
Vina memandangi bayi bayinya yang sedang tidur. Vina tersenyum sambil membelai wajahnya bayinya satu persatu. Mereka kini sudah kembali ke rumah. Karena persalinan normal. Vina hanya dua hari dua malam dirawat di rumah sakit. Dan kini usia bayi itu juga sudah berumur tiga Minggu. Berat mereka juga juga sudah bertambah beberapa gram. Ketiga bayi kembar itu terlihat sangat rakus. Mungkin karena sudah terbiasa berbagi sejak di kandungan. Ketiga bayi seakan berlomba untuk menyusu ke Vina. Walau asi Vina tidak mencukupi untuk ketiga bayi kembar tersebut. Vina selalu memberi mereka asi. Vina bertekad. Jika ASI-nya tidak mencukupi untuk satu tahun ke depan, minimal Vina akan memberikan asi eksklusif untuk ke bayi kembar tersebut selama enam bulan.
Vina benar benar bahagia. Kebahagiannya melebihkan hal yang pernah membuatnya berbahagia. Rasa sakit dan kecewa atas perbuatan Radit teralihkan hanya melihat wajah wajah imut. Wajah imut yang membuat Vina terus bersyukur. Walau bayinya bukan merupakan hasil dari percintaan dirinya dengan Radit. Vina akan mencurahkan cinta dan kasih sayang untuk ketiga bayi tersebut.
Vina hendak melangkah keluar kamar, langkahnya terhenti karena suara tangis bayi laki-lakinya. Tidak ingin bayi yang lainnya terganggu. Vina mengambil bayi laki laki tersebut dan membawanya ke luar dari kamar. Jika ketiga bayinya bersamaan menangis, Vina akan panik walau ada dua baby sitter ikut membantunya. Vina selalu berusaha supaya bayi bayinya tidak menangis bersamaan. Dan jika itu terjadi maka suara bayi yang menangis akan bersahutan di rumah itu. Selain bising, Vina tidak ingin mamanya terganggu. Mama Rita yang saat ini sedang sakit sakit-sakit butuh istirahat yang cukup.
Vina duduk di ruang tamu sambil menonton. Susu menyusui yang dibuatkan pembantunya juga ikut menemani Vina bersantai. Vina memang sudah mempunyai pembantu khusus untuk mencuci pakaian mereka dan kebersihan rumah. Sedangkan untuk memasak ahli gizi yang langsung turun tangan. Sejak kelahiran si kembar, rumah sederhana itu semakin ramai. Beruntung mereka mendapatkan pembantu dan ahli gizi yang datang pagi pulang sore. Jika tidak entah dimana lagi dua orang tersebut tidur. Rumah Vina hanya terdiri tiga kamar. Rumah sederhana yang akhir akhir penuh dengan tangisan bayi kembarnya.
Vina tersenyum sambil menatap sang bayi. Menatap bayi itu seperti hiburan baginya. Dia tidak nampak kesakitan walau masih tiga minggu melahirkan. Kesehatan Vina memang sudah membaik. Vina menjaga pola makannya dan mengkonsumsi jamu selesai melahirkan. Vina dapat merasakan kegunaan dari jamu tersebut. Vina merasakan tubuhnya sangat sehat dan segar, Hanya saja tubuhnya masih gemuk. Apalagi setelah melahirkan dan menyusui. Porsi makan Vina bertambah. Tubuh mungil itu semakin terlihat membulat tapi manis.
"Nak, makanlah dulu. Ini sudah jam delapan," kata mama Rita sambil melirik jam dinding. Seharusnya Vina sudah makan sejak dua jam yang lalu. Mama Rita memang tidak bosan untuk mengingatkan Vina akan segala hal. Mulai dari makan, mandi bahkan untuk menyusui bayi kembarnya secara bergantian. Seperti ibu pada umumnya, mama Rita tidak ingin putrinya itu sakit.
"Belum lapar ma, tadi makan kue, jadi masih terasa kenyang sampai sekarang," jawab Vina santai. Matanya fokus ke telivisi dan sesekali melihat putranya yang belum juga tidur. Tangan Elvano bergerak seperti meraih wajah Vina. Perhatian Vina teralihkan. Vina justru bermain dan berceloteh. Mengajak bayinya berbicara layaknya orang dewasa. Bayi itu hanya menatap wajah Vina. Vina semakin bahagia dan menciumi wajah putranya. Mama Rita tersenyum melihat pemandangan itu.
"Kamu harus banyak makan Vina. Ada tiga bayi yang harus kamu kasih asi. Jika kamu malas makan. Maka asi yang dihasilkan tubuh kamu juga akan sedikit," kata mamanya lagi. Vina memang memberi bayi bayinya asi semampu yang dia punya. Nada bicara mamanya yang lebih penekanan tidak membuat Vina langsung makan. Dia benar benar masih kenyang.
"Iya ma, aku ngerti. Bentar lagi juga makan," kata Vina lagi. Matanya kembali fokus ke televisi. Mama Rita terlihat berdecak kesal dan menggelengkan kepala. Urusan makan, dari kecil Vina memang payah. Vina masih saja serius menonton. Mama Rita mengomel dan terus mendesak Vina untuk makan. Vina hanya menjawab iya terus hingga dia tidak menyadari bahwa Hendrik dan Radit sudah bergabung di ruangan itu. Setelah Vina melahirkan. Radit juga masih di rumah itu. Hendrik juga tidak keberatan, membuat Radit semakin betah dan senang.
Sama seperti Vina, Radit juga benar benar bahagia. Untuk melengkapi asi Vina yang tidak cukup, Dia membeli susu formula yang paling baik untuk ke tiga bayinya. Itupun Radit berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter anak. Radit memang benar benar memperhatikan gizi yang masuk ke tubuh bayi kembarnya. Selain itu, Radit juga memerintahkan ahli gizi yang bekerja di rumah Vina untuk mengolah makanan sehat dan bergizi untuk Vina. Supaya Vina cepat pulih dan juga menghasilkan kandungan ASI yang sangat baik dan bergizi. Radit tidak tanggung tanggung dengan urusan gizi untuk Vina dan ketiga bayi kembarnya.
"Vin, Makanlah. Biar aku saja yang pegang Elvano. Dari tadi mama sudah lelah hanya untuk menyuruh kamu makan," kata Radit sambil mengulurkan tangannya mengambil Elvano. Tatapannya tepat di wajah Vina. Vina menatap wajah Radit sekilas kemudian Vina memberikan bayi laki lakinya. Dia tidak menjawab perkataan Radit. Vina beranjak menuju meja makan. Di rumah itu hanya Vina yang belum makan malam.
__ADS_1
Di ruang tamu, Radit bersenandung sambil memberikan susu formula ke Elvano. Bayi itu sudah tertidur tanpa menghabiskan susunya. Radit masuk ke kamar dan meletakkan bayi itu ke boksnya. Kemudian Radit memeriksa kedua bayi yang lain. Radit tersenyum melihat bayi bayi itu. Wajah mereka menggemaskan untuk Radit. Kemudian Radit mengamati sekeliling kamar. Kamar yang kecil untuk lima orang. Tiga boks bayi membuat kamar itu sempit dan sesak. Belum lagi meja rias dan meja kecil dekat ranjang Vina.
Radit menghembuskan nafasnya pelan. Sejak Vina melahirkan. Radit Sebenarnya sudah berencana membawa Vina untuk kembali ke rumahnya. Rencana itu hanya tersusun rapi di otaknya. Untuk mengutarakan, Radit takut dan malu. Radit yakin, Vina tidak akan bersedia. Selain itu Radit juga takut Vina trauma akan perbuatannya dulu. Banyak kenangan menyakitkan di rumah itu. Setelah lama berpikir, akhirnya Radit berencana tidak akan membawa Vina dan ketiga bayinya ke sana. Demi kebaikan Vina.
Tanpa sepengetahuan Vina, Radit juga sudah membeli rumah yang lebih besar di kompleks yang sama dengan rumah Vina. Hampir sama besarnya dengan rumah Radit yang ditempatinya bersama Vina dulu. Radit berencana akan membawa Vina dan ketiga bayinya untuk pindah ke sana. Bahkan Radit berencana akan mengajak kedua mertuanya juga. Tetapi rencana itu juga masih tersusun rapi di otaknya. Perbuatan dan penghinaan yang sudah dilakukannya ke Vina dan keluarga. Membuat Radit tidak percaya diri untuk mengutarakan rencana itu. Radit menunggu waktu yang tepat untuk merealisasikan rencana itu.
Radit benar benar menyesal. Beberapa bulan terakhir ini bersama Vina, Radit bisa menilai sikap Vina. Wanita lemah lembut dan penuh ketulusan. Radit semakin nyaman bersama Vina. Sejak awal menikah. Vina memang selalu lemah lembut dan tulus, tapi justru akhir akhir ini Radit bisa merasakannya.
"Sudah tidur?" tanya Vina pelan setelah sudah berada di kamar. Radit mengangguk dan berjalan menuju ranjang. Vina juga melakukannya hal yang sama. Vina berbaring dan menarik selimut.
"Tidurlah. Aku akan memberinya susu," kata Radit. Bayi perempuannya terbangun dan menangis. Radit mengambil susu Elvano yang belum habis tadi dan memberikan ke Karina. Malam hari, Radit memang turun tangan untuk membantu mengurus ketiga bayinya. Bisa dikatakan, Radit yang sering terbangun untuk mengurus si kembar. Sedangkan untuk siang hari, Vina dibantu oleh dua baby sitter. Radit tidak membiarkan Vina kelelahan.
Radit berbaring di samping Vina, Vina memang tidak melarang Radit untuk tidur satu ranjang dengannya. Radit hendak melingkarkan tangannya ke pinggang Vina, tangan itu akhirnya terhenti. Radit seketika sadar, setelah melahirkan. Vina tidak pernah mengijinkan tangan Radit untuk bersentuhan dengannya. Jika ketahuan tangannya melingkar di pinggang Vina. Vina akan melepaskan tangan tersebut. Walau tidak kasar, Radit paham jika itu ada penolakan.
Radit merasakan sesak di dadanya. Membandingkan sikap Vina sebelum melahirkan dan sesudah melahirkan. Sebelum melahirkan Vina, tidak melarang dirinya untuk bersentuhan fisik. Bahkan selama hampir tiga bulan, Radit bisa memeluk tubuh Vina jika tidur. Tapi setelah melahirkan, Radit bisa merasakan bahwa Vina menjaga jarak dari dirinya. Membatasinya sentuhan fisik. Walau komunikasi mereka lancar. Radit sadar itu hanya sebatas si kembar. Selainnya Vina akan banyak terdiam, walau mereka tidur seranjang.
Malam hari, seperti biasanya. Radit akan selalu terbangun lebih dulu dari Vina jika salah satu dari bayi kembar itu menangis. Dengan telaten, Radit akan membuatkan susu untuk ketiga bayi kembar tersebut. Radit tidak membiarkan Vina untuk turun tangan. Radit merasa jika Vina harus banyak beristirahat pasca persalinan. Setelah selesai, Radit akan kembali tertidur.
Hingga pagi hari menjelang, Radit masih menyempatkan dirinya untuk memberikan susu untuk ketiga bayinya. Membawa ketiga bayi itu bergantian ke halaman rumah untuk mengirup udara pagi. Melihat hal itu, Hendrik merasa bersyukur dengan perubahan menantunya. Hendrik dapat melihat Radit sangat menyayangi ketiga bayi kembar tersebut.
"Radit, duduklah," kata Vina sambil melambaikan tangan dan menunjuk sofa yang di depannya. Vina duduk di ruang tamu Sedangkan Radit juga bersiap untuk kerja. Radit sedikit heran, kedua mertuanya juga sudah duduk bersama dengan Vina. Tidak biasanya Vina menyapa bahkan menyuruh dirinya untuk duduk di hadapannya.
__ADS_1
"Ada apa Vin?" tanya Radit setelah duduk. Vina hanya tersenyum sambil menatap Radit. Radit merasa senang dan bahagia melihat senyuman itu. Radit berharap dalam hatinya, bisa menikmati senyum itu untuk selamanya.
Radit merasa heran, Vina yang menyuruhnya duduk tetapi masih betah menutup mulut. Radit menatap Vina dan kedua mertuanya. Wajah datar mereka, membuat Radit berkesimpulan. Bahwa ada hal penting yang akan mereka bicarakan. Radit pun menunggu, siapa yang akan berbicara duluan. Hingga beberapa menit, Vina masih bungkam. Karena penasaran , Radit akhirnya bertanya.
"Ini Radit," kata Vina sambil menyodorkan map. Entah kapan map itu tiba tiba ada di hadapan Vina. Radit tidak menyadari dan melihat map tersebut. Radit terlalu fokus akan senyuman manis Vina. Radit kembali menatap wajah Vina, Wajahnya terlihat bingung. Sedangkan Vina menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Radit akhirnya menarik Map itu penuh penasaran. Radit kembali menatap Vina sebentar. Kemudian dengan perlahan membuka map tersebut. Radit terkejut setelah membaca isi surat tersebut.
"Vin?" panggil Radit pelan dan menunduk. Setelah membaca surat itu, Radit merasa kehilangan harapannya. Surat gugatan cerai yang harus ditandatangani. Hatinya terpukul dan sakit. Apa yang dikatakan Tini ternyata benar. Vina tidak mau lagi menjadi istrinya. Dan bodohnya. Dia sendiri yang sudah berjanji untuk menceraikan Vina. Radit tidak menyangka, akan mendapat surat seperti ini dari Vina. Kebersamaan beberapa bulan ini tidak membuat Vina lupa akan semua perkataan Radit. Termasuk bercerai setelah melahirkan. Radit bahkan tidak berniat lagi untuk menceraikan Vina. Tapi kenyataannya sekarang, Radit sudah menerima surat gugatan cerai tersebut.
"Tolong jangan di persulit ya Radit. Kamu tahu aku baru saja melahirkan," kata Vina setengah memohon. Radit mendongak dan melihat Vina. Radit ingin berteriak, berteriak bahwa dirinya tidak ingin menceraikan Vina. Berteriak bahwa dirinya akan berubah dan menjadi ayah bertanggungjawab untuk keluarga kecilnya. Radit melemas. Kepalanya tertunduk karena merasa malu. Dengan sombongnya dulu Radit berkata untuk menceraikan Vina setelah melahirkan. Kini dia yang diceraikan oleh Vina.
"Vina, tidak adakah kesempatan kedua untuk manusia kotor seperti aku?" tanya Radit serak. Tangisnya tertahan di tenggorokan. Dia membuang semua rasa malu dan kesombongannya hanya untuk meminta Vina bersedia memberikan kesempatan kedua baginya.
"Kesempatan kedua itu tidak semua orang memilikinya Radit. Aku hanya ingin mewujudkan keinginan kamu. Dan tidak ada kesempatan kedua bagimu,"kata Vina datar. Dia sudah bertekad dan memikirkan matang matang tentang perceraian ini. Radit terus menatap wajah Vina, Tidak ada raut kesedihan di wajahnya. Radit akhirnya menatap Hendrik. Sang mertuanya hanya diam. Hendrik Tidak berani lagi terlibat tentang rumah tangga Vina. Hendrik menyerahkan keputusan kepada Vina. Biarlah kesalahan Hendrik hanya menyetujuinya perjodohan antara Vina dan Radit.
"Anak anak sangat membutuhkan kita berdua Vin, aku minta maaf. Aku mau ingin membuka lembaran baru dengan kamu Vin," kata Radit sambil menatap Vina penuh harap.
"Aku tidak melarang kamu bertemu dengan anak anak. Aku hanya ingin memperjelas status kita Radit. Keputusan aku sudah bulat," kata Vina sambil berdiri dari duduknya. Dia masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam.
Vina mengucapkan kata maaf dalam hatinya. Bukan meminta maaf kepada Radit. Vina meminta maaf kepada ketiga bayi kembarnya. Vina tidak mampu untuk melanjutkan pernikahan ini lagi. Pernikahan tanpa cinta akan mudah goyah. Vina tidak ingin tersakiti lagi. Vina bisa melihat belum ada cinta di mata Radit untuk dirinya. Alasan bertahan karena anak anak membuat Vina merasa yakin untuk mengakhiri pernikahan ini.
__ADS_1