
Suara bayi menangis bergema di ruangan itu. Sinta baru saja melahirkan bayi laki-laki. Dokter Sarita dokter yang membantu Sinta melahirkan menyerahkan bayi tersebut ke bidan untuk dibersihkan. Kemudian dokter itu menuntaskan pekerjaan di bagian bawah perut Sinta. Dokter yang sama yang membantu Sinta waktu melahirkan Airia putri pertamanya.
Berkali kali Andre mengucap syukur, persalinan anak keduanya tidak terlalu sulit dibandingkan persalinan pertama. Andre merasa dirinya sangat beruntung. Walau pernah menyakiti istrinya, dia diberi kesempatan melihat dan menemani Sinta melahirkan anak anaknya. Andre mencium kening Sinta lumayan lama. Andre terharu dan tidak terasa air mata mengalir dari sudut matanya. Jika mengingat perbuatan buruknya di masa lampau, Andre tidak mungkin bisa merasakan kebahagiaan ini.
Andre sangat sadar. Sikap dewasa Sinta yang membuat dirinya kembali bersama Sinta. Andre tidak bisa membayangkan, jika saat tersakiti dulu, Sinta benar benar kabur. Mungkin saat ini Andre akan menjadi pria yang terus dihantui rasa bersalah.
Andre menyeka sudut matanya. Matanya beralih ke bayi merah yang sedang dibersihkan sang bidan. Sudut bibirnya tersenyum mendengarnya suara tangisan sang putra. Andre dan Sinta tersenyum melihat bayi itu. Berbeda dengan kelahiran Airia yang lahir tanpa suara, anak kedua Andre dan Sinta lahir dengan suara yang sangat kencang.
Andre menerima bayi itu dari tangan sang bidan. Andre membisikkan segala doa dan harapan untuk bayinya. Kemudian Andre menunjukkan bayi itu ke Sinta. Sinta mengelus wajah sang bayi kemudian menciumnya. Bayi itu kembali menangis.
"Menangis lah putraku. Kita akan sama sama menggoncang dunia ini," kata Andre sambil tersenyum. Kemudian memberikan bayi itu ke bidan. Bidan akhirnya membawa bayi itu ke ruangan baby.
"Terima kasih sayangku, cintaku dan hidupku. Kamu memberikan kebahagian yang luar biasa bagiku. Kelahiran Airia, cinta dan kelahiran putra kita. Ini adalah anugerah luar biasa yang aku terima lewat dirimu," kata Andre sambil menggenggam tangan Sinta. Sinta hanya tersenyum.
"Bagaimana aku harus membalas semua pengorbananmu ini sayang," kata Andre lagi. Dia belum merasa memberikan yang terbaik untuk istrinya.
"Balas lah dengan cinta mas, kesetiaan, menjaga kesehatan dan bekerja keras," jawab Sinta sambil tersenyum. Andre mengerutkan keningnya. Kata menjaga kesehatan dan bekerja keras itu agak lain di pendengarannya. Kata kata itu seperti mengurangi kadar keromantisan mereka.
"Menjaga kesehatan dan bekerja keras. Maksudnya apa itu sayang?"
"Ya ampun, perasaan mas Andre tidak terlalu tua untuk bisa mengartikan itu. Untuk apa mas Andre berkata cinta tapi tidak bisa menjaga kesehatan. Mas kalau sakit, jangan membahagiakan kami bertiga. Untuk berkata cinta juga pasti akan sulit."
"Ternyata kamu makin pintar sayang. Ya deh, mas akan rajin berolahraga. Apalagi setelah masa nifas kamu berakhir. Mas akan berolahraga tiap malam," kata Andre sambil tersenyum mesum. Sinta memutar bola matanya malas.
"Ingat masih ada dokter Sarita selain kalian berdua di ruangan ini," kata dokter Sarita sambil menjahit sesuatu yang koyak milik Sinta karena melahirkan tadi. Andre seketika malu dan memijit hidungnya. Sinta juga sama. Akibat bius lokal di area intinya. Sinta tidak menyadari bahwa dokter masih di ruangan itu bahkan menyelesaikan pekerjaan di area terlarangnya.
"Maaf Dokter," kata Sinta dan Andre bersamaan. Dokter Sarita membuka sarung tangannya dan membuangnya ke tempat sampah.
"Ingat pak Andre, jika ingin berolahraga setelah masa nifas ibu Sinta berakhir. Pastikan ibu Sinta terlebih dahulu untuk memakai kontrasepsi. Atau bapak yang memakai pengaman. Terlalu berisiko jika jarak kehamilan terlalu dekat."
Sebagai teknisi kesehatan, dokter Sarita berkewajiban untuk mengingatkan pasiennya untuk mendukung program keluarga berencana atau KB. Selain itu, dokter Sarita sangat perduli kepada keluarga Andre. Sinta dan Airia adalah pasien yang selalu melekat di hatinya. Kelahiran Airia membuat dokter itu semakin percaya kalau keajaiban itu ada. Setelah mengucapkan itu dokter Sarita meminta perawat untuk memindahkan Sinta ke ruang perawatan.
"Kalau berbicara itu, perhatikan sekitar mas. Jangan asal bunyi. Kan malu. Sampai ditegur dokter seperti itu," kata Sinta setelah tinggal mereka berdua di ruang perawatan. Andre terkekeh dan memberikan Sinta minuman.
"Iya sayang. Istirahatlah dulu. Kamu sudah banyak mengeluarkan tenaga ketika melahirkan tadi. Sebentar lagi papa dan mama pasti akan kemari. Aku sudah mengabari mereka tentang kelahiran putra kita,"
__ADS_1
"Belum mengantuk mas,"
"Oya, tentang nama putra kita. Boleh aku yang memberi namanya?
"Boleh mas. Kan kamu ayahnya, Lagi pula tidak adil jika hanya aku yang memberi nama kepada anak anak kita mas. Sementara ketika mencetak mereka keringat kamu sampai sebesar biji jagung."
Andre tertawa terbahak-bahak. Perkataan Sinta mampu menggelitik hatinya. Apa yang dikatakan Sinta itu memang benar. Tapi ketika Sinta memperjelas membuat Andre tidak bisa menahan untuk tertawa. Andre semakin berbahagia. Sinta semakin sering bercanda, Andre sangat senang. Sikap Sinta sudah seperti diawal pernikahan mereka. Sering bercanda dan bersenda gurau.
"Bisa saja kamu sayang," kata Andre sambil membelai rambut Sinta. Sinta menangkap tangan itu dan membawanya ke bibirnya. Sinta mencium punggung tangan Andre berkali kali. Sinta juga dapat merasakan cinta Andre teramat besar kepadanya. Bukan karena semua materi yang dilimpahkan Andre tetapi karena Sinta dapat merasakan ketulusan di setiap perlakuan Andre kepadanya.
Sama seperti Andre, Sinta juga mengucap syukur di dalam hatinya. Kebahagian dan cinta Andre membuat Sinta semakin bersemangat. Dua anak yang telah lahir dari rahimnya semakin menyempurnakan kebahagiaannya. Sinta juga bersyukur, karena yang di Atas melimpahkan kesabaran untuk dirinya. Seandainya dia tidak sabar dan lari dari masalah. Sinta tidak dapat membayangkan apa yang terjadi pada dirinya dan Airia saat ini. Sinta merasa beruntung dikelilingi oleh sahabat, mertua dan para ipar yang baik.
Inilah buah kesabarannya. Sepasang putra putri, cinta dan kebahagiaan. Dan tidak lupa dengan kesejahteraan yang diberikan Andre kepada keluarga kecil mereka.
Sinta tersenyum sambil menggenggam tangan Andre. Andre melakukan hal yang sama. Mencium punggung tangan Sinta kemudian mencium kedua pipi milik Sinta. Keduanya larut dalam kebahagiaan.
"Selalu lah setia mas," bisik Sinta pelan. Andre mencium bibir Sinta sekilas. Kemudian berkata,
"Aku pasti setia sayang. Aku pastikan bahwa nama Sinta Maharani yang akan tersemat di dalam hatiku. Tetap lah setia di sampingku dalam suka dan duka. Pengorbanan dan kesetiaan kamu adalah kenangan berharga dalam hidupku,"
"Apa yang kamu pikirkan sayang?. Terasa sakit?" tanya Andre melihat wajah Sinta yang sudah berubah. Sinta memang merasakan sakit berdenyut di daerah intinya. Tapi yang membuat wajahnya berubah adalah karena memikirkan Vina.
"Sedikit mas. Tapi aku memikirkan Vina. Aku berharap Vina juga bisa merasa kebahagiaan seperti kebahagiaan kita," kata Sinta pelan sambil meringis.
"Vina gadis yang pintar sayang. Dia pasti tahu mengambil keputusan apa yang terbaik untuk rumah tangga dan ketiga bayinya," jawab Andre pelan. Sama seperti Sinta dia juga memikirkan hal yang sama tentang rumah tangga Radit suaminya. Andre bahkan berharap tidak ada perceraian antara Radit dan Vina.
Sinta memejamkan matanya. Kantuknya tiba tiba muncul dan tidak bisa ditahan lagi. Tangan Andre yang masih membelai rambut Sinta mengantar wanita itu ke dunia mimpi. Andre tersenyum dan kembali mencium kening Sinta. Dia membiarkan Sinta tidur. Andre akhirnya duduk di bangku di samping Sinta. Dia mengunggah status di media sosial tentang kelahiran putranya. Hanya beberapa menit setelah status itu berhasil diunggah, puluhan komentar mengucapkan selamat kepada Andre.
Andre menoleh ke pintu. Kedua orangtuanya sudah berdiri di sana. Hingga semua anggota keluarganya bermunculan satu persatu. Andre merasa bahagia. Kelahiran putranya di sambut dengan gembira oleh semua anggota keluarganya. Bukan seperti kelahiran Airia dulu. Hanya dirinya yang menemani Sinta hingga pulang ke rumah.
Andre meraih tubuh Airia yang ada di gendongan sang Tante Agnes. Andre menciumi putrinya itu. Sampai detik ini, Andre masih merasa bersalah atas penolakannya akan Airia ketika masih di kandungan. Dia menatap Airia dan Sinta bergantian. Dua wanita yang akan menyayangi dengan tulus sampai akhir hayatnya.
"Jangan diganggu dulu Agnes," kata Andre melarang ketika Agnes hendak membangunkan Sinta. Agnes mundur dan duduk di sofa tempat kedua Orangtuanya dan kakak kakaknya duduk.
"Jam berapa lahirannya tadi Andre," tanya mama Ningsih.
__ADS_1
"Dua jam yang lalu ma. Jam Tujuh," jawab Andre.
"Sakitnya mulai kapan?" tanya Bella.
"Tadi malam mbak. Tapi jam lima kami berangkat dari rumah dan dua jam kemudian bayi kedua kami lahir. Anak anak, kenapa tidak dibawa mbak?" tanya Andre lagi. Kedua mbaknya Bella dan Maya melahirkan dua bulan yang lalu. Dan anak yang mereka lahirkan sama sama laki laki. Airia masih cucu perempuan satu satunya di keluarga papa Rahmat. Semua anggota keluarga papa Rahmat sangat menyayangi Airia. Terutama Kenzo dan Rey. Sepupunya Airia.
"Nanti saja kalau Sinta sudah bisa pulang ke rumah Andre. Rumah sakit tidak bagus untuk bayi," jawab Maya kakak ipar tertua Andre. Andre hanya mengangguk mengerti.
"Andre, selamat ya nak. Atas kelahiran putra kamu. Dan selamat juga karena tujuan hidup sudah jelas. Papa tidak bisa membayangkan jika seandainya dulu Sinta tidak bisa menerima kamu," kata papa Rahmat terharu. Melihat Sinta melahirkan seperti ini. Papa Rahmat teringat akan perjuangan Sinta dulu. Walau tidak menyaksikannya sendiri perjuangan Sinta. Tapi papa Rahmat bisa merasakannya dengan kehadiran sang cucu Airia.
"Makasih pa. Aku juga tidak bisa membayangkan jika aku tidak rujuk dengan Sinta. Tanpa aku sadari sebenarnya dari awal melihat dia dan mengikatnya dengan pernikahannya siri aku sudah tertarik dan bisa saja sudah mencintainya. Hanya saja aku saat itu bodoh sehingga aku tidak bisa membedakan kerikil jalanan yang sudah terinjak injak oleh banyak kaki dibandingkan berlian yang hanya dipakai orang tertentu saja," jawab Andre dengan mata menerawang mengingat masa lalunya.
"Sudah pintar adik Abang. Tuh kan bersama Sinta otak kamu bekerja dengan normal," kata Andi dengan santai dengan duduk bersandar.
"Jangan pernah berpikir untuk selingkuh dari dia lagi Andre. Lihat lah. Kesabaran Sinta menghadapi hidupnya membuahkan kebahagiaan untuk kamu," kata Bayu sang kakak tertua. Andre hanya mengangguk mengiyakan semua perkataan kakaknya.
"Benar itu Andre. Jangan sampai jatuh kedua kali ke lubang yang sama. Jika itu terjadi. Aku yakin Sinta tidak memberi kamu maaf lagi. Pergunakan kesempatan ini demi kebahagiaan kamu dan anak anakmu," kata mama Ningsih. Mengingat kesalahan Andre dulu. Kedua orang tua itu tidak henti hentinya menasehati Radit jika bertemu seperti ini.
"Andi dan Bayu. Apa yang aku nasehatkan ke Andre. Itu juga berlaku untuk kalian. Bella dan Maya. Jangan pernah aku mendengar mereka tersakiti oleh suami mereka masing masing. Jika itu terjadi. Maka mama yang akan menjadi lawan kalian," kata mama Ningsih mengancam anak anaknya untuk tidak menyakiti istri masing masing. Kelakuan Andre sebelumnya membuat mama Ningsih sedikit trauma.
"Sepertinya hari ini kita kemari bukan melihat anggota keluarga yang baru. Melainkan mendengar ceramah nyonya besar yang itu itu saja," sindir Andi.
Sinta terbangun karena mendengar suara suara itu. Dia berusia duduk tapi Andre melarangnya. Dia menatap sekeliling ruangan itu. Semua anggota keluarga dari pihak Andre menjenguknya. Hati Sinta menghangat. Dia bukan mengingat ingat masa lalu. Tapi saat ini dia membandingkan kelahiran Airia dan putranya. Sinta tersenyum bahagia ketika satu persatu dari anggota keluarga itu mendekat dan bersalaman dengan serta mengucapkan selamat. Sinta sangat bahagia. Mempunyai mertua dan kakak kakak ipar juga Agnes yang sangat baik kepadanya.
Inilah buah kesabarannya. Selain keluarga kecilnya. Keluarga besar papa Rahmat bersedia dan sangat senang menerimanya sebagai keluarga tanpa memandang status sosial keluarganya.
"Makasih Agnes," kata Sinta kepada Agnes yang masih berdiri di hadapannya. Sinta sadar. Jika kebahagiaan saat ini tidak terlepas dari campur tangan Agnes. Andaikan Agnes tidak melakukan tes DNA terhadap Airia dan Andre mungkin saat ini keberadaanmu Airia belum juga diketahui.
"Kok berterima kasih ke aku sih Sinta. Harusnya aku yang berterima kasih. Kamu sudah memberikan aku keponakan yang cantik dan ganteng," jawab Agnes tulus. Sinta kembali tersenyum. Entah berapa kali dia selama beberapa jam ini tersenyum karena bahagia.
"Iya. Iya. Sama aku berterimakasih. Sama aku tidak," kata Andi bercanda. Sinta pun akhirnya berterima kasih kepada seluruh anggota keluarga Andre karena dengan tulus bersedia menerima keberadaan dirinya. Jauh di lubuk hatinya. Sinta ingin melihat kedua orangtuanya dan adik adiknya berkunjung melihat perjuangan dirinya melahirkan penerus mereka.
Sinta hanya berharap. Sinta berharap restu orang tuanya langsung terdengar dari mulut kedua orangtuanya. Walau mereka sudah pernah mengunjungi orangtuanya. Sinta belum mengetahui hati orang tuanya terhadap pernikahan ini. Sinta juga percaya. Jika buah kesabarannya akan mendatangkan kebahagiaan untuknya.
****
__ADS_1
Authornya masih minta vote nya ya!. Terima kasih