
"Aku hanya ingin memotong rambutnya sedikit ma, tenang aja!. Aku tidak akan menyakiti pria brengsek ini. Kita harus melakukan tes DNA antara mama dan Andre. Aku takut Andre bukan anak mama, mungkin dia tertukar dulu waktu di rumah sakit. Sikap dan perilaku nya sangat berbeda dengan kita," jawab Andi santai
Andi mengarahkan guntingnya ke arah kepala Andre, secepat kilat Andre menghindar.
"Apaan sih kak ah, nggak lihat aku mirip seperti papa semasa mudanya?, Tuh lihat!" kata Andre kesal. Andre menunjuk sebuah foto besar terpajang di dinding ruangan itu. Foto pernikahan papa Rahmat dan mama Ningsih. Sontak semua mata menoleh ke arah foto tersebut. Memang benar. Papa Rahmat terlihat seperti Andre semasa mudanya.
"Gak ada test DNA, aku murni anak papa mama," kata Andre lagi sambil menarik gunting dari tangan Andi.
"Sudah, sudah. Andi duduk, jangan memperkeruh suasana," kata papa Rahmat tegas. Andi kembali duduk.
Papa Rahmat menarik nafas lega begitu juga dengan yang lain. Andre yang sedari tadi menahan pipis, berdiri dari duduknya.
"Mau kemana?, duduk!" perintah Bayu tegas
"Mau ke kamar mandi kak," jawab Andre pelan. Dengan tergesa Andre berjalan menuju kamar mandi.
"Sinta, maafkan kami nak, sungguh kami tidak mengetahui semua tentang ini," kata mama Ningsih sendu. Sedari tadi dia memperhatikan Sinta. Wanita tua itu bisa merasakan penderitaan yang dialami Sinta. Sinta mengangguk.
Berada di rumah mantan suaminya, Sinta merasa malu dan minder. Statusnya yang mantan istri simpanan Andre, jelas menunjukkan strata sosial yang sangat berbeda dengan mantan mertuanya. Papa Rahmat menarik nafas panjang. Masalah rumit ini membuatnya merasa terpukul. Terpukul karena terlambat mengetahui keberadaan Sinta dan baby Airia.
Andre kembali duduk di sofa yang ditempati sebelumnya. Sebelum duduk, Andre sekilas menatap Sinta, Sinta juga menatapnya. Sinta memalingkan mukanya sedangkan Andre masih mencuri pandang ke Sinta.
"Andre, sekarang bagaimana keputusanmu?" tanya papa Rahmat.
"Aku akan bertanggungjawab pa," jawab Andre cepat. Pandangannya mengarah ke Sinta. Raut wajah Sinta terlihat biasa saja ketika mendengar perkataan Andre.
"Bertanggungjawab seperti apa maksudmu," tanya papa Rahmat lagi.
"Airia adalah putri kandungku. Maka sepantasnya juga aku akan menafkahinya," jawab Andre.
"Kalau hanya menafkahi, kami selaku kakek dan neneknya bisa memberi lebih dari itu. Nikahi Sinta secara agama dan negara," kata papa Rahmat dingin. Sinta terkejut. Dia tidak menyangka papa Rahmat akan mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Maaf pak, ibu dan semuanya. Ijinkan saya berbicara sebentar," kata Sinta sopan. Papa Rahmat dan mama Ningsih mengangguk.
"Sebelumnya saya, meminta maaf. Keberadaan saya dan putriku, menjadi beban pikiran untuk bapak dan ibu," kata Sinta lagi. Sinta menarik nafas panjang. Jelas situasi ini sangat tidak diinginkannya dan membuat dirinya tidak nyaman.
"Pak Andre, sebelumnya juga saya minta maaf. Sesuai dengan perjanjian kita, sampai detik ini aku masih belum membuka mulut tentang pernikahan siri kita dulu. Pak Andre sendiri yang mengakui. Jadi saya tidak melanggar perjanjian itu. Dan untuk baby Airia. Kamu tidak perlu bertanggungjawab. Karena kamu juga sudah setuju bahwa saya tidak meminta pertanggung jawabanmu. Pengakuan mu atas putriku, itu sudah cukup bagiku," kata Sinta tegas. Tidak ada raut kesedihan waktu dia mengatakan itu. Dan Sinta merasa lega.
"Apa maksudmu Sinta?" tanya Bayu bingung. Dia belum bisa mencerna apa yang sudah dikatakan Sinta.
"Maaf, pak ibu dan semuanya. Tidak ada lagi pernikahan antara saya dan pak Andre," kata Sinta tegas. Dia tidak mau lagi berlama lama di rumah orang tua mantan suaminya. Andre mengangkat kepalanya menatap Sinta. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sinta kepadanya. Dulu sebelum bercerai Sinta bahkan memohon kepadanya. Tapi dengan sekarang, wanita muda itu dengan tegas menolak permintaan papanya.
Mama Ningsih menatap Sinta sendu, pertama kali melihat Sinta di rumah sakit, hatinya tersentuh melihat Sinta. Tutur katanya yang sopan dan perjuangan hidupnya yang rumit membuat mama Ningsih bersimpati ke Sinta. Dan hari ini dia mengetahui bahwa penderitaan dan perjuangan hidup yang rumit itu, putranya sendiri penyebabnya.
Agnes yang sedari tadi diam, juga tidak menyangka akan keputusan Sinta. Agnes menatap Sinta lekat. Begitu juga yang lain.
"Pikirkan, masa depan baby Airia nak, dia butuh status dan keadilan. Papa mengerti sakit hatimu." Papa Rahmat berkata sambil mengamati wajah Sinta. Dia berharap Sinta mengubah keputusannya.
"Pa, aku mau berbicara berdua dengan Sinta," kata Andre. Papa Rahmat mengangguk. Andre berdiri dari duduknya sementara Sinta masih duduk dengan tenang. Tidak ada niatnya untuk berdiri.
"Sinta, ikut aku!. Kita bisa berbicara di ruang tamu," ajak Andre.
"Dia putriku Sinta, kamu tidak bisa mengingkari nya," kata Andre sedikit terbawa emosi. Andre kembali duduk.
"Kamu lupa pak Andre, kamu pernah menolaknya dan berharap supaya aku menggugurkan. Sekarang kamu mengakuinya sebagai putrimu?, Oke terima kasih untuk itu. Perlu kamu ingat, dari dulu aku sudah berterima kasih karena pengakuan itu. Dan hanya pengakuan itu yang perlu darimu untuk Airia. Setidaknya dia punya ayah biologis, hanya itu." Sinta berkata sambil menahan sesak di dadanya. Niat keluarga Andre untuk memintanya nikah kembali bersama Andre tidak mempunyai pengaruh apa apa terhadapnya. Sakit hati dicampakkan ketika hamil muda sungguh menutup hatinya rapat untuk Andre.
"Surat perjanjian apa yang kalian maksud?" tanya Bayu bingung. Andre mengusap wajahnya frustasi. Sinta mengambil ponselnya dan membukanya. Sinta kemudian menyerahkan ponsel itu ke Bayu. Bayu terkejut. Bayu melihat di ponsel Sinta foto surat perjanjian. Bayu memperbesar foto tersebut. Dan matanya terbelalak membaca surat tersebut.
"Kamu memang benar benar bodoh Andre," kata Bayu geram. Andi mengulurkan tangan meminta ponsel Sinta. Andi dengan lantang membaca surat tersebut. Semua terkejut mendengar isi perjanjian itu. Mereka tahu, Sinta lah yang menang banyak atas isi surat tersebut. Dan Andre sama sekali tidak berhak akan bayi Airia.
"Aku setuju dengan Sinta, Andre tidak cocok dengan Sinta. Pria bodoh ini hanya cocok dan sepadan dengan wanita yang bernama Cindy. Sinta, kamu jangan khawatir!. Baby Airia adalah keponakan ku. Kapan saja kamu butuh bantuan , jangan segan segan untuk memintanya ke Bella," kata Andi. Dia sangat kecewa dengan Andre. Tangannya terkepal ingin memberi pelajaran ke Andre. Melihat mama Ningsih yang sedari tadi diam, Andi tahu bahwa mamanya itu sangat sedih dan kecewa. Andi tidak mau menambah kesedihan mama Ningsih dengan menghajar Andre. Matanya menatap Andre dengan tajam.
"Andi diam lah!. Sinta, Aku mohon sekali lagi. Pikirkan masa depan Airia. Bagaimana dia mendapat akte lahir. Jika kalian tidak menikah kembali," kata papa Rahmat sendu dan penuh harap. Bukan hanya sekedar akte lahir di pikiran papa Rahmat. Dia ingin Airia tumbuh dengan kasih sayang orang tua yang bersama.
__ADS_1
"Sinta, aku minta maaf atas semua penderitaan mu. Aku sadar itu adalah perbuatan ku. Aku mohon!, Menikahlah kembali denganku. Aku akan menikahimu secara agama dan negara," kata Andre sambil menatap Sinta. Sinta menggelengkan kepalanya.
"Maksudmu, kamu akan berpoligami?. Sedangkan memberitahu keberadaan Sinta dan baby Airia kepada Cindy kamu tidak mampu. Jadi pernikahan seperti apa lagi yang kamu tawarkan untuk Sinta, membantunya secara materi?, aku dan kak Bayu akan melakukan itu. Jadi kamu tetaplah ingat perjanjian mu dengan Sinta," sahut Andi marah. Tangannya menunjuk wajah Andre ketika berbicara. Andre terdiam.
Sinta tersenyum kecut. Dia membenarkan perkataan Andi di dalam hatinya. Tidak salah keputusan nya untuk menolak permintaan papa Rahmat.
Yang lain masih diam, menyadari posisi Sinta yang sangat menderita karena Andre. Membuat mereka bingung untuk mendukung permintaan papa Rahmat dan Andre. Jauh di lubuk hati, mereka ingin Sinta kembali ke Andre. Tetapi melihat sifat Andre yang tidak tegas membuat mereka ragu untuk meminta Sinta menerima Andre kembali.
"Aku akan memberitahu Cindy tentang ini semua, setuju atau tidak setuju aku akan menikahi Sinta walau tanpa ijinnya," kata Andre. Sungguh, dia tidak mau kehilangan baby Airia. Bagi Andre, dia boleh kehilangan momen waktu baby Airia di kandungan. Tapi untuk tumbuh kembang baby Airia, Andre berjanji dalam hatinya untuk berada di sisi putrinya.
"Itu, keinginan mu pak Andre, bukan keinginan ku. Kamu lupa?, dulu waktu aku pernah meminta kamu membuka hati untuk aku, kamu malah berbuat kasar terhadapku. Kedua kali aku meminta mu, kamu berkata bahwa akan ada laki laki lain yang akan menerima aku dengan tulus dan menerima aku apa adanya. Ketiga kali aku memintamu, bahkan saat itu aku sedang hamil muda, kamu berkata banyak hati yang kamu jaga. Kamu harus menjaga hati istrimu dan keluarga. Bahkan saat itu tanpa berpikir panjang kamu menceraikan aku. Pernahkah kamu berpikir?, bagaimana aku menjalani masa hamil seorang diri dengan status janda?. Dengan perut buncit aku harus naik motor untuk bekerja di kafe mbak Bella dan harus kuliah. Kesulitan itu, aku lalui dengan sendiri dan bantuan para sahabatku dan mbak Bella. Tapi untuk luka hati yang kamu berikan, tak satupun bisa mengobatinya. Dan kamu juga berkata bahwa kamu tidak akan menyesal. Aku sudah mengingatkanmu sebelumnya pak Andre,"
Sinta terdiam sejenak. Bayangan masa sulit setelah perceraian melintas di pikirannya. Sinta merasakan dadanya sesak. Air mata itu kembali tumpah. Sikap Andre yang dengan mudah memintanya kembali membuat dirinya merasa tidak berharga. Agnes yang mendengar perkataan Sinta, ikut menangis. Dia mendekat ke Sinta dan memeluknya. Walau Agnes sudah membuktikan Airia adalah putri Andre, tetap dalam hatinya merasa menyesal. Menyesal karena terlambat mengetahui keberadaan Sinta. Bukan hanya Agnes, mama Ningsih dan Bella juga merasa sedih mendengar perkataan Sinta.
Andre terdiam. Perlakuannya di masa lalu juga terlintas di pikirannya. Penyesalan itu kini ada. Tapi seperti kata Sinta, penyesalan itu tidak akan berarti apa apa bagi Sinta.
"Sudah Andre, Sinta tidak mau lagi bersamamu. Pulanglah. Manjakan lah istri tercintamu itu. Aku akan mendukung Sinta menikah denganmu jika kamu menceraikan Cindy. Wanita berengsek itu," kata Andi marah. Andre menatap Andi.
"Apa maksudmu kak, menyebut Cindy wanita berengsek?" tanya Agnes penasaran. Dua kali sudah Andi menyebut Cindy wanita berengsek membuat Agnes penasaran.
"Biarkan Andre yang membuktikan sendiri seberapa brengseknya Cindy," jawab Andi dingin. Papa Rahmat dan mama Ningsih juga penasaran. Hanya Bella yang biasa saja.
"Apa kamu tahu sesuatu tentang Cindy nak?" tanya papa Rahmat.
"Tanya sendiri ke dia pa, apartemennya terjual tapi uang tidak nampak, Dia telah dibutakan Cindy," jawab Andi sambil menunjuk Andre.
"Betul begitu Andre?" tanya papa Rahmat dengan suara meninggi. Papa Rahmat tahu betul Andre begitu bangga mempunyai apartemen dari hasil keringatnya sendiri. Dan tidak menyangka, Andre menjual apartemen tersebut. Andre mengiyakan pertanyaan papa Rahmat hanya dengan mengangguk.
"Papa tidak percaya kamu lagi Andre, hanya karena istrimu kamu menjual apartemen itu. Dan papa juga memintamu untuk meninggalkan universitas. Kamu bisa mencari universitas lain untuk mengajar," kata papa Rahmat kecewa. Andre mendongak menatap ayahnya.
"Jangan pa, aku mohon." Andre merasa tidak berdaya mendengar perintah papa Rahmat.
__ADS_1
"Jangan mengambil keputusan itu pa, bagaimana Andre menghidupi Cindy dan Alexa kalau dia harus meninggalkan universitas. Mencari kerja sekarang susah, bisa bisa dia menjual rumah pemberian ayah," kata Bayu. Sebenarnya Bayu merasa kasihan dengan Andre. Penampilan Andre yang kini berantakan membuatnya iba. Andre selama ini dikenalnya dengan pemuda yang baik.
"Sinta, kami masih berharap kamu mau menikah kembali dengan Andre," kata Bayu. Sinta menggelengkan kepala dengan cepat.