Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Demi Anak


__ADS_3

Mencintai dan dicintai adalah sesuatu yang indah dan sangat dimimpikan semua orang. Andre mencintai Cindy dari segenap jiwanya. Andre merasa dicintai. Kebahagian yang nyaris sempurna. Begitulah Andre mengartikan pernikahannya bersama Cindy yang masih seumur jagung.


Sepanjang jalan pulang ke rumah, Andre tersenyum. Kehamilan Sinta yang dianggap Andre masalah kini terselesaikan. Perjanjian mereka yang bermaterai, bukti kuat bahwa Sinta tidak akan membocorkan pernikahan mereka.


Pria bodoh itu ,dengan gagahnya memasuki rumah. Tangannya membawa sekotak martabak. Martabak kesukaan Cindy sejak hamil. Meletakkan martabak di meja makan, kemudian masuk ke dalam kamar.


Melihat istrinya yang duduk bersandar di ranjang, Andre tersenyum. Cindy berdiri dan langsung mendorong Andre ke kamar mandi yang ada di ruangan itu juga.


"Mandi dulu mas!" kata Cindy tersenyum dan menutup pintu kamar mandi. Andre terkekeh dan langsung mandi.


Keluar dari kamar mandi, Andre sedikit heran. Istrinya tidak di kamar, baju gantinya juga tidak ada di atas ranjang. Biasanya Cindy akan mempersiapkan baju gantinya. Andre mengambil bajunya gantinya sendiri. Andre mengendus, Aroma kamar asing bagi Andre. Biasanya kamar mereka memakai pengharum ruangan berbau mawar, wangi mawar itu tetap ada tapi tidak sewangi biasanya.


Andre keluar dari kamar tepat Cindy datang dari belakang. Andre menuntun Cindy ke meja makan dan menunjukkan martabak ke Cindy.


"Makasih mas," ucap Cindy manja dan memasukkan sepotong martabak ke mulutnya. Andre mengangguk dan membelai rambut Cindy.


"Apapun untukmu sayang," jawab Andre dan menarik kursi kemudian duduk. Cindy mengambilkan makanan untuk Andre.


"Siapa yang masak?" tanya Andre, mulutnya penuh dengan makanan. Cindy menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.


"Enak gak mas?". Andre mengacungkan kedua jempolnya kemudian mengambil air putih dan meminumnya.


"Mas...." Andre menatap Cindy. Makanannya belum habis.


"Aku bosan di rumah, aku mau buka usaha mas," kata Cindy sambil menyentuh punggung tangan Andre. Andre mengelap bibirnya dengan tissue.


"Kamu di rumah aja. Fokus ke kandungan. Aku tidak mau terjadi apa apa dengan calon anakku," sahut Andre pelan dan melangkah menuju kamar.


"Mas...." Cindy menyusul ke kamar. Mereka duduk bersisian di tepi ranjang.

__ADS_1


"Mas, kandunganku tidak akan terganggu. Aku bosan di rumah. Aku akan memperkerjakan beberapa orang. Aku hanya mengatur mas," pinta Cindy merengek bagai anak kecil. Andre yang tidak bisa melihat Cindy sedih apalagi merengek, memijat pangkal hidungnya yang tidak gatal.


"Mau buka usaha apa?" tanya Andre pelan tidak bersemangat.


"Cafe mas, aku lihat cafenya mbak Bella lancar mas." Cindy menjawab dengan semangat.


"Lokasi?"


" Rencananya di dekat kampusmu. Aku lihat ada dua ruko akan dijual. Aku sudah catat nomor penjualnya mas." Cindy sangat bersemangat dan yakin Andre akan mengabulkannya.


"Terserah mu. Tapi ingat kamu sedang hamil, aku tidak mau terjadi apa apa sama calon anakku," jawab Andre dan mengelus lembut perut Cindy.


"Kok, terserah aku sih mas, aku butuh modal dan uang beli ruko itu mas." Andre menatap Cindy.


"Aku belum punya uang kalau sampai beli ruko dua unit. Kalau modal masih bisa ku usahakan. Untuk sementara nyewa lah dulu." kata Andre.


"Tidak mau mas, harus beli rukonya sekalian. Mereka menjual rukonya bukan menyewakan," jawab Cindy sudah mulai kesal.


" Tapi aset yang lain kan bisa digeser, apartemen misalnya," bujuk Cindy


"Tidak bisa Cindy, kalau kamu mau buka usaha. Biarlah dulu menyewa. Cari tempat lain," jawab Andre tanpa memandang Cindy. Andre sedikit pusing dengan permintaan Cindy.


" Tidak mau mas, harus di ruko itu dan harus kita beli bagaimanapun caranya." Cindy sudah menaikkan nada bicara nya. Matanya sudah mulai berkaca kaca.


"Tapi saat ini, aku lagi tidak punya uang Cindy. Hanya modal dan biaya sewa yang bisa aku bantu," jawab Andre yang sudah semakin pusing.


"Aku gak mau tahu mas, ini bukan keinginanku saja, tapi ini mungkin bawaan calon anakmu," Cindy berkata sambil menangis.


"Percuma mas pemilik uni...."Cindy tidak meneruskan perkataannya.

__ADS_1


"Apa maksudmu Cindy?"


"Maksudku, percuma mas pengajar di universitas swasta terkenal dan mahal. Masa uang untuk beli ruko itu saja tidak punya," sahut Cindy sewot.


"Udah ah, kalau tidak mau gak apa apa, tapi jangan menyesal kalau anakmu nanti ileran," kata Cindy lagi kemudian berbaring di ranjang.


"Baiklah, aku akan menjual apartemenku, kamu bersabarlah dulu. Tidak mudah langsung mendapat pembeli." Akhirnya Andre mengalah demi anaknya. Andre tidak bisa membayangkan anaknya kalau sampai ileran. Cindy tersenyum puas.


"Makasih mas," kata Cindy kemudian duduk. Mendekat dan memeluk Andre. Yang dipeluk bagaikan patung bernafas. Cindy semakin aktif dan meraba tubuh Andre.


"Inikah imbalannya?" tanya Andre yang sudah mulai terpancing. Cindy mengangguk. Tangannya tidak berhenti meraba bagian tubuh Andre.


"Malam ini, kamu akan terima beres mas, mau berapa ronde? aku akan melayani kamu," kata Cindy. Tangannya sudah membuka pakaian Andre.


"Kamu hamil muda, itu tidak bagus untuk kandunganmu," jawab Andre dan mengarahkan tangan Cindy ke sesuatu yang sudah berdiri tegak.


"Ini juga bawaan hamil mas, terkadang orang hamil itu sangat menginginkan hal seperti ini," kata Cindy lagi.


Cindy naik ke pangkuan Andre. Mereka sudah menyatu. Andre mendesah begitu juga Cindy. Cindy seakan tidak ada lelahnya.


"Pintunya belum ditutup sayang," bisik Andre di telinga Cindy. Pintu belum tertutup sempurna.


"Biarin, tanggung," jawab Cindy yang masih bergerak cepat di pangkuan Andre. Andre semakin mendesah kenikmatan, lahar panas itu sudah keluar dari tubuhnya. Andre mendudukkan Cindy di ranjang. Masih keadaan tidak berpakaian, Andre berjalan ke arah pintu kemudian menutupnya.


"Mas, aku belum keluar," kata Cindy menarik tangan Andre. "Pakai jari ini saja," kata Cindy lagi, melihat si burung perkutut tidak berdaya lagi. Andre menurut dan melakukan sesuai yang diinginkan Cindy. Wanita hamil itu belum merasa puas. Cukup lama Andre melakukan hal seperti itu, tapi Cindy menyudahinya tanpa merasakan kepuasan.


Andre berbaring di samping Cindy yang terlelap. Belum ada sepuluh menit berbaring, Cindy sudah terbang ke alam mimpi.


Andre berusaha memejamkan matanya, sudah hampir satu jam, belum juga terlelap. Andre terus berpikir tentang apartemennya. Sungguh berat hatinya melepas. Apartemen itu, harta pertama yang dimilikinya hasil keringat sendiri.

__ADS_1


Andre kembali memejamkan matanya. Bayangan kebersamaannya bersama Sinta menari nari di pikirannya. Biasanya sebelum tidur seperti ini, mereka kadang saling bercanda. Andre menoleh ke arah Cindy. Andre juga teringat tentang Sinta yang tidak pernah menuntut uang berlebihan. Bahkan jika dikasih lebih, Sinta akan komplain. Sangat berbeda dengan sifat Cindy yang boros.


__ADS_2