Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Perhiasan sesungguhnya


__ADS_3

Hari hari berlalu. Kerja keras Radit untuk membangkitkan perusahaannya sudah mulai menampakkan hasil. Para pekerja yang dirumahkan sebelumnya sudah dipanggil kembali bekerja. Sayangnya dari sekian banyak yang dipanggil kembali. Hanya sekitar sepuluh persen yang kembali aktif bekerja. Dan perusahaan harus membuka lowongan pekerjaan. Dan Radit beruntung mempunyai sahabat seperti Andre. Pria itu masih bersedia membantu Radit untuk menyeleksi beberapa calon karyawan yang berpotensi.


Radit tidak henti hentinya bersyukur. Setelah berbagai cobaan yang sudah dilaluinya. Radit bisa merasakan kebahagiaan. Keuangannya juga semakin membaik. Bukan hanya itu, pengobatan sang mama lewat alternatif menunjukkan sedikit harapan. Radit sungguh bahagia. Vina selalu mengingatkan Radit untuk selalu rendah hati. Kehadiran Vina di hidupnya bukan sekedar istri. Vina bisa membawa Radit ke dalam perubahan besar. Radit semakin berakhlak baik.


Seperti hari ini, Radit mengunjungi sebuah pantai asuhan yang tidak jauh dari kantornya. Radit menyumbangkan sejumlah uang untuk panti asuhan tersebut. Radit melakukan hal itu tanpa sepengetahuan Vina. Dia tidak ingin amalnya diketahui oleh siapapun. Baginya amal dan perbuatan baik bukan sesuatu yang harus dipamerkan.


Bukan hanya itu Sepanjangan perjalanan menuju ke rumah. Radit juga mengeluarkan lembaran uangnya untuk para pedagang asongan di lampu merah. Uang yang diberikan memang tidak seberapa tapi Radit yakin jika uang itu sangat berguna bagi masyarakat kecil seperti pedagang asongan itu. Radit merasakan sesuatu yang berbeda di hatinya setelah berbagi rejeki dengan kaum miskin. Sepanjang hidupnya, baru kali ini Radit berbagi rejeki dengan para yatim piatu dan kaum jalanan.


Tiba di rumah. Radit disambut dengan celotehan tiga bayi kembarnya. Dua baby sitter yang menjaga bayi kembar itu disuruh istirahat sebentar. Vina yang juga di kamar bayi itu hanya tersenyum melihat suaminya perduli kepada para pekerja di rumahnya.


"Bun, aku sudah transfer jatah bulanan," kata Radit pelan. Mereka duduk di karpet dengan tiga bayi yang telungkup. Berbagai mainan bayi berserakan di sekitar mereka.


"Terus?"


"Ya. Ayah mau hanya memberitahu saja Bun."


"Ooo. Kirain ada maksud lain."


Radit tertawa. Dia meraih Elvano yang sudah duduk. Dibandingkan dua kembarannya Elvano lebih cepat bisa telungkup maupun duduk.


"Bun, kamu istirahat dulu. Biar aku yang menjaga mereka. Nanti sore kita keluar sebentar," kata Radit


"Kita mau kemana yah. Anak anak ikut tidak?"


"Tidak, kita berdua saja,"


"Yakin?. Bisa menjaga mereka bertiga?.


"Yakin Bun. Tidur saja disini," kata Radit sambil menepuk pahanya. Sedangkan Elvano duduk di paha yang sebelahnya. Vina merebahkan kepalanya sesuai keinginan Radit. Radit membelai rambut istrinya. Hanya beberapa menit, Vina sudah tertidur. Radit menatap wajah istrinya penuh cinta. Tangan Elvano. berusaha menggapai kepala Vina. Radit meletakkan Elvano sebentar. Dengan hati hati. Radit memindahkan tubuh Vina ke ranjang yang ada di kamar itu. Kemudian Radit bergabung dengan ketiga bayi kembarnya.


Radit memberikan mainan gigitan bayi kepada tiga bayi itu. Para bayi itu menggigit mainannya masing-masing. Para bayi itu belum bisa bergerak bebas sehingga Radit tidak begitu kewalahan menjaganya. Radit menikmati perannya sebagai baby sitter saat ini. Membuat susu hingga menidurkan bayi itu satu persatu. Radit merasa bangga pada dirinya sendiri ketika melihat ketiga bayi itu sudah tertidur berjejer di karpet.


Vina menggeliat. Dia terbangun karena ada pergerakan di bagian dadanya. Vina membuka matanya. Tangan Radit sudah mendarat cantik di salah satu bukit kembarnya. Dan tubuh Radit tepat dibelakang dengan wajah yang sudah menempel di tengkuknya.

__ADS_1


"Yah, apa apaan ini?" tanya Vina kesal sambil memukul tangan suaminya. Radit terkekeh.


"Aku hanya bermaksud membangun kamu sayang."


"Tapi bukan seperti ini caranya. Ini kamar bayi. Bagaimana kalau si mbak masuk tiba tiba," jawab Vina pelan setelah mengetahui tiga bayi kembar sedang tidur.


"Sudah aku kunci pintunya," bisik Radit lagi. Radit mendapat cubitan di pahanya. Radit meringis dan menangkap tangan istrinya.


"Tapi tidak di kamar ini yah. Ada anak anak. Kalau mereka tiba tiba bangun bagaimana. Itu sama saja kamu merusak pemandangan mereka," kata Vina lagi.


"Aku mau mandi. Kita mau keluar kan?" tanya Vina karena tangan Radit hampir mendarat di pahanya.


"Iya. Bangunkan mereka dan suruh kemari. Aku juga mau mandi." Vina mengangguk, dengan perlahan Vina membuka pintu.


"Kita sebenarnya mau kemana?" tanya Vina setelah mereka sudah di kamar. Pasangan suami istri itu juga terlihat sudah selesai mandi.


"Ke suatu tempat."


"Kamu mau membelikan sesuatu untuk aku?" tanya Vina. Radit tertawa. Tebakan Vina sangat tepat.


"Bun, segala sesuatu yang sudah diniatkan itu. Tidak boleh ditunda atau diingkari. Aku pernah berjanji dalam hati untuk memberikan kamu sesuatu di saat aku tidak punya apa-apa. Sekarang ada sedikit rejeki. Apa salahnya aku menepati janji itu," kata Radit. Dia sudah berada di belakang Vina dengan tangan yang sudah melingkar di pinggang istrinya.


"Tapi yah."


"Tidak ada tapi tapian. Hidup harus dinikmati. Kita mati tidak membawa apa apa ke liang kubur. Jika ada yang bisa dinikmati sekarang ya harus kita nikmati. Kalau bisa berbuat baik kepada orang lain ya lakukan. Kita tidak tahu apa yang terjadi besok besok. Kita boleh menunda kebahagiaan yang ada di depan mata. Menyenangkan kamu dan memberikannya sesuatu adalah suatu kebahagiaan buat aku. Jadi biarkan aku bahagia hari ini dengan menepati janji kepada kamu Bun."


"Baiklah kalau begitu. Asal kamu senang dan bahagia aku menurut Yah," kata Vina akhirnya. Mereka kini bersiap-siap keluar dari rumah.


"Pilih Bun, yang mana kamu suka," bisik Radit setelah mereka berada di toko perhiasan di dalam sebuah mall. Vina tidak langsung memilih. Dia masih mengamati satu persatu perhiasan yang ada di depan matanya.


"Pilih satu set," kata Radit. Vina hanya mengangguk dan melihat perhiasan perhiasan tersebut. Dia bingung hendak memilih yang mana. Dia sudah mempunyai banyak perhiasan pemberian mama mertua ditambah perhiasan miliknya sebelumnya. Belum lagi perhiasan mama Rita yang sudah pernah ditunjukkan kepada dirinya dan akan menjadi miliknya.


"Yah, sebenarnya aku sudah mempunyai lumayan banyak perhiasan," bisik Vina.

__ADS_1


"Ya aku tahu. Mama pasti sudah memberikan perhiasannya kepada kamu. Tapi aku belum pernah memberi kamu perhiasan. Masa ditolak. Tahu gak Bun, Melihat kamu pakai baju yang aku beli saja aku sangat bangga Bun. Apalagi kalau pakai perhiasan yang aku berikan. Ayo dipilih. Tidak ada penolakan," kata Radit lembut. Radit memegang kepala Vina dan mengarahkan kepala istrinya untuk melihat satu set perhatian yang sangat cantik dan mewah.


Dia berharap Vina memilih perhiasan itu. Keinginan memberikan perhiasan kepada istrinya sudah lama terpendam. Terkadang Radit merasa dirinya seperti pria yang tidak berguna. Dulu sebelum menikah dengan Vina Radit selalu memanjakan setiap wanita yang menemani tidurnya dengan kemewahan. Radit terkadang merasa tidak adil bagi Vina. Vina sudah memberikan banyak cinta, anak dan kebahagiaan lainnya kepada dirinya. Radit merasa belum berbuat apa apa bagi istrinya.


"Bagaimana dengan yang itu?" tanya Radit sambil menunjuk satu set perhiasan yang sangat cantik.


"Yang lain saja yah. Itu pasti mahal," bisik Vina. Radit sebenarnya ingin menangis mendengar jawaban istrinya. Hanya Vina wanita yang menolak ditawari sesuatu yang mahal. Banyak wanita di luaran sana justru merengek minta dibelikan sesuatu oleh pasangannya. Radit bisa merasakan jika Vina adalah wanita yang berbeda dari wanita lainnya.


"Berikan penilaian kamu terhadap perhiasan itu," kata Radit lagi. Dia ingin memastikan jika apa yang diberikannya kepada Vina benar benar jika Vina menyukainya.


"Cantik dan mewah."


"Kamu menyukainya?" Vina mengangguk. Vina tidak munafik. Dia memang menyukai satu set perhiasan yang ditunjukkan oleh Radit. Radit tersenyum. Radit menyuruh pelayan toko untuk mengambil perhiasan tersebut. Pelayan itu menunjukkan perhiasan itu lebih dekat lagi ke Vina. Radit memang pintar memilih perhiasan. Semakin dekat perhiasan itu semakin terlihat cantik dan mewah.


"Istriku mau yang ini mbak," kata Radit. Vina memandang Radit seakan tidak percaya. Vina terkejut mendengar harga satu set perhiasan itu. Sebagai wanita yang berasal dari keluarga sederhana, jujur Vina seakan tidak percaya akan harga perhiasan tersebut.


"Yah, yang lain saja. Yang lebih murah," bisik Vina lagi. Radit terkekeh. Jika dibandingkan dengan perhiasan yang akan dibelikannya. Itu tidak seberapa dengan harga perhiasan yabg diberikan mama Anisa. Sebagai laki laki tentu saja dia tidak mau kalah dengan pemberian mamanya. Tetapi untuk saat ini. Hanya ini yang bisa diberikan oleh Radit.


"Kamu sudah menyukainya. Ambil saja. Aku punya cukup uang untuk membayar itu. Bahkan aku rela jual celana, baju dan yang lainnya asal kamu bahagia," bisik Radit. Walau berbisik, pelayan toko itu masih bisa mendengar bisikan Radit. Pelayan toko itu menatap pasangan itu dengan rasa kagum. Si wanita tidak matre sedangkan Si pria ingin membelikan segalanya untuk si wanita.


Vina hanya bisa tersenyum menerima paper bag berisi perhiasan itu dari pelayan toko. Sedangkan Radit berjalan menuju meja kasir untuk melakukan pembayaran.


"Bu, suaminya baik banget. Ibu sangat beruntung memiliki suami seperti bapak itu. Bagi resep donk Bu," kata salah satu pelayan yang dari tadi memperhatikan Radit dan Vina. Pelayan ini bukan pelayan yang melayani Vina dan Radit tadi.


"Membuat pasangan untuk mencintai diri kita sendiri tidak perlu dengan resep. Cukup hanya cinta dan ketulusan mbak," jawab Vina sambil tersenyum. Vina meninggalkan pelayan itu ketika melihat Radit melambai kepadanya.


"Yah, aku mau mengatakan sesuatu kepadamu. Jangan hidupkan mesin dulu," kata Vina. Mereka sudah di mobil. Setelah keluar dari toko perhiasan tadi. Vina singgah di supermarket untuk belanja keperluan si bayi kembar dan juga kebutuhan yang ada di kamar mandi.


"Bicara apa Bun. Katakan sekarang."


"Yah. Kamu harus tahu ini. Bahwa perhiasanku yang sebenarnya adalah dirimu. Jika kamu bisa menjada hati dan pikiran dan juga setia kepadaku. Itulah Sebenarnya perhiasan berharga bagiku. Begitu juga sebaliknya. Aku adalah perhiasan yang paling berharga bagimu. Jadi belajarlah untuk setia."


"Iya Bun. Aku janji akan setia dan jujur."

__ADS_1


Radit berkata sambil menggenggam tangan Vina. Ini bukan sekedar kata kata biasa baginya. Perkataan itu adalah janji sampai mati.


__ADS_2