Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Ulang Tahun


__ADS_3

Sinta dan Andre terlebih dahulu memarkirkan mobilnya di depan studio foto. Kemudian disusul mobil milik Radit dan paling terakhir mobil Sean. Seperti yang sudah direncanakan oleh Sinta, Vina dan Tini. Mereka akan melakukan sesi pemotretan hari ini. Tiga pria bersahabat itu tidak dapat menolak permintaan istri masing masing. Menikahi wanita muda membuat mereka juga berjiwa muda.


Sinta dan Andre sudah turun dari mobil. Begitu juga dengan Radit dan Vina. Sedangkan Sean masih mengitari mobil untuk membantu Tini turun dari mobil. Tini agak kesusahan turun, karena ini pertama kali baginya memakai rok panjang model span. Ini bukan kemauannya. Tapi memakai rok panjang model span ini adalah ide dari Sinta dan Vina. Sebenarnya Tini ingin memakai rok model kembang di bawah supaya bebas bergerak. Tapi alasan Sinta dan Vina membuat Tini pasrah dengan rok tersebut. Vina dan Sinta tidak ingin Tini memakai rok model yang berbeda dari mereka.


"Bisa turun?" tanya Sean sambil mengulurkan tangannya. Tini tersenyum kikuk. Tini menurunkan kakinya. Dia mulai berjalan menuju Sinta dan Vina yang sudah mendorong pintu kaca studi itu.


"Kenapa dilepas?" tanya Sean lagi. Tini sudah melepaskan sepatunya. Dia merasa sepatu itu yang menghambat jalannya sehingga tidak bisa langsung cepat mensejajarkan langkah dengan dua sahabatnya.


"Nanti bisa dipakai kembali," jawabnya cuek dan mencoba melangkah. Tapi langkahnya masih tetap saja seperti siput.


"Kamu salah Tini. Langkah kamu lambat bukan karena sepatu itu. Tapi karena memang rok itu," kata Sinta yang masih berdiri sambil memegang pintu kaca itu. Dia sebenarnya ingin tertawa mulai dari tadi pagi melihat cara berjalan sahabatnya itu.


"Ternyata rok sialan ini," gerutu Tini. Dia mengangkat rok itu sampai ke lutut. Tini merasa lega. Sepatunya berpindah ke tangan Radit. Kini dia sudah bisa berjalan seperti biasanya. Sean, Radit dan Andre tertawa melihat tingkah Tini.


Kini mereka sudah di ruangan pemotretan. Andre, Radit dan Sean pasrah akan semua arahan sang fotografer untuk pose yang menarik. Diawali dari foto tiga pasang suami istri itu berbagai pose. Kemudian foto tiga wanita cantik dengan berbagai pose hingga berfoto dengan pasangan masing-masing.


"Bang, tangannya tolong diletakkan di bahu pacarnya," kata sang fotografer mengarahkan Radit untuk pose pasangan. Radit bukan menuruti perkataan sang fotografer kini pria itu justru menatap tajam sang fotografer.


"Apa kamu bilang?. Pacar?. Dia istriku," jawab Radit sedikit kesal. Dari tadi dia merasa jika sang fotografer menatap istrinya sangat lekat.


"Maaf bang, maaf," kata fotografer itu gugup.


"Aku mau fotografer perempuan," kata Radit lagi. Vina menoleh ke suami dengan perasaan kesal juga. Dia merasa tidak enak kepada para sahabatnya karena perdebatan itu memakan waktu. Sementara seperti yang dia tahu. Keluarga Sinta dan keluarga Tini membuat acara kecil kecilan di rumah masing-masing untuk perayaan wisuda ini. Ini juga hampir jam satu. Itu artinya waktu makan siang sudah terlewat. Sementara mereka pasangan pertama yang baru melakukan pemotretan.

__ADS_1


"Ada memang fotografer perempuan bang. Tapi masih makan siang," jawab sang fotografer gugup. Mendengar hal itu. Vina langsung menarik tangan Radit untuk duduk di bangku.


"Kalian saja dulu. Kami menunggu fotografer perempuan selesai makan siang," kata Vina sambil mendorong tubuh Tini. Vina melakukan itu untuk mempersingkat waktu. Sedangkan Radit, dia tidak merasa bersalah dengan apa yang dikatakan tadi. Diantara mereka bertiga. Bisa dikatakan Radit yang lebih pencemburu dibandingkan dua sahabatnya.


Hingga Sinta dan Andre sudah selesai melakukan pemotretan. Sang fotografer perempuan yang disebutkan tadi tidak kunjung masuk ke ruangan itu.


"Bagaimana yah?" tanya Vina gusar. Foto foto Andre dan Sinta juga Sean dan Tini sangat bagus dan nampak natural. Sementara untuk foto dirinya dan Radit. Satu pun belum jadi.


"Aku masih saja tidak mau jika dia yang memfoto kita," jawab Radit tenang. Vina semakin kesal.


"Kalau begitu, kita pulang saja yah. Jangan karena kita mereka jadi terlambat pulang. Keluarga mereka juga sudah pasti bosan menunggu di rumah," kata Vina kesal. Ini sebenarnya ancaman bagi Radit supaya bersedia berfoto secepatnya. Tapi ancaman itu tidak berhasil. Radit justru setuju dengan dengan apa yang dikatakan Vina.


Vina semakin kesal melihat Radit yang beranjak dari duduknya.


"Yah. Kamu tega. Kita belum punya foto pasangan," kata Vina lagi sambil berjalan. Dia tidak rela jika mereka tidak mempunyai foto pasangan di momen bersejarah ini. Vina berharap Radit berubah pikiran dan mau berfoto. Radit seakan tidak perduli. Dia terus menarik tangan Vina. Hingga keluar dari rumah studio itu.


Vina masuk ke dalam mobil dengan suasana tidak enak hati. Di momen bersejarah seperti ini. Bisa bisanya Radit membuat dirinya kesal hanya karena sang fotografer menyebut dirinya pacar dari Radit.


"Minum Bun," tawar Radit sambil menyerahkan botol air mineral. Radit seperti tidak merasa bersalah sama sekali. Tanpa menatap wajah suaminya. Vina menyambar botol minuman tersebut. Kemudian meneguknya hampir setengah. Setelah Vina meletakkan botol minuman tersebut. Radit menjalankan mobilnya.


Sepanjang perjalanan. Karena kesal kepada Radit. Vina pura pura tidur.


"Bun, jangan tidur donk. Nanti riasannya luntur karena ngiler," kata Radit bercanda sambil menyentuh tangan Vina. Wanita itu menggerakkan badannya menepis sentuhan itu. Radit hanya terkekeh membuat Vina semakin kesal.

__ADS_1


"Bun, bangun. Kita sudah sampai rumah," kata Radit lagi. Radit menyentuh pipi istrinya. Vina membuka matanya. Tanpa menunggu Radit membukakan pintu mobil untuk dirinya. Vina turun terlebih dahulu dari mobil. Dengan kaki yang dihentakkan, Vina melangkah terus sampai ke pintu rumah.


Vina tertegun. Mama Anisa dan mama Rita menyambut dirinya di pintu rumah dengan kue ulang tahun di tangan masing masing. Dari dalam rumah papa Hendrik dan papa Jack sudah menyanyikan lagu ulang tahun untuk dirinya. Kedua bayi perempuannya ada di gendongan papa Jack dan papa Hendrik. Sedangkan Elvano ada di gendongan salah satu baby sitter.


Vina menutup mulutnya tidak percaya. Kejutan ini sungguh di luar dugaan. Sibuk untuk mempersiapkan acara wisudanya membuat Vina lupa akan ulang tahunnya sendiri. Tapi Radit suami tercintanya tentu saja tidak lupa.


Selamat ulang tahun sayang. Sehat dan panjang umur. Dan semoga kebahagiaan selalu bersamamu," kata Radit tulus. Radit memeluk Vina dari belakang. Vina berbalik dan memeluk suaminya dengan erat. Rasa bahagia dan rasa bersalah karena sudah kesal membuat Vina semakin mengeratkan pelukannya.


"Bersamamu. Aku yakin kebahagiaan akan selalu bersamaku," jawab Vina sambil mencium pipi suaminya.


"Itu pasti bunda," jawab Radit pasti. Dia memanggil nama seseorang. Vina baru menyadari jika sebuah motor besar sudah terparkir di halaman rumah itu. Vina mencubit pinggang suaminya ketika melihat fotografer yang di rumah studio tadi semakin mendekati mereka.


"Lakukan tugasmu," kata Radit. Fotografer itu mengangguk.


"Make a wish Bun. Sebelum meniup lilin," kata Radit lagi. Vina mengangguk kemudian memejamkan matanya. Kemudian Vina meniup lilin yang ada di tangan Mama Anisa kemudian meniup lilin yang ada di tangan Mama Rita. Lagu happy birthday masih berkumandang di depan pintu itu.


"Sekarang saatnya kita foto foto," kata Radit setelah semuanya yang ada di ruangan itu mengucapkan selamat ulang tahun untuk Vina. Radit mendorong tubuh Vina ke kamar tamu yang sudah disulap menjadi ruangan seperti di rumah studio tadi.


"Yah," kata Vina. Dia takjub akan kejutan yang disiapkan oleh Radit untuknya.


"Hari ini adalah hari dua momen bersejarah untuk aku Bun. Melihat istriku bisa menyelesaikan studinya dengan nilai bagus dan juga merayakan ulangtahun istriku yang pertama sekali bagiku. Aku tidak mungkin tidak mengabadikan momen tersebut. Dan tidak mungkin hanya kita berdua yang merayakan momen tersebut. Sementara jelas aku tahu. Aku memiliki istri sebaik kamu itu karena didikan dari papa Hendrik dan mama Rita," kata Radit sambil menatap Vina penuh cinta. Vina seakan kehabisan kata kata untuk menjawab semua perkataan suaminya. Vina memeluk Radit dengan erat. Perkataan suaminya membuat dirinya terharu.


"Jangan sampai menangis. Nanti riasan kamu luntur. Kita masih harus berfoto," kata Radit. Kedua mata Vina memang sudah berkaca kaca karena terharu.

__ADS_1


__ADS_2