidak melampiaskan kemarahannya. Dia membiarkan Sean untuk berbicara sendiri.


"Aku rasa kamu terlalu berprasangka buruk kepada aku. Sehingga otak cerdas kamu itu tidak dapat berpikir secara jernih," kata Sean lagi. Tini tidak menjawab. Memang betul dia sudah berprasangka buruk. Dia hanya ingin Sean menghilangkan prasangka buruk itu dari otaknya secepatnya.


Sean menghembuskan nafasnya kasar. Walau Tini jelas jelas marah, Sean merasa tidak bersalah dan ingin menjelaskan lebih detail tentang apa yang menjadi penyebab Tini mendiamkan dirinya. Bahkan seakan tidak ada masalah, Sean meraih tangan Tini dan membawa tangan tersebut ke dadanya. Kemudian Sean membawa tangan itu ke bibirnya. Mengecup sangat lama dengan mata menatap jalanan dan tangan kanan memegang setir. Tini merasa tidak mampu untuk menarik tangannya. Ini terlalu manis menurutnya di saat dirinya menuntut penjelasan. Tini membiarkan tangan seperti itu.

__ADS_1


"Mau makan lagi?" tanya Sean lagi. Tangan Tini masih di dadanya. Tini menggelengkan kepalanya. Hal itu bisa membuat Sean tersenyum. Tini menarik tangannya pelan. Dia masih butuh penjelasan. Tini tidak ingin perlakuan manis ini berhasil untuk mengalihkan perhatiannya.


"Baru hari ini pertama kali aku melihat sisi lain dari dirimu sayang. Makan dengan porsi yang sangat banyak. Apa kamu mempunyai beban pikiran?. Aku dulu mempunyai teman jika banyak berpikir bawaannya mau makan saja terus," kata Sean. Dari tadi dia ingin menanyakan hal itu. Melihat Tini diam. Sean melupakan pertanyaan itu sejenak.


"Jika aku mempunyai beban pikiran. Apa kamu perduli?" tanya Tini balik. Tini benar benar merasa jika Sean mengalihkan pembicaraan mereka.


"Kamu kekasihku, sewajarnya aku harus perduli," jawab Sean tenang.


"Tetapi kenyataannya tidak seperti itu," jawab Tini cepat dan ketus. Kekesalannya bertambah melihat Sean yang masih tenang dan belum menjelaskan tentang kecurigaannya tadi.


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?"


"Kita sepasang kekasih. Tapi aku begitu sulit menjangkau dirimu kak. Kita tidak pernah menghabiskan weekend bersama." Akhirnya Tini tidak bisa untuk menahan apa yang tersimpan di hatinya. Terserah, Sean akan berpikir dia egois setelah ini. Tini hanya ingin seperti pasangan lainnya. Berkencan dengan pasangan. Di awal mereka jadian. Sean memang sering mengajaknya keluar. Tetapi tiga bulan terakhir ini Sean selalu sibuk bahkan di hari libur.


"Aku sudah menjelaskan sayang. Jika aku sangat sibuk akhir akhir ini." Tini memutar matanya malas, jawaban yang sama jika Tini mengajaknya berkencan.


"Terserahlah kak. Aku malas mendengar jawaban itu setiap hari. Berselingkuh juga akan membuat sibuk dan tidak membuat ada waktu untuk pasangannya," sindir Tini pedas. Sindiran yang tidak beralasan dan tidak ada bukti. Sean terkekeh dan Tini semakin kesal melihat sikap Sean yang masih saja tenang.


"Aku tidak suka menjelaskan dengan kata kata. Aku akan langsung menjelaskan dengan bukti yang nyata," kata Sean tenang.


"Apa kakak ingin mempertemukan aku dengan Tante girang yang akan kamu puaskan itu?" tanya Tini marah. Dia tidak ingin bertemu siapapun menyangkut hal orang istimewa yang disebutkan Sean tadi. Mendengar dan membayangkan saja sudah membuat Tini marah apalagi jika harus bertemu.


"Aku tidak mau," kata Tini lagi. Dia menatap tajam ke Sean. Sean tidak perduli. Dia terus melakukan mobilnya. Melihat kekesalan dan kemarahan Tini. Sean akan menjelaskan detailnya nanti.

__ADS_1


__ADS_2