Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Bertemu di mall


__ADS_3

Hari hari berlalu tidak terasa pernikahan Andre dan Sinta sudah berjalan tiga bulan. Komunikasi mereka juga tidak kaku lagi. Mereka layaknya seperti pengantin baru pada umumnya. Walaupun tidak ada ungkapan cinta dari Andre nyatanya Sinta sudah mulai jatuh cinta pada suaminya. Perhatian dan perlakuan Andre yang menghargai Sinta membuatnya semakin mencintai Andre. Bukan hanya perhatian Andre juga memanjakan Sinta dengan materi yang cukup.


Sedangkan Andre cintanya hanya untuk Cindy seorang. Ungkapan cinta yang diucapkan setiap bersama Cindy membuat keduanya pasangan romantis. Miris memang ungkapan cinta untuk Cindy dan bercinta dengan Sinta.


Keberadaan Sinta masih tersimpan tak seorang pun tahu baik keluarga Andre maupun Sinta. Dan juga Cindy dan sahabat Sinta mereka tidak mengetahui pernikahan siri Andre dan Sinta.Di kampus keduanya bisa bersikap selayaknya antara dosen dan mahasiswa. Tidak ada sikap yang mencurigakan yang ditunjukkan keduanya.


Andre tidak membatasi Sinta untuk bergaul tapi hanya dengan wanita. Jangan coba coba bergaul dengan laki laki. Andre akan marah besar. Walaupun hanya sekedar simpanan tetap juga Andre tidak rela Sinta bergaul dengan laki laki lain. Tentang materi Andre memberi lebih dari cukup bahkan Sinta bisa menabung hasil pemberian Andre. Sertifikat rumah pun sudah berganti nama menjadi nama Sinta.


Andre mewanti wanti Sinta jangan sampai hamil. Bagi Andre Sinta hanya simpanan yang akan dilepas suatu hari nanti. Entah kapan waktunya. Dan tidak boleh ada anak diantara mereka. Sedangkan Sinta , setiap hari berharap ada ungkapan cinta untuknya. Berusaha menjadi istri yang baik melayani di ranjang dan di meja makan sudah diusahakan Sinta. Tetap aja Andre hanya membutuhkannya di ranjang.


Sinta masih bertanya tanya dalam hatinya tentang status Andre menikah atau tidak menikah. Andre yang setiap malam menginap di rumahnya membuat Sinta sedikit bingung. Sedikit berharap hanya dia istri satu satunya nyatanya begitu tapi Sinta tidak mengetahui. Sinta mengira Andre punya istri sah agama dan negara dan juga mempunyai anak.


Malam itu Andre pulang lebih dari cepat dari malam malam sebelumnya. Setelah menuntaskan hasrat berdua, Sinta duduk di ranjang bergelayut manja di dada suaminya. Dan dengan lembut Andre membelai rambut Sinta. Nampak sisa sisa kenikmatan di wajah keduanya. Tiga bulan menjadi suami istri Sinta semakin pintar memuaskan suaminya di ranjang.


"Mas..."


"Iya, ada apa?"


"Tentang uang yang tadi malam mas kasih, jumlahnya tidak salah?"


"Kenapa? kurang?"


"Gak mas, ga kurang malah lebih. Biasanya kan ga segitu mas kasih. Ini lebihnya sampai tiga juta."


"Itu ga salah. itu semua untukmu. Pakailah sesukamu. Beli baju, tas pokoknya terserah mu."


"Mas, kalau mas beri segitu banyak untukku. terus untuk istri dan anakmu apa?. Andre sedikit terkejut dengan perkataan Sinta kemudian tersenyum. Andre paham jadi selama ini Sinta mengira Andre sudah mempunyai istri dan anak sebelum menikahi Sinta.


"Aku ga mau mas karena memberiku uang banyak anak istrimu jatahnya jadi berkurang. Kasihan anak istrimu." Sinta berkata lagi, bukan untuk mencari simpati tetapi itulah yang dipikirkannya. Andre kagum akan Sinta sebagai simpanan masih memikirkan jatah istri sah. Andaikan istri sah itu ada. Nyatanya masih hanya Sinta yang menjadi istri Andre . Biasanya istri simpanan itu akan menguras harta suaminya, itulah yang sering didengar Andre dari rekan kerjanya. Bahkan di sinetron pun istri simpanan selalu jahat dan yang diincar pun hanya harta. Tapi Sinta justru memikirkan jatah istri pertama yang ternyata dirinya sendiri.


"Mas lebihkan uangnya, karena mas mau kamu itu tidak kekurangan uang selama istri mas. Kalau kamu merasa kebutuhan sudah terpenuhi, kamu boleh mengirimkan ke orangtuamu." Andre berkata tanpa menjelaskan bahwa istri dan anaknya belum ada. Sinta merasa sedih karena mendengar kata "selama istri mas." Itu tandanya dia akan dilepas. Tetapi mendengar kata "boleh mengirimkan ke orangtuamu." Membuat Sinta senang. Sejak menjadi istri Andre dan uangnya berlebih Sinta ingin mengirimi orangtuanya uang, tapi Sinta takut ketahuan sama Andre dan dianggap tak tahu diri.


"Benarkah mas?. Andre mengangguk. Entah kenapa melihat Sinta senang Andre pun senang. Sinta tersenyum dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Tidurlah! atau mau satu ronde lagi?.


"Iya mas." Sinta mengangguk dan semakin memeluk Andre senang. Sinta merasakan kebahagiaan yang tidak bisa digambarkan. Selain karena bisa mengirim uang kepada orangtuanya. Sinta semakin terbuai dengan sikap baik yang terlihat tulus dari suami sirinya.

__ADS_1


"Iya apa? tidur atau satu ronde?. Sinta melepaskan pelukannya dan mendongak menatap wajah Andre.


"Tidur?. Sinta menggeleng.


" Satu ronde lagi?. Sinta mengangguk dan spontan keduanya tertawa terbahak-bahak.


"Tapi mas mau tidur. Lelah," kata Andre pura pura dan menarik selimut sebatas dadanya. Sinta cemberut. Akhirnya Sinta mencium tepat di bibir Andre. Andre masih saja pura pura hendak tidur.


"Mas...." Dengan manjanya Sinta menggoyang goyangkan badan Andre yang menutup wajahnya biar jangan dicium Sinta. Sinta merajuk. Sinta berbaring dan membelakangi tubuh suaminya.


"Emang kamu ga lelah?" tanya Andre yang sudah memeluk tubuh Sinta dari belakang.


"Ga mas yang ada keenakan." Jawaban Sinta membuat Andre tertawa terbahak-bahak. Andre membalikkan tubuh Sinta untuk menghadap ke dirinya dan langsung menyerang bibir mungil milik istrinya. Sinta menyambutnya dengan senang hati karena memang dirinya juga sangat menginginkan percintaan itu satu ronde lagi.


Pagi pagi Andre sudah rapi dan berangkat ke kampus. Sebelumnya Andre sudah memasak sarapan mereka berdua. Andre sarapan sendiri dan membiarkan Sinta tidur. Sinta masuk kelas jam sepuluh jadi tidak apa apalah bangun terlambat. Kebiasaan selama tiga bulan ini Andre selalu menyiapkan sarapan mereka. Jadi wajar kan Sinta jatuh cinta. Dikasih rumah, materi lebih dari cukup, perhatian, hati wanita mana yang tidak luluh.


Sinta tiba di kampus terlambat. Tergesa, Sinta memasuki ruang kelasnya. Alangkah terkejutnya Sinta mendapat ruangan kosong. Masih di depan pintu kelas Sinta langsung mengirim chat ke sahabatnya. Dan benar hari ini Sang dosen tidak bisa masuk karena sakit.


Sinta langsung menuju perpustakaan bukan berniat meminjam buku tetapi karena Vina di perpustakaan sedang mengembalikan buku.


"Vin, yang lain dimana?" tanya Sinta ketika hanya melihat Vina berdiri di depan meja petugas perpustakaan.


"Lah kalau udah tahu dosennya ga datang, ngapain lagi ke kampus. Buang duit aja. Emang kapan kalian tahu info dosennya ga masuk hari ini."


"Tadi jam sembilan dari anak kelas A. Kita kan rencananya mau refreshing ke mall. Cuci mata coy. Kali aja ada yang diskon."


"Huh tau gitu tadi ngorok aja di rumah. Buang duit aja. Kalian kog gak ngasih info di grup sih."


"Hei, kalau kasih info di grup. Yang ada kamu ga datang ke kampus. Kita mau jalan berenam bukan berlima. Kamu itu kalau diajakin ga pernah mau. Udah ah ayo!. Udah pindah kost ga bilang bilang. Ngarep segala sesuatu info di grup." Vina mengomeli Sinta karena pindah kost ga bilang bilang. Vina kesal.


"Iya, iya maaf," kata Sinta menarik tangan Vina ke luar perpustakaan.


"Kamu pindahnya ke mana sih?.


"Aku pindah ke rumah pamanku. Kebetulan pamanku pindah tugas keluar kota. Jadi biar ada yang ngurus rumahnya aku di suruh pindah ke sana dan tiap bulannya dikasih uang saku. Kan lumayan ga bayar malah dikasih uang," kata Sinta berbohong supaya para sahabatnya tidak curiga. Dan mereka sudah sampai di depan kolam


"Guys, langsung jalan yuk!. Biar jangan kejauhan pulangnya. Kasihan tuh Elsa rumahnya harus melalui jalan darat dan jalan air," kata indah ketika melihat Sinta dan Vina sudah didepannya. Elsa menjulurkan lidahnya ke arah indah dan semuanya tertawa. Diantara mereka rumah Elsa yang paling jauh.

__ADS_1


"Sinta juga ikut?" tanya Cici heran. Karena biasanya Sinta akan menolak jika diajak jalan jalan ke mall. Sinta menganggukkan kepalanya.


"Tumben," kata Tini.


"Sedikit pemaksaan tin, kalau gitu mana mau dia ikut. Padahal udah dapat uang saku bulanan dia dari pamannya." Sinta mengikut lengan Vina yang ngomong tanpa saringan. Walau Vina percaya akan kebohongannya, Sinta masih tidak ingin jika para sahabatnya mengetahui jika dirinya sudah mempunyai sumber uang.


"Udah yuk!." kata Tini sambil berjalan mendahului yang lain. Kalau ga di pancing jalan sampai sore pun bisa bisa ga jadi ke mall. Yang ada semuanya berdebat yang ujung ujungnya bercanda. Satupun tidak ada yang tak boleh kebagian cakap. Ada ada aja topik yang jadi bahan. Daun kering pun bisa jadi topik. Tapi itulah yang membuat indahnya persahabatan enam gadis cantik itu.


Sesampai di mall, mereka berenam langsung menyerbu yang diskon diskon. Mau baju, tas atau apapun yang diskon pasti di serbu walaupun ujungnya ujungnya terlebih dahulu melihat label harga. Cocok angkut, tidak cocok letak kembali.


Vina dan Cici sudah terlihat menenteng beberapa plastik belanjaan begitu juga yang lain. Hanya Sinta yang masih terlihat hanya menenteng tas sandangnya. Bukan karena tidak tertarik tapi melihat harga walaupun sudah didiskon membuat Sinta mengurungkan niatnya. Masih banyak yang lebih penting dari ini semua mending ku kasih ke orangtuaku. Baju mah di pasar loak banyak yang harga tiga puluh ribu udah cantik, bermerek dan masih like new. Gumam Sinta dalam hatinya.


Tapi daripada bengong, Sinta agak menjauh dari sahabatnya sambil berpura pura melihat baju. Hanya melihat dan memegang. Jangankan membeli melihat labelnya pun tidak.


Sinta semakin menjauh dari kelima sahabatnya Melihat Gaun cantik di sudut ujung membuat Sinta tertarik hanya melihat. Sinta menghampiri manekin tersebut sambil memegang dan penasaran. Sinta melihat label harganya hampir dua juta. Sinta buru buru melepaskan tangannya dari gaun cantik itu takut kotor atau apalah dan di suruh menggantinya. Seorang wanita tidak sengaja menyentuh tangannya ketika orang itu juga mau meraba bahan gaun tersebut.


"Mas, Gaunnya cantik ya. Aku suka," kata wanita dengan cerianya."


"Iya sayang, kalau kamu mau ambil aja."


Deg


Suara itu, suara yang sangat dikenal oleh Sinta. Sinta mematung di tempatnya dan tidak berani membalikkan badannya hanya untuk memastikan laki laki yang di belakangnya. Sedangkan wanita itu masih saja meraba dan mengamati gaun tersebut.


"Mbak, gaunnya ada ukuran ga?" tanya wanita itu lagi pada SPG yang sedang merapikan kain kain yang kurang rapi.


"Ukuran masih lengkap mbak."


"Tolong Carikan yang ukuran M ya!. Warnanya sama seperti yang di patung."


"Ini mbak." Ketika wanita berjalan ke arah SPG mengambil gaun yang dimaksud, Sinta membalikkan badannya dan benar di belakangnya Andre berdiri sambil menenteng plastik belanjanya yang banyak. Andre terkejut melihat Sinta. Tapi kemudian Andre bersikap pura pura tidak mengenal Sinta. Andre melewati Sinta tanpa menatap istri sirinya. Andre berjalan ke arah Cindy kekasihnya.


"Aku aja mas yang bawa ini, kita langsung ke kasir aja ya!.


"Iya sayang, terserah mu yang penting kamu senang."


"Terima kasih mas ku sayang."

__ADS_1


Sinta masih mendengar obrolan sepasang kekasih itu membuatnya merasa sesak. Hatinya berdenyut nyeri melihat suaminya berjalan dengan wanita lain. Sinta meyakini bahwa wanita itulah istri pertama Andre. Sinta akhirnya sadar diri dan cepat cepat mencari keberadaan para sahabatnya.


__ADS_2