
Hari yang ditunggu oleh Radit akhirnya tiba juga. Hari Senin. Sesuai dengan yang dijanjikan oleh Handoko mereka akan bertemu hari ini di kantor Handoko. Radit sudah mempersiapkan segala sesuatunya terkait dengan kerja sama mereka yang akan segera terjalin. Radit bangun lebih pagi dibandingkan hari hari sebelumnya. Kondisi mama Anisa tidak menyurutkan keinginannya untuk bangkit. Setelah memastikan semua berkas dan yang lainnya masuk ke dalam tas kerjanya. Radit naik kembali ke lantai dua. Dia tidak tega untuk membangunkan istrinya. Radit memilih duduk bersandar di ranjang dan bermain ponsel.
Radit tidak sekedar bermain ponsel. Melihat papa Jack sedang online. Radit mengirimkan alamat pengobatan alternatif yang sudah berpengalaman mengobati penyakit seperti penyakit yang dialami mama Anisa. Tidak lama kemudian. Radit mendapat balasan dari papa Jack. Seperti keinginan Radit. Papa Jack akan membawa mama Anisa untuk berobat ke alamat yang disebutkan oleh Radit. Mereka mencoba keberuntungan. Dan mengharapkan keajaiban. Papa Jack juga meminta Radit untuk lebih fokus menjalankan perusahaan.
"Morning bunda," sapa Radit ketika menyadari pergerakan Vina.
"Morning yah. Cepat amat bangunnya," jawab Vina sambil menyingkapkan selimutnya.
"Aku tidak sabaran menunggu hari terang Bun."
Vina tersenyum mendengar jawaban Radit. Semangat suaminya untuk membangkitkan kejayaan perusahaannya pantas diacungi jempol. Vina masuk ke kamar mandi.
"Ayah sudah mandi?" tanya Vina setelah keluar dari kamar mandi. Radit menggelengkan kepalanya. Dia hanya membasuh mukanya ketika baru bangun tidur tadi.
"Baguslah kalau begitu. Jadi tidak perlu mandi dua kali pagi ini."
Radit mengalihkan perhatiannya dari ponsel setelah mendengar perkataan Vina. Wanita itu berdiri di depan meja rias untuk merapikan rambutnya. Setelah mencerna arti dari perkataan Vina. Radit beranjak dari duduknya. Walau secara tidak langsung meminta, Radit juga heran akan permintaan istrinya. Vina biasanya menunggu serangannya darinya. Tapi pagi ini. Vina sepertinya menginginkan mereka untuk mengarungi samudera cinta.
"Bun, aku tidak salah mengartikan perkataan kamu kan," tanya Radit sambil memeluk Vina dari belakang. Tatapan mereka bertemu di dalam cermin. Vina tersenyum dan mengangguk. Sabtu malam dan minggu malam dia tidak memberi jatah kepada suaminya karena luka kecil di perut Radit. Pagi ini, Vina akan memberi hidangan selamat pagi kepada suaminya. Vina ingin mengawali pagi ini dengan memberikan suaminya kebahagiaan.
Hingga satu jam mereka bergumul di atas ranjang. Luka kecil di perut Radit sama sekali tidak berpengaruh kepada Radit untuk mencapai keinginannya.
"Terima kasih Bun," kata Radit setelah mereka melepaskan apa yang seharusnya dikeluarkan dari kegiatan itu. Vina mengelus rahang suaminya sambil tersenyum.
"Kita mandi bersama Bun," kata Radit sambil menarik tangan istrinya. Ketika Vina hendak turun dari ranjang. Radit memberikan punggungnya untuk dinaiki oleh Vina. Vina tertawa dan menurut. Tanpa sehelai benang, keduanya menuju kamar mandi.
"Masih mau Bun?" tanya Radit ketika Vina masih betah di punggung suaminya. Vina mengangguk malu malu. Entah mengapa keinginan Vina untuk bersentuhan dengan suaminya tidak terbendung. Dengan senang hati, Radit memberikan kebutuhan batin itu kepada sang istri.
Radit bersiul keluar dari kamar mandi. Radit mengenakan pakaian yang disediakan oleh Vina. Radit mengancingkan satu persatu kancing kemeja itu. Dia berdiri di depan meja rias sedangkan Vina duduk di bangku merias wajahnya. Kemudian mereka menuruni tangga menuju kamar si kembar. Tiga bayi itu mengulurkan tangan mereka bersamaan ketika melihat Radit dan Vina masuk ke dalam kamar. Radit tertawa bahagia melihat bayi kembar berusia 6 bulan itu. Tidak ingin pilih kasih. Radit dan Vina duduk di karpet bersama tiga buah hati mereka. Radit menciumi wajah bayinya satu persatu. Selain pelayanan yang diberikan Vina tadi. Melihat ketiga bayi kembar sehat dan aktif. Menambah semangat Radit.
Di meja makan. Vina bahkan menyuapi suaminya. Radit tersenyum mendapat perlakuan seperti itu. Radit mencubit gemas pipi istrinya ketika Vina mengerjai dirinya.
"Yah, kerja yang benar nanti ya. Jangan nakal," kata Vina.
"Siap nyonya. Perintah dilaksanakan," kata Radit sambil meletakkan tangannya di pelipis seperti menghormat bendera. Radit sudah menyelesaikan sarapannya.
"Aku antar sampai ke depan," kata Vina. Mereka sudah melangkah menuju pintu dengan Vina bergelayut manja di lengan Radit. Hari ini Vina tidak ke kampus. Radit mencium kening istrinya sangat lama ketika hendak masuk ke dalam mobil.
"Sukses untukmu yah," kata Vina setelah Radit sudah duduk di dalam mobil.
__ADS_1
"Terimakasih Bun. Aku jalan sekarang ya. Apapun hasilnya. Aku akan segera mengabari kamu Bun," jawab Radit. Vina mengangguk dan melambaikan tangannya. Dalam hati Vina berdoa. Semoga pertemuan antara Radit, Handoko dan Rio berjalan lancar.
Di dalam mobil. Radit tersenyum. Pelayanan istrinya sungguh membuat semangatnya dan kebahagiaan Radit bertambah berlipat lipat. Karena terlalu bahagia, perjalanan Radit menuju kantor Handoko tidak terasa. Kini Radit sudah menghentikan mobilnya di area parkir kantor Handoko.
Kedatangan sudah ditunggu oleh Handoko dan Rio. Radit tidak menyangka jika dirinya langsung bertemu dengan dua orang calon relasinya. Setelah saling memperkenalkan diri dengan Rio. Mereka masuk ke pembahasan kerja sama. Walau sebelumnya Handoko Sudja mengatakan akan setuju bekerja dengan perusahaan Radit. Tetap saja Radit menerangkan keuntungan jika perusahaan Handoko dan Rio bekerjasama dengan perusahaannya. Handoko tidak menunda waktu.
Begitu juga dengan Rio. Setelah hampir tiga jam membicarakan perihal kerja sama mereka. Handoko dan Rio akhirnya membubuhkan tanda tangan di surat perjanjian kerjasama mereka. Radit lega. Mulai hari ini, dia sudah kembali bekerja keras dan memutar otak untuk mengembalikan kejayaan perusahaannya. Bukan hanya kerja sama yang didapat Radit hari ini. Sebagai pengusaha yang berpengalaman. Handoko juga membagi ilmu dalam berbisnis kepada Radit, Rio dan Sean yang baru bergabung.
"Maaf pa, ada apa Papa menyuruh aku ke kantor?" tanya Sean. Rio baru saja pamit kepada mereka. Sementara Radit karena permintaan Handoko. Masih duduk di ruangan itu.
"Papa hanya ingin meminta sesuatu kepada kamu nak," kata Handoko setelah menarik nafas panjang.
"Apa itu pa," tanya Sean.
"Aku mohon jangan pernah mencontoh perbuatan papa," kata Handoko memohon. Sean menatap papa mertuanya.
"Apa papa ragu kepadaku?" tanya Sean. Handoko sebenarnya percaya akan cinta Sean kepada putrinya. Handoko hanya ingin mendengar langsung dari mulut menantunya bahwa Sean tidak akan mencontoh perbuatannya. Handoko memang menyadari dirinya bejad. Tapi dia juga tidak ingin putrinya mendapat karma karena perbuatannya.
"Aku tidak menjanjikan apapun kepadamu pa. Tapi satu hal yang harus papa tahu. Di dunia banyak pria yang tidak setia. Tetapi pasti ada pria yang setia. Dan aku salah satu dari pria setia tersebut."
Handoko tersenyum mendengar perkataan menantunya. Sejak awal bertemu, dirinya sudah yakin akan Sean. Itulah sebabnya ketika Tini meminta menikah tiba tiba, Handoko tidak keberatan. Tapi senyum itu kini memudar. Ketiga pria itu tersentak ketika mendengar suara pintu yang dibanting. Intan sudah berdiri di depan pintu itu dengan mengenakan masker. Dia meraba tas. Setelah menemukan. Dia mendekat dan melemparkan sebuah benda kepada Handoko.
Handoko terkejut ketika melihat testpack yang dilemparkan oleh Intan kepadanya. Melihat garis dua di test pack tersebut. Handoko seperti melihat hantu. Handoko gemetar. Radit dan Sean juga merasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Apa yang tidak mungkin om. Kita melakukannya tanpa pengaman," kata Intan yang sudah duduk di sebelah Handoko. Dia meletakkan tangannya di paha pria tua itu. Radit dan Sean memalingkan wajahnya. Mereka jijik dengan sikap Intan yang tidak tahu malu. Sean tidak bisa membayangkan kemarahan Tini jika melihat hal ini.
"Jaga sikapmu Intan," kata Handoko marah dan menghempaskan tangan Intan kasar.
"Jangan kasar om. Aku mengandung anakmu."
"Aku tidak percaya itu anakku jika kamu benar benar hamil. Kamu wanita tukang selingkuh," kata Handoko marah. Intan terlihat kembali meraba tasnya. Dia mengambil ponselnya dan menunjukkan video dirinya yang sedang di periksa oleh seorang dokter.
"Aku periksa semalam om setelah merasa kram di perutku. Beruntung penyiksaan yang dilakukan Anggun tidak membahayakan janin kita."
"Anggun tidak ada menyiksa kamu. Justru kamu yang berniat mencelakai cucuku. Pergilah. Aku tidak ingin melihat kamu. Tentang kehamilan kamu itu. Aku tidak percaya jika itu benihku."
"Apa maksud kamu om. Jika kamu tidak bertanggung jawab. Maka Tante Mia. Hari ini juga aku pastikan akan mengetahui ini semua," kata Intan sudah mulai terpancing amarah. Sean dan Radit yang mendengar pembicaraan Handoko dan Intan merasa risih. Tetapi untuk keluar dari ruangan itu mereka juga tidak enak hati. Karena dari tadi Handoko sudah memberi kode kepada kedua pria itu untuk tidak beranjak dari duduknya.
"Jangan gila kamu Intan. Berani kamu bertindak macam macam maka tanganku sendiri yang akan menghajar kamu."
__ADS_1
"Silahkan hajar sekarang om. Aku tidak takut. Jika aku tidak mendapatkan tanggung jawab kamu. Setidaknya kamu akan dipenjara dan jangan lupa perselingkuhan ini juga pasti terbongkar," jawab Intan berani. Dia bahkan menyodorkan pipinya untuk ditampar oleh Handoko.
"Papa, apa tidak sebaiknya membicarakan masalah ini hanya kalian berdua?" tanya Sean. Intan tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Harusnya dari tadi kalian keluar. Dasar pria pria tolol," kata Intan sinis. Dia tidak mengharapkan keberadaan dua pria ini disini yang hanya akan menghambat rencananya. Radit dan Sean mengepalkan tangan. Jika Intan adalah laki laki sudah dipastikan jika Radit maupun Sean sudah memberikan bogem mentah kepada wanita tidak tahu malu itu.
"Om Handoko. Aku harap om hati hati menghadapi wanita ular ini. Seperti yang om katakan tadi. Aku pun berpikiran jika dia benar benar hamil. Itu bukan benih kamu om. Dia wanita ular. On tidak ingat. Jika dia pernah menyelingkuhi om. On harus mengambil tindakan tegas sekarang. Jangan beri dia kesempatan untuk menjebak om untuk kedua kalinya," kata Radit. Dia sengaja memprovokasi Handoko supaya tidak terpengaruh sedikitpun akan kehamilan Intan.
"Sean, kita harus menemani om Handoko disini," kata Radit lagi. Radit merasa jika kedatangan Intan di ruangan ini untuk kembali membujuk bahkan menjebak Handoko. Demi Tini sang adik angkat yang sudah banyak membantunya. Radit tidak akan membiarkan Handoko kembali terjatuh ke dalam pelukan Intan.
"Ya nak. Jangan biarkan aku sendirian. Aku tidak ingin terjebak lagi olehnya," kata Handoko yang sudah berpindah ke kursi kebesarannya.
Baiklah. Kalau om tidak mau bertanggung jawab. Maka aku akan bertindak sendiri.Jika aku hancur. Om juga hancur. Kita hancur sama sama," kata Intan santai. Sedikitpun tidak ada ketakutan di dalam dirinya. Jari jarinya sudah menari nari di layar ponselnya.
"Aku sudah menghubungi Tante Mia untuk datang ke kantor ini. Pesanku sudah centang biru," kata Intan lagi. Handoko terkejut. Dia tidak menyangka jika Intan berbuat senekat ini. Intan beranjak dari duduknya dan merampas ponsel intan. Benar kata Intan. Pesan yang mengatakan jika Handoko pingsan di ruangan sudah terkirim dan centang biru.
Sama seperti Handoko. Sean dan Radit juga terkejut. Mereka mengumpat Intan dalam hati dan Mereka berdua juga sama sama kasihan kepada Handoko.
Handoko marah. Handoko mencampakkan ponsel itu kasar hingga hancur berkeping keping. Handoko melayangkan satu tamparan di pipi Intan. Wanita itu memegangi pipinya yang terasa perih.
"Berani kamu bermain main dengan aku wanita ular. Maka kamu akan merasakan akibatnya. Sebelum istriku tiba di tempat ini. Silahkan pergi. Jika tidak aku akan menyuruh satpam untuk menyeret kamu keluar dari ruangan ini," kata Handoko marah. Tapi Intan tidak takut.
"Aku tidak akan pergi sebelum Tante Mia mengetahui semuanya. Jika kamu memanggil satpam. Maka aku juga akan berteriak menyebut jika diriku adalah wanita simpanan kamu," tantang Intan membuat Handoko semakin frustasi. Handoko tidak seluruh karyawannya mengetahui perselingkuhan ini. Jika Intan membongkar perselingkuhannya di perusahaan ini. Bisa dipastikan jika perselingkuhan itu akan cepat tersebar. Dan tidak tertutup kemungkinan akan terdengar ke seluruh relasi relasi bisnisnya. Sedangkan Sean dan Radit juga tidak bisa berbuat apa apa.
"Dasar wanita brengsek," maki Handoko marah sambil mengepalkan tangannya. Intan selalu berhasil membuat dia tidak bisa bertindak.
"Brengsek seperti ini. Tapi mampu memberikan kamu berkali kali kenikmatan di ranjang. Ingat sepuluh tahun om," kata Intan tenang sambil menunjukkan dirinya.
Sean dan Radit spontan menutup mulut. Mereka ingin muntah mendengar perkataan Intan yang benar benar tidak tahu malu. Apalagi Radit, jika waktu bisa diputar kembali. Radit akan memilih tidak pernah mengenal Intan Radit sungguh menyesal pernah jatuh dalam pesona ular betina itu.
Handoko sudah pasrah. Dia sudah duduk kembali di kursi kebesarannya. Sedangkan Sean dan Radit sudah berbisik bisik.
"Perlukah Tini tahu akan hal ini?" tanya Radit ragu.
"Tidak perlu bro," jawab Sean. Sean takut jika melihat kesedihan mama Mia. Tini semakin sedih dan berpengaruh ke kandungan istrinya. Biarlah untuk hal ini, sang papa mertua menyelesaikan masalahnya sendiri.
Radit melihat Handoko sangat terlihat frustasi. Kebahagian Radit hari ini karena sudah menjalin kerjasama dengan Handoko berbanding terbalik dengan kesedihan Handoko.
"Intan, seharusnya kamu sadar. Kamu bukan wanita baik baik dan tukang selingkuh. Tidak seharusnya kamu menjerat om Handoko seperti ini. Kami seorang wanita. Tidak seharusnya kamu menghancurkan kebahagiaan seorang wanita," kata Radit akhirnya. Dia berharap perkataannya membuat Intan sadar.
__ADS_1
"Aku tidak membutuhkan nasehat kamu banci. Jangan ikut campur urusan aku. Kamu hanyalah pria cengeng yang takut mama. Urus saja mama kamu yang penyakitan itu," kata Intan. Radit tersulut amarah. Apalagi Intan menyebut namanya yang penyakitan. Memang benar mamanya sakit saat ini tapi jika diperjelas seperti perkataan Intan tentu saja membuat Radit sakit hati.
"Dasar wanita ular kamu. Kamu bukan manusia tapi iblis betina," kata Radit marah. Radit membuang ludahnya tepat di wajah Intan. Radit masih bisa berpikir jernih untuk tidak bermain fisik. Radit membalas perbuatan Intan hari ini yang pernah meludahi tangannya. Amarah masih jelas terlihat di wajahnya. Tidak hanya sekali meludahi wajah Intan. Radit bahkan meludahi Intan berkali kali pengganti tamparan di wajah wanita itu.