
Sinta terus memasang wajah senyum. Impiannya hari ini terwujud. Menjadi sarjana strata satu adalah impiannya sejak dulu demi memperbaiki taraf hidup keluarganya. Tapi sebelum menjadi sarjana taraf hidup keluarganya sudah mulai meningkat berkat Andre. Semua rasa sakit yang pernah ditorehkan Andre benar benar terlupakan dengan kebaikan Andre kepada keluarga Sinta.
Sinta juga sudah mengubur rapat rapat masa lalu itu. Yang ada Sinta semakin ingin membahagiakan suami yang memberikan banyak cinta untuk dirinya.
Sinta memandangi suaminya yang sedang berbicara serius dengan papa Panji dan mama Ria di sofa. Dari sejak pulang dari studio foto. Sinta menahan diri untuk memeluk suaminya. Situasinya tidak memungkinkan saat ini untuk membahagiakan suaminya. Di rumah mereka kini berkumpul keluarga besar papa Rahmat dan kedua orangtuanya yang datang khusus dari kampung untuk menghadiri wisuda ini.
Sinta akhirnya bergabung dengan keluarga besar suaminya. Sinta duduk di sebelah mama Ningsih karena wanita tua itu memberi isyarat kepada Sinta untuk mendekat.
"Apa kita sudah bisa makan siang?. Mama lapar," bisik mama Ningsih. Sinta terkekeh dan pamit ke ruang makan untuk melihat persiapan makan siang mereka hari ini.
"Minum ini dulu ma," kata Sinta sambil menyodorkan segelas jus untuk mertuanya. Setelah mengecek ke dapur ternyata mereka bisa menikmati makan siang setengah jam lagi. Mereka tidak menggunakan jasa catering untuk acara ini. Semua makanan dan minuman art Sinta yang menyiapkan dibantu dengan art dari rumah mama Ningsih.
"Terima kasih nak. Ini cukup mengganjal perut menunggu makan siang," jawab mama Ningsih tersenyum.
"Ma, aku ke kamar dulu. Ganti pakaian."
Mama Ningsih mengangguk. Sinta melangkahkan kakinya menuju tangga. Di pertengahan tangga, Sinta terkejut dengan kaki Andre yang tiba tiba mensejajarkan langkah dengan dirinya.
"Ngagetin saja kamu pa," kata Sinta sambil memegang dadanya. Andre tertawa dan menautkan tangannya di pinggang Sinta. Mereka meneruskan langkah dengan tangan Andre yang masih terletak di pinggang istrinya.
"Terima kasih pa," kata Sinta sambil memeluk suaminya dengan erat setelah mereka di kamar.
"Terima untuk apa sayang?.
"Terimakasih atas semua dukungan dan juga cinta yang kamu berikan selama ini kepada aku pa," kata Sinta yang masih meletakkan kepalanya di dada sang suami. Andre tertawa sambil mengelus kepala Sinta.
"Itu adalah tangguh jawab dan rasa cintaku kepadamu sayang. Dan aku merasa itu tidak seberapa dibandingkan dengan luka yang pernah...."
Sinta meletakkan jari telunjuknya di bibir suaminya. Dia sudah bertekad akan melupakan semua kisah yang menyakitkan itu.
__ADS_1
"Jangan ingatkan kisah luka itu pa. Jadilah suami dan papa yang baik kepada keluarga kecil kita ini tanpa ada ruang di hatimu untuk wanita lain," kata Sinta sambil mendongak menatap wajah suaminya. Setelah selesai berkata, Sinta mendapat ciuman singkat di bibirnya.
"Pasti sayang. Aku juga sangat yakin bahwa hanya kamu wanita yang terbaik yang diperuntukkan untuk diriku."
Sinta tersenyum dan melepaskan pelukannya dari Andre. Kata kata Andre yang tulus selalu membuat Sinta yakin bahwa hanya dirinya yang akan menjadi penghuni hati Andre untuk selamanya sampai menua.
"Kamu tidak ingin membahagiakan aku sayang?" tanya Andre sambil menangkap tangan Sinta supaya tidak menjauh darinya. Andre kembali menarik Sinta merapat ke pelukannya. Ketika Sinta mendongak menatap wajah suaminya. Andre mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan mesum di siang bolong seperti ini pa. Kita saja belum makan siang," kata Sinta manja. Andre terkekeh.
"Siap makan siang ya?. Tanya Andre lagi. Sinta melotot. Andre semakin tertawa keras.
"Kita masih ada acara selesai makan siang pa. Sekali kali kali berpuasa kebutuhan bawah perut donk pa."
"Ih. Yang mesum sepertinya kamu deh. Aku bukan minta kebutuhan itu. Aku masih waras untuk mengikuti acara wisuda kamu ini sampai selesai sayang," kata Andre sambil tersenyum dan mencubit kedua pipinya istrinya yang sangat menggemaskan.
"Cepat kamu ganti pakaian kamu sayang dan tolong ambilkan pakaian untuk aku juga. Kamu akan tahu kebahagiaan apa yang aku inginkan nantinya setelah selesai makan siang. Aku pastikan bukan hanya aku yang merasa bahagia nantinya," kata Andre membuat Sinta memicingkan matanya. Dia belum bisa menebak kebahagiaan seperti apa yang diinginkan Andre dari dirinya hari ini. Sinta menurut dan tidak banyak bertanya lagi. Dia berganti pakaian yang lebih santai dan memberikan pakaian kepada suaminya yang juga terlihat sangat santai.
Mereka berdua menuruni tangga dengan bergandengan tangan. Makanan dan minuman sudah tersaji di meja dengan kerabat dekat yang sudah berdatangan. Sinta dan Andre memang merayakan acara wisuda ini dengan sederhana hanya dengan mengundang keluarga inti, kerabat dan tetangga terdekat sesuai dengan permintaan Sinta.
Acara dimulai dengan berdoa bersama kemudian dilanjutkan dengan makan siang. Walau perayaannya sederhana tapi makanan dan minumannya tergolong mewah. Setelah acara makan itu selesai. Banyak kata kata nasehat yang disampaikan oleh kedua orang Sinta dan kedua mertuanya. Tidak hanya nasehat. Harapan untuk Sinta menjadi wanita yang lebih baik, sukses dan tentunya kesuksesan itu lebih mengarah kepada wanita yang sukses menjadi istri yang baik dan ibu yang bijaksana kepada kedua putra putrinya.
Sinta menitikkan air mata mendengar semua nasehat dan harapan kedua orang tuanya kepada dirinya. Apa lagi kedua orangtuanya sudah mengetahui rencana Sinta dan Andre yang akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Sinta tidak dapat menahan air matanya itu. Bayang bayang masa lalu ketika dirinya meminta ijin kepada kedua orangtuanya untuk melanjutkan kuliah ke kota kembali terlintas di pikirannya. Segala kesulitan dan kesusahan waktu itu menyertai dirinya hingga berada di kota ini hingga kemudian memutuskan istri simpanan suaminya. Nasehat kedua orangtuanya seakan menegaskan kepada Sinta untuk selalu jujur apapun keadaan mereka kepada keluarga besar baik kepada orang tua kandung dan kepada kedua mertuanya. Sinta jelas bisa menangkap kekhawatiran di setiap perkataan kedua orangtuanya.
"Papa dan mama tidak perlu khawatir. Kami hanya melanjutkan kuliah di luar negeri dan paling lama hanya empat tahun," kata Andre menanggapi semua nasehat, harapan bahkan kekhawatiran kedua mertuanya. Kedua orang tua Sinta hanya mengangguk.
"Pak Panji dan ibu Ria. Saya sebagai papa mertua dari putri bapak dan ibu. Akan memastikan mereka hidup dan belajar di luar negeri senyaman mungkin. Bapak dan ibu tidak perlu khawatir," kata papa Rahmat lagi menguatkan hati kedua besannya. Lagi lagi mereka hanya mengangguk.
"Nak Andre. Sinta adalah istrimu. Ketika kalian menikah. Satu katapun tidak ada kata keluar dari mulut papa untuk menasehati kamu. Tapi hari ini. Papa mempunyai permintaan buat kamu. Sinta adalah istri dan ibu dari kedua putra putrimu. Sebelum kamu mencintainya. Kami sudah terlebih dahulu mencintainya. Kami tidak pernah menyakitinya. Dan aku harap juga kamu tidak menyakitinya lagi. Kami memang bukan orang tua yang baik bagi Sinta. Tapi papa mohon. Kamu jangan ikut ikutan menjadi suami yang tidak baik bagi putri kami," kata papa Panji sedih. Entah mengapa walau sudah melihat Sinta bahagia bersama keluarga kecilnya. Papa Panji masih saja mengucapkan kata kata itu.
__ADS_1
"Papa percaya kepada aku pa. Sinta adalah tulang rusuk aku pa. Jika dia tersakiti maka aku paling tersakiti," kata Andre bijak dan tulus.
Sinta semakin terisak. Kata-kata orang tua yang tidak baik. Sinta jelas tahu apa maksudnya. Sebelum rujuk dengan Andre. Sinta pernah menangisi dirinya karena sudah menjadi janda. Tapi melihat situasi sekarang. Sinta kembali bersyukur karena mengambil keputusan yang tepat berbaikan dengan Andre.
"Jangan menangis sayang. Ini hari suka bagi kita," bisik Andre. Tangannya terulur mengusap air mata itu.
"Ini air mata bersyukur dan bahagia pa," balas Sinta dengan berbisik.
Setelah acara memberi nasehat dari orang tua dan mertua. Kini giliran kedua kakak iparnya untuk menasehati Sinta.
"Jangan lupa membawa anak ketiga dari luar negeri Andre, Sinta. Biar ada cucu papa dan mama yang dicetak dan dilahirkan di luar negeri," kata Andi. Dia yang paling terakhir memberikan kata nasehat dan harapan tapi perkataannya yang membuat semua orang yang ada di rumah itu tergelak. Sinta hanya tersipu mendengar perkataan kakak iparnya sedangkan Andre mengacungkan jempolnya.
"Yuk, keluar. Sekarang giliran kamu untuk menghibur kami dan menyalurkan hobi," kata Andre sambil menuntun Sinta ke teras rumah mereka. Sinta ternganga. Dia baru mengerti kebahagiaan yang diinginkan oleh Andre dari dirinya.
Di teras itu sudah tersedia keyboard beserta perkakas lain.
"Maksud kamu. Aku akan menghibur kalian dengan bernyanyi," tanya Sinta sambil melihat keyboardist yang sudah siap sedia duduk di tempatnya.
"Aku ingin menikmati suara kamu seperti di pernikahan Vina dulu sayang," kata Andre.
"Siapa takut pa. Tapi bentar dulu. Aku hubungi Vina dan Tini supaya bergabung dengan kita."
Sinta menghubungi Vina dan Tini melalui video call groups. Sinta menceritakan permintaan Andre dan meminta dua sahabat beserta pasangan untuk datang ke rumah. Dan ajakan Sinta itu disambut baik dua pasang sahabatnya itu.
"Sebelum kamu bernyanyi. Aku menyanyikan sebuah lagu khusus buat kamu sayang," kata Andre.
"Judulnya apa pa?"
"Makna cinta dari Rizky Febian," kata Andre kemudian melangkah menuju keyboard. Suara lembut Andre terdengar memulai lagu itu. Sinta tersenyum bahagia. Andre terlihat menghayati lagu itu. Tapi kemudian Sinta tertawa melihat Andi dan Bayu yang juga sudah mengambil mikrofon. Mereka juga ingin menyanyikan lagu itu untuk istri tercinta mereka. Lagu itu kini diulang untuk kedua kalinya oleh ketiga kakak beradik itu. Semua yang tadi masih di rumah kini sudah berkumpul di teras dan halaman rumah sinta. Dan yang lebih membuat para wanita itu tertawa. Pak Rahmat tidak mau kalah. Dia juga maju dan meminta lagu itu untuk dinyanyikan oleh mereka berempat untuk istri masing masing.
__ADS_1