
"Mau kemana bunda?" tanya Radit ketika Vina mengikuti langkah mama Anisa keluar dari kamar mereka.
"Mau ke bawah sebentar yah."
Vina mensejajarkan langkahnya dengan langkah mama Anisa. Kemudian menggandeng wanita tua itu. Tapi tak lama kemudian. Radit juga mengejar langkah kedua wanita itu.
"Ngapain ikut ikut?" tanya mama Anisa ketika Radit justru melangkah mendahului mereka untuk menuruni tangga.
"Mau menguping pembicaraan kalian ma. Sepertinya selain ingin memberi Vina warisannya secara diam diam. Mama sepertinya bermaksud memberi warisan yang lain," kata Radit cuek sambil menuruni tangga. Tadi secara tidak sengaja Radit melihat mama Anisa memberi kode kepada Vina untuk mengikutinya.
"Sakit ma," kata Radit sambil meringis yang mendapat cubitan di lengannya.
"Benar. Mama akan memberikan warisan kepada Vina. Tapi warisan ini bukan harta benda. Mama akan mewariskan ilmu kepada Vina supaya kamu tidak berkutik dan tidak bisa dirayu oleh para pelakor di luar sana," kata mama Anisa.
"Benarkah ma. Aku mau. Yuk kita cari tempat strategis," jawab Vina sambil menggandeng mama mertuanya dan mendahului langkah Radit. Radit terkekeh melihat dua wanita kesayangannya itu.
"Silahkan, silahkan ma. Bun. Aku ke ruang kerja sekarang," jawab Radit senang. Radit merasakan hidup sangat berwarna. Kehadiran tiga bayi, cinta Vina kepadanya dan juga hubungan harmonis antara istrinya dengan sang mama. Perlakuan Vina kepada mamanya sangat terlihat natural. Hubungan Radit dengan kedua mertuanya yang semakin akrab membuat pikiran Radit semakin tenang.Radit melangkah kakinya ke ruang kerja untuk meneruskan pekerjaannya yang tadi tertunda. Sedangkan Vina dan mama Anisa menuju dapur.
"Papa mertuamu adalah tipe pria setia dan penyayang," kata mama Anisa sambil duduk di bangku. Vina mengeluarkan bahan bahan memasak yang disebutkan oleh mama mertuanya.
"Aku bisa melihat hal itu ma. Papa terlihat sangat menyayangi mama dan Radit. Dan aku juga merasakan kasih sayang papa dan juga kepada cucu cucunya. Mama beruntung mempunyai suami seperti papa. Dan aku juga beruntung mempunyai mertua seperti kalian ma."
"Terima kasih sayang. Semua itu ada usaha nak. Kalau kita ingin mendapatkan kebahagiaan. Ada usaha dan kerja keras untuk itu. Kita harus rela berkorban. Sebagai manusia biasa kita tidak bisa hanya berpangku tangan kemudian apa yang kita harapkan langsung kita dapatkan."
"Radit dan papa mertuamu mempunyai sifat yang hampir sama. Dan aku lihat, Radit juga sudah bucin akut kepadamu nak. Tapi walaupun begitu. Kamu harus tetap menghormati dan menghargai suamimu. Selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik."
"Ya ma. Aku mengerti."
"Aku percaya jika Radit juga akan menjadi pria setia dan penyayang. Kamu tinggal mengikatnya sedikit lagi supaya dia tidak bisa berkutik dan selalu hanya membayangkan dirimu nak," kata mama Anisa serius. Vina yang sudah selesai mengeluarkan bahan bahan masakan itu langsung mendekat ke mama mertuanya.
"Ayo ma, bisikkan ke kuping ku. Bagaimana caranya mengikat Radit," kata Vina semangat sambil mendekatkannya kupingnya ke sang mama mertua. Mama Anisa menyisikan rambut Vina ke belakang telinganya kemudian melihat sekeliling dapur. Memastikankan jika tidak ada orang di sekitar mereka termasuk Radit. Mama Anisa kemudian berbisik dan Vina terlihat mengangguk berkali kali.
"Iya ma. Nanti aku praktekkan," kata Vina sambil tertawa. Ide konyol mertuanya terdengar lucu tapi Vina tertantang untuk mempraktekkan. Sebenarnya Vina tidak begitu yakin untuk mengikuti ide sang mama mertua. Tapi demi menyenangkan suami dan membuat keluarga mereka semakin harmonis. Lagi pula ide sang mertua tidak menuntut dirinya harus mengubah sifatnya.
"Coba saja nak. Memberi pelayanan terbaik dan usaha menyenangkan suami itu adalah pahala. Bonusnya ya makin disayang dan dicintai. Dan juga jatah bulanan lancar seperti air kran," kata mama Anisa lagi. Vina hanya terkekeh.
"Tapi ingat nak. Jika kamu dapat jatah bulanan. Seberapa pun itu. Usahakan untuk menabung. Kamu punya anak tiga. Pasti pengeluaran dan kebutuhan lebih besar dibandingkan dengan mama yang hanya mempunyai anak satu. Jika sewaktu-waktu ada kejadian darurat seperti ini. Anak anak tidak terancam," kata mama Anisa menasehati menantunya. Kejadian saat ini bukan hanya yang pertama bagi mama Anisa mengalami perusahaan yang tidak stabil. Di masa mudanya.
__ADS_1
Perusahaan suaminya juga pernah mengalami hal seperti ini. Mulai dari saat itulah mama Anisa berpikir perlu mempunyai simpanan tanpa sepengetahuan suaminya. Dia tidak ingin kejadian relasi relasi suami yang mengalami kebangkrutan yang langsung miskin mendadak terjadi pada keluarganya. Dan nasehat dan pengalaman itu juga disampaikan ke Vina. Supaya Vina berjaga jaga untuk kelangsungan keuangan anak dan menantunya jika terjadi sesuatu dengan perusahaan.
"Terima kasih ma, atas semua nasehat ini. Aku berjanji akan berusaha mempraktekkannya," kata Vina terharu sambil memeluk mama mertuanya. Nasehat mertuanya masuk akal baginya. Bersamaan dengan itu. Vina juga sudah sudah selesai memasak. Disela sela menasehati. Mama Anisa juga mengajarkan memasak salah satu makanan kesukaan papa Jack dan Radit.
"Aku bahagia melihat kalian seperti ini nak. Jika ajal tiba. Aku sudah ikhlas. Karena melihat kalian berbahagia dengan bayi bayi yang lucu. Tanpa meminta. Aku yakin kamu bisa mendidik cucu cucuku dengan baik," kata mama Anisa sambil mengelus punggung menantunya. Vina langsung melepaskan pelukannya.
"Mama akan panjang umur. Dan aku yakin pasti makin sehat. Mama harus semangat untuk sembuh," kata Vina menyemangati sang mertua. Mama Anisa hanya tersenyum kemudian menyuruh Vina untuk mengantar dirinya untuk beristirahat di ruang tamu.
"Menginap disini saja ma. Papa seperti akan lama berbincang bincang dengan om Handoko. Lagipula kalian tidak pernah menginap disini selama aku sudah menjadi menantu kalian," kata Vina sambil membantu mama mertuanya berbaring. Vina kemudian menyelimuti mama Annisa.
"Tergantung papa mertua mu nak," jawab mama Anisa tersenyum. Vina mengelus lengan mama Anisa. Vina sangat bersyukur memiliki mama mertua seperti mama Anisa. Vina seperti mempunyai dua mama kandung rasanya.
Setelah mengantar sang mama ke kamar tamu. Vina menuju ruang kerja suaminya.
"Sepertinya malam ini akan dapat servis yang berbeda," kata Radit tanpa menoleh setelah mengetahui pintu terbuka. Matanya masih menatap laptop.
"Sok tahu kamu yah. Servis yang kamu maksud akan terwujud setelah luka kamu itu kering," kata Vina. Dia sudah memeluk leher Radit dari belakang kursi. Radit tersenyum dan mengelus punggung tangan Vina yang menjuntai di dadanya.
"Luka kecil seperti ini tidak akan menghalangi untuk mendapat jatah malam Bun," jawab Radit. Jari jarinya kembali mengetik di atas keyboard. Kemudian Radit memposisikan kertas di printer.
"Sini Bun," kata Radit sambil memegang tangan yang masih menjuntai di dadanya. Radit menarik tangan itu sehingga Vina bergeser ke samping kursi Radit dan kemudian Radit menarik pinggang Vina untuk duduk di pangkuannya. Selama menjadi suami istri. Jarang jarang mereka mempunyai tempat yang aman untuk bermesraan. Setelah di rumah ini mereka merasa bebas mengekspresikan rasa cinta mereka masing masing terutama Radit.
"Setiap manusia itu mempunyai masa lalu. Yang membedakan adalah baik dan buruknya. Masa lalu itu sudah terlewat. Masa lalu itu tidak bisa diubah bagaimanapun caranya. Yang terpenting adalah masa sekarang dan masa depan. Jangan sampai masa lalu itu terulang. Sewaktu kamu belum menikah. Memang tidak ada wanita yang menangis karena kelakuanmu. Tapi jika sudah menikah kamu melakukan itu. Aku pastikan ayah dikebiri seperti yang pernah ayah janjikan. Pisangnya dipotong keluar. Dan yang tinggal hanya biji salak yang dua itu. Dan jangan lupa. Tidak ada kesempatan lagi"
"Kamu menuliskan kata kataku dan meletakkan di sini?" tanya Vina setelah membaca isi kertas yang baru saja diletakkan oleh Radit di atas meja tersebut. Dia masih ingat dengan jelas kata kata itu.
"Kata kata itu kata kata bijak dari istriku setelah mendengar masa laluku yang kelam. Wajar jika aku harus mengingat itu."
"Tapi tentang pisang dan biji salak itu tidak perlu ada di situ yah. Aku jadi malu. Bagaimana kalau orang lain yang membaca itu."
"Aku justru suka dengan kata kata itu. Justru kalimat yang paling bawah itu yang aku suka. Ada maksud tersembunyi di balik kata kata itu Bun. Ada makna kecemburuan sekaligus kemarahan yang aku tangkap. Aku merasa sangat dicintai olehmu Bun," kata Radit sambil meletakkan bibirnya di leher Vina.
"Terserah kamu saja yah."
"Mama cerita apa tadi Bun?" tanya Radit lagi. Dia menatap wajah istrinya dengan lekat.
"Tidak ada cerita. Hanya menasehati saja yah."
__ADS_1
"Umur mama tidak lama lagi."
Vina terkejut dan jantung seperti melompat dari raganya. Dia mendorong kepala Radit dari lehernya. Dan menatap wajah suaminya yang sudah terlihat sedih. Vina kembali menarik kepala Radit dan membenamkan kepala suaminya di dadanya.
"Apa maksud kamu yah?" tanya Vina.
"Aku tadi naik ke atas bermaksud untuk bergabung dengan papa dan om Handoko. Aku tidak sengaja mendengar perkataan papa tentang kondisi mama yang sebenarnya. Mungkin mama juga sudah punya firasat makanya dia memberikan harta yang simpannya selama ini kepadamu," kata Radit sedih. Vina melingkarkan tangannya di tubuh suaminya setelah mendengar perkataan itu. Kondisi mama Anisa tidak jauh berbeda dengan mama Rita. Mereka sama sama hidup dengan satu ginjal. Hanya saja mama Rita nampak lebih sehat dibandingkan dengan mama Anisa.
Vina merasakan bajunya sudah basah. Radit tidak dapat menahan tangisnya setelah dari tadi sebelum Vina masuk menahan kesedihannya sendirian. Dalam situasi seperti ini. Vina juga tidak tahu harus berkata apa. Hatinya juga sesak membayangkan mama mertua yang begitu baik kepadanya akan tiada.
"Yah. Kita hanya bisa berdoa. Semoga keajaiban ada untuk mama," kata Vina juga dengan suasana hati yang sangat sedih. Dia merasakan kasih sayang mama mertuanya dengan tulus. Kehilangannya pasti membuat mereka semua sedih. Vina memegang kedua pipi suaminya dengan dua tangannya. Vina mengecup kedua mata suaminya secara bergantian. Kemudian Vina juga tidak dapat membendung air matanya. Suami istri menangis bersamaan membayangkan wanita sebaik mama Anisa akan segera meninggalkan mereka.
Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Vina untuk menguatkan Radit. Karena sejujurnya Vina juga butuh dikuatkan setelah mendengar kondisi mama Anisa. Baru saja mereka menerima jalan keluar akan perusahaan kini dihadapkan dengan kondisi kesehatan Mama mertua. Cobaan ini bertubi tubi menguji rumah tangga mereka.
"Aku janji Bun. Apapun keadaan mama saat ini. Aku akan serius untuk menjalankan perusahaan. Aku berjanji akan mengembalikan kejayaan perusahaan kita. Hanya saja aku mempunyai permintaan Bun," kata Radit. Vina mengulurkan tangannya untuk mengambil tissue dan mengusap air mata suaminya. Dari tadi Radit berpikir jika dia tidak boleh lemah. Ada tiga nyawa yang harus ditanggung jawabi ditambah istri tercinta. Radit tidak akan menjadikan kondisi sang mama untuk terpuruk. Justru Radit semakin bersemangat untuk bangkit. Dia ingin di saat saat terakhir sang mama. Mama Anisa bisa melihat Radit bangkit dari keterpurukannya.
"Permintaan apa yah?.
"Bisakah mama dan Papa tinggal di sini di hari hari terakhir mama?" tanya Radit. Vina mengangguk setuju. Setelah mengetahui kondisi mama mertuanya. Vina juga sudah mempunyai pikiran yang sama dengan Radit untuk meminta mama Anisa dan papa Jack untuk tinggal di rumah ini. Mereka berdua ingin berbakti untuk membantu papa Jack mengurus mama Anisa.
Tapi keinginan Radit dan Vina tidak terkabul. Setelah Handoko sudah pulang. Radit mengutarakan niatnya kepada sang papa.
"Tidak nak. Biarkan papa yang mengurus mama kamu sendirian sebagai bukti cintaku kepadanya. Kalian bisa menyempatkan waktu sesering mungkin ke rumah jika ingin menemani saat saat terakhir mama," kata papa Jack menolak permintaan Radit dan Vina. Radit dan Vina nampak kecewa. Tapi mereka juga tidak bisa memaksa Jack untuk menuruti permintaan mereka.
"Pa, tapi si kembar tiga juga perlu dekat dengan neneknya sebelum mama meninggal pa," kata Radit berharap papa Jack mengabulkan permintaannya.
"Dia istriku Radit. Biarkan papa mempunyai waktu yang lebih banyak dengannya. Dibandingkan kalian. Papa yang akan merasakan kehilangan yang sangat dalam jika mama kamu meninggal," kata papa Jack sedih. Setelah mengucapkan perkataan itu papa Jack menarik nafas panjang. Belahan hatinya tinggal beberapa bulan lagi hidup bersamanya. Dia tidak akan mensia-siakan waktu itu untuk berduaan dengan sang istri.
Radit dan Vina tidak bisa membujuk sang papa Jack. Mereka bertiga masuk ke kamar yang ditempati sang mama. Mama Anisa yang tidak tidur tersenyum melihat tiga orang yang sangat disayanginya itu.
"Mama dan papa menginap disini saja malam ini ya," kata Radit. Dia tidak perduli dengan papanya. Dia hanya ingin kesediaan sang mama untuk menginap di rumahnya malam ini. Jika mamanya bersedia. Papa Jack pasti tidak bisa menolak.
"Tergantung papamu nak."
"Baiklah untuk malam ini kami akan menginap disini," kata papa Jack akhirnya. Dia tidak kuasa menolak permintaan anaknya dan juga tatapan memohon dari sang istri.
Radit tersenyum senang. Dia mendekati ranjang dan meraih tangan mama Anisa.
__ADS_1
"Mama, besok aku akan menjumpai om Handoko dan putranya Rio. Kemungkinan besar perusahaan kita akan segera menjalin kerjasama dengan perusahaan mereka. Mama tidak perlu khawatir. Perusahaan kita pasti bangkit kembali. Aku ingin melihat mama bahagia melihat keberhasilan aku nanti," kata Radit tersenyum. Senyuman itu menyimpan kepedihan hati mengingat penyakit sang mama. Mama Anisa tersenyum.