Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Kembali ke asal


__ADS_3

"Anggun putriku, papa mohon. Papa akan berubah. Tidak ada alasan bagi papa untuk kembali ke rumah ini dan menemui Intan. Tolong sembunyikan ini dari mama. Papa tidak mau melihat mama terluka karena ini nak" kata Handoko memelas. Tini menatap papanya sinis. Rasa kasihan itu ada. Tapi rasa marah dan kesal yang lebih dominan. Kalau bukan karena Handoko papanya. Tini sebenarnya ingin menampar pria itu.


"Papa ingin menjadi pengecut?. Harusnya papa berpikir terlebih dahulu sebelum melanjutkan perselingkuhan kalian hingga sampai sepuluh tahun seperti ini. Jika papa memikirkan perasaan mama. Perselingkuhan ini tidak sampai sepuluh tahun. Resiko tanggung sendiri pa. Banyak banyaklah berdoa dan bersedekah pa. Semoga papa bisa mendapatkan maaf dari mama."


"Memberikan kemewahan kepada wanita simpanan seperti ini. Pernahkah papa melemparkan uang sepuluh ribu kepada anak jalanan di lampu merah sana?. Papa memang sudah dibutakan oleh hasrat duniawi. Sehingga tidak memikirkan dosa atas apa yang papa perbuat ini," kata Tini lagi. Melihat seisi rumah dan penampilan Intan. Tini menduga jika Intan juga mendapat uang bulanan yang cukup banyak dari papanya. Membayangkan saja sudah membuat kemarahan Tini hampir meledak.


Papa Indra atau Handoko tertunduk. Selama sepuluh tahun, dirinya dibayangi rasa takut akan video panas yang sudah dihapusnya. Sehingga apapun permintaan Intan, dengan terpaksa. Handoko menurutinya. Setelah menemukan dan menghapus video itu, Handoko semakin sadar. Bahwa dirinya terlalu bodoh menghadapi Intan. Apalagi barang bukti itu di simpan di kamar yang pernah digeledah olehnya.


Handoko juga sadar. Jika istilah, tidak ada buaya yang menolak bangkai. Itu terjadi pada dirinya. Andaikan dia hanya memberikan apa yang diminta oleh Intan tanpa menuruti hawa na*su mungkin sampai saat ini dirinya masih bisa dikategorikan pria setia terhadap mama Mia. Tetapi beberapa kali datang ke rumah ini atas paksaan Intan. Handoko juga tidak dapat menahan diri atas tubuh Intan yang selalu menggoda dirinya. Intan sangat pintar membangkitkan dirinya. Seperti kata Tini, sadar atau tidak sadar dirinya sudah menikmati perselingkuhan ini. Dan hari ini, Handoko sadar. Jika perselingkuhan ini terjadi dengan waktu yang lama karena dirinya yang memberikan kesempatan kepada Intan. Handoko mengutuk dirinya sendiri dalam hati.


Handoko melihat wajah putrinya yang sangat terlihat terluka. Dia juga melihat wajah sang menantu Sean. Jika perbuatannya bisa membuat Tini sampai hancur seperti ini. Handoko tidak bisa membayangkan jika Sean melakukan hal seperti yang dilakukan. Hari ini, secara tidak langsung dia sudah memberikan contoh yang tidak bagus kepada sang menantu. Handoko malu. Handoko menyesal. Dia berdoa semoga Sean tidak mencontoh perbuatannya.


Hal berbeda terjadi dengan Intan. Jika Handoko menyesal, dia justru merasa senang mendengar Tini tidak akan menyembunyikan masalah ini dari Mia. Intan justru berharap jika Handoko dan Mia bercerai secepatnya. Intan merasa jika jalannya memiliki Handoko seutuhnya sudah di depan mata. Ini impian Intan sejak dulu menjadi istri dari pria kaya tanpa perduli siapa pria tersebut.


"Kalian sudah menemukan dan menghapus video itu. Sekarang lepaskan aku," teriak Intan sambil menggerakkan tubuhnya. Semua mata spontan menoleh ke Intan. Radit menatap penuh kebencian dan rasa jijik. Sedangkan Vina bersikap biasa saja. Dia merasa tidak mempunyai masalah dengan Intan. Masa lalu Radit bersama intan tidak berpengaruh apapun kepada diri Vina. Dan Vina merasa itu bukan urusannya.


"Tunggu sebentar lagi. Kamu pasti dilepaskan. Tapi masih ada hal yang harus aku ketahui sebelum melepaskan kamu," jawab Tini tenang. Sean yang duduk di sampingnya sudah memijit bahu Tini pelan. Pijitan itu seolah memberi semangat kepada Tini untuk memberantas sang pelakor. Sedangkan Radit dan Vina yang duduk bersebelahan hampir tak berjarak. Vina sengaja menggenggam tangan Radit. Vina ingin menunjukkan jika apa yang dia lihat, yang dia ketahui hari ini tidak akan mengubah hatinya kepada sang suami. Termasuk video panas yang diakui oleh Radit yang sudah dihapusnya. Intan menatap Vina dan Radit dengan sinis. Melihat Radit selalu memperlakukan Vina dengan mesra. Intan merasa iri. Dia tidak pernah mendapat perlakuan itu dari Handoko. Hubungan mereka hanya sebatas ranjang dan urusan uang.


"Pa, berapa uang bulanan yang papa kasih ke dia?" tanya Tini membuat Handoko gelagapan. Handoko memperbaiki posisi duduknya untuk menutupi rasa gugupnya mendapat pertanyaan seperti itu.

__ADS_1


"Berapa pa?" tanya Tini tenang tapi tidak sabar menunggu papanya menyebutkan angka angka rupiah yang mengalir ke rekening Intan. Dengan terpaksa. Handoko menyebutkan angka tersebut kemudian menunduk.


"Papa memberikan lebih banyak wanita ular ini daripada kepadaku pa. Aku putrimu. Tapi papa memanjakan dia dengan materi berlimpah. Kepada kak Rio juga. Bahkan kak Rio hampir setiap bulan meminjam uang kepadaku untuk hidup mewah. Sementara dia dapat uang sebanyak itu?" tanya Tini marah. Sorot matanya jelas memancarkan kekecewaan yang sangat dalam. Handoko semakin menunduk. Itu adalah salah satu persyaratan dari Intan supaya video panas itu tidak tersebar. Dia mengajarkan hidup sederhana kepada ketiga putra putrinya tapi memberikan kehidupan mewah kepada selingkuhan. Intan tersenyum merasa menang atas Tini.


Membayangkan hidup mewah dengan mudah tanpa bekerja, tentunya Tini merasa cemburu. Karena dia memang berhak cemburu. Dibandingkan Intan, dirinya berhak mendapatkan kemewahan dari sang papa. Bahkan Intan tidak berhak sama sekali. Tini semakin membenci Intan dan ingin menghancurkan wajah yang tidak nampak menyesal itu.


"Papa bisa memblokir rekening itu sekarang juga. Papa memberikan satu ATM milik papa kepadanya," jawab Handoko lagi. Tini kembali menatap papanya sinis. Pantas saja, perselingkuhan ini bisa bertahan selama sepuluh tahun. Perselingkuhan ini aman tanpa dicurigai oleh sang mama karena ternyata tidak ada aliran dana dari rekening Handoko yang mencurigakan. Handoko memang pintar mengelabui istrinya.


"Lakukan sekarang pa," perintah Tini tegas. Handoko mengeluarkan ponselnya.


"Jangan lakukan itu pak tua. Berani kamu melakukan itu. Awas saja. Aku akan mendatangi istrimu," teriak Intan marah. Dia masih ingat jelas saldo di rekening itu. Jika itu terjadi, maka dia kehilangan uang yang lumayan banyak. Ikatan di tangannya dan pengawasan dari dua bodyguard membuat dirinya tidak bebas bergerak.


"Rekening papa atas bank apa?" tanya Tini lagi. Dia memperhatikan tiga ATM dengan dua bank yang sama dan satu lagi bank yang berbeda. Handoko menyebutkan bank miliknya. Bank milik Handoko salah satu dari dua ATM yang sama. Tanpa berpikir panjang. Tina mematahkan dua ATM yang sama itu. Tapi ATM yang satu lagi. Tini memasukkannya ke dalam dompet. Tini masih mempunyai belas kasihan tidak mematahkan ATM yang satu lagi. Tini sengaja melakukan itu supaya Intan mempunyai pegangan. Setidaknya dengan uang yang ada di ATM itu, Intan bisa melanjutkan hidupnya atau pulang kampung.


"Rumah ini atas nama siapa pa?" tanya Tini lagi.


"Atas nama papa," jawab Handoko.


"Sertifikatnya mana?.

__ADS_1


"Papa yang simpan. Di rumah kita."


"Bagus. Itu artinya. Mulai hari ini. Kamu tidak bisa tinggal di rumah ini Intan. Bagaimana pa?" tanya Tini tenang. Handoko hanya mengangguk setuju.


"Tidak bisa. Om Handoko sudah memberikan rumah ini kepadaku. Kamu pembohong om. Kamu bilang rumah ini masih dicicil selama 15 tahun. Dan lima tahun lagi aku akan dapat sertifikatnya," teriak Intan marah. Dia merasa tertipu dengan Handoko selama ini. Jika mengetahui rumah ini dibeli tunai. Dia pasti memakai video panas itu untuk memeras Handoko supaya menyerahkan sertifikatnya. Tapi ternyata Handoko juga pintar.


"Yang dicicil adalah mobil yang kamu pakai. Maka mulai bulan ini. Pembayarannya akan dihentikan," kata Handoko membuat Intan semakin marah. Cicilan mobilnya tinggal beberapa hari lagi jatuh tempo. Ditambah dengan ATM milik Handoko yang selalu digunakan olehnya sudah dipatahkan oleh Tini.


"Apa yang kamu dapatkan setelah melakukan ini semua mbak?. Kemewahan?. Tidak. Kamu tidak mendapatkan apapun selain rasa malu. Kamu kira setelah melakukan ini. Kamu akan kaya mendadak?. Kamu merasa pintar?. Kamu bodoh Intan. Kamu hampir menghancurkan papaku. Maka hari ini kamu juga harus kembali ke asal mu. Aku berikan waktu satu minggu untuk keluar dari rumah ini. Bagaimana pa. Apa papa setuju?.


"Aku setuju nak." Lagi lagi Handoko hanya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Tini.


"Baguslah kalau begitu pa. Aku kira setelah keenakan dengan dia. Papa semakin bodoh dan ingin melindunginya," sindir Tini. Tapi perkataan itu lebih menekankan jika Intan tidak berharga sama sekali di mata sang papa. Tini juga menyadari jika sebenarnya papanya juga pintar. Hanya saja tidak sanggup melawan godaan tubuh Intan yang memang terlihat bagus.


"Kak Radit, ada yang perlu kamu katakan ke dia?" tanya Tini lagi.


"Tidak. Untuk apa aku berbicara kepada wanita yang tidak penting. Yang ada aku ingin meludahi wajahnya seperti yang pernah dilakukannya terhadap aku," jawab Radit. Tapi Vina menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh Radit.


"Jangan yah. Melupakan jauh lebih baik daripada harus membalaskan perbuatannya. Dia sudah dapat balasan atas apa yang diperbuatnya selama ini. Biarkan saja," kata Vina sambil menatap wajah suaminya. Dia paham akan rasa benci Radit akan Intan. Tapi Vina tidak ingin suaminya melakukan hal bodoh hanya untuk melampiaskan rasa marahnya.

__ADS_1


Radit memeluk tubuh Vina erat. Dia terharu dengan sikap istrinya. Baik dirinya dan Vina tidak mudah bertemu dengan masa lalu. Apalagi ada hal baru yang mereka ketahui hari ini. Yaitu video panas milik Intan dan Radit. Radit tidak bisa membayangkan jika video panas itu dijadikan oleh Intan untuk memeras bahkan merusak rumah tangganya. Dan Radit sangat yakin, jika Intan menyimpan video itu karena ada maksud dan tujuan tertentu. Entah mengapa hari ini, Radit bersyukur atas semua yang dialami termasuk keadaan perusahaannya yang tidak stabil. Jika perusahaannya baik baik saja. Maka Radit juga tidak mengetahui tentang video panas tersebut. Radit menyadari, jika sesuatu masalah itu selalu ada makna yang terkandung di dalamnya.


__ADS_2