
Berlalu dari hadapan Sinta, tidak langsung membuat hati Andre tenang. Walau mobil sudah berjalan, Andre mencuri pandang lewat kaca spion. Dari kaca spion, Andre melihat seseorang membantu Sinta menghidupkan motornya. Andre menjalankan mobilnya pelan dan kemudian berhenti, kembali berpura pura merogoh sakunya. Cindy tidak begitu memperhatikannya.
Motor Sinta sudah berjalan dan kini melewati mobil Andre. Andre pun menjalankan mobilnya. Hanya beberapa meter jarak motor Sinta dan mobil Andre. Selain menyetir, pandangan Andre fokus juga ke Sinta. Kepala Sinta yang tanpa helm membuat rambut sebahunya yang tergerai melambai diterpa angin. Hingga motor Sinta, belok ke kiri dan mobil Andre lurus, Cindy dan Andre bersamaan melirik ke arah Sinta.
"Mas, itukan wanita yang pesan nasi goreng di warung tadi kan?" tanya Cindy dan menunjuk ke arah Sinta yang sudah hilang dari pandangannya. Andre hanya mengangguk.
"Kemana sih suaminya. Tega amat membiarkan istri sendirian membeli makanan tengah malam begini." Cindy mengomel sendiri sedangkan Andre hanya diam.
" Mas kok diam?" tanya Cindy.
" Mas harus ngomong apa?" tanya Andre lembut.
"Wanita tadi pasti ngidam, makanya jam segini sampai harus keluar cari makan," kata Cindy lagi. Cindy merasa kasihan melihat Sinta yang harus berkendara sendiri tengah malam mencari makan. Di dalam hatinya, Cindy bersyukur mempunyai suami seperti Andre, menuruti semua keinginannya dan juga memanjakan dirinya.
"Bahas yang lain saja," jawab Andre sedikit ketus. Andre tidak mau Cindy membahas Sinta lagi. Hatinya makin berdenyut nyeri mendengar Cindy yang membahas Sinta.
" Itu aja marah," sahut Cindy juga kesal dan memalingkan wajahnya. Andre tidak menanggapinya. Andre memilih fokus menyetir.
Sesampai di depan rumah, Cindy membuka pintu mobil, masih dalam diam Cindy turun dari mobil dan membanting pintu mobil kencang. Andre yang sudah terbiasa menghadapi sikap Cindy yang merajuk, membiarkan saja begitu. Hormon kehamilan membuat Cindy sering gampang tersinggung.
Melihat istrinya yang sudah berganti piyama tidur, Andre mendekat dan memeluk Cindy dari belakang.
" Maaf..."
"Aku mau tidur aja mas," kata Cindy berusaha lepas dari pelukan Andre.
"Tidurlah!" kata Andre dan masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Andre sudah keluar dari kamar mandi, mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan dan menyusul Cindy ke ranjang. Cindy belum juga tertidur.
"Belum tidur?" tanya Andre lembut.
"Gak nyaman mas, belum lagi dia aktif bergerak," jawab Cindy dan menunjuk perutnya. Cindy berbalik memunggungi Andre kemudian berbalik lagi menghadap Andre. Andre mengelus perut Cindy lembut, Andre terkekeh ketika merasakan gerakan dari calon anaknya.
"Putri ayah, bobok dulu ya! kasihan bunda tidak bisa tidur," kata Andre masih terus mengelus perut buncit Cindy.
"Jadi gak sabaran mas, nunggu dia lahir. Apalagi tiap malam begini gak nyaman tidur. Andaikan bisa sekarang dia lahir, aku lebih senang mas," kata Cindy.
"Jangan berkata seperti itu. Aku juga ingin cepat melihat putriku. Tetapi harus pas jugalah bulannya. Jangan sampai kurang sembilan bulan. Sejak kapan kamu gak nyaman tidur seperti ini?" tanya Andre yang memang baru kali ini melihat Cindy kurang nyaman tidur. Andre masih mengelus perut Cindy.
"Sejak hamil lima bulan mas," jawab Cindy pelan dan memejamkan matanya. Andre terus mengelus perut Cindy hingga Cindy terlelap.
Andre tidur telentang matanya tidak bisa terpejam. Setiap memejamkan mata, bayangan Sinta yang merapatkan jaketnya di warung tadi terlintas di pikirannya.
Andre turun dari ranjang setelah memastikan Cindy sudah tidur nyenyak. Andre melirik jam di dinding. Sudah pukul satu dini hari. Andre menuju garasi, mengeluarkan motor dan menggiringnya sampai ke luar gerbang. Dengan hati hati Andre menutup gerbang kembali.
Andre meneliti gembok gerbang. Gemboknya belum juga diganti Sinta walau Andre sudah protes.
Tidak ada jalan lain, Andre memanjat gerbang. Agak susah baginya memanjat gerbang tersebut tetapi pada akhirnya Andre bisa mendarat sempurna tanpa ada yang lecet.
Andre mencoba membuka pintu rumah dengan kunci yang dia punya. Beruntung. Pintu bisa dibuka. Setelah menutup pintu kembali, Andre melintasi ruang tamu yang gelap menuju kamar Sinta dan lagi lagi pintu itu tidak dikunci.
Andre mendekat ke ranjang, Sinta tertidur dengan membelakangi pintu. Andre mengamati seluruh tubuh Sinta. Perut buncit itu jelas tercetak di balik daster. Andre kembali mengamati wajah cantik itu. Di pipinya masih ada sisa air mata yang belum mengering.
Andre tidak bisa mengontrol dirinya, seakan lupa mereka sudah mantan, Andre naik ke ranjang. Berbaring di samping Sinta yang membelakangi. Andre perlahan mengulurkan tangannya ke pinggang Sinta. Membelai perut buncit itu sebelum kembali ke rumahnya bersama Cindy. Sinta sedikitpun tidak merasakan belaian Andre. Wanita hamil itu tidak berkutik sedikitpun.
__ADS_1
Merasa tidak ada pergerakan dari Sinta, Andre dengan perlahan membalikkan badan Sinta menghadap ke dirinya. Sehingga mereka kini saling berhadapan. Tangan Andre terulur menghapus sisa air mata di pipi Sinta. Tetap juga Sinta tidak berkutik. Lelah menangis membuat Sinta tertidur sangat nyenyak.
****
Pagi hari di kediaman Sinta, Jam sudah menunjuk angka enam. Tapi belum terlihat aktivitas di rumah itu. Biasanya sebelum jam enam Sinta sudah bangun. Sinta masih terlelap di pelukan Andre. Andre yang tidak sengaja tertidur di rumah Sinta, sama juga seperti Sinta. Terlelap dengan tangannya yang melingkar di pinggang Sinta.
Sementara di luar rumah tepatnya di luar gerbang rumah Sinta, para tetangga sudah bertanya tanya tentang motor gede yang terparkir di luar gerbang rumah Sinta. Salah satu dari mereka memanggil nama Sinta.
Sinta terbangun dan terkejut melihat Andre di ranjangnya. Spontan Sinta turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Sementara Andre tidak terganggu dengan suara berisik dari luar rumah.
Setelah mengikat rambutnya, Sinta keluar dari rumah. Beberapa orang sudah berdiri di depan gerbang rumahnya.
"Mbak, ini motor siapa?" tanya salah satu dari orang tersebut. Sinta sedikit gelagapan. Sinta tahu itu punya Andre. Mau jujur punya mantan suami tidak mungkin. Mau bilang motor itu punya suami, Andre sudah mantan suaminya.
"Aku juga tidak tahu mbak, kalau mau ambil aja!. Biar tahu rasa tuh yang punya motor, asal letak di depan rumah orang," jawab Sinta asal. Sinta tidak perduli tentang motor itu. Lebih bagus diambil orang biar Andre kapok menyelinap masuk ke rumahnya. Sinta kembali ke kamar, melihat Andre berbaring di ranjang membuat Sinta semakin muak dengan Andre.
Sinta menggedor pintu kamar padahal pintu kamar sudah terbuka. Sinta hanya berniat membangunkan Andre tanpa berbicara dengannya. Andre seketika bangun mengucek matanya dan melihat sekeliling. Andre juga terkejut mendapat dirinya di kamar Sinta, Setelah benar benar bangun dari tidurnya, Andre ingat bahwa bahwa dini hari dia ke rumah Sinta.
Sinta sudah duduk di sofa. Melihat Andre keluar dari kamar, Sinta berdiri dan membuka pintu rumah. Sinta mempersilahkan Andre keluar.
"Sekali lagi kamu menyelinap ke rumah ini, maka aku akan teriak maling," kata
Sinta dingin. Andre berhenti di depan Sinta.
"Sin...."
"Silahkan keluar," potong Sinta. Sinta semakin muak dengan Andre.
__ADS_1
"Laki laki tidak punya pendirian," kata Sinta lagi.
"Apa aku perlu teriak maling sekarang?" tanya Sinta dengan berteriak. Melihat Andre masih berdiri, belum keluar rumah membuat Sinta marah.