
"Ayah, kita harus ke dokter sekarang," kata Vina khawatir. Mereka sudah di mobil baru saja keluar dari halaman rumah Sinta dan Andre. Mereka terpaksa pulang lebih cepat dari perkiraan mereka. Sebelumnya Andre dan Sinta berencana membuat acara khusus untuk para sahabat sampai menjelang malam. Tapi karena orang tua Sinta yang datang jam tiga tadi. Membuat rencana itu batal. Andre tidak enak hati melanjutkan acara itu sementara mertuanya baru tiba dan ini yang pertama datang ke rumah mereka. Akhirnya Radit dan yang lainnya memaklumi hal itu.
"Aku juga berpikiran seperti itu Bun. Perutku sudah terasa kembung ini," jawab Radit gelisah. Sejak tadi malam. Dia hanya buang air kecil satu kali tadi pagi. Itu pun sedikit. Dan tadi Andre dan Sean menyarankan untuk ke dokter saja dan jangan sampai menganggap sepele hal itu.
"Kita cari praktek dokter spesialis terdekat," kata Vina sambil mengetik di layar ponselnya. Setelah dapat. Vina menunjukkan alamat itu ke Radit.
"Aku takut Bun. Jika hasilnya nanti membuat aku kecewa,"
"Hasil kecewa seperti apa ayah. Jika tidak subur juga tidak apa apa kan. Kamu sudah mempunyai tiga putra putri. Ya anggap saja itu sebagai KB alami," jawab Vina santai sambil bermain dengan ponselnya. Radit tersenyum dalam hati. Perkataan Vina semakin membuka pintu lebar untuk kemajuan hubungan rumah tangga mereka.
"Selalu ada hikmah di setiap kejadian," gumam Radit pelan dan tersenyum.
"Maksud ayah?" tanya Vina heran. Walau Radit berkata pelan. Vina masih bisa mendengarnya. Radit spontan gugup.
"Maksud aku itu tadi Bun, acara kita dengan Andre dan yang lainnya batal. Hikmahnya sama Andre ya bisa bersama mertuanya," jawab Radit. Dia tidak perduli jika jawabannya nyambung dengan apa yang ditanyakan oleh Vina tadi. Vina memicingkan matanya. Jawaban yang tidak nyambung itu membuat Vina kembali berpikir arti dari gumaman Radit.
"Tapi aku rasa bukan itu maksud kamu yah. Kamu pasti mikir ke arah yang lain kan?"
"Tidak Bun. Tidak sama sekali," jawab Radit. Dia tidak ingin Vina mengetahui yang sebenarnya. Jika perkataan Vina tentang KB alami membuat Radit berpikiran jika Vina akan bersedia menjadi istri lahir batin untuknya dalam waktu dekat ini.
"Tadi Ronal menyapa kamu bun. Bicara apa tadi?" tanya Radit untuk mengalihkan pembicaraan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan yah. Aku tidak suka. Aku lebih suka kamu jujur daripada harus mengalihkan pembicaraan seperti ini," jawab Vina ketus.
"Iya. Baiklah aku jujur sekarang," kata Radit sambil menggaruk keningnya. Akhirnya Radit berterus terang tentang apa yang dipikirkannya. Vina mendengus kesal mendengar penuturan Radit. Benar kata Sinta tadi ketika mereka curhat curhatan. Setiap pria dewasa yang sudah pernah merasakan nikmatnya hubungan suami istri, hal itu menjadi kebutuhan utama bagi kaum pria. Sinta bahkan menyarankan Vina untuk tidak menolak jika Radit meminta haknya. Sebagai istri wajib untuk memenuhi kewajibannya. Dan menurut Sinta lagi sentuhan fisik dari istri bisa untuk mengikat suami semakin mencintai istrinya.
Flass back on
"Sinta, aku tidak menyangka kamu bisa hidup berbahagia seperti ini," kata Vina ketika mereka duduk berdua dengan Sinta terpisah dari para suami dan sahabat sahabat mereka.
__ADS_1
"Kamu jelas mengetahui kisah aku sejak hamil pertama Vin, kalian para sahabatku menjadi saksi penderitaan aku kala itu. Tapi aku rela berkorban untuk bisa di tahap seperti ini. Setelah aku pikir pikir. Mempunyai suami yang jahat di awal pernikahan kemudian berubah dan bertobat. Itu lebih bagus daripada mempunyai suami yang baik dan cinta diawal pernikahan tetapi kemudian selingkuh dan menyakiti. Bagaimana kamu dengan kak Radit. Melihat pakaian kalian. Aku menyimpulkan jika hubungan kalian pasti sudah ada kemajuan," kata Sinta sambil tersenyum.
"Aku hanya mencoba untuk memberi kesempatan kedua Sinta,"
"Itu bagus Vina. Memberi kesempatan kedua kepada kak Radit untuk berubah menjadi lebih baik dan bertanggung jawab. Aku rasa kak Radit tidak akan menyianyiakan
kesempatan ini. Tapi kamu juga harus menjalankan kewajiban kamu sebagai istri yang baik. Melayani suami lahir dan batin."
"Tapi aku belum bisa melakukan hal itu Sinta."
"Harus Vina. Kamu memang memberi kesempatan kepada kak Radit itu artinya bahwa kalian berdua harus berjuang bersama untuk mempertahankan rumah tangga kalian. Jika kamu menuntut kak Radit berubah. Tapi kamu tidak berjuang untuk mendukungnya. Percayalah hasilnya akan nol."
"Aku belum mencintainya."
"Sentuhannya yang akan membuat kamu mencintainya Vina," kata Sinta sambil terkekeh.
Sinta dan Vina tertawa bersama. Beberapa mata menoleh ke arah mereka. Dua sahabat itu masih saja berbincang seputar masalah rumah tangga.
"Percaya sama aku Vin, apa kamu mau di saat hati kamu sudah terbuka untuk berdamai dengan Takdir tapi wanita lain menawarkan tubuhnya ke suami kamu?"
"Tapi dia sudah berjanji tidak akan menuntut itu."
"Pria sebaik apapun. Jika terus digoda dan dirayu pasti akan tergoda. Ingat setan berkeliaran dimana mana. Jika kamu sudah memberikan yang terbaik untuk suami di ranjang dan di meja makan. Suamimu pasti akan mengingat pelayanan kamu ketika ada wanita lain yang merayunya. Percaya sama aku. Memberi kesempatan kedua jangan tanggung tanggung Vina. Sekali mandi harus basah sekalian Vina,"
"Aku masih ragu Sinta,"
"Sampai kapan kamu akan ragu. Pria yang sudah merasakan nikmatnya hubungan suami istri pasti akan selalu menginginkan itu. Dan itu adalah kebutuhan utamanya. Jangan karena kamu ragu. Kak Radit jadi bosan Vina. Untuk kebahagiaan kamu dan ketiga putra putrimu Vin, berkorban lah," kata Sinta langsung terdiam dan mengarahkan matanya ke arah samping Vina. Ronal menghampiri mereka berdua.
Flashback off
__ADS_1
Radit dan Vina sudah di ruangan dokter. Setelah menjalani pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lainnya. Dokter mengatakan jika tidak ada hal serius. Hanya ada infeksi ringan dan itu bisa diatasi dengan obat yang akan diberikan oleh dokter. Penjelasan dokter itu membuat Radit dan Vina merasa lega.
"Dokter, jadi ini masih bisa sembuh dan kembali seperti sebelumnya kan?" tanya Radit untuk memastikan pendengarannya.
"Iya pak. Obatnya diminum sampai habis ya!"
"Baik dokter. Apa kami perlu untuk datang Konsul lagi dokter?"
"Jika tidak ada kendala ketika buang air kecil. Tidak perlu lagi pak. Itu artinya bapak sudah sembuh."
"Untuk mengetahui masih subur bagaimana dokter?" tanya Radit pura pura bodoh. Dia ingin Vina mendengar jawaban dokter itu.
"Itu gampang pak. Bapak hanya perlu istri untuk pembuktiannya. Jika ibu hamil satu bulan kemudian setelah melakukan itu hubungan suami istri. Itu artinya bapak masih subur," jawab sang dokter sambil tersenyum. Vina yang duduk di sebelah Radit hanya bisa menunduk mendengar jawaban sang dokter.
"Baik dokter. Terimakasih," kata Radit sambil tersenyum. Dia menyentuh lengan Vina untuk ikut berdiri.
Vina masih terdiam di dalam mobil. Perkataan Sinta dan dokter masih terngiang di telinganya. Untuk memberi Radit kebutuhan biologis itu masih membuat Vina ragu. Selain trauma akan pemerkosaan itu Vina juga sedikit trauma untuk hamil kembali. Dan untuk perkataan sang dokter yang tentang kesuburan Radit juga membuat dirinya juga masih ragu.
"Kalau tidak mau hamil lagi tidak apa apa Bun. Kita bisa pakai pengaman," kata Radit sambil tersenyum. Dia seperti bisa membaca pikiran Vina.
"Ngomong apa sih yah," jawab Vina malu.
"Bunda tidak dengar kata dokter tadi?. Aku butuh bunda untuk membuktikan kesuburan senjata ini."
"Fokus dulu untuk sembuh yah. Buang air kecil saja masih susah dan kesakitan apalagi untuk menumbuhkan kehidupan," jawab Vina kesal. Radit tersenyum.
"Baiklah bunda. Ayah akan fokus untuk sembuh. Setelah itu aku akan fokus ngapain bunda?"
"Tidak tahu," jawab Vina ketus. Dia memalingkan wajahnya menatap jalanan.
__ADS_1