Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Sikap Dingin Sinta


__ADS_3

Andre menatap lurus jalanan, Andre harus ekstra fokus menyetir. Perjalanan dari luar kota ditambah dengan masalah Cindy dan juga dengan kepergian Sinta tadi, membuat tubuh dan hatinya lelah. Andre bahkan berkali kali menguap. Sinta yang melihat itu merasa khawatir. Khawatir dengan keselamatan mereka bertiga. Andaikan dia bisa menyetir. Dia akan mengambil alih setir mobil.


Sinta memandang Andre yang fokus menyetir. Lewat ekor matanya Andre bisa melihat Sinta yang memandangnya. Dia harus ekstra fokus karena matanya sudah mengantuk dan juga lelah.


Sinta mendekap baby Airia, menundukkan kepala melihat wajah putrinya yang terlihat menggemaskan bila tidur. Ancaman Andre sungguh menakutkan baginya. Pria itu seakan tidak ingat di masa lalu bagaimana dia menolak dan mengabaikan kehamilan Sinta.


"Turun!, bawa sendiri koper kamu dan masuk ke rumah," kata Andre dingin. Melepaskan sabuk pengaman dan mengambil baby Airia dari tangan Sinta.


"Bawa aja sendiri. Yang tidak mengizinkan kabur siapa?. Lagipula di koper itu hanya sedikit pakaianku. Selainnya itu pakaian Airia," jawab Sinta tidak kalah dingin. Dia membuka pintu mobil dan melenggang meninggalkan Andre dan baby Airia yang masih di dalam mobil.


Andre terkejut dan terdiam mendengar jawaban Sinta. Andre seakan tidak percaya bahwa orang yang baru saja berbicara dengannya adalah Sinta. Belum lagi nada bicara Sinta yang dingin membuat Andre menggelengkan kepala. Sinta yang dinikahinya dua tahun yang lalu, bukan Sinta yang bersikap dingin seperti ini. Dulu pertama mengenal, Sinta adalah orang yang sopan, hangat dan penuh canda.


Andre membuka pintu mobil dan menurunkan kedua kakinya. Tangannya mendekap baby Airia dan menutup mobil dengan kakinya. Kantuk yang tadi menyerang ketika menyetir kini hilang dengan jawaban Sinta yang dingin. Andre melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Masuk ke dalam kamar dan meletakkan putrinya ke box bayi. Baby Airia sama sekali tidak terusik. Andre mencium putrinya. Andre kemudian keluar lagi untuk mengambil koper dari dalam mobil.


"Untuk apa itu?" tanya Andre setelah masuk ke dalam rumah. Dia melihat Sinta keluar dari kamar dan membawa bantal dan guling.


"Di kamar sebelah tidak ada bantal dan guling, kamu tidur di sana," jawab Sinta datar. Dia menyerahkan bantal dan guling itu ke tangan Andre dan meraih koper yang ada di depan Andre.


"Kenapa aku harus tidur di kamar sebelah. Kita suami istri yang sah dan tidak ada larangan untuk tidur satu ranjang atau satu kamar,"


"Benar yang kamu bilang mas, kita memang suami istri yang sah. Tapi pernikahan kita bukan pernikahan seperti pasangan suami istri yang lain. Pertama, kita menikah karena aku butuh uang dan kamu butuh tubuhku. Kedua, kita rujuk karena ada Airia. Jadi kita jalani pernikahan ini memang karena ingin memberikan yang terbaik untuk putri kita. Masuklah dan beristirahat. Dari tadi aku melihatmu sudah sangat mengantuk,"


"Sinta, apa maksud kamu?"


"Pikir saja sendiri. Kalau butuh belaian bukan di rumah ini tempatnya mas. Pulang sana ke rumah istri tercinta mu. Kamu tidak kemari juga tidak apa apa," kata Sinta sinis. Sinta belum mengetahui tentang rumah tangga Andre yang sudah berakhir. Dia menyeret koper dan masuk ke dalam kamar. Sinta bahkan mengunci kamar dari dalam.

__ADS_1


Andre masih terpaku dan berdiri di tempatnya. Memikirkan kata Sinta yang memang benar adanya. Tetapi untuk pulang ke rumah Cindy itu tidak mungkin. Bahkan mengingat namanya Andre menjadi muak. Yang ada kebencian dan rasa jijik ketika mengingat nama itu. Akhirnya Andre masuk ke kamar yang dimaksudkan Sinta. Untuk ngotot masuk ke kamar Sinta juga tidak mungkin, karena jelas tadi Andre mendengar suara pintu yang dikunci. Dia takut, kalau memaksa masuk ke kamar Sinta, baby Airia terbangun.


Andre merebahkan badannya di ranjang kecil. Pandangannya menatap langit langit kamar. Kilas balik perjalanan pernikahannya dengan Sinta sampai detik ini melintas di pikirannya. Dan juga rumah tangga bersama Cindy juga melintas di pikirannya. Dia juga sadar telah banyak menyakiti Sinta demi Cindy yang jelas mempermainkan hatinya. Berkali kali Andre mencoba memejamkan matanya. Kantuk itu sudah hilang sama sekali. Kini pikirannya dipenuhi oleh Sinta dan kata katanya tadi.


Sementara itu Vina mengalami hal yang menyakitkan dibandingkan Sinta. Kalau Sinta bisa bersikap dingin ke Andre. Vina malah sebaliknya. Menahan sakit di pergelangan tangannya karena pegangan yang kuat dari Radit. Vina bahkan diseret bagaikan bukan manusia keluar dari mobil. Berkali kali Vina meronta dan berjanji akan menurut ke Radit, Radit seakan tidak perduli. Dengan kasar dia menyeret Vina sampai ke depan pintu hotel tempatnya tadi sebelum menjemput Vina.


"Siapa dia?" tanya seorang wanita yang ada di dalam kamar hotel setelah Radit mendorong kasar Vina masuk. Wanita itu adalah salah satu langganan Radit untuk menemaninya tidur.


"Pergilah, itu bukan urusanmu," jawab Radit dingin kepada wanita itu. Vina yang sudah terduduk di ranjang memandang Radit sinis. Pria yang dijodohkan dengannya membawa dirinya ke dalam kamar hotel dan yang lebih parah ada seorang wanita yang menunggu.


"Ini sudah dini hari, sangat susah untuk mencari taksi," jawab wanita itu lagi. Radit merogoh sakunya dan memberi wanita itu kunci mobil.


"Bawa mobilku. Pulanglah. Jangan membantahku," jawab Radit marah. Radit paling tidak bisa dibantah atau dilawan. Wanita tidak mengambil kunci itu. Dia meraih tas tangannya.


"Walau aku wanita tidak baik baik. Aku tidak membenarkan sikapmu yang menyakiti wanita itu. Lepaskan dia!" kata wanita merasa kasihan melihat Vina yang ketakutan dan menangis.


"Mau apa kamu?" tanya Vina pelan. Dia melihat Radit membuka baju dan ikat pinggangnya.


"Acara kabur mu itu menganggu kesenanganku malam ini, untuk menggantikan wanita tadi, kamu harus siap melayaniku."


"Gila kamu Radit. Kita belum menikah. Aku tidak mau," teriak Vina kencang. Dia berdiri dan hendak lari menuju pintu tetapi secepat kilat Radit menangkapnya dan mencampakkan Vina ke ranjang.


Mendapat penolakan terang terangan dari Vina membuat Radit marah dan merasa harga dirinya turun sebagai pejantan tulen.


"Aku tidak meminta kesediaan mu untuk melayaniku. Aku hanya ingin terpuaskan dengan tubuhmu malam ini karena sudah berusaha kabur dari aku," kata Radit dingin. Radit semakin mendekat ke arah Vina yang sudah meringkuk di ranjang. Ketika Radit menaikkan kakinya ke ranjang, Vina melompat dari tempat tidur. Mata menatap sekeliling untuk mencari persembunyian. Dia berlari ke arah kamar mandi.

__ADS_1


Radit menangkap tubuh Vina sebelum kaki Vina masuk ke kamar mandi.


"Jangan meronta. Baiklah aku akan bersikap lembut," kata Radit masih mendekap dan menuntun Vina ke ranjang.


"Aku mohon Radit, jangan seperti ini. Tinggal beberapa hari lagi pernikahan kita. Bersabarlah sedikit."


Vina memohon kepada Radit, pria itu tidak perduli dan gelap mata. Radit dengan kasar membuka pakaian Vina. Vina hanya bisa menangis. Badannya bergetar karena takut. Vina berusaha meronta dan mendorong tubuh Radit. Radit semakin kesetanan dan tidak merasa iba dengan air mata dan kesakitan Vina. Dengan paksa. Radit menggagahi Vina.


Vina semakin terisak setelah Radit turun dari tubuhnya. Vina meraih sprei dan menutupi tubuh polosnya. Pria itu tersenyum puas. Walau terpaksa dan Vina meronta. Kenikmatan itu sangat berbeda dibandingkan dengan wanita malam yang sering menemani tidurnya.


"Diam lah Vina, apa yang kamu tangiskan, toh sebentar lagi kita akan menikah. Lagipula kamu menyerahkan kesucian kamu untuk aku yang akan menjadi suamimu. Harusnya kamu bangga bisa mempertahankannya dan memberikannya kepadaku," kata Radit enteng. Dia sudah keluar dari kamar mandi dan sudah lengkap berpakaian. Radit memungut baju Vina yang berserakan dan melemparkannya ke Vina.


"Aku tidak memberikannya kepada kamu brengsek. Kamu yang mengambil paksa. Dasar bejat kamu Radit," kata Vina masih terisak. Vina menatap Radit benci yang sudah duduk santai di sofa.


"Brengsek dan bejat?" tanya Radit sambil tertawa terbahak-bahak. Radit mengambil remote dan mematikan AC. Radit mengambil rokok dan memantiknya. Dia menghembuskan asap rokoknya ke atas.


"Asal kamu tahu. Dengan seperti ini kamu tidak akan lari lagi dari aku," kata Radit lagi.


"Aku tidak rela mempunyai tunangan apalagi suami bejat seperti kamu. Kalau pun pernikahan itu harus terjadi itu karena terpaksa." jawab Vina sambil menatap sinis ke Radit. Radit seakan tidak perduli. Dengan santai dia menghisap rokoknya.


"Bejat seperti ini, tapi kedua orang tuamu sangat menginginkan aku jadi menantunya," jawab Radit membuat Vina terdiam. Vina tahu orangtuanya sangat antusias dengan perjodohan ini. Berbagai cara dan alasan Vina menolak perjodohannya dengan Radit tetapi orang tuanya tetap pada pendirian dan mengatakan Radit adalah pria baik baik dan akan membahagiakan Vina kelak.


Vina meraih pakaiannya yang dilemparkan Radit tadi. Baju atasannya tidak berbentuk lagi. Dengan marah Vina melemparkan balik baju itu ke Radit. Radit spontan menangkap baju itu. Radit membuka kemejanya dan memberikan ke Vina.


"Aku tidak mau memakai kemeja itu. Ambilkan koperku di mobil," kata Vina dingin.

__ADS_1


"Kalau begitu, tidak perlu pakai baju. Melihat kamu begini. Aku jadi ingin lagi," jawab Radit tersenyum. Dengan kesal Vina meraih kemeja itu.


"Brengsek kamu," maki Vina marah. Vina menahan sakit di tubuhnya dan mencoba turun dari ranjang. Vina memegang pakaian dan sprei di tubuhnya. Vina masuk ke kamar mandi dan mengenakan pakaiannya.


__ADS_2