Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Benar Benar Gila


__ADS_3

Kebahagian Sinta dan Vina berbanding terbalik dengan keadaan Vina. Setelah keluar dari rumah sakit. Kini wanita hamil muda itu berada di rumah dokter Agung. Dokter ahli kandungan yang menangani Vina sewaktu di rumah sakit.


Berawal dari dokter agung yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Vina dan Sahabatnya. Dokter agung menawarkan bantuan menolong Vina untuk sementara waktu bed rest di rumahnya, dengan alasan kandungan Vina masih sangat lemah dan harus pantauan dokter. Akhirnya Vina mau menerima bantuan tersebut tanpa minta pendapat dari para sahabatnya.


Vina diperlakukan sangat baik di rumah itu. Istri dokter agung yang ternyata juga sedang mengandung anak ketiga menerima Vina juga dengan baik. Terkadang Vina merasa khawatir dan takut. Takut kedatangannya di rumah itu menjadi suatu salah paham bagi suami istri itu. Tetapi entah mengapa, istri dokter Agung berkali kali menyakinkan Vina, bahwa kedatangannya tidak akan berdampak negatif bagi suami istri itu.


Dokter agung mempunyai anak berusia 12 tahun dan 5 tahun. Dua duanya laki laki. Perdebatan anak beda usia itu, membuat Vina tidak merasa kesepian di rumah besar itu. Dan lagi para pembantu juga melayaninya dengan baik, menambah nyamannya Vina di rumah Dokter Agung. Tapi, bagaimanapun nyamannya di rumah orang pasti lebih nyaman di rumah sendiri.


Dan dibalik rasa nyaman itu, hati Vina juga belum merasa baik baik saja. Di depan dokter Agung dan istrinya. Vina bisa terlihat seperti biasa saja. Tetapi tidak bila sendirian dan menjelang tidur. Perlakuan Radit dan penolakan ayahnya terus tertancap di otaknya. Masih satu malam di rumah dokter agung, Vina sudah merindukan rumah orangtuanya.


Siang ini, Vina bermain dengan kedua anak Dokter Agung. Kesehatannya yang belum pulih benar. Vina hanya duduk saja di bangku panjang di halaman rumah. Dan kedua anak itu sedang main pistol pistolan. Vina merasa terhibur dan tertawa riang. Kedua anak itu kadang ribut dan kadang akur membuat Vina terkekeh. Apalagi melihat yang paling kecil. Dia yang kalah tapi harus dia yang memberi hukuman.


Vina masih betah di halaman itu. Sedangkan dua anak tadi sudah jadwalnya tidur siang.


Angin yang berhembus dengan beberapa pohon di halaman itu membuat siapa saja betah untuk duduk di sana termasuk Vina sedangkan dokter agung dan istrinya sejak pagi sudah keluar dari rumah.


Vina menatap tidak percaya ke dua mobil yang baru saja terparkir di halaman itu. Dia tahu mobil yang satu lagi selain mobil dokter Agung. Mobil itu adalah mobil papanya. Seketika Vina takut dan gemetar. Dia hendak berlari ke dalam rumah, tapi dia langsung ingat kandungan yang masih lemah. Vina berpikir, bagaimana kedua orangtuanya bisa mengetahui rumah dokter Agung. Dan datang bersama pula.


"Vina, panggil papa Hendrik sambil berlari ke arah Vina. Vina semakin ketakutan. Tetapi melihat mamanya yang tersenyum, rasa takut itu sedikit berkurang.


"Maafkan papa, papa menyesal nak. Papa hanya ingin yang terbaik untuk kamu dan ternyata justru yang terburuk buat kamu. Papa akan menerima apapun keputusan kamu termasuk bercerai dari Radit. Kami akan menerima kamu kembali ke rumah," kata Hendri k sedih. Hendrik bahkan menangkupkan kedua tangannya di dada.


Vina hanya terdiam mendengar perkataan papanya. Dari nada bicaranya, Vina tahu ayahnya menyesal telah setuju tentang perjodohan itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Vina sudah hancur dan terluka. Kini dia hamil dari anak Radit. Hamil akibat pemerkosaan. Untuk ke depannya, Vina harus hidup dengan bayang bayang Radit.


"Vina, papa mu sudah benar benar menyesal atas perjodohan itu. Tolong maafkan papa mu nak. Jangan pernah berpikir untuk pergi dari kami. Kita kembali ke rumah ya!" kata mamanya Vina sedih dan membujuk vina. Dokter agung dan istrinya juga sudah berdiri dekat Vina.


"Vina, kalau aku salah. Maaf ya. Aku tidak sengaja mendengar semua pembicaraan kamu dengan dengan teman-teman kamu itu. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi kepada kamu. Itu sebabnya aku berinisiatif membawa kamu ke rumah ini. Kamu mungkin tidak mengenal aku, tapi aku mengenal kalian," kata dokter Agung.


"Bagaimana dokter bisa mengenal kami?" tanya Vina heran. Dia sama sekali tidak mengenal dokter agung dan istrinya.

__ADS_1


"Kita pernah bertetangga. Waktu itu kamu masih sekolah dasar ketika kami pindah dari sana?" jawab dokter agung tersenyum. Vina termenung. Berpikir ke masa lampau dan mencoba mengingat kenangannya di masa sekolah dasar. Vina mengingat. Vina langsung memeluk istri dokter agung dengan erat.


"Kembalilah ke orang tua kamu Vina. Selesaikan masalah kamu dengan suamimu. Hidup dalam masalah itu tidak enak. Kalau bisa berpisah baik baik untuk apa harus berpisah dengan cara yang tidak baik. Ada anak yang akan kalian asuh berdua,"


Vina mengangguk mendengar nasehat istri dokter Agung. Hidup tanpa masalah merupakan prinsipnya. Tetapi setelah menikah dengan Radit hidupnya penuh dengan masalah. Berkali-kali berusaha menyelesaikan masalah dengan Radit tapi inilah yang diterimanya.


Setelah berbincang-bincang beberapa menit akhirnya Vina ikut dengan orangtuanya. Apapun katanya tinggal di rumah orang tua jauh menyenangkan daripada di rumah orang lain. Vina menyadari hal itu. Tidak ada alasan Vina untuk tetap tinggal di rumah dokter agung karena Papa Hendrik betul betul menyesali keputusannya tentang perjodohan itu.


Sekitar dua puluh meter sebelum tiba di depan rumahnya. Vina melihat Tini bersandar di belakang mobil. Dari cara berpakaiannya, Vina bisa cepat mengenali Tini. Mobil itu terus berjalan hingga depan rumahnya sendiri. Vina terkejut. Sean dan Radit sedang berbicara di samping mobil Radit yang parkir di depan mobil Sean. Mereka kebetulan bertemu di tempat itu dengan tujuan yang sama yaitu untuk bertanya tentang keberadaan Vina. Untuk Tini dan Sean ini yang pertama. Sedangkan untuk Radit ini yang kedua kalinya.


"Kenapa sampai Radit bisa disini pa?. Apa papa yang menyuruhnya untuk datang?" tanya Vina marah. Melihat Radit ada di tempat itu, Vina menyesal ikut kedua orangtuanya untuk pulang. Vina berpikir bahwa ayahnya pasti bersekongkol dengan Radit. Sama seperti Vina, kedua orang tua Vina juga terkejut melihat Radit.


"Papa tidak menyuruhnya nak. Papa juga tidak tahu mengapa dia bisa di sini. Tapi ada bagusnya dia di sini nak. Kita selesaikan masalah kalian baik baik. Kamu akan tetap tinggal di rumah kita," kata papa Hendrik tenang. Bagi papa Hendrik masalah Vina dan Radit harus selesai hari ini juga. Vina sedikit tentang mendengar penjelasan papanya.


"Ayo kita turun nak, ingat. Kita tidak bisa lari dari masalah. Kita harus menghadapi dan menyelesaikannya," kata mamanya Vina sambil membuka pintu. Vina mengangguk. Benar kata kedua orangtuanya. Sampai kapanpun, jika masalah itu tidak di selesaikan. Masalah itu akan semakin rumit. Apalagi saat ini benih Radit bersemayam di rahimnya.


Radit dan Sean begitu juga dengan Tini menoleh ketika terdengar suara pintu mobil yang ditutup. Tini langsung melompat begitu melihat Vina. Kedua sahabat itu kini berpelukan. Sedangkan Radit dan Sean masih berdiri di tempatnya. Sean memandang dua sahabat itu berpelukan sedangkan Radit menundukkan kepala. Untuk melihat kembali papa Hendrik, Radit sebenarnya malu. Tapi mengingat Vina yang mengandung, dia tidak mau mengabaikan darah dagingnya sendiri.


Radit menoleh ke arah Vina sekilas. Vina dan Tini yang duduk bersebelahan di sofa ruang tamu itu masih bercerita tentang kampus. Tini menyemangati Vina untuk kembali ke kampus bahkan sampai memberi contoh tentang Sinta dulu. Vina mengangguk setuju dengan usulan Tini tersebut. Awalnya dia berencana untuk mengambil cuti.


"Jadi bagaimana Radit, siapa yang akan menggugat dan siapa yang akan tergugat dalam perceraian kalian ini. Aku rasa lebih baik Vina yang menggugat. Aku berharap kamu membantu kami untuk mempermudah proses perceraian ini," kata papa Rahmat tenang. Radit terlebih dahulu menoleh ke Vina kemudian menoleh ke papa mertuanya. Tanpa basa basi dia langsung diserang dengan pertanyaan yang tidak diduganya sama sekali.


"Pa, aku ras....,"


"Jangan panggil aku papa lagi," potong papa Hendrik marah.


"Aku tidak akan menceraikan Vina sebelum anak itu lahir," jawab Radit lantang. Vina mendongak. Vina menatap Radit tajam. Kebencian itu kembali muncul. Dadanya sudah naik turun karena menahan marah. Tini yang duduk di sampingnya berusaha menenangkan Vina. Tini pun sebenarnya ingin memaki Radit saat ini juga. Tapi dia sadar, ini sudah menyangkut pembicaraan antar keluarga. Karena kedua orang tua Vina berada di situ.


"Tapi aku ingin kamu menceraikan putri aku sekarang juga," jawab papa Hendrik tegas.

__ADS_1


"Aku tidak akan melakukan itu. Apapun yang terjadi Vina akan tetap kembali ke rumah aku. Dia istriku dan sedang mengandung anakku. Kalau perceraian yang kalian inginkan. Itu akan terjadi jika anak itu lahir," jawab Radit tidak kalah tegas. Vina kini melemas. Kembali ke rumah Radit itu artinya penderitaan akan berlanjut. Tini semakin geram dengan tingkah Radit.


"Baiklah, jika perceraian itu harus terjadi setelah anak yang dikandung Vina lahir. Vina akan tetap di rumah ini," kata Hendrik mengalah. Biarlah mereka tidak jadi bercerai. Tetapi Vina tinggal di rumahnya itu akan lebih aman bagi Vina.


"Tidak bisa seperti itu. Vina akan tetap kembali ke rumah aku. Dia adalah tanggung jawabku," jawab Radit lagi. Papa Hendrik seperti kehilangan kata kata menghadapi keras kepalanya Radit. Vina menatap Radit sinis. Radit berbicara tanggungjawab, dia lupa. Tiga bulan hidup menikah dengan Vina. Sepeserpun tidak pernah sampai ke tangan Vina sebagai bentuk pertanggungjawabannya.


"Hei banci kaleng. Jangan maksa gitu donk. Sudah tidak diinginkan lagi sebagai menantu masih saja ngotot membawa Vina," kata Tini marah. Sejak tadi menahan kesal dan marah. Melihat keras kepala Radit akhirnya kemarahan Tini meledak juga.


"Diam kamu manusia setengah pria, ini urusan keluarga," jawab Radit sewot.


"Bro, kalau ngomong sama Tini jangan gitu donk. Dia wanita asli. Tini menyebut kamu sebagai banci kaleng karena ada sebabnya. Aku rasa kamu tahu itu," kata Sean yang tidak suka mendengar kekasihnya di sebut wanita setengah pria.


"Kak Sean sudah. Jangan berdebat lagi. Radit, kalau keinginan kamu kita bercerai setelah anak ini lahir, baiklah aku setuju. Tapi satu permintaanku, tolong biarkan aku tinggal di rumah ini selama mengandung. Tapi aku lebih setuju bila secepatnya kita bercerai," kata Vina mengalah. Dia terpaksa berbicara kepada Radit hanya untuk meminta tinggal di rumah orangtuanya.


"Tidak bisa Vina. Kamu harus kembali ke rumah aku,"


"Tapi aku tidak bisa Radit,"


"Terjadi sesuatu kepada calon anakku. Aku akan menuntut kalian bertiga. Jadi tidak ada alasan untuk kamu untuk tinggal di sini. Aku juga akan membuat keributan di sini," ancam Radit. Vina membulatkan matanya tidak percaya dengan ancaman Radit.


"Gila kamu Radit," kata Vina penuh dengan kebencian.


"Aku memang gila. Kamu sudah melihat kegilaan aku sebelumnya. Aku akan melakukan lebih gila lebih dari sini jika kamu masih ngotot untuk tinggal di sini. Aku tidak main main. Kamu mendapatkan kegilaan aku karena kamu tidak bisa aku ingatkan," kata Radit tajam. Vina terdiam. Radit sampai dua kali memperkosa Vina karena memang benar Vina selalu membantah. Pertama, Vina berusaha kabur dan kedua karena Vina terlalu ikut campur urusan Radit dengan Donna. Vina tidak ingin lagi melihat Radit menjadi gila seperti sebelumnya. Apalagi jika Radit gila di rumahnya sendiri. Hal itu akan membuat keluarganya menjadi malu.


"Baiklah. Aku bersedia ikut dengan kamu. Tapi dengan syarat. Di depan kedua orang tua aku, kak Sean dan Tini, kamu harus berjanji tidak menyakiti aku apapun bentuknya. Dan aku tidak mau tidur satu kamar dengan aku," kata Vina akhirnya. Lebih baik mengalah daripada harus melihat kegilaan Radit yang bisa saja semakin menggila. Radit mengangguk.


Radit berjanji di saksikan empat orang itu. Tini bahkan memvideokan Radit ketika berjanji. Papa Hendrik dan istrinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahan Vina lagi. Mereka pasrah akan keputusan Vina yang terpaksa.


"Satu lagi Radit. Aku tidak mau satu mobil dengan kamu. Biarkan kak Sean dan Tini mengantar aku ke rumah kamu itu," kata Vina sinis. Tini langsung mengangguk setuju. Andaikan pendapatnya dibutuhkan. Tini pasti mengatakan tidak setuju kalau Vina harus kembali ke rumah Radit.

__ADS_1


"Terserah kamu mau naik apa ke sana. Yang penting kamu kembali ke rumah aku," kata Radit dan beranjak dari duduknya.


__ADS_2