Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Duel istri dan Mantan istri


__ADS_3

Enam bulan berlalu. Tidak terasa Sinta sudah memasuki semester enam. Kuliahnya lancar dan jualan onlinenya juga lancar. Di kampus Sinta berusaha untuk tidak bertemu dengan Andre. Jika mata kuliahnya yang dibawanya Andre dosennya, maka Sinta mencari dosen yang lain yang sama mengajar mata kuliah tersebut.


Di kampus, Sinta bisa menghindar dari Andre. Tapi untuk urusan baby Airia, Sinta tidak mau egois. Sekali seminggu yaitu setiap hari Sabtu, Sinta memperbolehkan Andre datang ke rumahnya untuk bertemu baby Airia dengan catatan Andre harus datang bersama Agnes. Mau tidak mau, Andre setuju dengan persyaratan Sinta.


Pernah sekali, Andre datang tanpa Agnes. Jangankan melihat Airia membuka gerbang pun Andre tidak boleh. Sejak saat itu. Andre selalu datang bersama Agnes sesuai dengan kemauan Sinta.


Baby Airia kini berusia delapan bulan. Bayi itu semakin cantik dengan kulit putihnya yang bersih, hidung mancung milik Andre masih melekat sempurna di wajahnya. Tidak ada perubahan walau umurnya terus bertambah. Badannya yang tidak kurus dan tidak gemuk membuat siapa yang gemas melihatnya. Baby Airia semakin hari semakin pintar dan sudah mengenali orang orang yang dekat dengannya.


Saking gemasnya, Vina dan yang lainnya hampir setiap hari singgah di rumah Sinta. Baby Airia sangat dekat dengan ke lima sahabat bundanya itu. Ya, mereka kini kembali berenam. Sejak Ronal mengetahui Vina sudah bertunangan, pria itu semakin menjaga jarak dengan Sinta dan yang lainnya.


Kalau baby Airia dekat dengan kelima sahabat bundanya. Berbeda dengan Andre. Bayi Airia bahkan tidak mau dipegang Andre. Baby Airia lebih memilih Agnes daripada Andre. Hal itu membuat Andre sedih. Berbeda dengan Alexa yang selalu menempel ke Andre. Andre tidak bisa berbuat apa apa. Walau hatinya sangat menyayangi baby Airia tetapi untuk menjangkau bayi itu sangat sulit baginya.


Hari ini, hari pertama memasuki semester enam. Karena hanya melihat jadwal mata kuliah, Sinta memutuskan membawa Airia ke kampus. Sinta sudah mendandani bayinya dengan pakaian yang lucu juga bando di kepalanya.


Dengan semangat Sinta turun dari taksi yang membawanya ke kampus. Baby Airia berceloteh ketika melihat situasi kampus. Entah apa yang dimaksud baby Airia, Sinta pun tidak mengerti. Dia hanya mencium pipi Airia menanggapi celotehan putrinya.


Setelah selesai melihat jadwal mata kuliahnya yang akan dibawanya di semester enam ini, Sinta seperti biasa menunggu para sahabatnya di depan kolam. Sambil memberi putrinya susu, Sinta mengedarkan pandangannya ke arah penjuru kampus, berharap salah satu dari sahabatnya dan diantara para mahasiswa yang lain sedang keluar masuk kampus.


Sinta tersenyum melihat Tini yang semakin mendekat ke arahnya.


"Sudah lihat jadwal kuliah?" tanya Tini setelah dekat ke kolam. Tangannya mencubit pelan pipi baby Airia.


"Sudah. Aku sudah memfoto jadwal kita," jawab Sinta kemudian menyerahkan ponselnya ke Tini. Tini meraih ponsel itu dan duduk dan di samping Sinta.


"Berarti satu semester ini, kamu bisa masuk pagi," kata Tini setelah mengamati jadwal kuliah dari ponsel Sinta. Dia kemudian mengirimkan jadwal itu ke ponselnya sendiri. Sinta hanya mengangguk. Tini menyenggol bahu Sinta dan menggerakkan kepalanya ke arah ruang Rektorat. Andre keluar dari ruang rektorat. Sudah bisa dipastikan, Andre akan melewati mereka.


"Santai saja Sinta, kita lihat reaksi mantanmu di kampus terhadap baby Airia. Apakah dia memperlakukan Airia seperti berkunjung ke rumahmu atau malah pura pura tidak mengenal," bisik Tini ketika melihat Sinta hendak beranjak dari duduknya. Sinta menggelengkan kepala tanda tidak setuju dengan usulan Tini. Sinta hendak berdiri tetapi Tini menahan tangan Sinta.


"Selamat pagi, putrinya ayah ikut ke kampus juga ya," kata Andre ketika tiba di depan Sinta dan Tini. Spontan beberapa mahasiswa lain yang ada di sekitar mereka menoleh ke arah Sinta. Andre tidak perduli, bahkan dengan tenang dia mencium pipi Airia yang ada di gendongan Sinta. Sinta gugup dan berusaha cuek. Tini tersenyum, Tini senang karena Andre tidak malu mengakui baby Airia putrinya di area kampus.


Baby Airia menyembunyikan wajahnya di dekapan bundanya. Tangannya mendorong wajah Andre yang menciumnya. Andre hanya terkekeh.

__ADS_1


"Ayah ke ruangan dulu ya, mau ikut?" kata Andre sambil menyodorkan tangannya ke baby Airia. Bayi itu semakin menyembunyikan wajahnya. Andre kemudian mengelus pipi bayi Airia kemudian melangkah menuju ruangannya.


Tidak ada rasa malu atau canggung ketika Andre mengakui baby Airia, dengan santai Andre melewati para mahasiswa yang sudah berbisik bisik setelah mendengar perkataan Andre tadi di hadapan Sinta. Mahasiswa itu menoleh ke Sinta, ada rasa kagum di hati mereka. Mereka yang melihat keseharian Sinta yang ramah, sederhana dan baik ternyata istri dari dosen mereka. Mereka tidak tahu bahwa Sinta dan Andre sudah menjadi mantan.


"Tuh kan, benar yang aku bilang. Pak Andre sudah tobat dan serius ingin rujuk dengan kamu," bisik Tini tepat di telinga Sinta.


"Sok tahu kamu,"


"Yee, tidak percaya."


"Memang tidak percaya," jawab Sinta.


"Setiap manusia itu, berhak mendapat kesempatan kedua Sinta, tidak ada yang luput dari kesalahan. Pikirkan Airia," kata Tini pelan. Dia takut percakapan mereka di dengar mahasiswa lain yang hanya berjarak beberapa meter dari mereka.


"Yang lain pada kemana ya?. Kok belum muncul?" tanya Sinta untuk mengalihkan pembicaraan. Tini hanya memandangnya sedikit kesal.


"Gak tahu," jawab Tini ketus. Pandangannya lurus ke depan sehingga dia tidak menyadari bahwa seseorang sudah berdiri dekat mereka.


"Tidak perlu sok bingung atau pura pura tidak kenal dengan aku. Aku Cindy istri sah Andre," kata Cindy datar. Matanya memandang Sinta dengan tajam. Jelas terlihat kebencian di sorot matanya. Sinta terkejut begitu juga dengan Tini. Tini memandang sekitarnya. Mahasiswa lain tidak begitu memperhatikan mereka.


"Maaf mbak, bukan pura pura tidak mengenal. Tapi ini kita pertama kali bertemu dengan jarak yang dekat seperti ini," jawab Sinta sopan dan pelan. Tangannya menepuk pelan punggung baby Airia yang sedikit rewel.


"Jangan banyak ngomong kamu, kamu harusnya sadar kalian sudah mantan tidak sepantasnya kamu menahan suamiku di rumahmu," kata Cindy marah dan sedikit kencang. Mahasiswa lain sudah menoleh ke arah mereka. Tini sedikit emosi dengan Cindy.


"Eh mbak, jangan sembarangan ya kalau ngomong. Setiap hari aku selalu di rumah Sinta. Suamimu jarang ke sana. Hanya hari Sabtu itu pun harus datang bersama Agnes," kata Tini marah tapi masih berusaha berkata pelan, dia tidak mau perhatian para mahasiswa lain ke mereka.


"Jangan membela temanmu yang pelakor ini."


"Aku bukan pelakor mbak, jangan ngomong sembarangan," kata Sinta pelan dan merapatkan giginya. Sama seperti Tini, dia pun tidak mau mahasiswa lain mendengar pembicaraan mereka.


"Kalau tidak pelakor, kamu pantasnya disebut apa?" tanya Cindy kencang. Suaranya sudah menarik perhatian mahasiswa lain.

__ADS_1


"Mbak, jangan begini. Kita bisa bicara baik baik," kata Tini melihat wajah Cindy yang sudah memerah.


"Jangan ikut campur kamu," bentak Cindy. Tangannya meraih rambut Sinta dan menariknya. Sinta spontan memegang rambutnya yang dijambak Cindy. Tangan kirinya mendekap erat baby Airia. Airia menangis kencang menyadari bundanya dalam bahaya. Tini menarik tangan Cindy dari rambut Sinta.


"Ambil Airia Tini," kata Sinta tersengal. Tini melepaskan gendongan Airia dan memeluk erat bayi itu.


"Akan aku bunuh kamu pelakor," kata Cindy marah. Dia semakin menarik rambut Sinta dan menjatuhkan Sinta ke tanah. Sinta yang tidak sempat melawan karena tangannya sebelah kiri berusaha melepaskan gendongan Airia.


Bagai orang kesetanan, Cindy menarik dan mencakar wajah Sinta. Sinta berusaha menahan tangan Cindy. Tetapi posisinya yang tidur terlentang di tanah dengan Cindy diatasnya. Membuat dia tidak bisa melawan Cindy. Mahasiswa lain kini sudah berkerumun menonton. Tidak ada niat untuk melerai. Sebagian dari mereka berbisik bisik mencemooh Sinta.


Tini memberikan baby Airia ke salah satu mahasiswi yang berdiri di situ. Merasa tidak mengenali orang tersebut, baby Airia menangis kencang. Tini mendekat ke arah Sinta dan Cindy yang berduel. Posisi Cindy masih di atas Sinta. Cindy benar benar membuat Sinta tidak berdaya. Tini menarik baju Cindy dengan kuat tetapi Cindy masih bisa berhasil menghempaskan tangan Tini.


Tidak habis pikir, akhirnya Tini menarik rok plisket Cindy ke bawah. Hingga menampakkan ********** yang berwarna merah terang. Merasa malu Cindy melepaskan tangannya dari rambut Sinta dan berusaha menahan roknya. Tetapi dengan sekuat tenaga Tini menarik rok itu hingga terlepas sempurna dari tubuh Cindy. Mahasiswa spontan bersorak dan tertawa.


"Merah woii," teriak para pria yang ikut berkerumun.


Merasa dirinya aman, Sinta bangkit berdiri. Tubuhnya bergetar, malu dan lelah bercampur sudah di hatinya. Rambut Sinta sudah acak acakan. Melihat Cindy yang berusaha merebut roknya dari Tini. Sinta menarik rambut Cindy sehingga wanita itu hampir terjungkal ke belakang.


Sinta membalikkan tubuh Cindy untuk menghadapnya.


Plak, Plak.


Sinta akhirnya mendaratkan tamparan di wajahnya Cindy. Cindy kembali marah dan kesetanan dengan tidak perduli keadaanya tanpa rok. Dia mendorong tubuh Sinta Hinga Sinta terduduk di tanah. Dia kembali menguasai permainan tetapi hanya sebentar karena Tini langsung menariknya.


Kerumunan itu tidak hanya menarik perhatian para mahasiswa juga para dosen dan pegawai lainnya. Andre juga terlihat berlari ke arah kolam. Mendengar suara Airia yang menangis membuat dia berfirasat bahwa sesuatu yang buruk terjadi. Dia terkejut dan merasa malu melihat Cindy yang berusaha menjambak Sinta. Apalagi keadaan Cindy tanpa rok.


"Cindy," teriak Andre membuat Cindy menghentikan tangannya.


"Tini, bawa Sinta dan putriku ke mobil. Ini kuncinya," kata Andre ke Tini. Andre memberikan kuncinya mobilnya ke Tini. Andre mengambil rok dari tangan Tini dan mencampakkannya ke Cindy. Tini segera mengambil Airia dari tangan mahasiswa tadi. Airia diam dan Tini menarik tangan Sinta menerobos keluar dari kerumunan itu dan berjalan menuju mobil Andre.


"Maaf sebelumnya, keributan ini membuat kalian tidak nyaman. Jangan berpikiran buruk terhadap Sinta. Dia adalah istri pertama saya," kata Andre kemudian menarik tangan Cindy. Cindy semakin kesal. Karena Andre membela Sinta. Andre membawa Cindy keluar dari kerumunan itu.

__ADS_1


"Aku tunggu kamu di rumah papa," kata Andre marah, Mereka sudah keluar dari kerumunan mahasiswa. Andre berlari ke arah mobilnya.


__ADS_2