Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Mengenang Masa Lalu


__ADS_3

Sinta melewati kelas demi kelas di kampus itu. Dia baru saja keluar dari salah satu ruangan. Sinta kembali ke Kampus tempat dirinya menimba ilmu S1. Dia kembali ke kampus ini bukan untuk menjumpai Andre suaminya atau berurusan dengan tata usaha. Biasanya para alumnus kembali ke kampus almamaternya pasti berkaitan dengan tata usaha atau yang lain. Tapi Sinta kembali ke kampus ini karena dirinya diminta kepala yayasan sebagai dosen tamu menunggu dosen yang berkompeten untuk mengisi posisi yang lowong.


Pak Rahmat selaku kepala yayasan langsung meminta kesediaan Sinta untuk menjadi dosen tamu selama dua minggu ini. Sinta tidak bisa menolak permintaan papa mertuanya. Pengabdian kepada papa mertua dan almamaternya membuat Sinta menjalani pekerjaan sementara itu dengan tulus. Dan hari ini adalah hari terakhir baginya sebagai dosen tamu di kampus ini. Sesi wawancara akan dilakukan hari ini untuk menentukan tiga kandidat yang berkompeten untuk menggantikan dosen yang mengundurkan diri.


Sinta mempercepat langkahnya menuju ruangan terakhir tempatnya mengajar hari ini. Dia berencana untuk beristirahat di ruangan kelas sebelah jam mata kuliah mulai. Dia tidak punya ruangan khusus di kampus ini seperti ruangan yang dimilikinya di kampus perguruan tinggi tempatnya mengabdi.


"Selamat siang pak," sapa Sinta sopan ketika berpapasan dengan suaminya Andre. Andre yang tidak biasa lagi ke fakultas ekonomi sengaja untuk melihat istrinya secara diam diam di fakultas itu. Ruangannya sudah di gedung rektorat. Andre pura pura hendak ke ruangan dekan ketika melihat Sinta berjalan tergesa yang melewati ruangan para dosen termasuk ruangan dekan.


"Selamat siang Bu Sinta. Masih hendak mengajar lagi?" tanya Andre tidak kalah formal dari Sinta. Para mahasiswa yang hilir mudik dari tempat mereka berdiri membuat Andre harus sopan pula menjawab sapaan istrinya. Hampir lima tahun sudah tamat dari kampus ini membuat hampir semua mahasiswa tidak mengenal Sinta bahkan tidak mengetahui jika Sinta adalah istri dari rektor mereka.


"Iya pak, Saya duluan pak," kata Sinta sambil membungkuk hormat kemudian berjalan melewati tubuh suaminya. Sinta sebenarnya ingin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi suaminya yang ingin menerkam dirinya.


"Silahkan Bu Sinta," kata Andre lagi. Dia mengamati sekeliling. Para mahasiswa masih banyak yang hilir mudik. Seandainya tidak ada para mahasiswa tersebut, ingin rasanya Andre menarik tubuh Sinta dan membawanya ke ruangan dekan karena dia tahu bahwa sang dekan tidak berada di ruangan itu. Menciumnya di sana karena gemas dengan tingkah istrinya itu. Andre hanya bisa mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu di ponsel tersebut.


"Setelah selesai mengajar, segera ke ruangan aku sayang. Tingkah kamu hari ini harus aku hadiahi dengan banyak ciuman."


Sinta membaca pesan itu dengan tersenyum. Dia kini sudah duduk di bangku dosen di ruangan itu.


"Baik pak rektor. Perintah anda adalah kehormatan bagiku."


Andre masih berdiri di depan ruangan dekan ketika membaca balasan pesan dari istrinya. Dia tersenyum sambil terkekeh. Balasan pesan itu membuat Andre ingin segera memeluk istrinya. Tapi Andre masih bisa bertindak profesional dengan tidak mendatangi Sinta langsung ke ruangan kelas itu. Andre akhirnya berlalu dari tempat itu.


Sinta mulai mengajar para mahasiswa itu. Dia menerangkan materi kuliah itu tanpa membaca buku. Persis seperti Andre jika mengajar. Dari caranya mengajar, Sinta bisa disimpulkan sebagai dosen yang pintar walau belum banyak pengalaman mengajar. Sinta juga berhasil membangun interaksi antara dosen dan mahasiswa lewat tanya jawab. Sebagian mahasiswa banyak bertanya hal yang mereka belum mengerti. Sinta dengan senang hati menjawab semua pertanyaan mahasiswa itu sampai mereka paham akan apa materi kuliah hari ini.


"Masih ada pertanyaan?" tanya Sinta sambil melihat jam tangannya. Masih ada waktu sepuluh menit lagi untuk mahasiswa mengajukan pertanyaan. Seseorang mahasiswa yang duduk paling depan mengangkat tangannya. Sinta mengangguk mempersilahkan mahasiswa tersebut untuk bertanya.


"Perkenalkan, nama saya Reno. Ibu dosen yang cantik."


Mahasiswa lain bersorak mendengar perkenalan Reno. Dari sekian banyak mahasiswa yang bertanya hanya Reno yang percaya diri memperkenalkan dirinya ke ibu dosen. Mahasiswa popular yang terkenal dengan ketampanannya dan juga mobil mewah yang selalu dikendarainya ke kampus.

__ADS_1


"Langsung saja ke pertanyaan inti Reno," kata Sinta tegas. Dia menyadari jika mahasiswa tersebut sudah berusaha menggodanya karena berani mengatakan dirinya ibu dosen yang cantik.


"Yang ingin saya tanyakan Bu. Apakah ibu sudah mempunyai kekasih hati. Kalau belum ada. Saya mau mendaftar ibu."


Mahasiswa kembali bersorak. Reno dengan percaya diri bahkan menatap wajah Sinta dengan lekat. Sinta meminta para mahasiswa untuk tenang dan tidak ribut.


"Untuk saudara Reno. Sebenarnya pertanyaan anda itu tidak layak dipertanyakan di dalam kelas apalagi pertanyaan itu ditujukan kepada seorang dosen. Saya bukan hanya mempunyai kekasih hati. Saya bahkan sudah mempunyai dua suami dengan dua putra putri. Jika kamu hendak mendaftar. Sebaiknya mendaftar menjadi mahasiswa yang harus mengambil mata kuliah etika semester depan. Supaya anda bisa mengajukan pertanyaan pada tempat yang benar," kata Sinta lembut tapi tegas. Bukannya malu atau tersinggung Reno justru semakin memamerkan senyum manisnya. Dan mahasiswa lain antara percaya dan tidak percaya mendengar perkataan Sinta. Dilihat dari penampilan Sinta, wanita itu masih sangat cocok mengaku seorang gadis daripada mengaku sudah mempunyai suami dan putra putri.


Setelah mengatakan kata kata itu Sinta tersenyum. Sebagai dosen yang masih tergolong muda. Sinta kerap mendapat godaan dari mahasiswa mahasiswanya. Tapi sampai saat ini hanya Reno yang berani secara terang terangan menggoda dirinya.


Dan Sinta tidak akan membiarkan laki laki manapun masuk ke dalam hatinya. Andre sudah mengisi dan menghiasi hatinya. Sinta juga sangat mencintai suaminya itu. Sinta sudah merasa sangat bahagia dengan keluarga kecilnya. Selain itu Sinta juga menyadari. Dia tidak bisa berdiri di depan kelas ini kalau bukan karena Andre suaminya dan kedua mertuanya.


Sinta bahkan bertekad dalam hatinya akan tetap setia kepada sang suami walau ada pria yang melebihi Andre baik secara fisik maupun secara finansial. Andre adalah segalanya bagi Sinta. Dan Sinta juga dapat merasakan jika hanya dirinyalah wanita yang ada di hari Andre.


Sinta menatap mahasiswa mahasiswi itu yang berhamburan untuk ke luar ruangan kelas. Dia pernah di masa seperti itu. Sinta melotot kepada Reno yang memberikan ciuman jarak jauh kepadanya. Melihat Reno yang sepertinya tertarik kepadanya. Sinta merasa beruntung karena hari ini adalah hari terakhirnya mengajar di kelas ini.


Sinta masih mengingat dengan jelas. Di bangku inilah dirinya pertama kali berbicara dengan Andre. Disinilah dia mendapat tawaran kerja dari Andre. Disini mereka membuat janji untuk bertemu di kafe melati. Dan disini juga Sinta menerima uang untuk pertama kalinya dari Andre.


Sinta memejamkan mata mengingat semua kenangan itu. Aroma tidak sedap dari kamar mandi tidak membuat Sinta terganggu mengingat pertemuan pertamanya dengan Andre. Sinta mengingat kilas balik kehidupan mulai dari berangkat dari kampung. Kesusahan membayar uang kuliah, menerima tawaran Andre menjadi simpanan.


Bukan hanya semua kesusahannya, Sinta juga mengingat semua perjuangan dan penderitaannya. Hingga Sinta mengingat awal kebahagiaannya, kehidupan keluarganya yang sudah membaik. Ingatan itu membuat Sinta kini tersenyum dengan mata terpejam. Pencapaian dan masa depan yang cerah di depan mata membuat Sinta masih betah menyunggingkan senyuman.


Sinta menyadari jika proses pahit yang dihadapinya dulu adalah proses untuk menempanya menjadi sukses seperti ini.


Sinta membuka matanya perlahan. Terlalu lama mengenang masa lalu membuat dirinya tidak menyadari bahwa seseorang juga sudah duduk tidak jauh dari dirinya.


'Menunggu seseorang?" tanya Sinta yang sudah berdiri di samping mahasiswi itu. Dan mahasiswa terlihat terkejut seakan baru menyadari jika bukan hanya dirinya yang ada di tempat itu.


"Tidak ibu."

__ADS_1


"Kamu tidak takut di tempat ini. Tempat ini sepi," tanya Sinta lagi. Pertanyaan yang sama yang ditanyakan Andre ketika dirinya dulu galau karena berencana mengambil cuti kuliah. Mahasiswi tersebut terlihat menundukkan kepalanya.


"Siapa namamu," tanya Sinta lagi. Dia merasa sangat yakin jika mahasiswi itu pasti mempunyai masalah serius sehingga ingin menyendiri di tempat sepi seperti ini.


"Yunita ibu," jawab mahasiswi itu masih menunduk. Sinta baru menyadari jika mahasiswa tersebut ternyata berada di ruangan yang sama dengan dirinya ketika proses belajar dan mengajar tadi.


"Kamu ada masalah. Sampai betah duduk di. tempat ini?" tanya Sinta lagi. Pertanyaannya berhasil membuat mahasiswi itu mendongak menatap wajah Sinta.


"Jangan malu untuk bercerita apalagi kalau menyangkut keuangan. Kalau bisa aku bantu. Aku pasti membantu kamu," kata Sinta sambil menatap lembut wanita itu.


"Saya hanya butuh kerjaan ibu. Saya berencana bekerja sambil kuliah. Saya anak kost ibu. Kadang kiriman dari kampung tidak mencukupi kebutuhan saya hidup di kota ini."


Deg.


Sinta merasakan hatinya seperti diremas mendapatkan perkataan mahasiswi itu. Keadaan mahasiswi itu adalah keadaan yang baru saja dikenangnya tadi.


"Kamu bersedia bekerja di kafe?" tanya Sinta langsung menawarkan pekerjaan kepada mahasiswi itu. Dia berencana merekomendasikan mahasiswi tersebut kepada Bella kakak iparnya. Apalagi saat ini kakaknya itu buruk tenaga kerja di bagian dapur.


"Mau ibu. Saya mau," kata mahasiswi itu senang.


"Terima ini. Gunakan untuk uang transportasi kamu ke kafe Bella. Aku akan mengabari kakakku jika kamu ke sana sekarang juga," kata Sinta sambil menyodorkan dua lembar ratusan ribu. Yunita terlihat ragu dan juga malu.


"Ambillah. Jangan ragu," kata Sinta sambil menyodorkan uang itu.


"Maaf ibu. Saya ambil ya. Jujur. Aku sangat butuh uang sekarang. Terimakasih banyak ibu. Semoga kebahagiaan selalu menghampiri ibu dan keluarga," kata Yunita sambil mengukur tangannya menerima pemberian Sinta. Sinta tersenyum dan menyuruh Yunita untuk segera ke kafenya Bella.


Sinta tersenyum sambil memandangi punggung wanita itu yang semakin menjauh. Sinta semakin merasa bahagia karena bisa membantu mahasiswi tersebut dari kesulitan yang dihadapinya. Sinta pernah di tahap kesulitan yang dihadapi oleh Yunita. Sinta mengetahui sakitnya seperti apa hidup di kota tanpa uang.


End

__ADS_1


__ADS_2