
Sean sedikit terburu buru melancarkan aksinya. Hanya membayangkan saja, sudah membuat dirinya on apalagi ketika bersentuhan seperti ini. Pengalaman pertama yang sudah lama diimpikan. Tetapi karena belum menemukan wanita yang pas di hati. Mimpi itu baru hampir terwujud malam ini.
Sean menggerakkan tangannya meraba perut istrinya. Kemudian tangan itu semakin naik ke dada. Dia belum begitu pintar untuk melepaskan penyangga dada itu. Pengalamannya hanya sebatas mencium bibir dan meraba. Selain itu Sean belum pernah melakukan hal seperti itu terhadap tubuh wanita. Tini yang beruntung mendapatkan sentuhan dari orang baik seperti Sean.
Sama seperti Sean, Tini juga belum paham yang diinginkan oleh Sean. Baru ketika Sean meletakkan bibir di puncak dada itu. Tini mengerti. Dia membuka kaosnya kemudian melepas penyangga itu. Wajahnya menginginkan lebih. Tapi Tini masih berusaha untuk menerima saja apa yang akan dilakukan Sean kepadanya. Tapi itu hanya beberapa detik setelah tubuh bagian atasnya terlepas. Kini tangan Tini sudah mulai beraksi di kancing kancing kemeja milik Sean. Melepas satu persatu kancing itu dan melepaskan kemeja suaminya. Sean menghentikan aksinya sebentar untuk melepas kaos dalam putih miliknya.
"Apa harus seperti ini prosesnya. Tidak bisakah langsung ke intinya saja?" tanya Tini ketika bibir Sean kembali mendarat di puncak dadanya. Sean mendongak menatap wajah istrinya dan terkekeh. Seperti kemauan sang istri. Sean melepas celana jeans milik Tini. Kemudian melaksanakan hal yang sama dengan celana jeans miliknya beserta onderdil lainnya. Tini terperangah melihat urat besar itu.
"Ternyata kamu tidak tahan lagi sayang," jawab Sean dengan suara yang parau ditambah matanya yang berkabut. Sean mendekatkan urat besar itu ke Tini. Tini memberanikan diri untuk menyentuhnya, tapi tangan Sean menuntun tangan Tini untuk menggenggamnya. Tubuhnya sangat bereaksi aneh. Sean yang menduga inilah saat yang tepat untuk mencoblos Tini membantu Tini untuk berbaring telentang di ranjang. Sean meletakkan kaos dalam putihnya tepat bawah b*kong Tini.
"Untuk apa itu kak?"
"Hanya aku yang boleh melihat darah perawan kamu sayang," jawab Sean. Tini mengangguk setuju dengan apa yang dilakukan suaminya. Sean tidak ingin darah perawan milik Tini mengenai sprei. Sean akan berencana menyimpan kaos dalam itu nantinya.
Dasar Tini, bukannya bertingkah malu. Tini langsung melebarkan pahanya. Lagi lagi Sean terkekeh dan membuat posisi yang pas untuk mencoblos. Sean menggesek urat besar itu sebagai perkenalan di gua terlarang itu. Tini mengeluarkan suara yang nikmat.
"Sudah masuk?" tanyanya sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. Sean menggelengkan kepalanya.
"Masih perkenalan," jawabnya sambil terkekeh. Tini memukul lengan Sean. Sean akhirnya mulai memposisikan miliknya ke milih Tini. Hingga beberapa detik kemudian Tini meringis kesakitan.
"Sakit kak,"
"Tahan sebentar. Sakitnya hanya sebentar. Setelahnya kamu akan merasakan nikmat sayang," jawab Sean terus mendorong miliknya hingga terbenam sempurna di milik sang istri.
"Masih sakit?" tanya Sean. Tini hanya mengangguk sambil meringis. Sean membungkuk bibir Tini untuk mengalihkan rasa sakit yang dialami Tini. Dan terbukti Tini sudah mulai menggerakkan pinggulnya.
Tidak mau kalah dengan Tini, Sean akhirnya bergerak gerak di atas tubuh Tini. Tini yang kembali merasakan sakit di bagian inti itu kini meringis.
"Ada sakit dan ada enaknya kak."
"Nanti kalau sudah terbiasa. Kamu hanya merasakan enaknya saja," jawab Sean terputus putus karena harus bergoyang.
"Katakan yes or no sayang. Jika enak katakan yes dan kalau sakit katakan no. Aku bisa berhenti jika kamu kesakitan," kata Sean lagi. Dia merasa kasihan melihat Tini yang kesakitan tapi terkadang juga tidak terlihat merasa nikmat. Sean hanya berjaga jaga saja. Dia tidak mau menggoyang di saat keadaan Tini kesakitan.
"Yes."
"Aaah No,"
__ADS_1
Tini mengucapkan dua kata itu bergantian. Ketika mulutnya mengatakan yes. Sean semangat untuk bergoyang. Dan ketika Tini juga mengatakan no, Sean tetap menggoyang. Sean seperti tidak ingin menghentikan aksinya apalagi Tini juga tidak berusaha mendorong tubuhnya walau merasa kesakitan.
"Or," kata Tini sambil meringis. Sean menghentikan goyangannya dan menatap Tini. Telinganya masih berfungsi dengan baik untuk mendengar ketika mendengar kata or dari mulut Tini.
"Maksud kamu apa sayang."
"Lanjut aja kak. Enaknya nanggung kalau berhenti," jawab Tini sambil memegang pinggul Sean untuk membantu bergoyang. Sean kembali bersemangat. Goyangan semakin cepat membuat Tini merasa melayang di awan. Hingga keduanya merasa seperti mengeluarkan sesuatu dari tubuh masih masing. Sean ambruk di atas tubuh Tini. Tini memeluk Sean dengan penuh cinta. Sean mencium kening istrinya kemudian berguling ke sebelah Tini.
"Makasih Sayang. Aku merasa seperti pria paling beruntung karena bisa mendapatkan diri dan kehormatan kamu," bisik Sean sambil memeluk Tini. Tini tersenyum bangga. Dia juga merasa bahagia karena bisa menjaga harga dirinya dan mempersembahkan untuk suami tercintanya.
"Kakak juga masih perjaka kan sebelumnya?" tanya Tini. Sean tersenyum.
"Kan sudah kakak bilang, kamu yang pertama menyentuh aset berharga milikku sayang."
Tini tersenyum puas mendengar jawaban suaminya. Sesuai impiannya sejak dulu. Dia mendapat suami yang baik seperti Sean.
"Kak, keahlian kamu bertambah malam ini."
"Keahlian apa?"
"Keahlian mencoblos. Kamu tidak perlu lagi menunggu ada pemilu untuk mencoblos. Mulai malam ini kamu sudah bisa mencoblos setiap malam," kata Tini sambil tertawa. Sean juga tertawa terbahak-bahak. Benar kata Tini. Kalau saat pemilu dia harus mencoblos pakai paku. Mulai malam ini dia bisa mencoblos Tini dengan urat besarnya.
"Kamu tidak konsisten kak. Kamu bilang kalau aku kesakin harus bilang no. Saat aku mengatakan kata itu. Kamu mana ada berhenti. Aku bilang saja or. Dan kamu berhenti kan?"
"Habisnya enak sayang. Sayang kalau berhenti," jawab Sean sambil terkekeh. Tangannya sudah aktif kembali bermain di puncak dada Tini. Tini menerima perlakuan Sean dengan mendaratkan bibirnya di sang suami. Hingga Sean meraba tubuh istrinya kembali. Tini dengan senang hati. Tidak seperti tadi. Kali ini Tini tidak ingin terburu buru. Tini membiarkan Sean menjelajahi seluruh tubuhnya dengan lidahnya.
"Jangan dijilat gitu kak. Aku pernah melihat anjing seperti itu hendak main," kata Tini sambil merapatkan pahanya. Sean terkekeh tapi tidak perduli dengan larangan Tini. Sean melakukan apa yang dia mau. Tini menyerah tapi suara desahannya hanya memenuhi ruangan itu. Hingga jam menunjukkan angka dua. Mereka masih betah untuk berlama-lama polos seperti bayi. Dihitung dari sejak mereka masuk kamar mereka sudah hampir tiga jam mereka menikmati malam pertama. Dan mungkin tiga jam itu masih kurang untuk mereka yang pemula.
Besok paginya. Sepasang suami istri terbangun dalam keadaan polos. Mereka tertawa terbahak-bahak ketika mereka menyadari berada di rumah Andre dan Sinta. Untung mereka bangun jam enam. Sean menyingkapkan selimut yang menutupi tubuh mereka dan menggendong Tini masuk ke kamar mandi. Mereka hanya sekedar membersihkan tubuh masing masing. Mereka berdua cukup tahu diri untuk tidak berlama lama di kamar itu. Mungkin untuk ronde selanjutnya. Sean dan Tini bisa melanjutkan di rumah milik Sean.
"Yes or no."
"Or." jawab Sinta sambil terkekeh.
Sean dan Tini sama sama menoleh ke Andre dan Sinta yang sudah duduk di meja makan. Mereka masih saja menuruni tangga. Mereka disambut dengan tiga kata yang mereka ucapkan tadi malam. Tini merapatkan pahanya ketika tatapan Sinta kearah dirinya. Sean terlihat tenang dan memegang bahu Tini setelah menarik kursi dan membantu Tini duduk di kursi tersebut.
'Papi. Mau kopi atau susu?" tanya Sinta kepada Andre yang duduk tenang.
__ADS_1
"Kopi saja mami. Efek begadang tadi malam perlu minum kopi."
Sean dan Tini menatap Andre.
"Kamu begadang bro. Apa flashdisk nya terkena virus?"
"Bukan karena flashdisk. Tapi karena ada suara suara sumbang dari kamar kalian tadi malam."
Sean dan Tini saling berpandangan. Jika suara mereka terdengar oleh Andre. Itu artinya Andre tahu apa yang terjadi di kamar itu tadi malam. Sean mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan ke Andre.
"Jadi kalian sudah menikah?" tanya Andre terkejut. Sinta biasa saja karena sudah tahu rencana Tini sebelumnya. Tapi tidak menyangka secepat itu pernikahan itu terjadi dan kedua orang tua Sean dan Tini menyetujui ide gila Tini tersebut.
"Emang kakak kira kami murahan melakukan itu tanpa ikatan sah?" tanya Tini sambil tersenyum mengejek ke Andre.
"Ingat janji kakak yang tadi malam," ancam Tini lagi.
"Sialan kamu Sean. Aku saja belum mencoblos sejak di rumah ini. Kok jadi kamu yang duluan mencoblos di rumahku," kata Andre kesal. Usia bayi keduanya yang masih berumur satu bulan
Tidak memungkinkan Andre dan Sinta untuk bercinta. Sinta sudah mewanti-wanti Andre untuk tidak dulu meminta haknya sebelum usia putranya dua bulan.
"Yang nyuruh menginap siapa?" jawab Sean sambil terkekeh.
"Lima juta untuk satu malam," kata Andre lagi.
"Tidak masalah kak. Kalau begitu untuk satu minggu ini kami menginap di rumah ini," kata Tini tenang. Sean tertawa terbahak-bahak.
Flashback off
"Jadi kamu meminta apa Tini?" tanya Andre lembut.
"Aku mau kak Andre mempermudah untuk skripsi ku kak. Ada keponakan kamu di rahimku. Jadi jangan membebani aku dengan skripsi itu ya kak," kata Tini sedikit memohon supaya Andre bersedia mempermudah skripsinya.
"Baiklah, aku akan membantu kamu untuk mencari materi sesuai judul. Dan untuk pengolahan datanya. Aku kira Sean bisa membantu kamu."
"Baik kak. Terima kasih. Sekalian kak. Bilang sama dosen pengujinya untuk tidak bertanya diluar skripsi nantinya."
"Enak saja kamu. Itu hak mereka untuk bertanya. Apa kamu layak sarjana atau tidak," jawab Andre.
__ADS_1
Tini tersenyum puas. Jawaban Andre untuk membantu mencari materi sudah cukup berarti untuknya daripada harus mencari sendiri. Impian tamat kuliah tepat waktu sepertinya akan terwujud.