Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Ekstra Part


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat. Persahabatan Sinta, Vina dan Tini juga semakin erat. Tiga pasang suami istri sudah bagaikan saudara. Mereka saling mendukung dalam suka dan saling menguatkan dalam duka. Banyak yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir ini di kehidupan tiga pasang sahabat itu. Termasuk kehilangan orang tercinta seperti yang dialami oleh Radit yaitu kehilangan mama Anisa. Dan juga penambahan anggota keluarga baru seperti di keluarga Andre dengan hadirnya Vivan putri bungsu mereka.


Pertengkaran kecil di rumah tangga, salah paham dan terkadang ada sakit hati di antara tiga wanita bersahabat itu. Tapi mereka bisa mengatasi semuanya sehingga persahabatan mereka semakin erat. Saling memaafkan dan saling menghargai membuat persahabatan itu masih utuh sampai hari ini. Mereka juga membuat agenda setiap bulan untuk bertemu dan bercengkrama. Dan mereka juga membuat agenda tahunan untuk liburan bersama baik di dalam maupun di luar negeri.


Kini setelah sepuluh tahun kemudian, persahabatan itu tidak hanya terjadi di tiga pasang suami istri itu. Persahabatan itu juga turun ke putra putri mereka. Agenda yang sudah direncanakan sekali sebulan untuk bertemu menjadi lebih sering karena keinginan putra putri mereka yang ingin bermain bersama. Tentu saja tiga wanita itu bersahabat itu sangat senang melihat putra putri mereka yang selalu terlihat akur jika bertemu.


Tiga pasang suami istri itu tentu saja senang melihat kedekatan putra putri mereka. Putra putri mereka terlihat akur dan bahkan mau belajar bersama jika mereka saling mengunjungi.


Dan seperti hari ini. Andra berkunjung ke rumah Radit. Anak itu langsung menuju ruang belajar Elvano, Karina dan Kalina. Mereka sudah duduk kelas satu di sekolah menengah umum dan mereka bersekolah di tempat yang sama. Hal itu membuat Andra dan ketiga putra putri Radit hampir setiap hari bertemu. Bahkan Andra dan Kalina satu kelas. Tentu saja hal itu membuat Radit sangat senang. Karena tujuannya untuk mendekatkan Andra dan Kalina sudah hampir tercapai.


Radit masih tetap pada keinginannya untuk menjodohkan Andra dan Kalina. Dan keinginan itu menunjukkan sinyal positif. Andra dan Kalina terlihat sangat dekat jika mereka bertemu. Seperti hari ini. Di ruang belajar. Dua anak remaja itu saling duduk berdekatan sambil belajar. Mereka serius mengerjakan tugas matematika yang berjumlah banyak itu. Mereka terlihat sangat kompak dan saling mengajari.


Radit yang sudah berdiri di depan pintu dan memperhatikan diam diam ketiga putra putrinya dan Andra tersenyum senang. Keempat remaja itu tidak menyadari keberadaan Radit.


"Sudah lama belajarnya?. Istirahat dulu semuanya. Ayah bawa bakso favorit kalian," kata Radit setelah empat remaja itu menoleh ke arah Radit.


"Bentar lagi ayah. Sedikit lagi," kata Kalina.


Lain Kalina lain pula dengan dua kembarannya. Elvano dan Karina langsung beranjak dari duduknya dan melewati tubuh Radit yang nasib berdiri di pintu. Dua kembaran itu langsung menuju meja makan. Vina terlihat sedang menuang bakso dari plastik ke dalam mangkuk kaca.


"Mana Kalina dan Andra?" tanya Vina. Elvano dan Karina sudah duduk dengan semangkuk bakso di depan mereka.


"Mereka lagi modus Bun. Katanya sedikit lagi. Padahal Kalina hanya ingin berlama-lama duduk berdiam dengan Andra," jawab Elvano tenang.

__ADS_1


"Maksud kamu apa nak?" tanya Vina.


"Kalina menyukai Andra Bun. Mereka sepertinya sudah jadian."


"Jadian?. Darimana kamu tahu?" tanya Radit yang tiba tiba muncul di ruang makan itu. Dia memilih membiarkan Andra dan Kalina untuk menyelesaikan tugas sekolah mereka daripada harus memaksa Andra dan Kalina menikmati bakso terlebih dahulu.


"Apa ayah tidak bisa melihat gelagat Andra kalau menatap Kalina. Hampir setiap hari ke rumah ini padahal mereka satu kelas ayah," jawab Elvano lagi. Sedangkan Karina langsung menikmati baksonya. Dia tidak tertarik untuk ikut pembicaraan Elvano dan ayahnya tentang Andra dan Kalina.


"Masih bocah sudah main pacaran. Nasehati putri kamu itu yah," kata Vina. Dia tidak suka jika putrinya yang masih belia sudah berpacaran. Radit langsung mendekat ke Vina dan menggandeng tangan istrinya menuju dapur.


"Biarin saja Bun. Itu malah bagus jika mereka pacaran. Mereka harus lebih mengenal sifat masing masing sebelum mereka menikah," jawab Radit pelan. Dia tidak ingin perkataannya didengar oleh Karina dan Elvano. Ijin untuk pacaran hanya untuk Kalina. Karena sejak Andra dan Kalina bayi. Radit sudah menjodohkan kedua remaja itu. Dan setelah remaja seperti ini, mereka berpacaran tentu saja Radit sangat senang.


"Aku rasa otak kamu bermasalah ayah. Dimana mana seorang ayah itu mendukung putrinya untuk menuntut ilmu terlebih dahulu bukannya mendukung untuk berpacaran," kata Vina kesal. Dia sama sekali tidak setuju dengan pendapat suaminya.


"Jangan menghayal terlalu tinggi ayah. Kita masih terlalu muda untuk menggendong cucu. Sekarang kamu ke ruang belajar anak anak. Dan nasehat Kalina dan Andra. Aku tidak ingin mereka berduaan terlalu lama," kata Vina sambil mendorong tubuh Radit. Pria itu terkekeh dan berjalan menuju ruang belajar. Ketika melewati meja makan, Karina dan Elvano hanya bisa menggelengkan kepala melihat ayah mereka yang masih saja tersenyum.


"Stop. Apa yang kalian lakukan?" tanya Radit setelah berdiri di depan pintu belajar. Andra yang sebelumnya ingin mendekatkan bibirnya ke bibir Kalina yang sudah terpejam spontan menjauhkan wajahnya dari wajah Kalina. Dua remaja itu seketika gugup dan takut.


"Kalian berpacaran?" tanya Radit lembut. Dia kini sudah berdiri di hadapan dua remaja itu. Kalina sudah menundukkan wajahnya.


"Jawab dengan jujur," kata Radit tegas. Dua remaja itu sudah menundukkan kepala dan tidak berani menatap wajah Radit.


"Maaf om. Aku menyukai Kalina," jawab Andra berani tapi masih menundukkan kepalanya. Perkataan itu terdengar polos. Radit senang dengan kejujuran dan keberanian Andra mengakui perasaannya terhadap Kalina.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kamu nak. Apa kamu juga menyukai Andra?" tanya Radit lembut kepada putrinya. Kalina mengangguk malu malu.


"Baiklah, aku ada pertanyaan. Kalian bisa menuliskan jawabannya di secarik kertas. Siapkan kertas kalian."


Andra merobek selembar kertas dari buku. Kemudian merobek kertas itu menjadi dua bagian. Dia memberikan satu bagian untuk Kalina.


"Sudah berapa kali kalian berciuman?" tanya Radit. Dua remaja itu terkejut dan malu mendengar pertanyaan Radit. Radit menggerakkan tangannya untuk menyuruh dua remaja itu secepatnya menuliskan jawaban di kertas yang sudah tersedia.


Radit membaca jawaban dua remaja itu dengan tersenyum. Jawaban keduanya kompak dengan menuliskan belum pernah.


"Kalian sudah jadian?" tanya Radit lagi. Andra langsung menganggukkan kepalanya sedangkan Kalina kembali menunduk.


"Om, tidak melarang kalian untuk berpacaran. Tapi kalian harus bisa menjaga diri termasuk untuk tidak berduaan di dalam ruangan seperti ini. Dan juga harus menahan diri untuk berciuman. Om mengijinkan kalian berpacaran tetapi belum bisa bersentuhan fisik apapun bentuknya. Kalau kalian melanggar persyaratan dari om. Jangan berpacaran, bertemu pun tidak akan om ijinkan," kata Radit tegas.


"Baik om. Aku minta maaf atas semua sikap lancang aku tadi," kata Andra.


"Baiklah, sekarang kalian ke meja makan untuk menikmati bakso," kata Radit lagi. Dua remaja itu beranjak dari duduknya dan menuju meja makan. Radit menatap dua punggung remaja itu. Nanti malam, Radit berencana untuk menasehati Kalina untuk bisa menjaga diri sebagai wanita baik baik.


****


Para pembaca setiaku. Terima kasih banyak atas waktu yang sudah kalian luangkan untuk membaca novel ini. Aku doakan semoga kalian semua dalam keadaan sehat dan juga berbahagia.


Aku mengajak kalian semua untuk mampir di karya terbaru aku yang berjudul Suami Rahasia. Dijamin seru dan menarik. Terima kasih dan salam sehat. Aku tunggu like nya di sana ya!.

__ADS_1


__ADS_2