Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Mas, Aku Hamil


__ADS_3

Tiga hari dirawat di rumah sakit membuat Andre serasa hidup di penjara. Membosankan. Terbiasa pergi ke mana dia suka, kini dia terpenjara oleh sakit yang dideritanya. Dia aja yang sakit tidak betah apalagi orang yang sehat. Seperti halnya dengan Cindy, walau hanya menjaga Andre tetap saja dia bosan. Terkadang dia harus berbohong untuk bisa keluar dari rumah sakit.


Andre melirik jam dinding, sudah dua jam Cindy pamit ke rumah untuk mengambil baju ganti. Cindy belum juga muncul. Andre menghela nafasnya kasar. Di saat seperti ini, dia butuh teman. Bukan ponsel atau televisi yang dibutuhkannya, tetapi seseorang untuk memberinya semangat, menyuapinya atau memapahnya ke kamar mandi.


Untuk mengusir rasa bosan, Andre membuka galeri ponselnya. Andre tersenyum melihat beberapa foto kebersamaannya bersama Cindy. Andre terus membuka galeri, hingga matanya melihat sebuah foto seorang gadis berambut sebahu membelakangi kamera. Andre semakin memperhatikan foto itu yang ternyata foto Sinta sewaktu menanam bunga di pekarangan rumah. Andre segera menghapus foto tersebut. Dia tidak ingin Cindy melihatnya jika sewaktu-waktu melihat galeri ponsel miliknya.


Andre menoleh ketika suara pintu terbuka. Andre mengira Cindy yang datang dan dugaannya salah, yang datang adalah Andi. Andre kecewa karena bukan Cindy yang datang. Andi semakin mendekat dengan sebuah kantong plastik di tangannya.


"Hai, bro udah enakan?" tanya Andi sambil meletakkan kantong plastik di atas tempat tidur Andre.


"Sudah lumayan kak, kakak kalau mau bikin kesal aja, tidak usah lama di sini," jawab Andre dan Andi terkekeh.


"Buka bajumu!. Perintah Andi dan Andre bingung.


"Untuk apa kak?, Gak mau ah. Ingat kak!. Aku itu adikmu. Dan satu lagi menyukai sesama jenis itu dosa besar dan masuk neraka," jawab Andre sambil kedua tangannya berpegangan ke dua sisi tempat tidur. Andi terkekeh dan semakin menjahili adiknya.


"Aku hanya ingin mengelus tubuhmu adikku," kata Andi dengan suara mendayu dan gerakan tubuh yang gemulai.


"Jangan kak, ingat Tuhan dan ingat orang tua kita!. Mereka akan sangat kecewa. Tobat kak!. Tobat!. Andi tertawa di dalam hati melihat Andre yang sedikit gemetar dan sudah berkeringat. Ingin rasanya dia tertawa terbahak-bahak tapi ditahannya. Tidak puas rasanya kalau tidak mengerjai Andre.


"Jangan tolak adikku, hanya sekali ini saja. Hanya saat ini kesempatanku, kalau kamu sudah sembuh pasti kamu akan menolak. Tolong buka bajumu adikku sayang!. Andre semakin frustasi. Berbagai doa diucapkannya dalam hati berharap Cindy atau perawat datang.


"Hanya sekali ini saja adikku," kata Andi lagi sambil mengelus tangan Andre. Andre spontan menarik tangannya.


"Tolong kak!, Jangan seperti ini!. Aku mohon," kata Andre sambil menyatukan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Ceklek.


Pintu terbuka. Nampak Bella datang dengan membawa sekantong buah. Bella bingung melihat bahkan sempat mendengar Andre memohon. Sebenarnya Andi dan Bella datang bersamaan. Bella bertemu dengan temannya di lobby rumah sakit dan mereka mengobrol. Andi yang mempunyai niat menjahili Andre, meninggalkan Bella di lobby.


"Ada apa Andre?, kenapa sampai kamu memohon ke kakakmu?" tanya Bella bingung, Andre merasa lega. Andre mengucap syukur di hatinya. Bantuan datang tepat waktu.


"Ini loh sayang,, Andre tidak mau membuka bajunya," jawab Andi santai. Andre jangan ditanya. Sudah berbagai macam rencana dihatinya untuk membuat Andi bertobat.


"Buka aja Andre!.Tidak apa apa," kata Bella, Andre membelalakkan matanya tidak percaya. Bella bahkan mendukung Andre.


"Kalian berdua sama saja. Pasangan aneh. Cepat pergi dari sini!. Andre marah dan Bella bingung sedangkan Andi sudah tertawa terbahak-bahak.


"Yes, berhasil," kata Andi. Bella paham kebiasaan Andi bila bertemu Andre. Bella melihat kantong plastik yang dibawa Andi belum dibuka.


"Ramuannya, kok belum dioles ke badan Andre mas?" tanya Bella Andre langsung paham, ternyata dia dikerjai Andi. Andre mengambil bantal dan melemparnya ke Andi. Andre menceritakan perbuatan Andi kepadanya. Bella tertawa terbahak.


"Semoga ya mbak. Aku dah bosan di rumah sakit," jawab Andre.


"Bosan di rumah sakit atau bosan karena tidak bisa siaran langsung?" tanya Andi masih terus mengolesi badan Andre. Bella memutar matanya malas.


"Dua duanya lah kak."


"Huh, kakak sama adik sama saja. Cindy mana Andre?" tanya Bella.


"Ke rumah kak. Ambil baju ganti udah hampir tiga jam tapi belum balik." Bella mengangguk. Bella langsung teringat perkataan Andi tentang Cindy.

__ADS_1


Benar kata Bella ramuan yang Andi olesi ke badan Andre sangat mujarab. Terbukti dua hari setelah diolesi, Andre merasa badannya semakin sehat. Andre diperbolehkan pulang dan rawat jalan. Cindy sangat senang dan berkali kali mengucapkan syukur.


"Akhirnya mas, kamu pulang juga ke rumah," kata Cindy ketika mereka sudah di kamar.Cindy memeluk suaminya sangat erat


"Iya sayang. Lima hari di rumah sakit rasanya seperti satu bulan," kata Andre membalas pelukan Cindy.


"Mas, bisa malam ini?"


"Bisa apa sayang?"


"Siaran langsung" jawab Cindy dan mereka pun tertawa bersama. Seperti permintaan Cindy. Mereka pun akhirnya siaran langsung.


Merasa badannya sudah sehat, Andre hari ini ke kampus. Dia sadar mahasiswa bimbingannya pasti mencarinya selama seminggu ini. Tanda tangan seorang dosen sangat dibutuhkan untuk skripsi yang akan disidangkan.


Andre menurunkan kedua kakinya dari mobil. Setelah melihat penampilannya lewat kaca spion mobil, Andre melangkah menuju tangga untuk ke lantai dua. Benar dugaannya, banyak mahasiswa bimbingan skripsi menunggunya di depan ruangan.


Andre membuka pintu ruangannya dan mempersilahkan para mahasiswa masuk. Dan beberapa menit kemudian terlihat satu persatu mahasiswa keluar. Kini hanya Andre di ruangannya. Andre mengambil minuman kaleng dari showcase di ruangan itu. Meminumnya dan kembali duduk di kursinya.


"Masuk," kata Andre ketika mendengar suara pintu yang diketuk. Pintu terbuka dan ditutup kembali.


"Mas." Andre mendongak karena sedari tadi dia fokus ke buku yang dibacanya. Entah karena rindu Andre langsung berdiri dan menghampiri Sinta. Dipeluknya gadis cantik itu. Sinta membalas pelukan Andre. Sinta merasa senang karena pelukan Andre. Andre menuntun Sinta ke sofa. Andre memandangi wajah Sinta. Sudah lebih sebulan dia tidak melihat wajah itu. Sinta yang duduk di sampingnya menunduk dan meremas ujung bajunya. Dia tidak tahu mau berkata apa untuk memberitahu kehamilannya.


Entah apa di pikiran Andre melihat Sinta di depannya membuat dia tidak dapat menahan diri. Di matanya Sinta terlihat lebih cantik. Andre mencium Sinta lembut. Seketika Sinta lupa tujuannya. Sinta melepaskannya kerinduannya lebih sebulan tak bertemu dengan Andre, banyak hal yang diinginkan dari Andre. Masakan, pelukan bahkan percintaan mereka di tempat tidur. Bukankah itu wajar? mereka pasangan suami istri yang sah walau hanya siri.


Sinta ingat tujuannya menjumpai Andre. Sinta melepaskan ciumannya dan bergeser sedikit dari duduknya.

__ADS_1


"Mas, aku hamil."


__ADS_2