Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Rasa dan Suasana baru


__ADS_3

Setelah pertemuan dua keluarga terjadi, keluarga Rahmat dan keluarga Doni maka pernikahan Andre dan Cindy akan dipercepat. Dan pernikahan itu sesuai rencana Andre, hanya pernikahan sederhana mengundang keluarga dekat dan rekan kerja kedua calon pengantin. Akad nikah akan diadakan di kediaman Cindy.


Satu Minggu dari pertemuan itu, Hari ini Andre sudah sah menjadi suami Cindy. Tamu tamu juga sudah pulang. Setelah berpamitan dari kedua orangtuanya, Cindy diboyong Andre ke rumah orangtuanya. Sebenarnya Andre ingin membawa Cindy langsung ke apartemennya, tapi karena keluarga melarang jadilah Andre membawa Cindy ke rumah orangtuanya. Hanya untuk sementara.


Sore hari seluruh keluarga dan pengantin baru sudah tiba di kediaman papa Rahmat. Setelah Andre mengantarkan istrinya ke kamar, Andre kembali berkumpul dengan saudaranya di ruang keluarga. Sedangkan kedua orang tua Andre memilih langsung beristirahat karena kelelahan.


"Istrimu mana bro?" tanya Andi ketika Andre sudah duduk di sofa.


"Kamar kak."


"Lah kamu kog disini?. Sana temani istrimu," kata Bayu sambil merangkul Maya.


"Gitu kak, kalau udah ngerasain sebelum nikah, pasti gak dag Dig dug lagi," kata Andi sambil terkekeh. Andre melotot. Bella langsung memukul tangan Andi.


"Pikirannya langsung ke situ aja," kata Bella sambil menggeleng. Yang lain tertawa kecuali Andre.


"Lah kan sudah halal, apalagi kan itu nikmatnya berumahtangga. Mau dicelup berapa kali pun tidak ada yang melarang. Coba kalau tidak halal, pasti dibayangi dosa," kata Andi lagi panjang lebar.


"Celup, celup emang bubuk teh," kata Maya jengkel.


"Andre kalau butuh ilmu, boleh minta sama kakak. Karena istrimu lagi hamil perlu ilmu supaya kandungannya tidak kenapa kenapa," kata Andi lagi yang lain sudah kesal karena itu itu saja yang di bahas Andi


"Gitu ya kak?. Andi mengangguk. Ingin bertanya lebih lanjut tapi Bayu langsung menyuruh Andre ke kamar.


"Andre, masuklah ke kamarmu. Kasihan istrimu. Rumah ini masih terasa asing baginya." Andre menurut dan masuk ke kamarnya.


"Mas, mandi dulu biar segar!" kata Cindy yang sudah selesai mandi dan duduk di meja rias. Andre mengambil hair dryer dari tangan Cindy dan mengeringkan rambut Cindy.


"Makasih mas."


"Iya, aku mandi dulu ya." Cindy mengangguk.


Setengah jam kemudian Andre keluar dari kamar mandi hanya melilitkan handuk di bagian bawahnya. Wajahnya yang segar menambah ketampanannya. Cindy terpana melihat tubuh suaminya. Walaupun ini yang kedua kalinya melihat tubuh Andre tanpa baju tetap aja dia pangling.


"Mas, itu baju gantimu!" kata Cindy sambil menunjukkan pakaian di atas ranjang. Andre yang diperlakukan seperti itu sangat terkesan, hal yang tidak pernah diterimanya dari Sinta. Andre tersenyum dan duduk di tepi ranjang. Cindy yang sudah siap merias wajahnya ikut duduk dekat Andre. Ketika Andre ingin meraih bajunya, Cindy memegang tangan Andre.


Cindy kemudian meraba dada Andre yang bidang dan meletakkan tangan Andre di dadanya. Agresif sekali. Kini bibir mereka sudah saling bertautan, Entah siapa yang membuka pakaian Cindy sudah berserakan di lantai tanpa ada yang tersisa di tubuhnya. Cindy naik ke pangkuan Andre meletakkan tubuhnya di antara kedua paha Andre setelah melemparkan handuk yang melilit tubuh bagian bawah Andre.


Andre sungguh menikmati tarian tubuh Cindy sambil bibir mereka tidak terlepas. Tangan keduanya saling meraba punggung lawan main. Andre sangat merasakan nikmat tiada tara. Sinta tidak pernah memperlakukan nya seperti itu.


"Makasih sayang," kata Andre setelah Cindy turun dari pangkuannya. Andre berbaring di ranjang dan Cindy juga ikutan berbaring.

__ADS_1


Cindy kembali memeluk Andre, Andre membalas. Cindy kembali mencium bibir Andre dan kembali mereka hanyut dalam ciuman panas. Cindy melepaskan ciuman Andre dan bergeser ke tengah ranjang. Cindy membuat posisinya seperti hewan berkaki empat, Andre paham tujuannya. Walaupun tidak pernah melakukan gaya seperti itu dengan Sinta tapi Andre pernah menonton videonya. Andre bersiap dan bergoyang di belakang Cindy. Sungguh Andre merasakan nikmat yang lebih luar biasa dari sebelumnya. Andre hampir mencapai tujuannya ketika terdengar suara pintu kamar terbuka.


Ceklek


"Siaran langsung rupanya," kata Andi terkekeh dan segera menutup pintu.


"Di tunggu di meja makan woy," kata Andi lagi berteriak. Kegiatan Andre berhenti dan langsung masuk ke kamar mandi.


Di meja makan, formasi keluarga hampir lengkap. Andre dan Cindy belum turun juga karena masih sibuk membersihkan diri sedangkan Agnes masih membaca novel di kamarnya.


"Ih mas Andi, berisik," kata Bella ketika Andi menuruni tangga sambil tertawa.


"Ada apa sih bro?" tanya Bayu.


"Mereka siaran langsung kak," kata Andi, Bayu pun tertawa sedangkan yang lain merasa heran, sebab mereka tidak tau apa maksud dari siaran langsung.


Dengan menunduk Cindy menuruni tangga dengan menggandeng tangan suaminya. Wajahnya merah bagaikan tomat masak, sebenarnya dia merengek tidak ikut makan malam bersama tapi Andre memaksanya. Berbeda dengan Cindy, Andre terlihat biasa saja.


Andre menggeser bangku dan mempersilahkan Cindy duduk, setelah Cindy duduk baru kemudian Andre duduk berdampingan dengan Cindy. Setelah doa makan selesai, Cindy melayani Andre, mengambilkan nasi, lauk pauk dan juga air putih. Lagi lagi Andre terkesan dengan perlakuan Cindy. Andre kembali mengingat Sinta. Sinta juga tidak pernah memperlakukan Andre seperti ini.


"Jadi begini rasanya punya istri yang dewasa, di ranjang hot di meja makan pun dilayani. Bukan seperti Sinta, di ranjang dan di meja makan tau nya cuma menerima dan siap beres," batin Andre.


"Makasih sayang," kata Andre setelah melihat piring di depannya sudah terisi dan lengkap tinggal makan. Cindy hanya tersenyum sedangkan yang lainnya hanya menonton kedua pengantin baru tersebut.


"Iya dek," jawab Bella dan mengambilkan piring serta isinya dan menyerahkan ke Agnes.


"Makasih mbak ku yang cantik mempesona," kata Agnes, Bella langsung menyentil kepala Agnes.


"Kebiasaan," cibir Andi yang tak rela Bella melayani adiknya yang manja itu.


"Biarin," kata Agnes cuek.


Setelah makan malam selesai, kini keluarga besar itu sudah berkumpul di ruang keluarga. Kenzo dan Rey juga ikut. Mereka asyik bermain. Di ruang keluarga Papa Rahmat menyediakan banyak mainan untuk kedua cucunya. Sementara orang dewasa duduk santai di sofa sambil berbicara ringan.


"Andre, rencananya tinggal di apartemen atau di rumah papa?" tanya Bayu.


"Apartemen Kak."


"Enakan di rumah seperti ini loh Andre, daripada di apartemen, menurut aku ya," kata Maya memberi pendapat.


"Kalau Cindy bagaimana?" tanya Bella

__ADS_1


"Aku ikut mas Andre mbak."


"Papa sudah beli rumah dua Minggu yang lalu, untuk kalian Andre, sebagai kado pernikahan kalian. Terserah mau kalian tinggal di sana atau tidak, ini kuncinya," kata papa Rahmat sambil menyodorkan kunci ke Andre.


"Kenapa repot repot pa, Andre kan punya apartemen."


"Kalau sudah berkeluarga lebih bagus tidak tinggal di apartemen itu menurut papa, Papa juga tidak mau dibilang tidak adil karena tidak membelikan kamu rumah, Kedua kakakmu juga dapat rumah sebagai kado pernikahan. Alamatnya di jalan Xxxxx,"


Andre terkejut mendengar alamat yang di sebutkan papa Andre. Karena alamat itu dekat dengan alamat rumah Sinta hanya jarak beberapa ratus meter. Dan beda kompleks.


"Terima kasih pa, tapi kami tetap tinggal di apartemen," kata Andre menolak tinggal di rumah yang dibelikan orangtuanya karena takut suatu saat nanti Cindy dan Sinta bertemu walau hanya kebetulan.


"Mas, kita hargai donk pemberian Om. Kita tinggal di sana saja," kata Cindy.


"Cindy, kamu sudah jadi anggota keluarga ini, jadi jangan panggil om dan Tante, panggil papa dan mama seperti suamimu," kata mama Ningsih.


"Iya mama, maaf." Mama Ningsih tersenyum.


"Tapi sayang, aku lebih suka di apartemen."


"Sudah, sudah. Kalian harus tinggal di rumah pemberian Papa. Hargai donk Andre, kami juga punya apartemen sewaktu lajang, Setelah berkeluarga kami tinggal di rumah pemberian Papa. Iya kan Andi?. Apalagi istrimu juga mau," kata Bayu, Andi mengangguk.


"Iya deh," jawab Andre sambil menyandarkan punggungnya ke sofa. Agnes yang sedari tadi bermain dengan kedua keponakannya ikut bergabung duduk di sofa.


"Mbak, Bella kafe mu butuh karyawan tidak?" tanya Agnes.


"Emang siapa yang mau kerja Agnes?" jawab Bella.


"Ada mbak, temannya temanku."


"Cewek atau cowok?"


"Cewek mbak."


"Ada sih Agnes, tapi aku butuh kasir. Temanmu itu bisa dipercaya tidak?"


"Aku juga belum kenal mbak, kan tadi kubilang temannya temanku."


"Ribet amat," kata Andi


"Ribet gimana, kakak aja yang lemot, Aku punya teman. Temanku itu punya teman. Nah temannya itu yang cari kerja," kata Agnes menjelaskan, yang lain tersenyum dan menggeleng. Sebenarnya memang agak ribet tapi bagi Agnes tidak.

__ADS_1


"Bawa saja dulu ke kafe Agnes, Tapi cepat ya karena kasir yang lama mau menikah."


"Iya mbak."


__ADS_2