
"Sudah siap," tanya Andre ketika Sinta sudah masuk ke rumah. Cukup lama Sinta berbicara dengan adiknya. Sinta duduk di ruang tamu dan menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Sudah mas,"
"Apa semuanya baik baik saja," tanya Andre lagi. Sinta hanya mengangguk. Sinta melihat Airia yang duduk di bangku bayi dan sudah mandi. Wajah dan leher penuh dengan bedak bayi yang belepotan. Sinta beranjak dari duduknya dan mendekat ke Airia. Sinta merapikan bedak Airia.
"Maaf, tadi dia aktif bergerak jadi bedaknya seperti itu," kata Andre. Sinta hanya tersenyum. Andre menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Melihat Sinta hanya tersenyum membuatnya menjadi kikuk.
"Titip Airia sebentar mas, aku mau mandi dulu," kata Sinta. Andre mengangguk senang. Sinta mau berbicara dengannya membuat Andre seperti mendapat keberuntungan. Andre memandang punggung Sinta sambil tersenyum. Andre mengangkat Airia dan membawanya ke dapur. Mendudukkan Airia di lantai dengan berbagai mainan sedangkan Andre membuka kulkas. Andre akan memasak untuk makan malam mereka.
Cukup lama Sinta di kamar mandi, entah apa yang dilakukannya. Andre sedikit heran dan sudah selesai memasak untuk makan malam mereka tapi Sinta belum kunjung keluar dari kamar.
"Sinta...." panggil Andre sambil mengetuk pintu kamar. Andre juga berniat mau mandi. Badannya sudah sangat gerah. Sinta tidak kunjung membuka pintu kamar. Bahkan Sinta tidak menjawab panggilan Andre.
"Sinta.. "
"Ya mas. Sebentar," jawab Sinta dari dalam. Andre kembali duduk di sofa sambil memangku Airia.
"Aku mau mandi sebentar, kamu jagain Airia ya. Aku sudah memasak untuk makan malam kita. Kita makan malam bersama," kata Andre. Dia memberikan Airia ke tangan Sinta tetapi Airia tidak mau pindah dari tangan Andre. Bahkan bayi itu menangis.
"Mandi saja mas, dia hanya menangis sebentar,"
"Tapi aku tidak tega melihat dia menangis,"
"Ya sudah, tidak perlu mandi,"
"Ya juga ya!. Toh tidak ada yang menemani tidur malam ini. Kita makan yuk!" jawab Andre asal. Sinta terkejut mendengar jawaban Andre. Memang mereka tidak tidur bersama. Perkataan Andre menimbulkan banyak tanda tanya di benak Sinta.
"Enak tidak?" tanya Andre ketika mereka makan malam. Andre sengaja memasak makanan kesukaan Sinta. Andre ingin memulai hubungan mereka dengan membuat Sinta nyaman terlebih dahulu dengan dirinya.
"Enak mas," jawab Sinta pelan. Jujur masakan ini adalah masakan yang sangat disukai Sinta. Dulu waktu sebelum bercerai Andre sangat sering memasak untuk mereka. Dan ini adalah makanan yang paling disukainya. Jawaban Sinta yang singkat membuat Andre tidak bertanya lebih banyak lagi. Mereka akhirnya makan dalam diam. Kecanggungan itu masih jelas terasa.
"Sinta, boleh kita berbicara?" tanya Andre setelah mereka selesai makan. Sinta heran dan akhirnya mengangguk.
__ADS_1
"Aku akan mencuci piring. Kamu menidurkan baby Airia saja," kata Andre lagi. Sinta tanpa menjawab membuat susu untuk Airia dan membawanya masuk ke kamar.
Sinta keluar dari kamar setelah baby Airia tidur. Dia melihat Andre sudah duduk di sofa dan bahkan sudah selesai mandi. Sinta duduk dihadapan Andre. Banyak pertanyaan di pikirannya tentang apa yang akan dibicarakan Andre malam ini. Sedangkan Andre juga masih diam. Dia tidak tahu memulai dari mana untuk berbicara dengan Sinta.
"Berbicaralah mas," kata Sinta setelah menghembuskan nafas. Segala kemungkinan baik dan buruk yang akan dibicarakan Andre malam ini, Sinta akan berterima.
"Sinta, Boleh aku meminta sesuatu?" tanya Andre membuat Sinta menduga yang tidak tidak. Dia menatap Andre kemudian berkata.
"Apa yang kamu minta mas, aku akan harus tahu dulu baru bisa mengiyakan pertanyaan kamu,"
"Aku ingin kita memulai hubungan kita dari awal Sinta," kata Andre sambil menatap Sinta.
"Apa kamu tidak merasa setelah rujuk ini tidak memulai dari awal?" tanya Sinta heran dan kecewa. Benar dugaannya bahwa Andre masih sama sekali tidak ada rasa untuknya. Mereka sudah menikah hampir dua Minggu, tetapi baru hari ini Andre memintanya memulai dari awal.
"Maksud aku, kita menjalani hubungan ini seperti hubungan suami istri lainnya,"
"Hubungan suami istri yang seperti apa maksud kamu mas?"
"Itu sangat sulit mas, kamu mempunyai dua istri dan tidak saling akur. Bagaimana kamu bisa menjalani rumah tangga seperti yang kamu inginkan,"
"Aku sudah menceraikan Cindy. Hanya kamu istri aku," kata Andre membuat Sinta terkejut.
"Cerai. Tapi kenapa?. Kamu sangat mencintainya mas. Kenapa sampai kalian bisa bercerai?" tanya Sinta heran dan penasaran. Andre menunduk.
"Dia berselingkuh dan aku menangkap basah mereka di rumah," jawab Andre pelan. Dia merasa malu untuk bercerita ke Sinta. Cepat atau lambat Sinta akan mengetahuinya dan menurut Andre akan lebih bagus bila Sinta mengetahuinya dari mulut Andre.
"Kasihan sekali kamu mas, gimana rasanya mas?" tanya Sinta dengan senyum mengejek. Andre dapat merasakan tatapan mengejek dari Sinta tetapi dia tidak sakit hati.
"Dan Alexa juga bukan putri kandung aku," kata Andre lagi tanpa menjawab pertanyaan Sinta. Sinta kembali terkejut dan terkekeh.
"Miris ya mas, demi mereka kamu bahkan membuang aku dan Airia sewaktu di kandungan tapi kenyataannya sangat mengejutkan. Kamu hanya menjaga yang bukan milik kamu," jawab Sinta. Bagaimanapun mendengar perkataan Andre. Sinta kembali merasakan sakit hati. Andre yang dulu memuja dan sangat menjaga perasaan Cindy ternyata mengandung bukan benih Andre. Sedangkan dia yang mengandung darah daging Andre dibuang dan tidak dianggap.
"Maaf, maafkan aku Sinta. Aku memang bodoh dan bisa ditipu Cindy. Aku berjanji hanya kamu dan Airia yang akan menjadi prioritas ku,"
__ADS_1
"Mas, aku sudah memaafkan mu tetapi untuk percaya kepada kamu sangatlah sulit. Aku adalah istri pertama mu. Kemudian ada Cindy. Dan untuk kedepannya mungkin akan muncul Cindy Cindy yang lain," jawab Sinta sedih. Andre meminta memulai dari awal dengan dirinya karena Cindy ketahuan berselingkuh. Seandainya Cindy tidak berselingkuh, Sinta mungkin masih tetap tidak dianggap. Andre belum sepenuhnya miliknya. Sinta sadar bahwa Andre belum ada rasa sama sekali untuknya.
"Aku berjanjilah Sinta, aku mohon. Tolong percaya kepada aku kali ini saja."
Sinta menatap Andre. Andre juga menatap Sinta. Tatapan memohon dari Andre tidak langsung membuat Sinta luluh.
"Apa rasa cinta itu tidak ada lagi untuk aku," tanya Andre lagi dan membuat Sinta menunduk. Rasa cinta itu jelas ada, tapi Sinta sudah bertekad dalam hati tidak akan menunjukkan rasa cinta itu jika Andre juga belum mencintainya.
"Entahlah mas, aku juga tidak tahu. Saat ini yang aku pikirkan hanya Airia," jawab Sinta menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Andre berdiri dari duduknya dan kembali duduk di samping Sinta. Sinta jadi gugup. Setelah sekian lama, ini pertama kali mereka duduk berdekatan dengan kulit yang saling menempel. Sinta seketika bergeser tetapi Andre juga ikut bergeser sehingga mereka bisa dikatakan mereka tidak berjarak.
Andre sama sekali tidak perduli ketika Sinta mendorong tubuhnya. Di pikirannya bagaimana Sinta tidak pergi darinya. Mendengar semua perkataan Sinta tadi, Andre yakin Sinta tidak mencintai dia lagi.
"Minggir mas," kata Sinta sambil mendorong tubuh Andre. Jantungnya juga berdegup kencang melihat Andre yang tersenyum kepadanya.
"Tidak mau," jawab Andre sambil menangkap kedua tangan Sinta. Andre seketika memeluk Sinta. Mendekapnya erat walau Sinta meronta ingin lepas dari Andre.
"Diam, kalau kamu tidak mau diam. Aku akan mencium kamu," kata Andre sambil tersenyum. Sinta tidak begitu mendengar perkataan Andre. Sinta terus berusaha melepaskan diri dari Andre. Andre langsung mencium bibir Sinta membuat Sinta terkejut dan melotot. Demi apapun rasa itu kembali muncul, tapi Sinta tidak mau lengah. Dia terus memukul badan Andre.
"Jangan istri durhaka," kata Andre melepaskan ciumannya. Tapi hanya sebentar. Ketika Sinta lengah Andre kembali mencium Sinta dengan rakus. Sinta tidak berdaya. Walau tidak membalas ciuman Andre tapi Sinta tidak meronta lagi.
Andre tentu saja senang. Melihat Sinta yang sudah tidak meronta lagi. Dia semakin bersemangat, beberapa bulan tidak bercinta membuat inti tubuhnya mengembang. Selain itu Andre juga berharap Sinta secepatnya hamil lagi, supaya Sinta tidak ada alasan pergi darinya.
"Cukup sampai di sini mas," kata Sinta ketika Andre melepaskan ciumannya dan membuka bajunya. Andre mencampakkan baju itu asal dan hendak menurunkan celananya.
"Kenapa?. Kita pasangan halal tidak berdosa jika melakukan hubungan suami istri," jawab Andre. Matanya sudah berkabut dengan suara yang serak akibat gairah yang sudah di ubun ubun.
"Kata kak Andi. Kamu harus periksa kesehatan terlebih dahulu. Cindy bermain dengan laki laki lain. Dan laki laki itu kita tidak tahu bermain dengan siapa saja. Jadi menurut kak Andi, sebelum melakukan itu dengan aku. Kamu harus periksa kesehatan kelamin terlebih dahulu. Aku pun tidak mau mati konyol dengan penyakit seperti itu," kata Sinta pelan. Dia menyembunyikan senyum di wajahnya melihat Andre yang langsung lemas. Bahkan yang tadi terlihat menonjol sudah tidak terlihat lagi. Andre menarik nafas panjang. Keinginannya untuk bongkar oli gagal sudah akibat ulah kakaknya.
"Baiklah, aku akan periksa kesehatan besok," kata Andre akhirnya. Dengan lesu dia mengambil bajunya dan mengenakannya. Walau hatinya kesal dengan Andi, tetapi dia juga setuju dengan apa yang disarankan Andi lewat Sinta. Dia juga tidak mau Sinta kena getahnya jika penyakit itu ada. Sinta menunduk dan tersenyum. Sinta merasa geli melihat Andre yang sekarang dibandingkan tadi yang menggebu mencium dan menggerayangi tubuhnya.
"Aku tidur di kamar kamu ya," pinta Andre dengan wajah memelas.
"Terserah kamu mas," jawab Sinta pelan. Andre adalah suaminya. Untuk menolak sudah pasti dosa. Sinta berjalan menuju kamar Andre seketika mengikutinya. Andre takut Sinta mengunci pintu kamar sebelum dia masuk.
__ADS_1