Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Tidak ada Kesempatan Kedua


__ADS_3

Seperti perintah mertuanya, Radit memainkan ponselnya. Bukan bermain game tetapi berbalas chat dengan sahabatnya Andre. Andre bercerita tentang kegiatannya di kampung mertuanya. Andre dan Radit memang sama sama di rumah mertua masing masing. Bedanya, Andre memperjuangkan restu mertuanya. Sedangkan Radit hanya ingin mencapai keinginannya sendiri.


"Apa itu," pesan Radit ke Andre ketika mengirim gambar batu bata, semen dan pasir,"


"Bahan bangunan lah. Masa emas," balas Andre dengan di bumbui emotion tertawa. Radit membacanya pesan sambil mengernyitkan kening.


"Kamu bangun rumah bro?"


"Hanya merenovasi rumah mertua bro. Dimana posisi?"


"Aku di rumah Vina. Vina sudah dijemput orangtuanya," balas Radit. Setelah membalas pesan itu. Radit mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah. Hanya dia yang berada di rumah tamu itu.


"Loh, ada masalah lagi?"


"Mereka ngotot bawa Vina pulang, dan mengembalikan uang yang pernah mereka terima sewaktu perjodohan itu." Setelah mengirim pesan itu. Radit mengacak rambutnya sendiri. Setiap mengingat uang itu, perkataan Vina selalu berputar putar di kepalanya.


"Kasihan Vina Radit. Tapi aku bisa maklum orangtuanya berbuat seperti itu. Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya menderita. Aku melihat Airia saja menangis, hatiku juga ikut menangis. Selanjutnya, bagaimana rencana bro?"


"Belum tahu. Kita lihat saja nantinya bagaimana. Aku juga blank ini bro. Vina hamil kembar tiga,"


"Wah, tidak tanggung tanggung ya bro. Saran aku jangan sampai bercerai. Kalau belum bisa mencintai Vina, setidaknya berusahalah menghargainya. Jangan gegabah, dengan menghadirkan orang ketiga di hubungan kalian. Dan kalau boleh sifat angkuh dan tidak bisa dibantah itu dikurangi. Karena tidak semua yang kamu anggap baik, bagi orang lain baik. Termasuk bagi istri sendiri. Itu pun kalau kamu menganggap Vina sebagai istri kamu,"


"Banyak ceramah kamu. Seperti tidak pernah berbuat dosa saja," balas Radit kesal. Emotion marah ikut menyertai pesan yang sudah centang biru itu.


"Setiap orang berbuat dosa Radit. Tapi tidak semua bisa keluar dari dosa tersebut. Aku pribadi akan berusaha tidak berbuat dosa yang sama yang akan menyakiti istriku. Bercinta dengan istri halal itu lebih nikmat bro daripada bercinta dengan para wanita malam," balas Andre menyindir Radit.


"Sok tahu kamu,"


"Ya tahulah, tahu kamu Cindy. Ternyata dia juga wanita malam. Membayangkan banyak tubuh yang menyentuh tubuhnya. Membuat aku merasa jijik ke diri aku sendiri,"


"Jadi kamu baru tahu,"


"Memang kamu sudah tahu?"


"Baru tahu, barusan dari kamu," balas Radit sambil terkekeh. Dia membayangkan sahabatnya itu kesal membaca pesannya.


Setelah mengirimkan pesan itu. Radit tidak lagi mendapat balasan. Pesan itu sudah centang biru tapi Andre sudah offline. Radit meletakkan ponsel itu meja dan melirik jam tangannya. Radit bisa memperkirakan kedua orangtuanya akan tiba lebih kurang tiga puluh menit lagi.


Radit merasakan tenggorokannya kering. Sejak tadi duduk di sofa itu, dirinya tidak ditawari minum. Dan juga dia dibiarkan sendiri di situ menunggu orangtuanya. Radit hendak melangkah keluar, tetapi baru ingat bahwa dia membawa motor.


"Om, boleh minta minum," kata Radit ketika dilihatnya Hendrik keluar dari kamar.


"Kamu haus?"


"Iya om,"


"Ambil di sana. Kalau mau makan juga boleh," jawab Hendrik datar. Dia menunjuk ke salah satu ruangan. Radit melangkah ke ruangan tersebut dan segera mengambil air minum.


"Sebenarnya, bisa saja aku tega melihat kamu kehausan. Tapi aku sadar, binatang juga perlu dikasihani," kata Hendrik yang tiba tiba muncul di pintu. Radit yang masih menghabiskan setengah gelas air putih spontan menjauhkan

__ADS_1


gelas itu dari bibirnya.


"Maksud om aku binatang?" tanya Radit dengan suara yang lumayan tinggi.


" Apa aku berkata seperti itu?. Aku hanya bilang binatang juga perlu dikasihani. Tapi kalau kamu beranggapan seperti itu, ya terserah!. Pelan kan volume. Vina tidur. Dia harus banyak istirahat," jawab Hendrik sambil berlalu dari ruangan itu. Radit memegang gelas itu dengan erat sebagai pelampiasan dari amarahnya.


Hendrik melangkah menuju pintu. Dia tersenyum melihat wajah kesal menantunya. Baginya itu tidak seberapa dengan sakit hatinya dan penderitaan Vina. Hendrik membuka pintu lebar-lebar untuk besannya. Setelah bersalaman. Keduanya duduk di sofa. Saling bertanya kabar masing masing dan bercanda sebelum masuk ke topik serius. Jack papanya Radit belum mengetahui apa maksud Hendrik menyuruhnya ke rumah ini. Sedangkan mamanya Radit tidak bisa ikut karena dalam keadaan sakit.


"Mana dia pak Hendrik," tanya Jack papanya Radit.


"Vina sedang istirahat sedangkan Radit tadi aku lihat di ruang makan," jawab Hendrik datar. Melihat wajah cerah besannya, Hendrik merasa ragu untuk mengungkapkan masalah rumah tangga Vina dan Radit. Perjodohan ini diawali niat baik tapi karena kelakuan Radit, nasib pernikahan putrinya menjadi samar samar.


Tanpa dipanggil, Radit menghampiri Jack dan Hendrik. Dia tidak menyapa ayahnya sama sekali. Radit duduk di sofa tunggal sementara Jack dan Hendrik duduk berhadapan. Hendrik menarik nafas panjang. Dia tahu, masalah ini pasti akan mengejutkan besannya.


"Vina masih istirahat?. Tolong panggilkan dia. Papa juga rindu melihat mantuku yang baik itu," kata Jack sambil menggerakkan kepalanya menyuruh Radit untuk memanggil Vina. Radit terkejut dan bingung. Dia menoleh sebentar ke Hendrik dan hendak berdiri.


"Duduk saja Radit. Biar aku saja yang panggil," kata Hendrik cepat. Radit terlihat kecewa, Hendrik tidak memperdulikannya. Hendrik segera beranjak menuju kamar.


Jack tersenyum manis melihat menantunya. Tanpa diberitahu, Jack yakin Vina hamil. Walau Vina tidak gemuk. Tapi perutnya sudah sedikit menonjol. Wajah Jack semakin cerah dan bibirnya tidak berhenti tersenyum.


Jack menerima uluran tangan Vina dengan tersenyum. Jack menyuruh Vina duduk di sampingnya. Kemudian dia berdiri dan menyuruh Radit duduk di tempat duduknya tadi. Sedangkan Jack duduk di sofa tunggal yang diduduki Radit tadi. Radit menoleh sekilas ke Vina.


"Vina hamil pa, kembar tiga," kata Radit dengan sorot mata berbinar, kemudian sorot mata itu meredup mengingat perkataan Hendrik sebelum papanya datang. Jack terkejut bercampur bahagia. Dugaannya tepat untuk saat ini. Menantunya sudah hamil dan kembar tiga, tinggal hitung bulan. Statusnya akan bertambah menjadi seorang kakek.


"Mama pasti senang mendengar kabar baik ini nak. Papa tidak menyangka, kalian mendapat anugerah secepat ini," jawab Jack sambil tersenyum. Dia memajukan tubuhnya dan mengulurkan tangan ke Vina dan Radit.


"Pak Hendrik. Sebentar lagi kita akan menjadi kakek. Tiga lagi. Kalau semuanya laki laki. Pasti ada mirip aku, mirip kamu dan mirip papanya," kata Jack senang dan bercanda. Hendrik hanya membalas dengan mengangguk. Dia belum berniat untuk berbicara masalah yang sebenarnya. Dia ingin Radit lah yang mengungkapkan masalah tersebut.


Radit masih menunduk. Dia tidak kuasa melihat ayahnya yang terlampau senang. Dan tidak bisa membayangkan apa yang terjadi, jika papanya mengetahui masalah yang sebenarnya. Dia membiarkan papanya meluapkan rasa senangnya yang terus berbicara. Sedangkan Hendrik dan mamanya Vina hanya terlihat tersenyum menanggapi candaan Jack.


"Vina, jaga cucu papa baik baik ya. Apapun yang kamu inginkan jangan pernah menunda. Ibu hamil terkadang keinginannya aneh aneh dan harus segera dituruti. Ini, Papa kasih untuk memenuhi kebutuhan kamu pribadi. Jangan ambil dari jatah bulanan yang diberikan Radit. PINnya ulang tahun suamimu," kata Jack sambil menyodorkan ATM. Vina melihat papa mertuanya tanpa mengambil ATM tersebut. Mendengar perkataan papa mertuanya. Jelas Jack tidak mengetahui apa yang terjadi selama tiga bulan pernikahannya. Atau bisa saja Radit yang berbohong ke mertuanya.


"Ambil Vina," kata Jack lagi ketika melihat Vina masih diam. Jack meletakkan ATM tersebut di meja di hadapan Vina. Hendrikpun sebenarnya bingung dengan situasi seperti ini. Melihat rasa bahagia besannya. Hendrik jadi merasa tidak tega.


"Radit, kamu boleh cerita yang sejujurnya ke papa kamu," kata Hendrik sambil menatap Radit. Vina dan mamanya sudah sama sama meremas ujung baju masing masing. Sedangkan Radit masih saja menunduk.


"Cerita apa?" tanya Jack tenang.


"Papa, om Hendrik mengatakan aku tidak ada hak lagi untuk janin itu," kata Radit pelan. Jack hampir melompat dari tempat duduknya saking terkejut. Jack menatap Hendrik, Radit dan Vina bergantian.


"Maksudnya apa. Kalau ngomong yang jelas Radit. Kenapa kamu memanggil papa mertua kamu dengan sebutan om. Tidak sopan," kata Jack penasaran dan kesal ke Radit. Pikirannya sudah menduga yang tidak tidak. Tapi Jack mencoba untuk menahan diri dan menunggu penjelasan selanjutnya.


"Om Hendrik sudah mengembalikan uang yang pernah papa berikan ke dia sewaktu perjodohan itu," kata Radit pelan. Kemudian kembali menunduk. Jack terkejut dan semakin bingung. Dia menoleh ke Hendrik.


"Aku belum mengerti. Pak Hendrik saja yang menerangkan," kata Jack.


Jack mendengar dengan seksama apa saja yang keluar dari mulut Hendrik. Hendrik pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mulai dari pemerkosaan yang pertama Vina yang di hotel sampai dimana dirinya membawa Vina hari ini ke rumahnya. Jack terlihat sangat kecewa dan marah. Tetapi dia hanya masih diam dan berpikir. Sedangkan Vina, dia merasa malu. Andaikan Radit berpikiran dewasa dan bisa merubah diri mungkin pemerkosaan itu tidak seorang pun yang tahu.


"Aku setuju dengan apa yang dikatakan pak Hendrik. Kamu tidak punya hak lagi pada ketiga janin itu," kata Jack kecewa setelah meminta maaf kepada Hendrik dan keluarganya karena perbuatan putranya. Dia sungguh malu dan merasa tidak punya muka di hadapan Hendrik. Radit menatap wajah papanya.

__ADS_1


"Papa kok seperti itu?" tanya Radit keberatan.


"Maksud kamu seperti apa. Apa kamu membenarkan semua perbuatan kamu,"


"Papa, aku hanya ingin bertanggungjawab kepada ketiga janinku," jawab Radit ngotot.


"Hanya ketiga janin kamu. Terus Vina bagaimana. Dia yang susah payah mengandung sampai selemah ini. Apa kamu tidak memikirkan dia sedikitpun?. Kalau aku jadi pak Hendrik aku akan memenjarakan kamu. Tapi aku tidak salah memilih besan dan menantu. Tapi putraku yang tidak tahu bersyukur," kata Jack marah. Sebagai orang tua yang membesarkan Radit, Jack tahu apa yang menjadi keinginan Radit sekarang. Tentang urusan Vina. Jack tidak berani untuk mengambil keputusan. Radit dan Vina masih status suami istri. Jack bisa saja membujuk Hendrik untuk membawa Vina ke rumahnya. Tapi Jack tidak mau melakukan itu. Selain karena perbuatan Radit. Jack juga tidak ingin Vina semakin tersakiti.


Radit terdiam memikirkan kata kata papanya. Dia menoleh lagi ke Vina. Wanita itu tidak menampilkan ekspresi apapun. Wajahnya datar walau seperti tidak ada beban. Tapi hatinya siapa yang tahu. Vina berusaha untuk tidak sakit hati lagi setiap mendengar perkataan Radit.


"Ayo kita pulang," ajak Jack sambil beranjak dari duduknya.


"Papa," kata Radit cepat.


"Kalau kamu mau bertanggung jawab kepada janin kamu. Memohon lah kepada pak Hendrik. Aku tidak berani untuk mengambil keputusan apapun. Apapun keputusan pak Hendrik, aku setuju," kata Jack. Dia kemudian duduk kembali. Jauh di dalam hatinya Jack berharap Radit berubah dan Vina memberi kesempatan kedua kepada Radit.


Radit melihat ke papa mertuanya. Hendrik balik menatapnya tajam. Hendrik merasa bersyukur dengan keputusan besannya. Tidak menggunakan kekuasaannya untuk membawa Vina kembali. Karena Hendrik juga sadar. Secara hukum dan agama Vina masih istri Radit.


"Papa Hendrik, aku mohon. Ijinkan aku untuk bertanggung jawab kepada mereka," kata Radit akhirnya.


"Aku sudah bilang, jangan panggil aku papa lagi," bentak Hendrik tajam. Radit gugup. Vina yang ada di sampingnya juga takut mendengar bentakan papanya.


Jack melemas, melihat kemarahan Hendrik. Dia ragu Radit mendapat kesempatan.


"Sampai saat ini memang aku belum bisa mencintai Vina pa, tapi aku mohon. Biarkan aku mencoba belajar untuk menerimanya selama enam bulan ini. Jika aku masih menyakiti Vina. Aku pasrah apapun keputusan kalian," kata Radit pelan dan ngotot memanggil mertuanya dengan sebutan papa.


"Tidak ada. Kamu sudah melewatkan kesempatan keduamu. Vina tetap di sini dan jangan pernah mencoba mengganggunya. Maaf pak Jack. Aku tidak bisa memberi putramu kesempatan lagi. Demi cucu kita. Tolong hargai keputusanku," kata Hendrik mantap. Hendrik bersikukuh pada pendiriannya. Demi harga diri putrinya. Jika Radit dan Vina akhirnya menjadi keluarga yang bahagia. Hendrik ingin Radit berjuang untuk mendapatkan Vina dan ketiga janinnya.


"Baiklah pak Hendrik. Seperti yang aku katakan tadi. Aku mendukung keputusan kamu.Tentang semua biaya. Aku mohon terimalah ATM ini. Itu dari aku bukan dari Radit," jawab Jack sambil menunjukkan ATM yang masih terletak di atas meja.


"Maaf pak. Tolong dibawa kembali ATM nya. Aku tidak mau Radit mengatakan yang tidak tidak lagi karena kami menerima ATM itu. Demi harga diri kami. Tolong hargai keputusan aku yang ini juga," kata Hendrik sambil mengambil ATM tersebut. Dia menyerahkannya ke Jack. Jack tidak berdaya dan tidak sanggup untuk membujuk lagi. Dengan berat, dia menerima kembali ATM tersebut. Jack merasa dirinya benar benar seorang kakek yang buruk. Bukan karena ATM itu ditolak tapi karena merasa gagal mendidik Radit menjadi seorang pria yang bertanggungjawab.


"Radit, kamu sudah mendengar sendiri apa yang menjadi keputusan pak Hendrik. Aku akan mengawasi kamu. Jangan sampai kamu mengusik keluarga ini lagi. Pak Hendrik, kami pamit. Aku percaya kalian bisa menjaga Vina. Kalau butuh bantuan apapun. Aku siap 24 jam," kata Jack sambil berdiri. Dia menunduk hormat ke Hendrik dan istrinya.


"Vina, papa minta maaf," kata Jack sebelum berlalu dari ruang tamu itu. Vina hanya mengangguk.


"Ayo Radit," ajak Jack lagi. Radit menatap sekilas ke Hendrik kemudian menatap Vina agak lama. Vina memalingkan wajahnya dan langsung beranjak menuju kamar.


"Masuk ke mobil papa," bentak Jack ketika melihat Radit hendak naik ke motornya. Pria itu menurut. Dia paling takut kalau papanya sudah membentak.


"Kita ke praktek dokter spesialis kulit dan kelamin pak," kata Jack kepada supir pribadinya. Radit mengernyitkan keningnya karena bingung.


"Untuk apa kita ke sana papa?"


"Kamu perlu dikebiri Radit. Aku tidak perlu cucu dari wanita lain lagi. Dari Vina aku akan mendapatkan tiga cucu sekaligus. Setelah ini, terserah kamu mau mengoleksi wanita malam sebanyak apa pun terserah. Karena binatang seperti kamu, tidak layak disandingkan dengan wanita yang baik," kata Jack marah. Radit terdiam. Dia tidak mempunyai keberanian untuk membantah kata kata papanya lagi. Radit tahu papanya sudah marah besar.


"Papa, maaf," kata Radit akhirnya. Dia berusaha untuk meredam amarah papanya.


"Jangan sakiti Vina lagi Radit. Aku tidak ingin mendengar ada wanita lain yang akan masuk ke keluarga kita. Berhentilah bermain main dengan wanita malam. Kamu akan menjadi seorang ayah. Perbaiki dirimu nak," kata Jack pelan dan seperti putus asa.

__ADS_1


__ADS_2