Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Keinginan Yang Sama


__ADS_3

Tidak terasa usia kandungan Cindy sudah tepat tujuh bulan. Semua anggota keluarga berkumpul di rumah papa Rahmat. Termasuk kedua orang tua Cindy. Andre juga mengundang sahabat sahabat terdekatnya Radit dan Sean. Sedangkan Cindy tidak mengundang siapapun kecuali kedua orangtuanya.


Doa keselamatan melahirkan untuk Cindy dan kesehatan sehat jasmani dan rohani untuk si calon bayi,dipanjatkan kepada yang Maha Kuasa. Andre dan Cindy terlihat sangat bahagia. Sangat sering terlihat Andre mengelus perut istrinya.


Bukan hanya Andre, Kenzo dan Rey juga terkadang mengelus perut Cindy. Mereka antusias menunggu kelahiran adik sepupunya.


Setelah acara adat tujuh bulanan selesai. Di ruang tamu mereka saling bercanda dan tertawa.


Papa Rahmat dan mama Ningsih sangat senang dan bahagia, mengetahui bahwa janin yang dikandung Cindy berjenis kelamin perempuan. Cucu perempuan pertama. Orang tua Cindy pamit pulang lebih awal, karena mereka akan melakukan perjalanan ke Singapura sore ini.


Di ruang tamu yang luas itu, keluarga Rahmat saling bercanda. Maya dan Bella juga Agnes saling bercanda. Sementara Bayu dan Andi terlihat sangat serius berbicara. Papa Rahmat asyik bersama kedua cucunya. Sedangkan Mama Ningsih pergi ke dapur entah mau ngapain.


Agak jauh dari ruang tamu, Andre juga asyik bercerita dengan kedua sahabatnya. Sibuk bekerja dan tidak mempunyai waktu yang banyak membuat ketiganya jarang bertemu. Cindy terasa asing dengan pembicaraan ketiga sahabat itu dan akhirnya pamit kepada Andre untuk beristirahat.


"Mas, aku ke kamar ya," pamit Cindy.


"Iya sayang," jawab Andre singkat. Cindy berdiri dari duduknya. Dengan perut yang besar, Cindy berjalan menuju tangga.


"Cindy, kemari!" panggil Bella. Agnes dan Maya menoleh ke Cindy. Cindy hanya tersenyum.


"Mau ke atas dulu mbak, istirahat," jawab Cindy kemudian dengan pelan menaiki tangga.


"Sudah beberapa bulan menjadi mantu di keluarga ini, selalu menjaga jarak dengan kalian berdua. Apa kalian terlihat menyeramkan di matanya mbak?" kata Agnes terkekeh setelah Cindy tidak terlihat lagi. Maya dan Bella bersamaan menjewer telinga Agnes. Agnes meringis kesakitan.


"Lepas mbak! sakit tahu," kata Agnes. Kedua mbaknya itupun melepaskan tangannya. Bayu dan Andi spontan menoleh ke arah mereka.


"Makanya, kalau bicara itu jangan asal. Cantik cantik begini dibilang menyeramkan." jawab Bella pura pura kesal. Mereka tahu Agnes hanya bercanda.


"Iya, iya maaf," jawab Agnes dan mereka pun kembali bercanda. Mama Ningsih yang sudah ada di ruang tamu hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Agnes terhadap kedua kakak iparnya.


Andre dan kedua sahabatnya masih bercanda. Mengenang kelakuan mereka bertiga semasa kuliah dulu, membuat mereka kadang tertawa terbahak-bahak. Diantara mereka bertiga hanya Andre yang sudah berumah tangga.


"Jadi kapan rencananya menikah Radit? Kalau Sean kan jelas belum punya pacar, tidak usah ditanya dia," tanya Andre ketika mereka membahas wanita wanita mereka dulu. Radit menggeleng kepala. Wajahnya sudah berubah sendu


"Orangtuaku tidak merestui aku bersama Donna, bahkan mereka akan menjodohkan aku dengan bocah ingusan yang masih sekolah" jawab Radit sedih.


"Jangan menentang orang tua Radit, terkadang mereka lebih tahu mana yang terbaik untuk anaknya," kata Sean. Mereka tahu bahwa Radit adalah seorang playboy. Entah berapa wanita yang sudah menemaninya tidur. Donna juga bukan wanita baik baik.


"Tapi aku hanya mencintai Donna, dan hanya dia yang bisa bisa membuat aku puas," jawab Radit pelan, takut yang lain mendengar pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Jangan terlalu mendewakan cinta dan mementingkan kebutuhan kepala yang di bawah itu. Kamu tahu Donna wanita seperti apa," Jawab Sean lagi. Andre terkekeh mendengar perkataan Sean.


"Terima aja Radit, orangnya cantik kan?" tanya Andre.


"Aku hanya masih melihat fotonya, belum pernah bertemu langsung," jawab Radit dan menghisap rokoknya.


"Andre, wanita yang bersamamu di depan kafe melati siapa?" tanya Sean. Andre terkejut. Tidak menyangka bahwa ada yang melihatnya bersama Sinta waktu itu.


"Yang mana?" tanya Andre pura pura tidak tahu.


"Aku lupa persisnya kapan, aku juga melihatnya turun dari mobilmu waktu di stasiun beberapa bulan yang lalu," jawab Sean. Demi apapun, jantung Andre berdetak lebih kencang. Pria itu takut, Sean mengetahui lebih banyak tentang dia dan Sinta.


"Hanya kedua kali itu, kamu melihatnya?" tanya Andre memastikan. Sean mengangguk. Andre sedikit lega.


"Dia saudaranya temanku. Kebetulan juga ketemu pas kamu melihatnya," jawab Andre.


"Kenalin donk, siapa namanya?" tanya Sean membuat Andre tidak suka.


"Kenapa bro? cantik ga orangnya?" tanya Radit. Baru kali ini dia melihat Sean sangat tertarik dengan seorang wanita.


"Bukan hanya cantik bro, manis juga. Bodynya wow," jawab Sean mengacungkan kedua jempol nya. Andre seketika tidak senang.


"Wah, jadi penasaran nih, Andre. Kenalin donk ke kita," sahut Radit penasaran. Andre semakin tidak senang. Tapi berusaha tidak menampakkan.


****


Hari yang sama, pada malam harinya di kediaman papa Rahmat. Andre dan kedua kakaknya terlihat serius berbicara di ruang keluarga. Bisnis yang dikelola Bayu sedikit bermasalah. Andre yang memang bidangnya di bisnis, diminta Bayu untuk memberi solusi atas masalahnya.


Sampai larut malam, mereka masih berdiskusi. Cindy yang ingin pulang ke rumahnya menghampiri ketiga Abang beradik itu.


"Mas, udah larut. Kita pulang yuk!" ajak Cindy.


"Kita nginap di sini saja sayang," jawab Andre setelah melihat jam tangannya.


"Pulang aja mas," sahut Cindy ngotot. Andi menggelengkan kepala melihat adik iparnya.


"Udah Andre, pulang saja. Besok sore kita bahas lagi," kata Bayu yang melihat Cindy cemberut.


****

__ADS_1


Sinta berkali kali memejamkan matanya tetapi belum juga terlelap. Kandungannya yang sudah berumur lima bulan semakin membuatnya tidurnya tidak nyaman. Bertukar posisi dari yang miring ke kanan dan ke kiri, tetap saja matanya tidak mengantuk.


Akhir akhir ini, Sinta sering merasa lapar tiap malam. Terkadang Sinta menginginkan makanan tertentu. Terkadang juga Sinta rindu dengan masakan Andre. Wanita itu, walau sudah ikhlas diceraikan oleh Andre tetap saja dia merindukan masakan Andre.


Bukan hanya itu, terkadang Sinta juga ingin dimanja dan disayang. Sadar diri dengan statusnya yang sudah janda. Sinta semakin menyibukkan dirinya dengan belajar memasak. Perlahan keinginan itu bisa terlupa tapi disaat tertentu keinginan itu muncul tanpa diundang.


Seperi malam ini, Sinta sangat ingin makan nasi goreng buatan Andre. Nasi goreng dengan campuran ikan teri nasi. Rasanya sangat enak menurut Sinta. Mengingatnya saja, air liur Sinta sudah menetes. Sinta melirik jam dinding, malam sudah larut. Sinta ingat, di ujung komplek ada warung yang menjual nasi goreng seperti itu.


Sinta turun dari ranjangnya, mengambil jaket dan kunci motor. Sinta segera meluncur ke warung tersebut.


Beruntung, walau sudah larut malam. Warung itu masih buka. Sinta memarkirkan motornya dan masuk ke warung.


"Bang, nasi gorengnya satu, pake telor dan ikan teri nasi ya!" kata Sinta memesan nasi goreng yang diinginkannya.


"Udah habis mbak, tinggal dua. Itupun sudah ada yang pesan," jawab Abang si punya warung. Sinta terlihat kecewa dan merapatkan jaketnya. Abang penjaga warung terlihat menyajikan dua porsi nasi goreng ke piring. Seketika Sinta ngiler dan menelan ludahnya kasar. Sinta masih berdiri ketika si pelayan mengambil ke dua porsi nasi goreng tersebut dan menyajikannya di meja si pemesan.


"Pesan yang lain aja mbak," saran Abang penjual. Sinta menggeleng. Abang penjual itu mengamati Sinta, dia paham bahwa Sinta sedang mengidam.


"Ikan terinya tinggal segini, mau? biar aku goreng," kata Abang itu lagi menunjukkan ikan teri yang tinggal sedikit. Sinta senang dan matanya berbinar.


"Mau bang, dibungkus ya," sahut Sinta senang. Sinta mengambil tempat duduk. Sesekali terlihat dia merapatkan jaketnya.


"Mbak, pedas atau sedang?" tanya penjual ketika mau memasukkan bumbu ke kuali.


"Sedang aja bang" jawab Sinta. Tiba tiba terdengar suara orang batuk dari meja di depan Sinta. Sinta melihat ke depan. Sinta terkejut melihat Andre yang hanya dihalangi dua meja darinya. Andre sedang minum air putih dan Cindy menepuk punggung Andre. Andre dan Cindy lah yang memesan nasi goreng tersebut.


Andre dan Sinta saling menatap. Sinta bisa dengan jelas melihat istri Andre. Hati Sinta berdenyut nyeri, dia menghadapi kehamilan dengan sendiri dan diceraikan pula. Sedangkan wanita itu merasakan kasih sayang Andre.


Cindy yang tidak tahu apa apa, dengan manjanya meminta Andre menyuapinya. Andre pun menyanggupinya dan tidak ingin Cindy curiga. Lagi lagi Andre seperti tidak mengenal Sinta. Sepasang suami istri itu kini selesai makan. Dengan mesra, Andre menggandeng tangan Cindy dan melewati Sinta. Walau sudah mantan, Sinta masih merasakan sakit melihat Andre dan Cindy.


Andre menyuruh Cindy duluan masuk ke mobil. Cindy menurut sementara Andre masih di kasir membayar pesanan mereka. Menunggu kasir mengembalikan uang kembalian, Andre menoleh ke Sinta yang duduk membelakangi nya. Andre juga merasakan nyeri di hatinya, melihat Sinta merapatkan jaketnya. Angin malam membuatnya kedinginan.


"Ini mbak, sudah siap," kata Abang penjual. Sinta berdiri dan merogoh sakunya. Mengambil pesanannya dan berjalan ke arah kasir.


"Berapa bang?" tanya Sinta. Dia tidak menyadari bahwa Andre masih berdiri di situ.


"Sudah dibayar mas ini mbak," jawab kasir sopan dan menunjuk ke Andre. Sinta melihat Andre sekilas.


"Terima kasih," kata Sinta, dan keluar dari warung. Di belakangnya Andre juga ikut keluar. Sinta ke motornya dan Andre ke mobilnya.

__ADS_1


Di dalam mobil, Andre berpura pura membersihkan kaca depan mobil tapi matanya tertuju ke arah Sinta yang sudah naik ke motor. Wanita yang memakai daster panjang itu tidak bisa menghidupkan motornya. Tidak mau Cindy curiga, Andre akhirnya menjalankan mobilnya.


Pembacaku yang tercinta. Aku minta like dan favoritnya ya!. Hadiah dan vote nya juga boleh. Terima kasih. Salam sehat.


__ADS_2