
Andre dan Sinta kini menempati kamar Dion. Dion mengungsi ke kamar papa dan mamanya. Sedangkan Airia tidur bersama tantenya Lina. Bayi itu merasa sangat nyaman bersama dengan Lina.
Andre dan Sinta tidur berdempetan. Tempat tidur itu seharusnya hanya muat untuk satu orang. Sinta sudah mengajak Andre untuk tidur di bawah dengan beralaskan tikar. Tapi Andre tidak mau. Walau sempit dan tidak senyaman di ranjang besarnya. Andre sangat senang degan tidur seperti ini. Sinta tidak bisa menolak untuk tidak dipeluk. Selain karena tempat tidur itu sempit, Sinta juga tidak mau suaminya itu jatuh.
"Mas, inilah keadaan keluarga aku yang sebenarnya. Apa kamu menyesal?"
"Menyesal karena apa sayang?"
"Karena sudah menikah dengan aku. Putri dari keluarga miskin,"
"Jangan berkata seperti itu sayang. Sedikit pun aku tidak menyesal. Hanya saya aku berniat untuk merenovasi rumah ini tapi aku takut papa dan mama tersinggung jika aku menawarkan diri untuk membantu mereka," jawab Andre tulus. Melihat kondisi rumah mertuanya. Andre merasa kasihan. Andre merasa tidak adil, dia membangun rumah yang lumayan besar untuk keluarga kecilnya, sementara mertuanya tinggal di rumah yang jauh dari kata sederhana.
Rumah orang tua Sinta memang tak ubahnya seperti rumah tanggap darurat. Walau tidak banjir jika hujan turun. Tapi kondisi rumah itu sangat memprihatikan. Lantai semen yang sudah hampir retak dan banyak tempelan semen. Warna dindingnya yang tidak tersentuh cat membuat dinding itu terlihat kusam.
"Terima kasih mas atas perhatian kamu. Aku rasa papa tidak semudah itu menerima bantuan. Biar saja seperti ini,"
"Sayang. Tidak boleh gitu donk. Kamu saja yang memberi mereka uang. Ambil dari ATM yang aku kasih kemarin. Aku lihat sepeserpun belum pernah kamu ambil. Kalau aku yang memberi, aku takut papa dan mama tersinggung,"
"ATM mana mas?" tanya Sinta heran. Dia merasa tidak pernah menerima ATM dari Andre. Setelah rujuk Andre hanya memberi jatah bulanan untuk kebutuhan dan keperluan rumah. Dan juga untuk membayar dua pekerja di rumahnya.
"Ya ampun. Masih muda sudah pelupa. ATM yang pernah aku kasih sebelum rujuk. Setiap bulan aku rutin mentransfer ke rekening itu." Sinta berusaha mengingat tentang ATM yang dimaksudkan Andre. Di dompetnya hanya ada satu ATM miliknya. Sinta benar benar lupa.
"Aku lupa lah mas,"
"Coba ingat, aku memberinya ketika berkunjung ke rumah. Waktu itu Tini juga ada di sana. Kamu ingat. Di hari yang sama aku juga membelikan mesin cuci, Vacuum cleaner dan kereta dorong untuk Airia."
"O iya, aku ingat mas. Jadi itu dari kamu mas?. ATMnya kalau gak salah aku simpan di lipatan baju di lemari." Andre mengangguk.
"Ya sudah nanti untuk renovasi rumah ini. Aku ambil dari rekening aku saja,"
"Tapi mas, kamu juga masih butuh banyak uang untuk pembangunan rumah itu,"
"Jangan khawatir sayang. Budget untuk itu sudah aman. Rumah yang pernah aku tempati dengan Cindy, sudah aku jual. Dan dari hasil penjualan itulah untuk membangun rumah yang sedang dikerjakannya sekarang. Besok kita ambil uang ke ATM terdekat dan berikan ke papa,"
"Kamu saja yang memberi mas,"
"Kamu saja sayang,"
"Kamu saja mas,"
"Baiklah. Besok kita beri sama sama," jawab Andre akhirnya. Sinta mengangguk kepala.
Besoknya hari Sabtu pagi. Andre benar benar menepati perkataannya. Kini mereka sudah di mobil menuju kota kecil ibukota kabupaten untuk menarik sejumlah uang di ATMnya. Lina ikut serta dengan mereka.
"Lina, kamu gak ada rencana untuk melanjutkan sekolah dek?" tanya Sinta. Adiknya itu sudah lulus sekolah menengah umum satu tahun yang lalu. Tapi sepertinya Lina betah tinggal di kampung. Sebelumnya Sinta tahu, bahwa Lina juga pernah berencana untuk menyusul nya ke kota melanjutkan sekolah.
"Tidak mbak, papa dan mama tidak mengijinkan aku untuk pergi ke kota."
"Kenapa seperti itu dek?" tanya Sinta heran.
"Papa dan mama takut aku mengikuti jejak mbak Sinta. Mereka malah menyuruh untuk menikah saja," jawab Lina sedih. Sama seperti Sinta. Lina juga punya keinginan untuk melanjutkan sekolah. Sinta terkejut dan merasa sedih, keputusannya untuk menikah diam diam ternyata berdampak bagi adiknya.
"Maafkan mbak Lina,"
"Sebelum mertua mbak datang. Aku dan Andika sudah pernah berusaha untuk mencari Kaka ke kota. Kami tidak tahu alamat dan kampus mu mbak. Jadilah kami pulang tanpa hasil," kata Lina sedih.
"Kenapa kamu tidak mengabari kalau kalian ke kota?"
"Kami menghubungi mbak, tapi nomor mu tidak aktif. Saat itu aku dan Andika hanya ingin membuktikan bahwa apa yang dikatakan mbak Wulan salah.". Sinta mengingat, sehabis melahirkan satu tahun yang lalu hampir satu bulan Sinta memblokir nomer keluarganya.
__ADS_1
"Emang mbak Wulan mengatakan apa?"
"Mbak Wulan bercerita ke semua tetangga, kalau dia pernah melihat mbak di kota dalam keadaan hamil. Karena mendengar itu, mama sampai sakit dua Minggu mbak."
Sinta menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Begitu juga dengan Andre. Andre bahkan mengusap wajahnya kasar. Ternyata perbuatannya tidak hanya melukai hati Sinta. Tapi ada juga keluarga Sinta yang menanggung malu di kampung.
"Mbak Wulan?. Dia sering ke kota?"
"Iya Mbak. Bahkan dia menunjukkan foto kakak yang sedang hamil. Makanya para tetangga kita percaya. Untunglah mertua mu datang ke rumah mbak. Mertuamu bercerita tentang pernikahan kalian, kemudian papa memanggil tetangga ke rumah untuk langsung mendengar sendiri dari mertua mbak. Sebelum itu, tetangga sudah beranggapan bahwa mbak simpanan om om di kota seperti mbak wulan," kata Lina menceritakan apa yang sebenarnya terjadi selam dua tahun ini.
Sinta kembali menitikkan air mata. Merasa sedih dengan gossip yang sempat beredar di kampungnya. Pantas saja ketika semalam dia sampai di depan rumah papanya, para ibu yang berkumpul itu tidak merasa heran karena Sinta pulang dengan laki laki dan juga seorang bayi.
Andre yang mendengar cerita itu juga merasa sedih. Keputusan untuk mengajak rujuk dengan Sinta adalah tepat. Dengan rujuknya mereka seperti ini, setidaknya bisa mengembalikan harga diri Sinta dan keluarganya yang sudah terlanjur di cap jelek.
Setelah mengambil uang dari ATM. Andre kembali ke mobilnya. Dia menyodorkan uang sejumlah dua puluh juta ke Sinta. Karena pengambilan uang dari ATM ada limitnya, Andre hanya mengambil uang segitu.
"Apa segini cukup mas?" tanya Sinta setelah memegang uang itu.
"Tidak cukup, Kita balik ke kota hari Senin saja. Hari Senin aku akan menemani papa membuka rekening. Kalau papa sudah punya nomor rekening, kita juga bisa mentransfer uang ke mereka setiap bulan," jawab Andre sambil menghidupkan mesin mobilnya. Sinta menatap suaminya. Dia tidak menyangka Andre memperhatikannya keluarganya sampai sejauh itu.
"Lina, kalau kamu mau kuliah. Kamu boleh ikut ke kota. Kamu bisa tinggal bersama kami," kata Andre sambil melirik Lina ke bangku belakang. Gadis itu asyik mengajak Airia untuk bernyanyi.
"Tidak kak, aku di kampung saja. Lagi pula tiga bulan lagi aku akan menikah," jawab Lina.
"Menikah?" tanya Sinta heran. Adiknya itu bahkan masih belum genap dua puluh tahun.
"Iya mbak. Aku akan menikah dengan Andika," jawab Lina semakin membuat Sinta terkejut. Lelaki itu pernah menyukainya dan mengatakan cinta kepadanya. Dia tidak menyangka, Andika akan menjadi adik iparnya.
****
Sabtu menjelang sore di kota. Sean mengendarai mobilnya dengan bersiul. Dia akan memberi kejutan kepada Tini. Gadis tomboi itu barusan menghubungi Sean. Mengajak Sean untuk jalan jalan di akhir pekan seperti pasangan kekasih lainnya. Sean dengan meminta maaf terlebih dahulu menolak ajakan itu dan bermaksud memberi gadis itu kejutan. Tini tidak tahu bahwa saat ini juga Sean sudah di jalan hendak menjemput dirinya untuk berkencan.
Setelah memastikan mobil sudah terkunci. Sean melangkah kaki menuju rumah yang pernah ditunjukkan Tini sebagai rumahnya. Rumah sederhana itu tertutup tapi jendelanya terbuka. Sean yakin bahwa Tini ada di rumah.
Sean mengetuk pintu itu tiga kali. Dia sengaja tidak memanggil nama Tini. Rencana untuk memberi kejutan kepada Tini harus berhasil.
"Cari siapa?" tanya seorang pria muda setelah membuka pintu.
"Kenalkan bang. Aku Sean. Temannya Tini," jawab Sean sopan. Dia menduga laki laki yang berdiri dihadapannya ini adalah saudara Tini. Dia tidak mau memberi kesan negatif ke keluarga Tini di pertemuan pertama yang akan berdampak ke hubungannya dengan Tini nantinya.
Pria muda itu mengernyitkan keningnya. Dia tidak menerima uluran tangan itu. Yang ada, pria muda itu menatap Sean penuh selidik.
"Aku tadi bertanya mau cari siapa?. Aku tidak meminta kamu untuk memperkenalkan diri," jawab pria itu ketus. Nada bicaranya sungguh tidak enak untuk di dengar. Sean masih berusaha sopan dan sabar.
"Aku mau cari Tini bang," jawab Sean sopan. Matanya mengamati ke arah rumah. Dia berharap Tini cepat muncul supaya dirinya tidak berurusan dengan pria ini.
"Cari Tini atau cari Tina,"
"Cari Tini bang,"
"Tina... Tina...," panggil pria muda itu memanggil yang bernama Tina. Jelas jelas tadi menyebut nama Tini. Tapi pria itu masih saja memanggil nama Tina. Sean bisa mendengar suara yang menjawab panggilan itu. Tapi itu bukan suara Tini. "Mungkin itu mbaknya" batin Sean dalam hati. Tini pernah bercerita bahwa mereka tiga bersaudara. Sean menduga yang menjawab dari dalam rumah itu mbaknya Tini dan yang berdiri di depannya ini adalah kakak tertua dari Tini.
"Apa mas. Kenapa teriak teriak," jawab yang bernama Tina itu setelah muncul di depan pintu.
"Nih. Dia mencari kamu. Dia kan yang pernah mengantar kamu pulang?" kata pria muda itu marah. Sean terkejut dan wanita yang bernama Tina itu juga terkejut.
"Aku mencari Tini bang. Bukan Tina," kata Sean memperjelas. Dia sudah bisa merasakan aroma salah paham di kedua orang tersebut.
"Disini tidak ada yang bernama Tini. O iya. Tini gadis tomboi itu?" kata wanita itu, Sean mengangguk.
__ADS_1
"Rumahnya bukan ini. Yang itu rumahnya," jawab wanita itu sambil menunjuk rumah mewah di sebelahnya. Sean bingung. Jelas dia masih ingat. Bahwa Tini menunjuk rumah ini waktu itu.
"Tapi mbak, waktu aku mengantarnya. Dia mengatakan ini rumahnya."
"Kalau tidak percaya tanya satpamnya. Jangan sebut nama Tini. Tanya nama Anggun saja. Nanti kalau sudah ketemu. Jangan bilang aku yang memberitahu nama aslinya," jawab wanita itu dengan tersenyum. Pria muda tadi sudah masuk ke dalam rumah.
"Baiklah terima kasih," jawab Sean kemudian membalikkan badan meninggalkan rumah itu. Banyak tanda tanya di hatinya. Tapi Sean ingin membuktikan perkataan wanita itu dulu.
Sean mengintip dari lubang kecil gerbang itu. Dia bisa melihat pos satpam dekat gerbang. Sean memanggil satpam itu dan bertanya. Satpam itu membukakan gerbang setelah banyak pertanyaan. Satpam menyuruh Sean untuk langsung masuk ke rumah mewah itu. Tapi Sean menolak, dia meminta satpam itu untuk memanggil Anggun atau Tini dan menunggunya di bangku dekat pos satpam tersebut. Sean tidak ingin gegabah. Dia takut baik Tini atau wanita yang bernama Tina tadi sama sama mengerjai dirinya.
Sean duduk membelakangi rumah mewah itu. Sean terus berpikir tentang Tini. Sean bahkan sudah bertanya ke Cici tentang nama lengkap Tini lewat wa. Tapi jawaban Cici tidak memuaskan. Hingga sepuluh menit menunggu. Tini atau Anggun belum juga datang menemuinya.
"Kalau memang teman aku, kenapa tidak langsung disuruh masuk ke rumah pak satpam,"
"Aku sudah menyuruh non, tapi pria itu Tidak mau masuk. Dia menunggu di pos,"
"Lain kali, siapapun yang mencari aku tanya namanya."
"Iya non,"
Sean mendengar suara itu. Dia bisa mengenali suara wanita yang semakin mendekat ke arahnya. Sean menahan diri untuk tidak berbalik dan menoleh. Dia menggenggam erat ponselnya. Suara itu adalah suara Tini. Itu artinya bahwa Anggun dan Tini adalah orang yang sama.
Sementara itu, Setelah mendekat ke pos. Tini menghentikan langkahnya dan terdiam. Dari belakang, dia bisa mengenali Sean. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa Sean akan datang menemuinya langsung.
"Pak satpam. Masuklah ke rumah. Dia memang temanku," kata Tini ke satpam. Dia ingin berbicara berdua dengan Sean tanpa siapapun mendengar. Sean sama sekali belum menoleh ke arahnya.
Tini langsung duduk di samping Sean. Seperti tidak ada apa apa. Tini bahkan meninju pelan lengan Sean. Tetapi Sean menatap lurus ke depan. Sean sama sekali tidak bergeming.
"Kak Sean," panggil Tini pelan. Sean hanya menoleh tanpa menjawab.
"Kenapa kakak tidak langsung masuk tadi," tanya Tini sambil menatap wajah Sean dari samping.
"Aku takut salah rumah Tini. Aku mencari kamu ke rumah sebelah. Ternyata aku salah rumah," jawab Sean pelan.
"Maaf kak,"
"Ternyata kamu penuh misteri Tini,"
"Bukan seperti itu kak, aku hanya ingin....,"
"Ingin apa Tini. Ingin mempermainkan perasaanku?" potong Sean cepat. Sean kecewa dengan sikap Tini.
"Bukan kak. Andaikan aku tahu kakak akan datang menjumpai aku ke rumah. Aku akan memberitahukan rumah ku yang sebenarnya,"
"Benarkah?. Kalau boleh tahu. Hal apa saja yang aku belum tahu tentang kamu?" tanya Sean untuk menguji kejujuran Tini. Dia menoleh ke Tini dan menatap matanya.
"Banyak hal yang belum kamu ketahui tentang aku kak. Tapi untuk saat ini. Kamu harus tahu kalau nama asliku adalah Anggun," jawab Tini jujur. Sean merasa puas dengan jawaban Tini.
"Kenapa kamu lebih suka di panggil dengan sebutan Tini?"
"Karena penampilan aku tidak seanggun nama ku kak," jawab Tini membuat Sean terkekeh.
"Kenapa gak sekalian saja kamu dipanggil dengan sebutan Tono. Penampilan dan nama sangat cocok daripada dengan nama Tini," jawab Sean bercanda. Tini cemberut dan kembali meninju lengan Sean.
"Masuk ke rumah yuk kak," ajak Tini.
****
Untuk cerita Radit dan Vina. Besok ya!
__ADS_1