
Andre semakin kesal. Andi yang tadi mengajak pulang malah masih asyik bertanya ini itu ke Sinta. Berkali kali dia melirik Andi. Kakaknya itu benar benar tidak mengerti dengan situasi yang dihadapi Andre. Bahkan Bayu dan yang lainnya semakin akrab berbicara dengan Sinta. Andre juga berpikir bagaimana Sinta bisa mengenal Bella.
Sinta dengan tanpa beban berbicara dengan keluarga mantan suaminya. Tak jarang Sinta tertawa mendengar candaan Andi. Untuk menutupi kegugupannya, Andre sengaja membelakangi semua orang yang duduk di sofa.
Semua mata teralihkan ke arah suara yang mengucapkan salam. Sean, sahabat Andre berdiri di pintu dengan sebuah kado di tangannya. Sean mendekat ke Andre, dan menyerahkan kado kecil itu ke Andre. Kado untuk putri Andre tepatnya.
Sean menunduk hormat ke papa Rahmat dan mama Ningsih. Dan untuk yang lain Sean hanya tersenyum. Sean kemudian menarik kursi yang kosong ke dekat Andre, kemudian mendudukinya.
"Selamat bro, dah jadi orang tua sekarang," ucap Sean sambil menepuk lengan Andre. Andre hanya tersenyum mengangguk. Kedatangan Sean sedikit mengalihkan keresahan Andre tentang keberadaan Sinta di ruangan itu.
Obrolan di ruangan itu terhenti karena seorang perawat mendorong tempat tidur bayi. Kenzo dan Rey cepat menghampiri tempat tidur bayi yang diletakan di dekat bed Cindy. Andre yang sudah berdiri, membungkukkan badannya mengelus putrinya. Begitu juga Mama Ningsih dengan wajah berbinar wanita tua itu mendekat ke tempat tidur bayi dan mengelus pipi cucu perempuan pertamanya. Yang lainnya masih santai di tempat duduk masing masing.
"Tante, nanti adik bayi lahir seperti ini juga ya," tanya Rey yang hanya dijawab Sinta dengan anggukan. Sean mengarahkan matanya ke Sinta. Seketika dia ingat, perempuan yang bersama Andre di depan kafe melati dan di stasiun. Ingatan Sean tidak memudar, walau Sinta sekarang gemuk dan pipinya tembem, Sean yakin bahwa Sinta orang yang sama yang dilihatnya bersama Andre.
"Andre, dia kan wanita yang bersamamu waktu di depan kafe melati dan stasiun?" tanya Sean penasaran. Andre gelagapan tidak tahu mau menjawab apa.
Deg
Sinta juga tidak kalah terkejutnya mendengar pertanyaan Sean. Tangannya saling meremas menutupi kegugupannya. Sinta juga sudah merasakan takut, jangan sampai keluarga Andre mengetahui bahwa dia pernah istri simpanan Andre. Bagaimanapun yang namanya simpanan pasti mendapat penilaian negatif.
"Bukan, bukan dia orangnya yang kamu lihat itu," jawab Andre berbohong. Dia tidak mau keluarganya curiga jika dia mengiyakan pertanyaan Sean. Sinta juga merasa lega, jawaban Andre lebih bagus daripada keluarga Andre mengetahui statusnya. Agnes yang masih memperhatikan Andre sedikit merasa janggal. Sean kembali mengamati Sinta. Dia yakin bahwa Andre berbohong.
"Pa, Ma. Bentar lagi jam besuk habis dan aku juga mau berbaring sebentar." kata Andre kepada kedua orangtuanya. Andre sengaja mengusir mereka secara halus. Berlama lama bersama Sinta di ruangan yang sama membuat Andre bagaikan cacing kepanasan.
"Oke bro, kalau begitu aku juga pamit," kata Sean beranjak dari duduknya. Yang lain juga ikutan berdiri. Walau cara Andre halus, mereka paham Andre tidak menginginkan mereka di ruangan itu.
"Kak Sean, arah rumah Kakak dengan Sinta sepertinya searah deh. Sinta sama kakak aja pulangnya ya!" kata Agnes kemudian menyebutkan alamat Sinta.
"Sebenarnya sih gak apa apa. Cuma takutnya, nanti suaminya salah paham kalau kakak yang antar pulang," jawab Sean
"Tenang aja kak, Sinta sudah bercerai. Jadi tidak akan ada yang melarang atau marah." Mendengar ucapan Agnes, Sean kembali mengamati Sinta. Benar, Sinta lah yang dilihatnya ketika bersama Andre. Kemudian Sean kembali melihat Andre. Pria itu berpura pura menunduk melihat bayinya.
__ADS_1
"Agnes, aku naik taksi online saja. Ga apa apa," kata Sinta. Dia pun merasa tidak enak kalau harus menumpang dengan orang yang baru dilihatnya.
"Sinta, kamu sama Sean aja. Kamu aman bersamanya," kata Andi. Sinta melihat Bella, Bella mengangguk setuju.
Mereka semua keluar dari ruangan Cindy, kecuali Agnes. Dengan santai Agnes duduk kembali di sofa. Dia sudah minta izin ke mama Ningsih untuk pulang belakangan. Itulah alasannya Agnes meminta Sean mengantar Sinta pulang.
"Agnes, kamu tidak ikut pulang?" tanya Andre. Agnes hanya menggeleng kepala kemudian fokus ke ponselnya.
"Kak, aku mau bicara. Kita keluar sebentar,"
"Tidak bisa Agnes, tidak ada yang menjaga Cindy,"
"Kita hanya ke luar ruangan bukan ke luar dari rumah sakit. Tidak sampai sepuluh menit," kata Agnes. Agnes sudah berdiri dan menarik tangan Andre keluar. Cindy tidak begitu perduli. Dia asyik memandangi bayinya.
"Kak, katakan kamu mengenal Sinta," tanya Agnes setelah menarik tangan Andre menjauh dari depan ruangan Cindy.
"Apaan sih dek, aku...aku tidak mengenalnya," jawab Andre sedikit gugup membuat Agnes semakin curiga.
"Kamu jangan ngawur Agnes, jangan menuduh sembarangan. Kakak mau, kamu pulang sekarang," jawab Andre marah kemudian berlalu dari hadapan Agnes.
****
Di mobil, Sinta merasa sungkan dengan Sean. Baru bertemu dan langsung duduk berdua di dalam mobil membuat wanita hamil itu merasa canggung.
"Siapa tadi namamu?, Sinta ya!" tanya Sean. Sinta hanya mengangguk.
"Benar kamu sudah bercerai?" tanya Sean lagi. Sinta kembali mengangguk
"Berapa usia kandungan mu?" tanya Sean supaya Sinta tidak hanya mengangguk menjawab pertanyaannya.
"Tujuh bulan," jawab Sinta singkat.
__ADS_1
"Tidak perlu sungkan, kamu boleh memanggil aku seperti Agnes," kata Sean yang tahu bahwa Sinta canggung.
"Makasih kak," kata Sinta memalingkan wajahnya ke arah Sean bersamaan Sean yang mau menatap Sinta.
Deg
Sean terpana dengan tatapan Sinta. Tatapan teduh Sinta membuat jantung Sean berdebar. Sinta kembali melihat lurus ke depan. Sean dengan hatinya yang masih berdebar kembali fokus ke setir.
Sean kembali mengingat pertama kali dia bertanya ke Andre tentang Sinta. Kala itu Andre mengatakannya sudah menikah dan tadi di ruangan Andre mengatakan bahwa bukan Sinta yang dilihat di depan kafe melati.
"Sinta, bagaimana kamu mengenal mereka?" tanya Sean penasaran.
"Mereka siapa kak?"
"Andre dan keluarganya." Sinta terdiam. Sinta tidak tahu mau menjawab apa, takut jawabannya membuat Sean curiga. Apalagi Sean adalah sahabat Andre. Sinta masih ingat betul perjanjiannya dengan Andre.
"Aku bekerja di cafe mbak Bella. Aku hanya mengenal mbak Bella dan Agnes. Yang lain baru kenal tadi," jawab Sinta pelan. Mendengar jawaban Sinta, Sean yakin bahwa Andre dan Sinta sama sama menyembunyikan sesuatu.
"Keadaan seperti ini, kamu masih bekerja?" tanya Sean dengan suara meninggi. Dia merasa kasihan dan tidak tega mendengar Sinta yang masih bekerja dengan perut membuncit. Sinta kembali menunduk. Sean bahkan mengumpat dalam hatinya, mengumpat laki laki mantan suami Sinta.
"Kak, aku turun di depan swalayan itu saja," kata Sinta menunjuk swalayan yang hampir dekat.
"Kenapa turun di situ. Aku bisa mengantarmu sampai depan rumahmu,"
"Di situ saja kak, tidak enak kalau sampai depan rumah. Bisa bisa tetangga bergosip dan menebar fitnah," jawab Sinta. Sean membenarkan perkataan Sinta, kemudian menghentikan mobilnya.
"Makasih kak,"
"Tunggu, jangan makasih doang. Nih, tulis nomor ponselmu di sini," kata Sean menyerahkan ponselnya ke Sinta. Sinta sedikit ragu tapi kemudian mengambil ponsel itu dari tangan Sean dan menuliskan nomor ponselnya.
"Bentar," kata Sean lagi ketika Sinta hendak turun. Ponsel Sinta berdering.
__ADS_1
"Itu nomor ponselku, disimpan ya!. Sinta hanya mengangguk dan menurunkan kedua kakinya dari mobil.