Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Cinta


__ADS_3

Radit masih duduk di ruang tamu itu. Tatapannya kosong. Hatinya juga hampa. Terlalu bahagia dengan kehadiran si kembar, membuat Radit tidak pernah membayangkan akan mendapatkan kejutan seperti ini. Radit bisa mengingat dengan jelas perkataannya di masa lalu. Di ruang tamu tempat duduknya sekarang, di tempat ini juga dia pernah berucap akan menceraikan Vina setelah melahirkan. Dan di tempat ini juga, Vina memberikan kertas gugatan cerai kepadanya.


Radit benar benar tidak menyangka, bahwa perkataannya akan terkabul. Dan yang paling menyedihkan justru Vina yang akan menceraikan dirinya. Berbanding terbalik dengan masa dimana mereka mengawali pernikahan ini. Radit yang tidak menganggap Vina, kini mengharapkan wanita itu untuk mengisi hari harinya.


Radit tidak berniat sama sekali untuk menandatangani surat itu. Radit mengambil surat ini dari map dan meremasnya. Kemudian melemparkan ke arah pintu utama. Kertas itu terjatuh tepat di kaki Tini. Tini mengambil kertas tersebut dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di luar rumah. Tini kemudian kembali masuk ke rumah. Melenggang masuk menuju ruang tamu tempat Radit duduk menahan sakit hatinya.


"Jangan buang sampah sembarangan kak Radit," kata Tini yang sudah mendekat ke Radit. Tini datang sendirian. Setiap pagi sebelum kuliah, Tini memang menyempatkan waktunya untuk ke rumah Vina. Membawakan sahabatnya itu ramuan khusus untuk wanita yang baru melahirkan. Ramuan hasil racikan mamanya Tini sendiri. Ketika Tini bercerita tentang Vina dan kondisi mama Rita yang sudah sakit sakit-sakit, mamanya Tini dengan senang hati meracik jamu yang sudah turun temurun di wariskan di keluarganya. Jamu itu ternyata manjur. Vina merasakan tenaga dan kesehatannya cepat pulih setelah mengkonsumsi jamu buatan mamanya Tini.


Vina benar benar beruntung mempunyai sahabat seperti Tini. Diantara sahabat sahabatnya hanya Tini yang sering berkunjung. Sinta yang juga sudah hamil tua fokus untuk persiapan melahirkan anak keduanya.


Radit tidak menjawab perkataan Tini, Radit mengisyaratkan Tini untuk duduk di sofa itu. Pikiran Radit masih saja ke gugatan perceraian yang diajukan Vina.


"Kamu benar tin, Vina tidak bersedia lagi menjadi istriku," kata Radit sedih. Suaranya pelan dan putus asa.Tini terdengar menghela nafas. Dari awal Tini sudah menduga bahwa Vina akan mengambil keputusan ini. Itulah sebabnya Tini bersedia menyuruh Ira untuk berhenti bekerja pada saat kehamilan Vina ketika berumur enam bulan. Tini dan Radit berhasil. Tujuan mendekatkan Vina dan Radit berhasil, tetapi tidak dengan hati Vina. Hati wanita itu teramat sakit dan belum sembuh.


Hendrik dan istrinya masih terdiam. Sama seperti Radit. Mereka juga tidak menyangka, bahwa Vina akan mengajukan gugatan cerai secepat ini. Selama ini mereka bisa melihat perubahan Radit dan perhatiannya ke si kembar. Ternyata itu tidak menjadi tolak ukur bagi Vina untuk melanjutkan pernikahan ini. Pernikahan yang banyak mengandung luka. Kalau bukan karena bayi bayi kembarnya. Vina bahkan tidak ingin melihat wajah Radit. Melihat Radit sama saja mengingat semua perbuatannya.


Tapi selama ini Vina berusaha bersikap biasa untuk tidak memperkeruh masalah. Vina hanya ingin fokus melahirkan tanpa ada debat, masalah atau gangguan apapun. Wanita itu berhasil mengontrol emosinya dan berhasil melahirkan secara normal. Vina tidak henti hentinya bersyukur, hamil karena pemerkosaan dari suami sendiri dan mendapatkan banyak hinaan sewaktu hamil tidak membuat wanita hamil itu mengalami baby blues.


Tini menatap Radit yang terlihat sangat kacau. Tini juga merasa kasihan melihatnya. Tapi Tini juga menghargai keputusan yang sudah diputuskan Vina. Tini juga menyadari, tidak mudah menyembuhkan hati dari semua perlakuan Radit. Wanita manapun di dunia ini tidak bisa memaafkan kesalahan itu dengan semudah membalikkan tangan.


"Itu tidak sebanding dengan perbuatan mu kak, ini pertama kalinya kakak kecewa dan sakit hati. Tapi kakak juga harus mengingat. Perbuatan kakak tidak hanya membuat Vina terluka. Mungkin ke depannya. Aku bisa menjamin bahwa Vina trauma dengan yang namanya pernikahan. Jangan kakak merasa korban, bahwa korban sebenarnya adalah Vina dan si kembar," kata Tini datar. Setiap berbicara dengan Radit, Tini selalu berusaha mengeluarkan kata kata yang bisa membuat Radit semakin menyadari kesalahannya. Radit menyadari atau tidak perkataan Tini selalu mengusik pikirannya.


Tini sudah bisa melihat Radit berubah. Tapi untuk meyakinkan Vina menerima Radit saat ini, Tini tidak akan bersedia membantu. Tini ingin melihat Radit berusaha sendiri untuk memperjuangkan Vina. Radit terlihat meremas rambutnya frustasi. Perkataan Tini seperti pisau yang menancap tepat di ulu hatinya. Dia tidak membantah kata kata itu. Karena memang itulah adanya.


Radit semakin merasakan dadanya semakin sesak. Di saat kecewa seperti ini, Radit menyadari betapa menderitanya Vina dalam pernikahan ini. Seperti kata Tini, bahwa Vina adalah korban. Korban perjodohan, korban pemerkosaan dan korban penghinaan. Radit ingin menebus semua kesalahan itu. Ingin berubah dan membahagiakan keluarga kecilnya. Rencana itu yang sudah tersusun dan selalu terlintas di pikirannya.


"Kamu benar Tini, tapi sampai kapanpun aku tidak menandatangatangani surat itu," kata Radit pelan membuat Hendrik terkejut. Hendrik memang sudah mulai luluh akan perubahan Radit, tetapi tetap saja Hendrik tidak terima jika Radit menggantung status putrinya. Hendrik ingin Vina bahagia dengan lelaki yang mencintai dan dicintai Vina. Jika laki laki itu bukan Radit, Hendrik berjanji akan membebaskan Vina untuk memilih siapa yang akan menjadi suaminya kelak. Walau jauh di lubuk hatinya, Hendrik berharap Vina memberikan kesempatan kedua kepada Radit.


"Tidak boleh seperti itu Radit. Jangan menggantung status putriku," kata Hendrik tajam. Tatapan menghunus tepat ke mata Radit. Radit menunduk. Dia tidak sanggup melihat tatapan itu. Radit juga tidak ingin papa mertuanya kembali marah dan menjauhkan dari Vina dan bayi kembarnya.


"Pa, ijinkan aku memperjuangkan Vina," kata Radit memohon.


"Kamu sudah mempunyai kesempatan beberapa bulan ini Radit. Jika Vina menggugat kamu dan menginginkan berpisah, itu karena dirimu yang belum bisa di percaya. Kalau aku bertanya. Apakah kamu mencintai Vina?. Pasti jawaban kamu belum mencintainya. Kamu hanya larut dalam kebahagiaan karena sudah menjadi ayah dari tiga orang bayi. Vina hanya tidak ingin menjalani pernikahan tanpa cinta. Dia sudah mencobanya. Tapi apa yang dia dapat?. Tanpa aku mengungkitnya kembali kamu sudah mengetahuinya. Jadi jangan memperjuangkan pernikahan ini. Kalau di hati kamu belum ada cinta untuk Vina," kata Hendrik tegas dan to the points. Melihat cucu cucunya. Hendrik sebenarnya tidak ingin jika Radit dan Vina berpisah. Hendrik juga pesimis jika ada laki laki yang mau menerima Vina dengan ketiga bayi kembarnya dengan tulus.


Deg.


Radit terdiam. Cinta. Kata yang belum pernah terucap dari bibirnya untuk wanita manapun. Bahkan Donna yang sudah pernah menjadi kekasihnya. Kata keramat itu belum pernah terucap dari mulutnya. Kini sang papa mertua bertanya tentang cinta kepada istrinya sendiri. Radit bertanya dalam hatinya tentang cintanya untuk Vina.


Radit sendiri tidak mengerti bagaimana mengartikan arti cinta yang dirasakan kepada Vina saat ini. Radit hanya merasa nyaman dan berbahagia karena si kembar. Dan juga penyesalan yang karena pernah menyakiti Vina. Radit terdiam. Hingga tidak menyadari bahwa Tini sudah keluar dari kamar Vina.

__ADS_1


"Kak Radit belum ke kantor?" kata Tini menyadarkan Radit yang termenung.


"Sebentar lagi. Aku ke kamar Vina sebentar. Jangan pergi dulu," jawab Radit. Tini mengangguk. Radit masuk ke kamar Vina.


"Vin," panggil Radit pelan. Vina menoleh. Vina sedang mengganti diapers Kalina.


"Ada apa Radit?"


"Aku tidak ingin menceraikan kamu Vin, tapi aku juga tidak ingin mengekang kamu dalam pernikahan ini. Ijinkan aku berjuang dan belajar mencintai kamu. Biarkan seperti ini dulu. Kita jalani menjadi orang tua bagi si kembar. Jika aku tidak bisa meluluhkan hati kamu. Aku bersedia, kamu ceraikan," kata Radit pelan.


"Radit, pernikahan bukan untuk dipermainkan. Lebih baik kita akhiri sekarang daripada membuang waktu untuk yang tidak jelas," jawab Vina tenang. Dia sudah selesai memasang diapers Kalina. Radit mengambil diapers yang kotor itu dan membuangnya ke tempat sampah.


"Untuk permintaan aku yang satu ini, aku tidak menerima bantahan Vina," kata Radit tegas. Dia mengambil tas kerjanya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas itu.


"Aku sudah membelikan rumah di sekitar sini. Kalian hanya membawa pakaian ke sana," kata Radit sambil meletakkan sertifikat rumah di sebelah Vina. Vina hanya menoleh tanpa berniat mengambil atau membaca sertifikat tersebut.


"Aku tidak bisa membantu kalian pindahan. Besok aku harus ke luar kota untuk mengecek cabang perusahaan yang baru," kata Radit lagi. Radit mengelus kepala Vina sebentar kemudian mencium pipi Kalina yang ada di pangkuan Vina. Kemudian Radit berjalan ke boks Elvano. Radit menggendong bayi laki lakinya dan mencium wajahnya.


"Jagoan ayah, jangan menyusahkan bunda kalian ya nak, ayah akan ke luar kota. Ayah mungkin agak lama pulang. Ayah bukan main main. Ayah kerja untuk mencari uang. Biar bisa beli susu untuk Elvano, Karina dan Kalina. Kalian penyemangat ayah," kata Radit sambil meletakkan Elvano di boks. Radit kemudian mengambil Karina. Dia menciumi wajah putrinya itu. Dibandingkan Kalina, Karina lebih mirip ke Vina. Sedangkan Kalina lebih mirip ke Radit dan Elvano.


Radit keluar dari kamar itu. Langkahnya berat. Radit berjalan gontai ke ruang tamu. Hendrik dan Tini masih di ruangan itu sedangkan mama Rita sudah masuk ke kamar untuk beristirahat.


"Papa, kalau ada istilah menjilat ludah sendiri. Aku ingin melakukan itu. Aku menarik semua kata kata aku yang menyakiti kalian. Papa adalah papa terhebat yang pernah aku kenal. Terima lah ini pa, sebagai permohonan maaf ku. PINnya ulang tahun Vina," kata Radit sambil menyodorkan sebuah kartu tipis. Hendrik seketika bingung dengan pemberian Radit itu. Dia tidak akan kembali ke lubang yang sama untuk keduakalinya.


"Bukan pa, bukan seperti itu. Ini uang papa.Aku tidak berhak untuk memegang ataupun menyimpannya," jawab Radit gelagapan. Dia takut papa mertuanya salah paham. Uang yang ada di ATM itu adalah uang yang dulu dikembalikan Hendrik kepadanya. Hendrik paham akan maksud Radit yang mengatakan uang itu haknya.


"Aku akan keluar kota pa, mungkin untuk waktu yang lama. Aku titip mereka untuk sementara pa," potong Radit cepat ketika menyadari Hendrik akan berbicara terkait ATM itu. Hendrik hanya mengangguk. Hendrik setuju Radit dan Vina berjauhan untuk sementara. Dengan berjauhan, Radit berharap keduanya bisa menyadari perasaan masing-masing. Jika tidak ada cinta, lebih baik pernikahan mereka diakhiri. Dalam hati, Hendrik tidak ingin baik Radit atau Vina semakin terluka jika menyadari perasaan yang sesungguhnya jika harus berpisah dalam waktu dekat ini.


"Terima kasih pa, sudah memberi kesempatan kepadaku," kata Radit serak sambil mengulurkan tangannya. Radit mencium punggung tangan Hendrik. Radit sangat terharu dengan sikap papa mertuanya.


"Aku pamit om," kata Tini ketika Radit mengajaknya keluar dari rumah itu.


"Kak Radit serius ke luar kota?" tanya Tini setelah merek sudah di mobil. Tini yang membawa mobil Radit. Melihat kesedihan di mata Radit. Tini menawarkan diri untuk menjadi supir Radit hari ini.


"Iya Tini. Aku titip mereka ya Tin,"


"Tapi, kenapa harus ke luar kota kak. Katanya ingin memperjuangkan Vina. Kalau kakak ke luar kota. Bagaimana Vina bisa melihat ketulusan kamu kak?" tanya Tini heran dan tidak mengerti jalan pemikiran Radit.


"Aku tahu tin, Vina setiap melihatku pasti selalu teringat dengan semua kejahatan aku. Aku hanya ingin Vina bisa lupa akan semua kejadian itu jika tidak melihat aku untuk sementara,"

__ADS_1


"Apa kakak sudah mulai mencintai Vina?" tanya Tini membuat Radit terdiam. Mendengar perkataan Radit tadi, Tini paham akan keputusan Radit yang akan ke luar kota.


"Aku tahu, pria penikmat wanita malam seperti kakak pasti tidak mengenal yang namanya cinta. Kalau dipikir pikir, hukuman untuk kakak terlalu ringan jika hanya menggugat cerai. Kalau aku jadi Vina. Aku pasti membuat kakak berganti nama" Tini kembali melontarkan perkataan pedas kepada Radit. Dia lupa jika dirinya sudah mengganti nama Radit.


"Kamu memang kalau ngomong pedasnya seperti makan cabe sekilo. Tidak melihat situasi dan kondisi. Kamu tidak lihat aku lagi sedih dan frustasi?" tanya Radit kesal. Tini menoleh ke arah Radit. Tini terkekeh.


"Hanya mendapat julukan penikmat wanita malam saja sudah marah. Cemen kamu kak Radit,"


"Kamu mengatai aku Cemen?" tanya Radit semakin kesal sambil menunjuk dadanya. Tini hanya mengangguk dan fokus melihat jalanan.


"Sembarangan. Dasar wanita...." Radit spontan mencari pegangan sebelum meneruskan perkataannya. Tini sudah menjalankan mobil itu dengan kecepatan yang sangat kencang. Untung jalanan yang mereka lalui saat ini sepi. Jika tidak bisa dipastikan pengendara lain akan mengumpat.


"Tini, jangan gila kamu," teriak Radit. Tini tidak perduli. Membawa mobil kencang seperti ini sudah hal biasa baginya. Itulah sebabnya orangtuanya tidak memberi ijin kepada Tini untuk membawa mobil sendiri. Tini kembali menjalankan mobil itu pelan ketika jalanan sudah terlihat ramai dengan pengendara. Radit akhirnya menarik nafas lega.


"Ternyata kakak masih takut mati," kata Tini sambil terkekeh. Dia merasa tidak berdosa setelah membuat Radit sport jantung.


"Manusia kalau masih waras pasti takut mati Tini," jawab Radit kesal.


"Baguslah. Kalau kakak masih waras. Itu artinya si kembar masih akan mendapatkan kasih sayang dari ayahnya."


"Apa pun aku akan melakukan yang terbaik untuk anak anakku Tini."


"Good. Termasuk untuk belajar mencintai bunda mereka,"


"Ya. Aku akan belajar," jawab Radit pelan. Tini bisa menangkap sesuatu yang tidak beres dari jawaban Radit.


"Adakah sesuatu yang membuat kakak maksud aku, masa lalu yang membuat kakak trauma mengenal cinta?" tanya Tini hati hati. Radit tidak menjawab.


"Jangan menyimpan sendiri kak, berbagi itu baik asalkan jangan berbagi cinta. Kakak bisa membagi masa lalu kakak kepadaku. Jika kakak tidak keberatan,"


"Kamu tidak kuliah,"


"Aku bisa bolos. Kak Andre yang masuk hari ini. Sesekali nepotisme tidak apa apa lah,"


"Kita ke kafe mbak Bella saja," kata Radit. Tini mengangguk.


****


Hai..hai para reader aku yang setia dan baik hati. Terima kasih karena masih mengikuti novel ini.Setelah membaca komentar kalian.. Akhirnya aku memutuskan novel ini berlanjut di sini. Terima kasih karena sudah setia membaca sampai bab ini. Maaf, jika aku tidak bisa membalas komentar kalian satu persatu. Tapi jujur, komentar positif kalianlah yang membuat aku bersemangat untuk melanjutkan Nobel ini.

__ADS_1


Sekali lagi, aku mengucapkan terima kasih. Mohon dukungannya dalam bentuk vote, like atau dengan setangkai bunga mawar.


Terima kasih.


__ADS_2