
Andre terkejut dan membeku di tempatnya. Sesuatu yang sangat tidak diharapkannya kini terjadi. Perkataan Sinta bagaikan batu besar yang menghantam dadanya. Ditatapnya wanita muda itu yang sedang tertunduk.
Andre berpindah tempat duduk dari sofa ke kursi kerjanya. Memijit kepalanya yang tidak pusing hanya untuk mencari kata kata yang tepat. Sinta adalah istrinya, sesuatu yang wajar bila dia hamil anak Andre. Tapi bagi Andre tidak. Sinta hanyalah simpanan pemuas nafsunya ketika dia tidak mempunyai istri sah secara agama dan negara. Dan Sinta akan dilepas bukan untuk dipertahankan. Sinta dinikahi secara siri hanya untuk menghindar dari dosa zina.
Andre tidak menyadari bahwa perlakuannya terhadap Sinta juga merupakan dosa. Wanita malang itu berkali kali menangis dalam diam.
Andre masih duduk di kursinya. Mengingat kapan terakhir dia bertemu dan bercinta dengan Sinta. Rasa curiga yang tadi memenuhi kepalanya kini dia menyesali kebodohannya. Andre ingat terakhir kali dia bercinta dengan Sinta, Andre tidak pakai pengaman. Waktu itu mereka melakukannya di dapur rumah Sinta.
Sedangkan Sinta masih terdiam, hatinya berdebar tak karuan menunggu reaksi Andre. Rasa takut akan penolakan Andre terhadap kehamilannya memenuhi kepala Sinta. Sesekali Sinta melirik Andre yang nampak frustasi. Sinta mempersiapkan mentalnya apapun keputusan Andre. Seburuk apapun itu. Beberapa hari berpikir dan nasehat dari Bella, Sinta akan mempertahankan janinnya.
Menyadari bahwa ruangan ini, bukan tempat yang tepat untuk membahas kehamilan Sinta. Andre takut ada yang mendengar pembicaraan mereka. Akhirnya Andre menyuruh Sinta menunggu di gerbang dekat kampus. Mereka akan pulang bersama.
Melihat raut wajah Andre yang frustasi, Sinta menyimpulkan bahwa Andre tidak menerima kehamilannya. Dia menunggu jawaban. Tapi Andre menyuruhnya menunggu di gerbang kampus. Andre bahkan lupa bahwa Sinta bawa motor ke kampus. Tanpa pamit gadis itu keluar dari ruangan Andre. Tanpa menunggu Andre, Sinta pulang ke rumah.
Andre menghentikan mobilnya dekat gerbang kampus. Dari mobilnya dia mencari keberadaan Sinta. Pria bodoh itu kemudian mengingat bahwa Sinta bawa motor.
Tanpa mengetuk dan tanpa mengucapkan salam Andre masuk ke dalam rumah. Sinta menunggu Andre di ruang tamu. Andre duduk di sofa berhadapan dengan Sinta dengan meja sebagai penghalang. Mereka berdua saling diam. Sinta menunggu Andre yang berbicara duluan.
"Sinta, aku sudah berkali kali mengingatkanmu supaya jangan sampai hamil. Kenapa kamu tidak berusaha mencegahnya?. Andre berbicara pelan. Dari nadanya bicaranya jelas menyalahkan Sinta. Sinta sudah menduga bahwa pertanyaan itu akan keluar dari mulut Andre. Andre bahkan mengacak rambut setelah mengucapkan perkataan itu.
__ADS_1
"Ini juga bukan inginku mas, janin ini bersemayam di rahimku tanpa permisi. Andaikan dia permisi aku pun tidak akan membiarkannya. Aku bisa apa mas?" sahut Sinta setelah menarik nafas panjang. Sinta tidak lagi menunduk. Justru Andre sekarang yang menunduk. Andre kemudian mengusap wajahnya kasar.
"Berapa usianya?"
"Lebih satu bulan mas."
"Jadi sekarang bagaimana rencana mu?"
"Apa maksudmu mas?" tanya Sinta dengan suara sedikit meninggi.
"Maksudku apakah kamu mempertahankannya atau..."
"Mempertahankannya mas," potong Sinta cepat sebelum Andre menyelesaikan perkataannya.
"Hanya orang berhati setan yang akan menyarankan darah dagingnya dibuang," kata Sinta penuh amarah ketika mendengar saran dari Andre. Saran yang mempunyai maksud tersembunyi. Walau tidak terang terangan mengatakannya, Sinta tahu bahwa yang Andre inginkan Sinta menggugurkan kandungannya.
"Asal kamu tahu, aku tidak bisa bertanggung jawab penuh. Aku hanya bisa bertanggungjawab secara materi. Dan untuk yang lainnya itu urusanmu. Dan jangan coba coba membocorkan pernikahan kita kepada siapapun," kata Andre dengan suara yang datar.
"Brengsek kamu mas, biadab. Kamu kira seorang anak itu hanya butuh materi?. Bagaimana otak pintar mu itu berpikir mas?. Bagaimana kalau saat nanti dia bertanya tentang ayahnya?. Keterlaluan kamu mas."
__ADS_1
Sinta memaki Andre dengan suara bergetar. Matanya sudah berembun dan benar saja air mata itu sudah membanjiri kedua pipinya. Sinta menangis sesenggukan. Penolakan Andre akan calon anaknya hal yang paling menyakitkan bagi Sinta. Walau awalnya dia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkin terburuk, nyatanya dia juga menangis.
Entah bagaimana sakit hatinya sekarang.
Melihat Sinta menangis, Andre tidak ada niat untuk membujuk atau menenangkan. Pria itu masih tetap di tempat duduknya. Andre mengeluarkan amplop dari sakunya dan meletakkan di meja.
"Aku memang brengsek dan biadab dan tak pantas menjadi ayah dari anak yang kamu kandung. Ini untuk kebutuhanmu," kata Andre sambil berdiri dari duduknya.
"Mas, kamu boleh menolak aku. Tapi kumohon jangan tolak anak ini!. Ini adalah darah daging mu mas." Sinta berkata dan memohon berharap Andre mau mengubah keputusannya.
"Aku tidak bisa Sinta, dari awal sudah aku peringatkan. Aku sudah punya keluarga dan istriku juga sedang hamil. Aku tidak mau keberadaanmu dan kehamilan mu diketahui istriku dan berakibat buruk untuknya. Pikirkanlah baik baik apa yang kamu lakukan!" kata Andre tanpa pikir panjang, kata katanya sangat membuat Sinta sakit hati.
"Baiklah mas, akan kuingat semua perkataan mu hari ini. Dan ingatlah!. Jika suatu saat kamu menyesal, itu tidak akan berarti apa apa lagi bagiku. Pergilah!. Bahagiakan istrimu dan calon anakmu. Aku akan menjaga dan membesarkan anak ini dengan baik. Tentang pernikahan kita, aku berjanji akan tutup mulut. Tapi percayalah, jika Tuhan menghendaki pernikahan yang kamu permainkan ini akan terbongkar walau bukan dari mulutku. Kamu juga bisa menjatuhkan talak padaku hari ini juga."
Sinta berbicara dengan tenang dan air matanya sudah kering. Sinta juga sudah siap kalau sudah harus janda. Buat apa berstatus jadi istri kalau anaknya tidak diakui. Andre membeku di tempatnya. Entah apa yang dipikirkannya. Andre melihat Sinta yang masih duduk di tempatnya semula. Wanita itu tidak menunduk atau menengadah. Tatapannya lurus.
"Aku tidak akan menyesal," kata Andre dengan percaya diri.
Andre berlalu dari hadapan Sinta dan menuju pintu. Tepat di depan pintu Andre menoleh ke Sinta. Calon ibu itu masih seperti semula menatap lurus ke depan. Andre membanting pintu. Tapi Sinta tidak menoleh. Setelah terdengar suara mobil berlalu dari halamannya. Sinta meraih amplop yang diletakkan Andre tadi dan meremasnya kuat. Harga dirinya sebesar materi yang diberikan Andre.
__ADS_1
Air mata tadi sudah kering kini tanpa permisi kembali membasahi pipinya. Dengan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa Sinta menangis. Bukan menangis karena takdirnya melainkan takdir anaknya di masa depan. Bagaimana anaknya akan punya akte lahir, bagaimana jika bertanya tentang ayahnya. Sinta terus berpikir dan menangis. Saat ini dia butuh sandaran.
Sinta mengelus perutnya yang masih rata. Walau tanpa Andre Sinta akan melahirkan anaknya tanpa mengorbankan kuliahnya. Itu janjinya dalam hati. Terserah bagaimana mahasiswa nanti menanggapi kehamilannya. Sinta tidak perduli. Anaknya harus lahir dengan selamat.