Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Kecurigaan Agnes


__ADS_3

"Mbak Bella, ponselmu berisik," kata Agnes kesal yang merasa terganggu dengan ponsel Bella yang berdering. Bella tidak menyadarinya karena asyik bercerita dengan mama Ningsih mertuanya.


Bella meraba tasnya. Melihat ponsel yang tidak berdering lagi tapi ada panggilan tidak terjawab. Bella kembali memasukkan ponselnya ke tas dan kembali bercerita dengan mertuanya. Hanya mereka bertiga duduk di sofa itu. Sedangkan para laki laki duduk di bangku plastik agak jauh dari bed Cindy. Andre tentu saja duduk dekat istrinya. Cindy masih tidur telentang, Cindy mengabaikan saran dokter yang harus berlatih memiringkan badannya ke kiri dan ke kanan.


Suara pintu ruangan berderit, nampak Maya menggandeng Kenzo dan di belakangnya Rey juga digandeng seseorang.


"Mama, lihat!. Rey sama siapa," kata Rey girang. Semua mata menoleh ke arah pintu. Beberapa hari tidak berjumpa dengan Sinta membuat Rey senang ketika bertemu di depan kamar bayi tadi. Rey merengek meminta Sinta untuk ikut dengannya.


Deg


Jantung Andre berdetak kencang. Melihat siapa yang menggandeng Rey. Keringat dingin mulai mengucur di tubuhnya. Bahkan mukanya memucat. Andre kemudian menghadap ke Cindy, dan memainkan ponselnya. Tidak ada yang menyadari perubahan Andre karena semuanya masih fokus ke Rey dan Sinta yang menggandengnya. Sedangkan Sinta juga tidak menyadari Andre di ruangan itu karena Andre duduk membelakangi pintu. Begitu masuk ruangan Sinta langsung mengarahkan pandangannya ke Bella yang duduk di sofa.


Agnes?, jangan ditanya. Mulutnya menganga melihat penampilan Sinta. Agnes sampai melihat Sinta mulai dari kepala sampai kaki, memastikan bahwa itu benar benar Sinta. Sedangkan Bayu, Andi dan papa Rahmat biasa saja karena belum mengenal Sinta. Bahkan Bayu dan Andi fokus ke ponsel masing masing.


"Sinta, kamu di sini juga. Sini!. Bella menepuk sofa di sebelahnya menyuruh Sinta duduk. Sinta mendekat dan duduk di samping Bella. Maya duduk di sebelah mama Ningsih, Kenzo dan Rey di pangkuan ayah mereka masing masing.


"Baru periksa kandungan tadi?" tanya Bella lagi.


"Iya mbak,"


"Sinta, kamu benar benar Sinta?, ternyata kamu sudah menikah dan bentar lagi jadi ibu," kata Agnes bingung masih belum percaya. Bertemu dengan Sinta enam bulan yang lalu. Sinta masih langsing sedangkan sekarang tubuh Sinta bulat dengan perut buncitnya. Sinta hanya mengangguk dan tersenyum. Bella memperkenalkan Sinta ke keluarga besarnya.


"Nah, Sinta. Yang itu Andre dan itu Cindy istrinya, mereka baru dikaruniai putri yang cantik," kata Bella memperkenal Andre dan Cindy paling terakhir. Seperti Andre, Sinta terkejut dan juga merasakan jantungnya berdetak kencang. Tapi tidak sampai keringat dingin seperti Andre. Sinta tidak menyangka akan bertemu dengan keluarga mantan suaminya dengan seperti ini. Sinta berusaha tenang. Sinta tersenyum ke Andre. Senyum Sinta bagaikan anak panah yang akan menembus jantung Andre. Cindy yang masih berbaring telentang tidak menyadari bahwa Sinta lah orang yang dilihatnya ketika makan nasi goreng di warung dua bulan yang lalu.


"Selamat pak Andre dan ibu Cindy atas kelahiran putrinya." kata Sinta dari tempat duduknya membuat Andre merasa seperti duduk di kursi panas. Andre tidak menanggapi ucapan selamat dari Sinta. Andre gelisah dan berpura pura sibuk dengan ponselnya. Padahal pikiran dan hatinya sangat khawatir dan takut dengan keberadaan Sinta di ruangan itu.

__ADS_1


"Oya Sinta, kamu kan kuliah di universitas xxxxx, Andre dosen di situ juga loh," kata Bella lagi.


"Ya mbak, pak Andre dosenku juga," jawab Sinta enteng. Demi apapun Andre merasakan kursinya seperti berduri. Keringat sebesar jagung mengucur di pelipisnya. Andre berdiri dan masuk ke kamar mandi yang ada di ruangan itu juga. Diam diam Sinta juga memperhatikan tingkah mantan suaminya. Di dalam kamar mandi, Andre mengepalkan tangannya dan meninju dinding. Andre merasa kesal, benci dan marah dengan situasi yang dihadapinya sekarang.


"Dah berapa bulan kandungan mu nak?" tanya mama Ningsih lembut. Sejak melihat Sinta tadi, mama Ningsih terkesan dengan sikap Sinta yang sopan.


"Tujuh bulan ibu, jalan delapan," jawab Sinta sopan.


"Tante, Rey mau mengelus adik bayi, boleh ya!" kata Rey yang sudah duduk di pangkuan Bella. Sinta mengangguk. Rey mengelus perut Sinta.


"Tante, adiknya gerak," kata Rey lagi girang. Semua mata memandang ke Rey, tak lama pandangan mereka beralih ke perut Sinta yang bergelombang. Janinnya bergerak cepat menendang perut Sinta. Kenzo yang penasaran mendekat ke Sinta.


"Ikutan ya Tante, Rey gantian!" kata Kenzo. Rey menjauhkan tangannya dari perut Sinta. Kini Kenzo yang mengelus. Kenzo tertawa girang ketika merasakan gerakan janin Sinta.


"Kenzo, udah!, kasihan Tante Sinta," larang Maya membuat Kenzo cemberut dan kembali ke pangkuan ayahnya.


"Kemari bersama siapa Sinta?" tanya Agnes yang sedari tadi masih bingung. Teka teki tentang Sinta belum terpecahkan olehnya. Agnes sampai bertopang dagu hanya untuk memikirkan Sinta.


"Sendiri Agnes," jawab Sinta singkat.


"Suamimu ke mana?, sampai membiarkan kamu bekerja dalam keadaan hamil begini?" tanya Agnes lagi. Kali ini nadanya sedikit meninggi.


"Kami sudah bercerai," jawab Sinta sendu. Entah kenapa mengucapkan itu, hatinya kembali tersayat. Di depan matanya sendiri, dia melihat mantan suaminya mengurus istrinya. Bahkan semua keluarga besar mantannya menunggui Cindy. Sedangkan Sinta? siapa yang diharapkan dia nanti menjaganya ketika dia melahirkan. Agnes melongo, begitu juga yang lainnya kecuali Bella. Bella mengelus lembut punggung Sinta. Bella semua tahu kesedihan Sinta.


Di kamar mandi, Andre mendengar semua percakapan Sinta dengan keluarganya. Keringat semakin mengucur dan muka masih memucat ketika mendengar pertanyaan Agnes. Andre cemas dan takut menunggu jawaban dari Sinta. Andre merasa sesak ketika mendengar jawaban Sinta. Andre melorot dan terduduk. Tangannya menjambak rambutnya sendiri.

__ADS_1


"Apa kamu tinggal bersama orangtuamu nak?" tanya mama Ningsih lembut. Wanita tua itu merasa kasihan dengan Sinta. Sinta menggeleng. Bella yang sudah tahu keadaan Sinta hanya diam saja. Bella merasa, Sinta yang berhak menjawab segala pertanyaan yang menyangkut pribadi Sinta sendiri. Mama Ningsih merasa kasihan dengan Sinta begitu juga dengan Maya dan Agnes.


"Kalau kamu butuh bantuan, jangan sungkan sungkan menghubungi ibu, ini nomor ponsel ibu. Kamu juga bisa datang ke rumah kami, ini alamatnya," kata ibu menyodorkan selembar kertas yang sudah ada nomor ponsel dan alamat rumah. Sinta menerima kertas itu dan tersentuh dengan kebaikan mama Ningsih. Di kamar mandi Andre semakin gelisah dan takut. Jiwa pengecutnya semakin muncul membuat dia bukan hanya takut tapi merasa sangat kesal dengan Sinta.


"Mas....". Cindy memanggil Andre yang betah di kamar mandi. Andre membasuh wajahnya dan keluar dari kamar mandi. Langkahnya gontai. Dan langsung duduk di kursinya tadi. Agnes yang melihat Andre seperti banyak masalah terus melihat gerak gerik Andre.


"Mau minum," kata Cindy manja. Andre yang sudah bingung sampai tidak tahu dimana letak air mineral, padahal air mineral itu terletak di meja dekat kursinya duduk.


"Air mineralnya di atas meja kak," kata Agnes yang melihat Andre bingung mencari air mineral. Sinta juga memperhatikan mantan suaminya.


"Mas, kamu sakit?, wajahmu pucat sekali," kata Cindy cemas. Memang wajah Andre sudah bagaikan kapas. Cindy meraba tangan Andre. Tangan itu lembab karena keringat dingin.


"Kamu sakit mas," kata Cindy lagi.


"Tidak...tidak sayang, aku tidak apa apa," jawab Andre terbata. Semua mata memperhatikan Andre. Andre akhirnya berusaha tenang. Andre menggenggam kuat tangan Cindy untuk menutupi kegugupannya. Mama Ningsih yang khawatir kepada Andre, berdiri dari duduknya dan mendekat ke Andre. Menempelkan tangannya ke dahi Andre.


"Kamu terlalu lelah Andre, istirahatlah dulu. Biar mama dan Agnes yang menjaga Cindy malam ini," kata mama Ningsih. Mama Ningsih yakin Andre terlalu lelah menunggui Cindy bersalin.


"Tidak ma, aku aja yang menjaga Cindy. Aku bisa berbaring di sofa jika kalian sudah pulang," jawab Andre pelan. Andre berharap keluarganya dan Sinta segera pulang. Agnes terus memperhatikan Andre. Agnes yakin Andre mempunyai masalah.


"Ya udah, kalau begitu kita pulang sekarang. Sudah hampir Maghrib," kata Andi dan yang lain mengangguk.


"Sinta, naik apa tadi kemari?" tanya Bella.


"Naik taksi online mbak," jawab Sinta.

__ADS_1


"Rumahmu dimana?, kalau searah bisa numpang sama kita," kata Maya yang merasa kasihan dengan Sinta. Sinta menyebutkan alamatnya. Rumah Andi dan Bayu berlawanan arah dengan rumah Sinta.


"Kamu numpang sama kami saja, biar Agnes nanti yang mengantarmu pulang setelah mengantar kami terlebih dahulu," kata papa Rahmat. Agnes mengangguk. Andre merasakan jantung berdetak lebih kencang.


__ADS_2