Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Susu Hamil


__ADS_3

Jangan berharap banyak kepada sesama manusia, karena setiap manusia mempunyai kekurangan dan ketidaksempurnaan. Tetapi berharap lah kepada Tuhan, sebab hanya Dia yang mempunyai kesempurnaan. Begitu juga dengan Sinta, berusaha ikhlas menjalani hidup atas apa yang sudah dialami, memudahkan dia menjalani hidup.


Hari hari berlalu, Sinta bangkit dari keterpurukannya. Berkat para sahabat yang mendukungnya, perlahan Sinta bisa melupakan kesedihannya. Beruntung semester ini, mata kuliah yang dibawanya, dosennya bukan Andre. sehingga pertemuan dengan Andre bisa dihindari.


Kini usia kehamilannya sudah memasuki trimester kedua atau empat bulan. Perutnya masih sedikit membuncit dan bisa ditutupi dengan baju yang longgar. Bisa dipastikan hanya para sahabatnya yang mengetahui Sinta hamil. Sinta juga sudah mulai bekerja di cafe Bella. Kebutuhan yang banyak memaksa dia, harus bekerja. Sebenarnya uang yang diberikan Andre lumayan banyak tapi Sinta menyadari kebutuhan setelah lahiran pasti lebih banyak.


Sinta keluar kampus lebih cepat, karena hari ini, dia hanya satu mata kuliah. Bersama para sahabatnya, Sinta menuruni tangga dari lantai tiga. Cici menggandeng Sinta, Cici takut Sinta terpeleset ketika menuruni tangga. Dan yang lainnya mengekor di belakang Sinta dan Cici. Mereka saling bercanda sambil berjalan. Terkadang mereka tertawa bersama dan tersenyum.


"Hati hati Sinta!" kata Cici ketika sudah dilantai dua dan berjalan menuju tangga selanjutnya.


"Iya, cerewet," balas Sinta tersenyum. Diantara sahabatnya Cici yang paling cerewet tentang kehamilan Sinta.


"Cici cerewet, karena tidak mau terjadi apa apa dengan kandungan kamu Sinta, kami tidak sabaran menjadi Tante. Iya kan guys?," kata Tini sambil membetulkan tas sandang Sinta yang dibawanya. Dia sedikit kewalahan membawa dua tas, tasnya dan tas Sinta. Sejak mengetahui Sinta hamil, para sahabatnya memberikan perhatian lebih ke Sinta. Para sahabatnya bersamaan menjawab iya.


"Iya donk, kalau aku tidak mau dipanggil Tante, aku mau dipanggil bunda. Bunda Elsa," kata Elsa lagi.


"Dan aku juga mau dipanggil om bukan Tante," sahut Ronal. Sontak mereka tertawa dan melihat Ronal yang menggandeng Vina mesra.


"Selagi kamu tidak pakai rok atau gaun, kamu pasti dipanggil om bukan Tante," sahut Indah yang membuat mereka semakin tertawa. Vina mencubit tangan Indah pelan."


"Sayangku Cowok tulen ya," kata Vina dan semakin mengeratkan tangannya di gandengan Ronal. Mereka sudah dekat tangga menuju lantai ke pertama. Cici dan Sinta menghentikan langkahnya ketika menuruni tangga. Dari bawah nampak beberapa mahasiswa menuju ke atas dan ada Andre paling di belakang mahasiswa tersebut.


"Sin, hari ini kerja?" tanya Elsa. Sinta hanya mengangguk. Sinta dapat melihat Andre diantara mahasiswa yang menaiki tangga. Andre mendongak ke atas. Melihat Sinta dan para sahabatnya masih yang masih berdiri. Sinta dan para sahabatnya menuruni tangga. Andre membalikkan badan dan melihat Sinta dari atas. Rambut yang di kuncir kuda menampakkan leher putih mulusnya yang jenjang.


"Sebaiknya kamu berhenti bekerja Sinta, kasihan kandungan kamu. Kalau hanya gara gara susu hamil kamu harus bekerja, kami berenam masih bisa bergantian beli susu hamil untukmu," kata Vina dan mendapat anggukan dari para sahabatnya. Sinta hanya menggeleng dan tersenyum menanggapi perhatian sahabatnya.


"Melihatmu seperti ini harus bekerja keras Sinta, ingin aku ulek laki laki yang membuatmu seperti ini," kata Tini geram sambil mempraktekkan menggiling sesuatu.

__ADS_1


Andre masih berdiri di tempatnya. Andre mendengar semua pembicaraan Sinta dan sahabatnya. Andre berjalan melangkah cepat ketika Sinta menghilang dari pandangannya. Bukan ke ruangannya melainkan ke balkon lantai dua. Andre memandang ke bawah. Dapat dilihatnya Sinta bersama para sahabatnya berjalan dan sesekali tertawa menuju parkiran.


Sinta naik ke motornya, melambai ke arah sahabatnya kemudian menjalankan motornya dengan lumayan kencang. Andre masih memandang dari atas. Pandangan Andre semakin terhalang oleh pohon yang tinggi. Entah kenapa melihat Sinta tidak memakai helm dan membawa motor dengan sedikit kencang membuat Andre khawatir. Takut terjadi sesuatu.


Andre masuk ke ruangannya. Menyandarkan dirinya di sofa dengan mata yang terpejam. Sejak bercerai dari Sinta. Ini pertama kalinya dia melihat Sinta. Pertemuan yang mengingatkannya awal mengenal Sinta hingga mereka bercerai. Hatinya berdenyut nyeri ketika mengingat Sinta menangis terisak di pelukannya. Andre mengambil ponsel dari saku celananya. Menekan satu persatu nomor yang masih dihafalnya. Menekan tombol memanggil. Nomor itu tidak bisa dihubungi karena Sinta sudah memblokir nomor Andre.


****


Sinta membawa motornya dengan cepat menuju kafe tempatnya bekerja. Mengenal Bella merupakan berkat bagi Sinta. Bella sangat baik dan sangat pengertian. Bella tidak membiarkan Sinta bekerja terlalu berat dan lelah. Setelah memarkirkan motornya yang khusus tempat parkir untuk karyawan kafe. Sinta berjalan pelan menuju dapur. Kafe masih sepi pengunjung.


Setelah mengucapkan salam, Sinta masuk. Sarah dan Lina sudah sibuk bekerja. Sinta langsung mengelap piring dan gelas yang baru dicuci Sarah. Dua jam kemudian pekerjaan mereka hampir rampung.


Sinta duduk dilantai, bersandar ke dinding dengan kaki yang diluruskan. Dua rekannya yang melihat Sinta membiarkannya seperti itu. Mereka paham, wanita hamil itu lelah.


"Sinta," panggil seorang wanita yang baru saja masuk ke dapur. Sinta mendongak.


"Tante..." panggil Rey ketika melihat Sinta sudah di depan pintu. Sinta tersenyum kemudian mendekat ke Rey. Membelai rambut dan mencubit pipi Rey dengan gemas.


"Siang mbak," sapa Sinta kepada Bella.


"Siang juga dek, ayo duduk," jawab Bella. Mereka kini duduk di sofa saling berhadapan sedangkan Rey duduk di samping Sinta. Anak kecil itu sejak dikenalkan dengan Sinta, langsung dekat dan kompak dengan Sinta.


"Tante, kapan adik bayi lahir?" tanya Rey. Sejak mengetahui ada bayi di perut Sinta, setiap bertemu pasti bertanya kapan lahir. Sinta tersenyum, kemudian mengusap kepala Rey.


"Masih lama lagi sayang, lima bulan lagi," jawab Sinta. Rey menghitung jarinya sampai lima kemudian tertunduk lesu.


"Masih lama lagi donk Tante, gak bisa satu bulan lagi?" tanya Rey lagi sambil menunjukkan satu jarinya. Bella sudah menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Rey. Anak laki laki berusia empat tahun itu, tidak sabaran melihat bayi Sinta.

__ADS_1


"Kamu mau gak, adik bayi lahir sehat?" tanya Sinta dan Rey mengangguk.


"Nah, kalau mau adik bayi lahir sehat, adiknya harus lahir lima bulan lagi. Tidak boleh lebih cepat dari lima bulan". Sinta menjelaskan sesederhana mungkin, Rey mengangguk.


"Rey, minta ikut, karena gak percaya kalau kamu belum melahirkan Sin," kata Bella sambil membuka kotak makanan.


"Ayo, kita makan!" ajak Bella sambil menyodorkan sepiring nasi dan rendang daging ke Sinta.


"Harusnya gak usah repot-repot mbak," jawab Sinta.


Setelah makan siang, Bella menyuruh Sinta pulang. Sinta menurut. Akhir akhir ini, Sinta merasa gampang lelah. Sebelum ke rumah Sinta singgah di swalayan dekat rumahnya untuk membeli susu hamil. Sinta menyusuri rak khusus susu hamil. Seorang SPG menawarkan produk susu kepada Sinta, Sinta melihat kemasan dan melihat harga kemudian mengembalikannya kembali rak.


"Ini bagus loh mbak, untuk perkembangan otak janin." SPG itu kembali menawarkan susu itu ke Sinta.


"Iya saya tahu mbak, tapi itu mahal. Aku cari yang lebih murah saja," tolak Sinta dan kembali menyusuri rak khusus susu hamil.


Seorang laki laki menoleh ke arah suara Sinta. Laki laki itu adalah Andre. Andre juga di swalayan ini. Tadi pagi, ketika membuatkan susu untuk Cindy, Andre melihat stok susu hamil untuk Cindy yang sudah mulai habis.


Andre melihat Sinta, terlihat wanita itu memasukkan sekotak susu kedalam keranjangnya. Dari kemasannya saja, Andre tahu bahwa itu adalah susu hamil paling murah. Andre melihat keranjangnya sendiri yang penuh beberapa kotak susu dengan berbagai rasa. Hatinya kembali berdenyut nyeri. Setelah Sinta berbelok ke rak yang lain. Andre ke rak susu hamil tersebut dan mengambil beberapa susu hamil dengan berbagai rasa, kemudian Andre cepat cepat ke kasir.


"Sinta," panggil Andre yang sedari tadi berdiri di depan swalayan. Dari luar Andre bisa mengamati gerak gerik Sinta. Sinta menoleh dan terkejut melihat Andre ada di situ.


Sinta terus melangkah ke arah motornya. Andre mengikuti.


"Ini untukmu," kata Andre sambil menyodorkan sekantong belanjaan. Sinta menatap Andre sekilas kemudian menghidupkan motornya dan memundurkan sedikit. Tanpa berbicara dan tidak menerima pemberian Andre, Sinta menjalankan motornya dan meninggalkan Andre.


Andre memandangi punggung Sinta yang semakin menjauh.

__ADS_1


Para pembacaku yang tercinta. Bolehkah aku meminta like, favoritnya?. Terima kasih.


__ADS_2