Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Pertama Kali


__ADS_3

Satu bulan kemudian. Kehamilan Vina sudah enam bulan. Kesulitan Vina pun semakin bertambah. Perutnya semakin membesar. Dan bayi yang semakin aktif bergerak di dalam rahim Vina membuat Vina semakin sering merasakan kram di bagian bawah perutnya. Kalau sebelumnya Vina masih bisa berdiri dengan bantuan sang perawat menopang perutnya, Kehamilan di usia enam bulan ini Vina hanya banyak berbaring di ranjang.


Radit, si pria yang tidak bisa dibantah itu pun sudah merasakan kelegaan hati. Dia sudah boleh berkunjung ke rumah Vina. Awalnya memang masih ditemani oleh Andre dan Sinta. Tetapi makin ke sini, Andre bisa melihat Hendrik menerima Radit di rumahnya. Hendrik memang masih diam dan tidak mau berbicara sepatah kata pun kepada Radit.


Hampir setiap hari Radit datang ke rumah Vina. Pagi sebelum berangkat kerja dan sore sesudah pulang Kerja. Radit juga tidak lupa selalu membawakan makanan bergizi untuk Vina dan janinnya. Vina juga tidak menolak. Selain makanan itu bagus untuk janinnya. Selera makan Vina juga akhir akhir ini meningkat.


Vina memang masih bersikap dingin. Tapi Radit tidak perduli dan tidak tersinggung. Baginya bisa melihat kondisi Vina setiap hari lebih penting daripada memikirkan perasaannya sendiri.


"Vina. Aku bawakan bubur kacang hijau," kata Radit sambil meletakkan bubur itu di atas meja. Vina hanya diam. Kemudian Radit melangkah ke dapur untuk mengambil piring dan sendok.


"Aku tidak melihat Ira. Kemana dia?" tanya Radit setelah kembali masuk ke kamar Vina. Radit sudah tahu bahwa pertanyaan tidak di jawab. Tetapi Radit tetap bertanya. Karena memang seperti itulah selama hampir sebulan ini. Hendrik dan Vina sama sama mendiamkan Radit tetapi tidak melarang pria itu untuk masuk ke rumah.


"Sudah resign."


Radit merasakan jantungnya berdebar. Baru kali ini Vina menjawab pertanyaannya. Radit menyunggingkan senyum dan meletakkan piring yang sudah berisi bubur itu ke meja dekat ranjang Vina.


"Sudah dapat penggantinya?" tanya Radit pelan. Vina hanya menghela nafas panjang. Vina juga sedikit bingung untuk menjalani hari ini. Ira tiba tiba resign sebelum ada penggantinya. Entah siapa yang akan membantu Vina hari ini. Mamanya tidak mungkin bisa di harapkan. Sedangkan Hendrik juga lebih tidak mungkin. Selain karena Hendrik juga harus bekerja. Vina juga merasa segan jika papanya yang harus membantunya untuk melakukan aktivitas yang bersifat pribadi. Buang air besar dan kecil juga mandi.


"Bisa aku minta tolong, Aku butuh bantuan bibi Ina sebelum pengganti Ira ada,"


"Boleh. Tapi untuk hari ini sepertinya tidak bisa. Kemarin pagi, bibi Ina pulang kampung dan besok baru kembali," jawab Radit setelah berpikir sebentar. Dia tidak akan menyianyiakan kesempatan hari ini. Mendengar Ira sudah resign, Radit sudah memutuskan untuk tidak ke kantor hari ini. Radit akan mengurus Vina. Radit juga berbohong tentang bibi Ina demi memuluskan niatnya itu.


Vina menarik nafas panjang. Entah kepada siapa dia meminta bantuan hari ini. Kehamilannya ini benar benar menyiksanya. Butuh tiga bulan lagi untuk bersabar menunggu si kembar dengan hanya berbaring di ranjang. Vina merasa sedih dan menangis. Badannya sudah gerah dan kotor tetapi Vina tidak bisa berbuat apa apa. Ira bahkan belum melaksanakan tugasnya pagi langsung pamit berhenti bekerja.


"Kenapa menangis Vin?" tanya Radit khawatir. Vina hanya menggelengkan kepalanya. Radit semakin khawatir dan mencoba mengusap air mata Vina. Vina menepis tangan Radit pelan.


"Kamu mau mandi?" tanya Radit lagi. Vina malu untuk menjawab iya. Lagipula Vina juga tidak ingin jika Radit yang harus membantunya untuk mandi.


"Menunggu bibi Ina pulang, aku yang mengurus mu hari ini," kata Radit lagi sambil membuka jas kerjanya. Vina menatap Radit tidak percaya.


"Jangan takut. Aku tidak akan mengulangi perbuatan menjijikkan itu," kata Radit lembut melihat ketakutan di wajah Vina. Radit mengambil piring berisi bubur kacang ijo itu dan menarik bangku plastik ke dekat ranjang.


"Buka mulutmu Vina," kata Radit lagi. Suara Radit yang lembut dan tegas membuat Vina merasa terhipnotis dan membuka mulutnya. Radit menyuapkan bubur itu ke mulut Vina.


"Sudah cukup," kata Vina setelah hampir setengah piring bubur kacang itu masuk ke dalam mulutnya. Vina sungguh merasa malu dan canggung dalam situasi seperti ini, Radit juga sebenarnya seperti itu juga. Tapi Radit berusaha bersikap biasa.


Radit meletakkan piring itu ke atas meja. Radit masih betah duduk di hadapan Vina. Radit menatap Vina dari ujung kepala dan berhenti di perut yang sangat membesar itu. Radit mengulur tangannya mengelus perut Vina. Vina ingin menepis tangan itu tapi hatinya berkata lain. Vina hanya dapat memejamkan matanya. Untuk yang pertama kalinya, Radit mengelus perutnya. Dan di luar dugaan Vina, Radit bahkan mencium perut buncitnya.

__ADS_1


"Jangan menyusahkan bunda kalian para jagoan dan putri cantikku," kata Radit serak dan terharu. Mengingat semua perbuatan bejatnya, Radit tidak menyangka dirinya bisa mengelus dan memberi perhatian seperti ini kepada Vina dan janin kembarnya. Dia kembali menunduk dan mengelus perut Vina. Vina pasrah akan perlakuan Radit kepadanya pagi ini.


"Apa kamu yakin akan melahirkan sampai genap sembilan bulan. Jika kamu tidak mampu sebaiknya kita ikuti saran dokter," tanya Radit lagi. Dia sangat kasihan melihat kondisi Vina yang terus terbaring di tempat tidur. Dokter sudah menyarankan untuk membedah Vina di usia kandungan berumur tujuh bulan. Tetapi Vina bersikeras untuk berusaha melahirkan bayi bayinya hingga genap sembilan bulan.


"Selagi tubuhku masih mampu untuk menampung mereka sampai tiga bulan ke depan. Aku tidak akan mau melahirkan bayi bayi aku prematur," jawab Vina pelan. Vina sudah bertekad akan melahirkan bayinya sampai genap sembilan bulan. Dia tidak perduli jika dirinya seperti orang penyakitan yang harus berbaring di tempat tidur. Dua hari ini, Ira memang sudah menyarankan Vina untuk memakai diapers dewasa. Selain karena frekuensi buang air kecil yang semakin sering juga karena kondisi Vina yang lemah.


Radit menatap wajah Vina. Entah kenapa Radit merasa bangga dengan jawaban Vina itu. Kalau boleh jujur, Radit pun sebenarnya tidak ingin baya bayinya lahir prematur. Tetapi melihat kondisi Vina, Radit juga tidak tega.


"Terimakasih kasih Vina,"


'Kamu tidak perlu berterimakasih. Aku rela seperti itu juga untuk anak anakku. Bukan untuk kamu," jawab Vina ketus. Radit yang menyadari dirinya salah berbicara langsung mengambil piring kotor tadi dan membawanya ke dapur. Dia tidak ingin berdebat atau berbicara sesuatu yang bisa membuat Vina marah. Pria tidak bisa dibantah itu sedikit demi sedikit semakin waras.


Vina menghela nafas panjang. Badannya semakin gerah. Ditambah diapersnya sudah penuh membuat Vina semakin tidak nyaman. Vina melirik jam dinding di ruangan itu. Jam sembilan. Biasanya jam segini Vina sudah wangi dan segar.


"Sekarang kamu mandi ya Vin," kata Radit sambil membuka lemari pakaian Vina. Radit mengambil daster yang besar dan alat penyangga susu. Sedangkan untuk segitiga pengaman, Radit sudah mengetahui jika Vina memakai diapers.


"Aku akan segera mencari pengganti Ira. Untuk hari ini. Biarkan aku yang membantu kamu mandi," kata Radit lagi yang melihat Vina diam tapi kegerahan.


"Letakkan bangku ini terlebih dahulu di kamar mandi," kata Vina sambil menunjuk bangku plastik. Radit segera melaksanakan apa yang diperintahkan Vina. Vina akhirnya menyerah. Keadaannya tidak memungkinkan untuk menolak bantuan Radit.


"Kamu pegangin perut kamu. Aku akan menggendong kamu,"


"Keluarlah Radit," kata Vina setelah duduk di bangku plastik.


"Aku akan memandikan kamu seperti yang dilakukan Ira. Tidak perlu takut. Aku tidak akan berselera dengan bentuk tubuh kamu yang seperti ini. Yang ada aku sangat kasihan," kata Radit sambil membuka daster. Vina mendekap dirinya sendiri untuk menutupi dua aset kembarnya. Vina malu. Wajahnya entah sudah warna apa sekarang. Jika tidak hamil. Vina pasti sudah berlari keluar dari kamar mandi itu.


Radit menggosok badan Vina dengan lembut. Membasuh dan kemudian mengeringkan tubuh Vina. Tanpa handuk, Radit kembali menggendong tubuh polos itu ke ranjang.


"Masih pakai diapers?. Kalau tidak nyaman. Aku bisa menggendong kamu setiap buang air kecil?"


"Pakai diapers saja," jawab Vina malu. Itu lebih bagus daripada setiap buang air kecil harus tergantung kepada Radit. Mengingat Radit memandikannya dengan tenang, Vina yakin bahwa Radit tidak akan mengulangi perbuatannya dulu. Radit mengambil diapers dan akan memasangkan ke bagian tubuh Vina.


Radit mati matian menahan hasrat melihat tubuh Vina. Sudah lama Radit tidak merasakan kenikmatan duniawi itu. Selama mengetahui Vina hamil, pikirannya hanya kepada Vina dan janin kembarnya. Bahkan ketika Donna terus berusaha menggodanya. Radit masih menahannya. Tapi ketika melihat Vina seperti ini, Tubuh Radit bergejolak. Radit memejamkan mata ketika akan memasangkan diapers tersebut. Radit menarik nafas lega Ketika akhirnya diapers itu terpasang walau tidak sempurna.


"Terimakasih," kata Vina pelan. Penyangga dada dan daster sudah terpasang di tubuhnya. Radit mengangguk dan mengambil sisir.


"Aku saja," kata Radit ketika Vina meminta sisir itu. Radit naik ke atas ranjang dan menyisir rambut Vina.

__ADS_1


"Apa kamu dan Tini merencanakan sesuatu?" tanya Vina tiba tiba. Radit tersentak dan tangannya berhenti menyisir rambut Vina. Selama mengenal Vina. Ini juga pertama kali Radit menyisir rambut istrinya itu.


"Maksud kamu?"


"Aku curiga, Ira tiba tiba resign. Itu adalah rencana kamu dan Tini. Dari tadi aku meminta dia untuk datang kemari. Pesanku dibaca tetapi tidak dibalas sama sekali," kata Vina membuat Radit gugup. Beruntung Vina membelakanginya. Vina tidak bisa melihat wajah Radit yang gugup.


"Kami tidak tahu apa apa tentang Ira yang resign," jawab Radit berbohong. Benar bahwa Ira resign, itu adalah rencana Radit. Dan usulan itu dia dapat dari Tini. Tini memberikan usul itu karena melihat Radit datang ke rumah Vina hanya seperti mengisi absen. Datang dan pulang. Tanpa berbuat apapun yang bisa mendekatkan antara keduanya. Dan usulan Tini itu ternyata berhasil. Radit untuk pertama kalinya, bisa menyuapi Vina makan, memandikan bahkan memasang diapers hari ini. Jika Ira masih bekerja, bisa dipastikan Radit masih saja datang tanpa berbuat apa apa.


"Sudah," kata Radit ketika sudah selesai menyisir rambut Vina. Dia turun dari ranjang. Kemudian duduk dekat ranjang Vina.


"Terima kasih," kata Vina lagi. Entah sudah berapa kali dia mengucapkan terimakasih karena bantuan Radit hari ini. Radit hanya menatap Vina. Wajah mungil yang pertama kali Radit lihat ketika bertemu Vina, kini wajah itu sudah tembem dan berisi.


"Aku melakukan itu semua demi janinku Vin, Istirahat lah. Aku akan mengambil laptop sebentar ke mobil," jawab Radit. Vina hanya mengangguk, matanya mengikuti pergerakan Radit keluar dari kamar.


"Apa itu?" tanya Vina ketika Radit kembali ke kamar Vina. Radit tidak hanya membawa laptop tapi juga tas kecil berisi beberapa pakaiannya.


"Yang ini laptop dan yang ini tas. Tadi aku suruh pak satpam mengantarnya kemari," jawab Radit sambil menunjukkan barang barang yang dibawanya. Radit masih saja berbohong. Tas itu sudah dipersiapkan sebelumnya setelah mendapat kabar dari Ira.


"Untuk apa tas itu?"


"Sebelum pengganti Ira ada. Aku akan menginap di sini dan mengambil alih tugas Ira untuk sementara," jawab Radit cuek. Dia sudah duduk di bangku dengan laptop di pangkuannya.


"Papaku pasti tidak mengijinkan,"


"Kalau papa tidak mengijinkan. Terus yang bantuin kamu siapa. Kan gak mungkin juga papa. Bahkan juga mama pasti tidak kuat untuk membantu kamu jika bab."


Vina tidak menjawab perkataan Radit lagi. Dia berencana untuk meminta papanya secepat mungkin mencari pengganti Ira. Vina lebih memilih memejamkan mata daripada harus berbicara lagi dengan Radit. Dia tidak menyadari Radit tersenyum melihat dirinya.


Malam hari, Hendrik melihat Vina ke kamarnya. Hendrik memicingkan matanya ketika melihat Radit masih ada di kamar itu. Radit yang tahu papa mertuanya yang merasa heran karena keberadaan dirinya masih di kamar itu pura pura tidak melihat Hendrik.


"Kenapa belum pulang?" tanya Hendrik datar. Ini pertama kalinya dia bertanya sejak dua bulan yang lalu.


"Sebelum ada pengganti Ira. Biarkan aku yang membantu Vina pa," jawab Radit. Dia menutup laptopnya. Hendrik berbalik dari kamar itu. Dia merasa tidak tega untuk mengusir Radit. Hatinya luluh juga setelah perjuangan Radit selama sebulan ini. Lagipula Hendrik sadar, Radit lebih pantas membantu Vina dibandingkan dirinya.


Vina mendengar pertanyaan papanya dan juga jawaban Radit. Tidur bersama satu ranjang dengan Radit bukan yang pertama bagi dirinya. Tapi entah mengapa, hatinya tidak rela jika Radit semakin dekat dan dirinya tergantung kepada Radit. Bagaimanapun semua perbuatan dan perkataan kasar Radit masih jelas terekam di otaknya.


"Kamu tidur di sofa ruang tamu Radit. Aku akan memanggil kamu jika aku perlu bantuan,"

__ADS_1


"Baiklah. Segeralah tidur. Ibu hamil tidak bagus jika terlambat tidur," jawab Radit. Radit melangkah keluar. Vina akhirnya memejamkan matanya.


Tengah malam, Radit terjaga. Dia hendak buang air kecil. Radit masuk ke kamar mandi yang ada di kamar Vina. Setelah keluar dari kamar mandi. Radit melihat Vina yang terlelap. Radit tidak menghiraukan perkataan Vina sebelumnya. Dia naik ke atas ranjang Vina. Radit memeluk Vina yang tidur membelakangi. Ini pertama kalinya dia bisa memeluk Vina setelah hamil. Radit berencana akan pindah ke sofa ruang tamu sebelum Vina terbangun esok hari.


__ADS_2