Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Demi Cinta


__ADS_3

Di rumah besar nan mewah, Tini menunduk. Dia mendapatkan ceramah dari sang papa. Dua bulan lebih dari insiden ciuman di tepi kolam sudah berlalu. Tapi sampai saat ini. Tini belum bisa memilih gaun atau kebaya yang akan dipakainya nanti di hari pernikahan. Dua jenis pakaian yang sangat dihindarinya. Tapi harus memilih salah satu atau dua duanya untuk pernikahan dan resepsi pernikahan yang akan diadakan di hari yang sama.


Sean yang duduk di sampingnya juga hanya bisa terdiam. Ceramah atau yang lebih pantas disebut omelan itu memang ditujukan untuk Tini. Sean menunduk mendengar sang calon mertua mengomeli calon istrinya. Dia sendiri juga tidak habis pikir, hari pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari. Tapi Tini tidak berniat sama sekali untuk memilih gaun yang ditunjuk mamanya. Dia hanya membolak-balik album tersebut tanpa menunjukkan salah satu diantaranya.


Sang mama terlihat berdecak kesal setelah Tini meletakkan album itu ke atas meja. Entah yang sudah berapa kali ini Mia membujuk Tini untuk menunjukan modelnya. Wanita tomboi itu sama sekali tidak mengeluarkan suara untuk gaun tersebut.


"Tidak ada yang cocok?. Atau sebaiknya kalian langsung ke butiknya saja?" kata papa Indra kesal sambil menatap Tini tajam. Mia sang mama juga sangat terlihat kesal. Karena Kebaya untuk lamaran Tini yang akan diadakan dua Minggu lagi juga belum ada. Tini dengan santainya menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tini seakan tidak memikirkan tentang gaun pernikahannya itu nanti.


"Aku rasa dia tidak ingin memakai gaun atau kebaya pa. Mungkin dia ingin memakai stelan jas." kata Rio sang kakak tertua. Dari tadi melihat Tini tidak berniat memilih salah satu model kebaya atau gaun, tebakan Rio bahwa Tini ingin memakai stelan jas. Rio bersabar untuk berkomentar.


Tini menjentikkan jarinya ke arah kakaknya dan tersenyum. Semua yang ada di ruangan itu membelalakkan mata. Apa yang dikatakan Rio ternyata benar. Sean menatap Tini bingung. Tidak mungkin kan mereka sama sama memakai setelan jas di pernikahan nanti. Bisa malu dia dan digosipkan penyuka sesama jenis. Sama seperti kedua calon mertuanya. Sean juga kesal. Tapi berusaha tidak menampakkan kekesalan itu.


"Sayang. Gaun atau kebaya itu hanya dipakai beberapa jam. Tidak bisakah kamu berkorban untuk memakainya sebentar saja?" bisik Sean lembut. Tini hanya menoleh tanpa menjawab. Jika dia menjawab, dia takut sang papa semakin kesal atau bisa menjadi marah. Yang lain masih menatapnya tajam.


"Dimana mana pernikahan itu harus memakai kebaya atau gaun pengantin untuk si mempelai wanita. Bukan memakai setelan jas. Bisa bingung para tamunya nanti. Yang mana mempelai pria dan yang mana mempelai wanita," kata Mia kesal. Dia tidak habis pikir dengan pemikiran Tini.


"Lagi pula kasihan keluarga Sean, tamu yang diundang pihak Sean nanti Anggun. Mereka bisa mengira Sean adalah laki laki penyuka jenis. Lagipula hanya memakai gaun apa sih susahnya," kata Indra menyambung perkataan istrinya. Dia berharap dengan penjelasan ini Tini mengubah keinginannya.


"Tidak perlu memikirkan kan tamu yang datang ma, pa. Yang penting kan, kalian tahu bahwa aku dan kak Sean berlainan jenis. Dan orangtuanya kak Sean juga mengetahui aku wanita tulen," jawab Tini tenang. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan penjelasan itu.


"Kalau wanita tulen tuh pakai gaun atau kebaya pengantin. Bukan memakai stelan jas. Jangan jangan kamu bukan wanita tulen ya Tini," kata Rio sambil tertawa. Tini mengambil album model gaun pengantin dari atas meja dan melemparnya ke Rio. Gerakan Tini yang cepat membuat Rio tidak bisa mengelak.


"Kalau bercanda jangan kelewatan kak. Dasar kakak durhaka," jawab Tini kesal. Rio tertawa terbahak-bahak. Sean yang melihat kakak beradik itu saling mengejek hanya bisa tersenyum. Karena sebagai anak tunggal. Dia tidak mempunyai lawan main untuk berdebat. Bersama Tini, Sean bisa merasakan seperti mempunyai adik sendiri sekaligus kekasih hatinya.


"Biarin. Siapa suruh tidak mau pakai gaun pengantin. Mau nikah cepat, tapi urusan baju aja dibuat ribet. Aku benar benar meragukan kamu tin. Nama Anggun tapi sifat tomboi. Sangat bertolak belakang," kata Rio lagi sambil menggelengkan kepala. Rio berharap dengan ejekannya, Tini terpancing dan bersedia memakai gaun pengantin.


"Masih berani mengejek aku. Sekarang juga. Aku minta kamu membayar utang kamu kak," kata Tini tajam dan menunjuk sang kakak. Rio dibuat tidak berdaya sehingga memilih diam. Utangnya yang banyak ke Tini membuat Rio tidak berkutik. Walau dia sudah bekerja di Perusahaan milik papanya. Rio masih mengandalkan gaji untuk memenuhi kebutuhan mewahnya. Berbeda dengan Tini yang lebih suka berpenampilan sederhana. Sehingga uang jajan jatah sebulan, banyak sisanya.


Indra dan Mia sama sama menatap putra putri mereka yang berdebat itu. Mereka sudah mengetahui jika putra tertuanya sering meminjam uang ke Tini.


"Sean, urusan gaun atau apapun itu. Aku serahkan ke kamu. Om pusing menghadapi cewek tomboi ini. Tapi yang perlu kamu ingat Anggun, jika kamu masih ngotot harus memakai setelan jas di hari pernikahan kamu. Maka tidak ada resepsi atau undangan tamu. Kalian hanya melangsungkan akad nikah. Sesudah itu terserah kalian. Mau salto sambil guling guling juga terserah," kata Indra kesal. Sudah dibujuk, diomeli dan diberi penjelasan tetap saja Tini tidak tertarik untuk memilih salah satu model gaun tersebut. Rio yang sempat terdiam kini tertawa terbahak-bahak.


"Baiklah om, aku minta ijin sekalian kepada pada om dan Tante. Mungkin nanti malam, aku akan terlambat mengantar Tini pulang. Andre dan Sinta sahabat kami berdua membuat acara di rumah barunya om." Sean meminta ijin kepada kedua calon mertuanya. Andre dan Radit memang sudah berencana membuat pesta untuk mereka berenam setelah acara memasuki rumah barunya selesai.


"Boleh Sean, tetapi jangan terlalu larut pulangnya. Dan pastikan dia mau memakai gaun di pesta pernikahan kalian."


Sean mengangguk pasti. Dia sudah menyusun rencana untuk menaklukkan Tini supaya mau memakai gaun. Sedangkan Tini terlihat cuek dengan saran sang papa.


Sama seperti Sean dan kedua orangtuanya. Tini juga sedikit pusing memikirkan acara pernikahannya nanti. Bukan acara itu yang membuat Tini pusing. Tetapi pakaian dan riasan yang tidak bisa Tini pergunakan. Membayangkan memakai kebaya atau gaun saja sudah membuat badannya terasa gatal. Apalagi jika memakainya.

__ADS_1


Setelah berpamitan kepada kedua calon mertuanya. Sean membawa Tini ke butik. Sean tidak perduli ketika Tini protes dan tidak mau turun dari mobil. Sean langsung turun dari mobil dan membuka pintu samping dekat Tini duduk.


"Mau turun sendiri atau perlu aku gendong," kata Sean sambil mengulurkan tangannya. Tini menepis tangan Sean pelan dan turun dari mobil.


"Untuk apa sih, kita kesini kak. Acara kak Andre dan Sinta sudah hampir mulai. Jangan sampai kita terlambat ke sana," kata Tini masih protes.


"Tidak akan terlambat. Kamu coba dulu salah satu dress di dalam butik itu. Anggap saja latihan memakai gaun,"


"Aku tidak mau kak," tolak Tini tegas.


"Hanya mencoba di ruang ganti. Jika kamu tidak nyaman. Kamu tidak perlu memakainya. Lagi pula apa susahnya hanya memakai gaun. Aku jadi sependapat dengan Rio. Jangan jangan kamu memang bukan wanita tulen,"


"Kok larinya kesitu sih kak, Kakak bisa buktiin nanti di malam pertama kita,"


"Iya itu pasti. Sekarang yang jadi pertanyaan. Kenapa kamu tidak bersedia memakai gaun,"


"Karena aku tidak biasa,"


"Ya sudah. Kamu harus membiasakannya. Dulu juga kami tidak terbiasa berciuman. Tapi sekarang kamu sudah biasa kan?. Malah kamu sekarang menyukainya. Begitu juga dengan memakai dress. Lama lama kamu pasti menyukainya. Ayo masuk. Kamu harus menuruti apa kata calon suami. Hanya mencoba di ruang ganti."


Dengan cemberut, Tini tidak berdaya ketika tangannya ditarik oleh Sean masuk ke dalam butik. Sean mengambil beberapa dress yang kira kira cocok dengan ukuran tubuh Tini. Sean mendorong tubuh Tini untuk masuk ke dalam ruang ganti.


"Aku sebagai tim penilai. Coba pakai. Aku akan menutup mata ketika kamu berganti baju," jawab Sean langsung menghadap dinding. Dia memejamkan matanya ketika Tini ingin membalikkan tubuhnya. Dia tidak menanggapi ketika Tini terus menggerutu.


"Apaan sih. Bunga bunga lagi," kata Tini kesal. Gaun yang dipilih Sean hampir semua bercorak bunga bunga. Tapi Tini tetap juga mencobanya. Sean melirik ke arah cermin tanpa bergerak. Setelah melihat Tini sudah memakai gaun itu. Sean menyambar kemeja dan celana jeans Tini yang tergantung. Kemudian dengan cepat, Sean keluar dari ruang ganti tersebut.


"Kak, kak Sean," teriak Tini dari dalam ruang ganti. Sean tersenyum mendengar teriakan itu diluar.


"Tini, keluar saja pakai gaun itu. Apapun kamu bilang. Aku tidak akan memberikan kemeja dan celana jeans ini," jawab Sean. Terserah Tini marah setelah ini. Dia bertekad akan mengubah penampilan calon istrinya itu minimal hanya di hari pernikahannya. Tidak mungkin dia menuruti keinginan Tini untuk sama sama memakai stelan jas. Sampai kapanpun Sean tidak akan sudi.


"Kak, tolonglah kak. Jangan begini," kata Tini frustasi. Sean tidak mendengar apa yang dikatakan Tini lagi. Karena Sean sudah keluar dari butik itu hanya menyimpan kemeja dan celana jeans milik Tini.


Sean kembali masuk ke ruangan ganti. Dia melihat Tini dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tini terlihat anggun seperti namanya memakai dress tersebut. Sean tersenyum Sedangkan Tini cemberut.


"Anggun. Aku tidak menyangka ternyata kamu bisa seanggun ini memakai dress. Tidak salah, Tante dan om menamai kamu Anggun. Ayo, keluar sayang," ajak Sean lembut dan tersenyum. Tini masih saja cemberut dan menepis tangan Sean yang hendak menggandengnya.


"Aku tidak mau kak. Kembalikan dulu kemeja dan celanaku,"


"Aku juga tidak mau. Kalau kamu tidak mau memakai dress ini. Ya sudah buka saja," kata Sean santai dan cuek. Tini memukul lengan Sean karena kesal. Jika dia membuka dress itu. Sama saja dia akan keluar dengan hanya pakaian dalam saja.

__ADS_1


"Kak,"


"Ayo keluar, pelanggan yang lain juga ingin memakai ruang ganti ini," ajak Sean sambil menarik tangan Tini. Tangan satunya membawa dress yang lain yang belum dicoba oleh Tini. Tini tidak bisa lagi menolak karena suara suara pelanggan yang keberatan karena dirinya terlalu lama berada di ruang ganti.


Sean menariknya hingga ke ujung butik. Butik itu juga menjual sepatu dan tas. Sean memilih flat shoes untuk Tini dan mengambil asal satu tas. Kemudian Sean membawa Tini ke kasir. Ketika hendak membayar. Sean mencopot tag dress yang dipakai oleh Tini. Tini tidak protes tapi wajahnya sangat terlihat kesal.


Di dalam mobil, Sean mengamati penampilan Tini. Dress yang ujungnya dihiasi bunga bunga terlihat sangat sempurna di tubuh Tini. Walau wajahnya dirias seadanya tanpa pewarna bibir. Setelah memakai dress itu Tini terlihat sangat cantik. Sean memutar tubuh Tini untuk menghadap kepadanya. Sean kemudian menarik kaki Tini dan meletakkan di pahanya. Sean membuka sepatu kets Tini dan memasangkan flat shoes yang tadi dibelinya. Sean sengaja membeli yang flat supaya Tini merasa nyaman dengan gaun itu. Bagaimanapun ini yang pertama baginya memakai dress. Sean berusaha memilih bahan dress yang lembut dan nyaman.


"Cantik," kata Sean. Tini menarik kakinya dari paha Sean. Sean kemudian mengambil ransel Tini dan memindahkan ponsel dan dompet ke tas baru yang dibelinya tadi.


"Puas?" bentak Tini masih kesal. Sean terkekeh dan mengangguk.


"Terima kasih sayang. Setelah ini. Kamu pasti akan terbiasa memakai dress,"


"Tau ah. Malas." Sean tertawa. Dia merasa puas melihat penampilan kekasihnya hari ini. Sean memfoto Tini dan mengirimkan gambar itu ke calon papa mertuanya. Hingga tidak berselang dua menit sang calon mertuanya melakukan panggilan video.


Sean langsung mengaktifkan kamera belakang untuk menunjukkan penampilan Tini. Di ponsel Sean terlihat kedua calon mertuanya dan Rio berebutan melihat Vina. Ketiga orang itu tertawa terbahak-bahak dan senang. Sedangkan Tini hanya melirik sinis ke kedua orangtuanya.


"Puas?" tanyanya lagi ke arah kamera.


"Sangat puas," jawab ketiga orang tersebut bersamaan. Indra menyuruh Sean untuk mengaktifkan kamera depan.


"Sean, terima kasih banyak nak. Kamu memang orang yang tepat untuk putriku," kata Indra tulus. Dia semakin menyukai calon mantunya ini. Sean akhirnya menyudahi panggilan video itu.


"Sayang,"


"Hmm,"


"Nyaman kan?" tanya Sean sambil menjalankan mobilnya menuju rumah baru milik Andre dan Sinta.


"Sejauh ini sih, nyaman kak," jawab Tini. Wajahnya sudah seperti biasa.


"Sekali lagi terimakasih sayang. Cinta itu memang butuh pengorbanan. Termasuk mengubah penampilan, jika kamu bersedia. Jika tidak. Hanya di hari pernikahan kita dan hari ini. Aku mohon. Jangan menolak permintaan aku Tini,"


"Baiklah kak. Aku akan berusaha mengubah penampilan ini. Demi cintaku kepadamu kak," jawab Tini tenang. Sean adalah laki laki mendekati sempurna baginya. Penyayang, tenang dan bertanggung jawab. Selain itu mengingat kesalahannya yang merendahkan Sean dan dengan mudahnya pria itu memaafkan dirinya. Membuat Tini berpikir untuk berkorban mengubah penampilannya.


Sean tersenyum mendengar perkataan Tini. Seperti kata Radit. Dirinya adalah pawang Tini.


"Betulkan kak, Kita sudah terlambat," kata Tini setelah mobil itu terparkir di halaman rumah Andre yang baru. Mereka sudah melewatkan momen menggunting pita.

__ADS_1


__ADS_2