Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Hanya Demi Airia


__ADS_3

Sudah seminggu Andre menginap di rumah Sinta. Dan selama itu juga mereka tidur terpisah. Sinta sebenarnya bingung. Karena Andre tidak pulang ke rumah Cindy. Sinta tidak mau bertanya dan tidak mau tahu. Selama Andre tidak tidur bersamanya, Sinta tidak masalah mau berapa hari Andre di rumahnya.


Andre yang kamar tidurnya di kamar tamu paling kecil, akhirnya memberanikan diri meminta kamar yang tepat di sebelah kamar Sinta. Sinta memperbolehkan. Karena untuk tempat barang dagangannya bisa mempergunakan kamar yang digunakan Andre sebelumnya. Andre pun membeli ranjang untuk kamar itu. Ranjang dari merek terkenal dan harganya juga lumayan mahal.


Tanpa sepengetahuan Sinta, kamar itu disulap Andre menjadi kamar bayi yang sangat bagus dan enak dipandang mata. Walau ukuran kamar tidak terlalu besar, tetapi paduan warna dan penataan aksesoris membuat kamar itu terlihat mewah. Bisa dikatakan kamar ini jauh lebih mewah dari kamar Alexa.


Tanpa bantuan siapa pun, Andre belanja sendiri untuk keperluan kamar putrinya. Bahkan untuk mengecat dinding, Andre sendiri yang melakukannya ketika malam hari. Untuk menghindari aroma menyengat dari cat. Andre memilih tidur di ruangan tamu. Sinta tidak mengetahui itu. Karena pagi pagi sekali sebelum Sinta bangun. Andre sudah pindah ke kamar.


Seminggu Andre sudah di rumah Sinta, tetapi komunikasi keduanya sangat kaku. Mereka hanya berbicara seperlunya saja. Andre yang merasa ditolak Sinta, merasa sungkan untuk mendekatkan diri ke Sinta. Apalagi kalau Andre mengingat perlakuannya dulu. Membuat dirinya merasa tidak layak untuk Sinta. Kalau untuk baby Airia jangan ditanya. Andre akan terlihat sangat bahagia sekali bila bersama putrinya. Bahkan selama seminggu ini, Andre pulang cepat dari kampus. Sehingga Andre mempunyai banyak waktu untuk Airia.


Bukan hanya waktu, untuk kebutuhan Airia juga Andre tidak pelit. Dia selalu mencari kebutuhan untuk putrinya dari yang berkualitas tinggi.


Seperti sore ini, Andre yang sudah pulang dari kampus segera mandi. Setelah mandi dia menghampiri baby Airia yang duduk di kursi bayi. Andre mengambil Airia dari kursinya dan memangku Airia. Baby Airia terlihat tertawa riang ketika Andre mencium tangannya. Sinta duduk dekat situ dan menonton televisi akhirnya beranjak dari duduknya. Andre bahkan tidak menyapanya. Sinta memilih ke halaman untuk menyiram bunga.


Sinta menyiram bunga bunganya. Hatinya tentu sedih. Satu Minggu berada di atap yang sama dengannya Andre. Tetapi tidak sedikit pun Andre berusaha untuk mendekatkan diri ke Sinta. Sinta yang dingin, Andre malah lebih dingin. Sinta menghembuskan nafasnya kasar. Memikirkan rumah tangganya yang entah kapan bisa berjalan normal.


Jauh di lubuk hatinya, Sinta memimpikan rumah tangga yang selayaknya. Walau dengan berumah tangga dengan Andre, Sinta berharap ini pernikahan terakhir. Untuk membuka hatinya ke laki laki yang lain. Jujur Sinta tidak berani. Selain takut dapat yang lebih parah dari Andre. Sinta juga takut Airia tidak mendapat kasih sayang utuh darinya jika menikah dengan orang lain.


Sinta menyiram bunga bunganya. Tidak seperti biasa setiap melihat atau menyiram bunganya, Sinta selalu memperhatikan hasil tanamannya. Bahkan daun baru tidak luput dari penglihatannya. Kali ini, pikirannya Sinta melayang awal dia rujuk dan menikah kembali. Andre bahkan tidak begitu bersemangat untuk memberitahu orang tua Sinta. Atau berusaha keras supaya orang tua Sinta ke kota. Pria itu seolah tidak perduli tentang perasaan, di pikirannya yang penting rujuk bersama Sinta. Sinta tentu saja merasa bahwa Andre masih menganggap seperti dulu.


Sebenarnya Sinta juga tidak mau menjadi istri yang berdosa. Tetapi untuk melayani Andre di ranjang Sinta merasa sungkan dan merasa dirinya seperti ******. Itulah sebabnya Sinta menolak melayani Andre. Toh untuk kebutuhan biologis itu dia mendapatkan dari Cindy. Begitulah pemikiran Sinta.


Sinta mendengar suara Andre yang bernyanyi sambil bertepuk tangan. Tanpa melihat Sinta tahu bahwa baby Airia pasti mengikuti Andre bertepuk tangan. Melihat baby Airia yang semakin dekat dan senang bersama Andre, membuat Sinta tidak menyesali keputusan rujuk bersama Andre. Walau Sinta tidak bahagia, Airia sangat berbahagia. Bukankah seperti itu keinginanmu setiap ibu?. Mementingkan kebahagiaan anak dibandingkan kebahagiaan dirinya sendiri.


Sinta duduk di teras rumah setelah selesai menyiram bunga bunganya. Memandang keindahan bunga itu sedikit mengalihkan pikirannya. Dari ruang tamu masih terdengar suara Andre dan baby Airia yang tertawa bersama.


Sinta kembali masuk ke dalam rumah. Sinta melewati ruang tamu dan Sinta bisa melihat Andre tidak sedikitpun melirik ke arahnya. Sinta terus berjalan dan menuju dapur. Di dapur Sinta bingung mau mengerjakan apa, semua pekerjaan sudah beres. Akhirnya Sinta hanya duduk di bangku kayu di ruangan itu. Sejujurnya pernikahan seperti ini jauh lebih menyiksa daripada hidup berdua dengan putrinya. Merasa bosan akhirnya Sinta menelungkupkan kepalanya ke meja.

__ADS_1


Sementara itu, Andre beranjak dari duduknya sambil menggendong Airia. Dia bisa melihat Sinta ke dapur lewat ekor matanya. Cukup lama dia menunggu Sinta untuk kembali dari dapur atau sekedar lewat dari depannya. Tapi wanita itu tidak kunjung muncul dari dapur.


Memberi putrinya kode supaya diam, Andre perlahan berjalan menuju dapur. Bayi yang belum genap berumur satu tahun seakan mengerti dengan kode yang diberikan ayahnya. Baby Airia hanya bergelayut manja di dekapan ayahnya tanpa berceloteh.


Andre melihat Sinta yang menelungkupkan kepala ke meja. Sinta sama sekali tidak terusik karena memang dia tidak menyadari sama sekali keberadaan Andre dan baby Airia di dapur itu.


"Sinta," panggil Andre pelan. Melihat Sinta menelungkupkan kepala ke meja. Andre mengira Sinta tertidur. Sinta seketika menengadahkan kepala dan melihat ke arah Andre dan Airia.


"Ya mas,"


"Aku mau permisi masuk ke kamar mu. Aku mau memandikan putriku."


Sinta kembali merasa terasing, Andre menyebut Airia hanya putrinya.


"Biar aku yang memandikan Airia, mas istirahat saja," jawab Sinta. Dia beranjak dari duduknya dan mengambil Airia dari tangan Andre. Bayi itu tentu saja senang berpindah tangan dari Andre ke Sinta.


Andre menatap punggung Sinta yang berjalan menuju kamar. Andre menghela nafas. Niatnya untuk basa basi dengan Sinta, tidak bisa nyambung.


Sinta dan Airia keluar dari kamar mandi. Sinta sama sekali tidak terkejut melihat Andre di kamar itu. Sinta mengelap badan Airia pakai handuk. Andre berinisiatif mengambil minyak telon dan bedak baby dan memberikannya ke Sinta.


"Sinta, apa kamu sudah menerima undangan dari Vina?" tanya Andre pelan. Sinta hanya mengangguk. Andre terdiam tidak tahu mau bicara apa supaya Sinta membalas ucapannya.


"Aku mau mengajak kalian berdua keluar. Kita belanja ke butik dekat sini. Aku ingin Airia tampil cantik," ajak Andre lagi. Sinta menatap Andre sekilas kemudian mengangguk. Ini yang pertama Andre mengajak Sinta keluar itupun untuk mencari pakaian Airia supaya terlihat cantik di pernikahan Vina yang akan diadakan lusa.


Sinta mendandani Airia sangat cantik dan terlihat lucu. Baju dan aksesoris lainnya pemberian Andre sebelum rujuk. Andre tentu saja sangat senang melihat Airia memakai pemberiannya. Sedangkan Sinta hanya berpakaian seadanya saja. Kaos pas badan dan celana kulot di bawah lutut. Andre juga terlihat sangat santai dengan kaos oblong dan celana bahan denim pas lutut.


Di mobil keduanya masih diam, Airia yang sudah tidur membuat tidak ada alasan mereka bersuara. Hingga tiba di depan butik, keduanya dengan diam turun dari mobil. Sinta mengikuti Andre masuk ke butik. Dia tidak ada niat untuk belanja. Dia hanya melihat lihat sambil menggendong Airia. Sedangkan Andre mencari beberapa kemeja batik untuk dirinya.

__ADS_1


"Sudah dapat baju untuk Airia?" tanya Andre. Dia mendekat ke Sinta dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya.


"Aku tidak bisa fokus untuk mencari baju ke Airia, kamu saja yang memilih,"


"Biar aku saja yang gendong Airia, pilihlah,"


"Kamu aja mas, aku takut dia terbangun dan rewel kalau berpindah tangan," jawab Sinta. Dia juga meminta kunci mobil Andre. Sinta merasa pegal kalau harus berdiri dan menggendong Airia. Sinta akan menunggu Andre di mobil saja.


Andre akhirnya mengalah, dia akhirnya memberikan kunci mobil ke tangan Sinta. Cukup lama Andre memilih beberapa baju untuk putrinya. Bukan hanya baju, apa saja yang cocok menurutnya untuk Airia, tanpa berpikir Andre membelinya. Ada bando, kaos kaki lucu, dan juga topi. Hari sudah gelap, ketika Andre dan Sinta juga baby Airia meninggalkan butik.


"Sinta, Boleh Airia tidur bersama aku malam ini?" tanya Andre ketika melihat membawa Airia masuk ke kamar Sinta. Sinta berhenti dan membalikkan badan. Tanpa mendengar jawaban Sinta, Andre mengulurkan tangannya mengambil Airia dari Sinta. Sinta berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa. Dia melihat beberapa kantong belanjaan yang diletakkan Andre di salah satu sofa.


Sinta meraih kantong belanjaan itu dan melihat isinya. Kantong belanjaan itu berisi pakaian untuk Airia dan ada beberapa potong kemeja batik untuk Andre. Sinta kembali memasukkan pakaian itu ke kantong belanjaan dan meletakkan di seperti semula. Sinta kemudian menghela nafas panjang dan menyandarkan tubuh ke sofa. Sinta menengadah ke atas dan memejamkan mata.


Sinta membuka matanya ketika mendengar suara pintu kamar berderit. Dia melihat Andre menuju dapur dan kemudian muncul lagi dengan beberapa susu botol dan susu formula Airia. Kemudian masuk ke kamar. Sinta merasa beruntung karena tidak ketahuan melihat isi belanjaan tadi. Sinta juga makin merasa terasing ketika Andre meminta Airia tidur di bersamanya.


Sinta masuk ke dalam kamarnya. Terbiasa bersama Airia di kamar membuat dirinya merasa lain. Bisa dikatakan ini, pertama kali dia pisah kamar dengan putrinya. Hingga tengah malam, Sinta tidak bisa memejamkan mata. Dia terus berpikir apa maksud dan tujuan Andre berbuat seperti ini.


Apakah ini awal untuk memisahkannya dengan Airia. Dengan membiasakan Airia tidak tidur bersama Sinta supaya memudahkan Airia tidak tergantung kepada Sinta. Apalagi Sinta mengingat perkataan Cindy yang meminta Airia untuk dirawat bersama oleh mereka. Pikiran itu terus berputar putar di otaknya. Seketika Sinta merasa takut. Sinta keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Andre.


Cukup lama Sinta menunggu pintu terbuka, Andre muncul di hadapannya dengan mengucek mata.


"Ada apa Sinta," tanya Andre pelan.


"Mas, aku mau membawa Airia ke kamarku, aku tidak bisa tidur tanpanya."


"Biar aja dia tidur di sini, supaya terbiasa tidur di kamarnya sendiri," jawab Andre masih pelan. Sinta terkejut dengan jawaban Andre. Berarti benar dugaannya. Andre berbuat seperti ini supaya Airia terbiasa tidur tanpa dirinya.

__ADS_1


"Tidak mas, aku akan membawanya ke kamar ku,"


"Masuklah, tidurlah di sini. Aku akan tidur di sofa. Membawa Airia ke kamarmu sama saja dengan membangunkannya. Dia baru saja minum susu dan terpejam ," kata Andre sambil keluar dari kamar. Sinta masuk ke kamar Andre. Dan terkejut dengan situasi kamar yang sudah berganti menjadi kamar bayi.


__ADS_2