Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Pencapaian Sinta


__ADS_3

Membayangkan empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Sinta harus rela berpisah dari orang orang yang dia sayangi demi melanjutkan pendidikannya. Hari hari hidup di luar negeri terasa asing walau ada suami, Andra dan juga Agnes bersama dirinya. Ternyata hidup tanpa Airia di negeri itu sangat menyiksa dirinya. Tidak hanya Sinta. Andre juga demikian.


Hingga mereka sudah satu tahun hidup di negeri orang. Airia tidak kunjung diantar oleh Andi sebagai janjinya dulu. Bukan karena Andi tidak bersedia menepati janjinya. Tapi Airia yang tidak mau. Bertatap wajah lewat video call, dengan cara itu mereka melepas rindu. Tetapi teknologi itu tidak bisa memuaskan rindu sepasang suami istri itu akan buah hati mereka. Padahal hampir setiap hari mereka melakukan video call. Ternyata hanya sentuhan dan dekapan yang bisa memuaskan kerinduan itu.


Sedangkan Radit dan Sean menepati janjinya kepada para istri mereka. Setelah Andre dan Sinta tinggal di tahun kedua di negeri itu. Dua pasang sahabat beserta anak anak mereka berkunjung ke negara itu. Mereka harus menunggu dua tahun karena Tini melahirkan anak kedua mereka di tahun pertama Sinta di luar negeri.


Tapi tidak semuanya janji itu ditepati. Dua pasang suami istri beserta anak anak mereka tidak bisa menginap di apartemen Andre. Apartemen itu terlalu kecil untuk menampung delapan penghuni baru. Radit dan Vina memboyong ketiga putra putrinya sedangkan Sean dan Tini hanya membawa Ayu Dewi bersama mereka.


Kedatangan para sahabat mereka bisa mengurangi kerinduan mereka. Tapi tidak untuk Airia. Kedatangan sahabat sahabat itu justru membuat keinginan mereka semakin menggebu untuk segera berjumpa dengan putri tercinta. Dan kerinduan itu juga yang membuat Andre dan Sinta bersemangat untuk cepat cepat menyelesaikan pendidikan mereka di negeri itu. Mereka sengaja mengabaikan permintaan Andi untuk mencetak cucu untuk papa Rahmat yang dilahirkan di luar negeri. Mereka fokus dengan tujuan keberadaan mereka di negara itu.


Sinta dan Andre dapat merasakan waktu seperti lambat berputar. Tetapi pencapaian mereka dalam menyelesaikan pendidikan itu layak untuk diacungi jempol. Sinta bisa menyelesaikan pendidikannya dua tahun setengah sedangkan Andre bisa menyelesaikan pendidikannya tiga tahun setengah.


Kini mereka sudah kembali ke negeri asal. Setelah tiga tahun setengah di negeri orang. Sinta dan Andre bisa merasakan hati mereka tenang kembali setelah kembali berkumpul dengan Airia. Gadis cilik itu sudah duduk di taman kanak-kanak. Tugas Sinta pun semakin bertambah di rumah menjadi seorang guru bagi putri sulungnya.


Sinta semakin sibuk. Menjadi wanita karir yang dulu diimpikan kini sudah terwujud. Sinta bahkan lulus menjadi seorang dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di kota itu. Andre memang tidak membatasi Sinta untuk berkarir. Andre hanya meminta supaya Sinta pintar membagi waktunya antara suami, anak anak dan karir. Pencapaian Sinta setelah perjuangan hidupnya yang pahit akhirnya membuahkan hasil. Kebahagian dengan keluarga kecil dan juga karir yang cemerlang. Dan pencapaian itu diraih Sinta di usia yang masih muda.


Dan sudah enam bulan, Sinta menjalani profesi sebagai dosen. Dan selama itu juga Sinta bisa membagi waktu dengan baik. Sinta memang hanya tiga hari punya jadwal mengajar di universitas itu. Dan empat hari full untuk keluarga kecilnya. Sinta tidak menyia-nyiakan waktu empat hari itu. Empat hari dalam seminggu digunakan oleh Sinta sebaik mungkin khusus untuk keluarga kecilnya. Mengunjungi kedua mertuanya yang semakin tua dan kadang mengunjungi orangtuanya di kampung di akhir pekan.

__ADS_1


Seperti saat sekarang ini. Sinta dan Andre beserta kedua putra putrinya berada di rumah papa Rahmat. Pasangan lansia itu sangat senang dikunjungi oleh anak, menantu dan cucunya. Mereka banyak membahas hal. Dan lebih sering membahas tentang universitas milik mereka sendiri.


"Andre, papa dengar ada lowongan untuk dosen ekonomi di kampus kita. Apa itu benar?" tanya papa Rahmat. Pria tua itu memang sudah mempercayakan sepenuhnya universitas itu kepada Andre. Andre memang sudah menjadi rektor di universitas itu. Tapi tanggung jawabnya lebih dari itu. Papa Rahmat hanya menumpang nama di struktur organisasi universitas tersebut. Tapi yang menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai pemilik universitas sudah sepenuhnya diambil alih oleh Andre. Pak Rahmat hanya menandatangani apa yang perlu ditandatangani.


"Benar pa. Dosen lama terbukti melakukan kecurangan dengan menerima suap dari mahasiswa untuk memperlancar urusan skripsi," jawab Andre. Papa Rahmat mengangguk setuju setelah mendengar sanksi yang sudah dijatuhkan kepada dosen tersebut. Baik pak Rahmat dan Andre memang tidak mentoleransi segala perbuatan dosen yang curang.


"Bagus nak. Papa suka caramu menangani masalah dengan bijak seperti itu. Biarlah itu menjadi pelajaran untuk dosen lain supaya tidak bermain curang," kata papa Rahmat memuji kebijakan Andre. Andre memang tidak memecat dosen tersebut. Tapi Andre meminta dosen yang bersangkutan untuk mengundurkan diri demi nama baik dosen itu sendiri.


"Kalau langsung pecat kasihan bapak itu pa. Dia pasti susah untuk mendapatkan tempat mengajar. Yang membuat aku mengambil keputusan final itu. Ternyata itu bukan yang pertama dia melakukan hal seperti itu," kata Andre lagi.


"Belum pa. Kita sudah membuka lowongan dan sudah ada beberapa kandidat yang sudah di interview. Tapi kurang cocok untuk mengganti bapak itu," jawab Andre. Dia juga sedikit pusing dengan pengganti sang dosen. Dari sekian banyak pelamar. Tapi satupun tidak berkompeten menurutnya.


"Bagaimana kalau Sinta yang menggantikan dosen itu?" tanya pak Rahmat. Sinta yang dari tadi hanya menyimak pembicaraan suami dan papa mertuanya seketika menatap wajah keduanya bergantian. Sedangkan Mama Ningsih tersenyum pertanda setuju dengan usulan papa Rahmat.


Andre berpikir dan menatap wajah istrinya. Bukannya dia tidak berpikir untuk itu. Tapi dia tidak ingin Sinta terlalu lelah bekerja. Seandainya Sinta mengajar di universitas swasta lainnya. Sudah dipastikan Andre akan langsung merekomendasikan Sinta sendiri.


"Aku rasa jangan pa. Airia dan Andra masih kecil. Aku sudah sibuk satu harian hampir enam hari satu Minggu. Jika Sinta seperti aku sibuk enam hari dalam seminggu kasihan anak anak," jawab Andre.

__ADS_1


"Bagaimana menurut kamu Sinta. Aku kira kalau hanya dosen biasa tidak full satu harian di kampus. Kamu akan berada di kampus ketika ada jam mengajar. Lagi pula sebentar lagi anak anak akan bersekolah. Jam bersekolah Airia dan Andra bisa disesuaikan dengan jadwal mengajar Sinta di kampus. Jadi siang hari Sinta tetap bisa bersama Airia dan Andra," kata papa Rahmat. Semua perkataan papa Rahmat sebenarnya masuk akal. Tapi Sinta mempunyai pandangan tersendiri akan tawaran tersebut.


"Maaf pa. Apa yang papa katakan itu benar. Dan apa yang dikatakan mas Andre juga benar. Tapi menurut aku pribadi. Alangkah baiknya jika kita memberikan kesempatan itu kepada orang lain. Bukan karena aku tidak mengabdikan diri ke almamaterku sendiri. Tapi kita perlu menjaga penilaian pihak internal kampus. Sebagian dari mereka pasti berpikiran jika pengundian diri dari dosen yang bermasalah adalah unsur kesengajaan atau penjebakan demi memasukkan aku menjadi dosen di sana. Kita harus berpikir ke arah sana demi kenyamanan para dosen dan staf bekerja pa," jawab Sinta sopan tapi pendapatnya sangat bagus.


Papa Rahmat dan mama Ningsih tersenyum. Mereka tidak menyangka jika Sinta mempunyai pemikiran lain untuk lowongan itu. Dari perkataan itu, papa Rahmat dan mama Ningsih bahwa Sinta bukan manusia egois dan rakus.


Sedangkan Andre merangkul bahu Sinta yang duduk di sampingnya. Andre menyadari jika Sinta semakin dewasa dan semakin bijak. Dia sangat bangga mendengar jawaban istrinya.


"Kamu makin pintar sayang," puji Andre tulus. Sinta hanya tersenyum mendengar pujian dan suami.


"Apa bisa lulusan dalam negeri untuk pengganti dosen itu?" tanya Sinta.


"Selagi dia memenuhi kriteria dan lulus test. Mengapa tidak?" jawab Andre.


"Bagaimana kalau Vina pa. Dia masih menganggur," kata Sinta lagi. Papa Rahmat yang sudah lupa akan sahabat menantunya. Menanyakan siapa sebenarnya Vina. Andre menjelaskan. Papa Rahmat tetap juga tidak mengingat. Mungkin karena faktor umur. ingatan melemah.


"Kalau Radit mengijinkan. Aku rasa tidak masalah jika Vina bisa lulus test," jawab Andre. Dia juga tidak keberatan jika Vina menjadi dosen di universitas milik keluarganya. Vina juga wanita yang pintar dan juga sudah lulus strata dua. Hanya saja dia melanjutkan pendidikannya di dalam negeri.

__ADS_1


__ADS_2