
Sinta, Tini dan baby Airia kini sudah di mobil Andre. Sinta mau dibawa ke mobil Andre karena sudah malu. Tidak ada alasan untuk menolak, untuk menunggu taksi atau berjalan ke luar kampus Sinta akan menjadi tontonan atau bahan gunjingan. Sinta akhirnya pasrah ketika Tini menarik tangannya untuk masuk ke dalam mobil andre.
Sinta merasakan jantungnya berdetak tidak beraturan karena kejadian tadi. Dadanya juga naik turun. Penampilannya sudah tidak terbentuk lagi. Rasa malu dan sakit hati kembali Sinta rasakan. Dia tidak menyangka setelah mengalami berbagai kesulitan selama mengandung baby Airia kini ada lagi masalah baru.
Sementara itu, setelah Andre menarik tangan Cindy. Semua mata yang berkerumun tadi terfokus ke Andre. Andre menyadarinya. Andre merasa sangat malu. Setelah berbicara sebentar ke Cindy akhirnya Andre sedikit berlari menuju mobilnya. Andre membuka pintu mobilnya dan langsung masuk ke dalam. Dia menoleh ke bangku belakang. Sinta yang berusaha merapikan penampilannya dan Tini yang berusaha membujuk Airia yang meronta yang ingin dipangku Sinta.
Hati Andre berdenyut nyeri melihat penampilan Sinta. Bekas cakaran jelas terlihat di pelipis dan hidung Sinta. Andre merapatkan giginya menahan marah terhadap Cindy. Sebenarnya bisa saja tadi Andre langsung menampar Cindy. Andre menahan amarahnya. Dia tidak mau wibawanya semakin jatuh hanya karena menampar perempuan. Apalagi Cindy masih berstatus istri sahnya.
Andre mengetikkan sesuatu di ponselnya. Kemudian menyimpan ponsel itu kembali ke sakunya. Andre mengulurkan tangannya untuk menggendong baby Airia. Seperti biasa, baby Airia menolak dan memilih lebih membenamkan kepalanya di dada Tini.
"Sinta, maaf. Ini semua salah ku," kata Andre sedih. Badannya masih berbalik melihat Sinta yang duduk di bangku belakang. Sinta tidak menghiraukan kata maaf dari Andre. Wanita itu masih menyisir rambutnya dengan hati hati.
"Benar pak. Ini semua salah bapak," jawab Tini. Tini sangat marah dengan Cindy. Walau Tini sedikit puas dengan menarik rok Cindy tadi. Dengan melihat keadaan Sinta, Tini ingin berbuat lebih lagi. Kedatangan Andre tadi membatalkan keinginan Tini untuk membuat Cindy lebih malu lagi.
Andre menghidupkan mesin mobilnya. Keluar dari kampus, tatapan mahasiswa masih tertuju ke mobil Andre.
"Kita mau kemana ini pak?" tanya Tini. Tini menyadari bahwa jalan yang mereka lalui sekarang bukan jalan menuju rumah Sinta.
"Kita ke rumah orang tua ku dulu. Cindy harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di sana," jawab Andre pelan. Tatapannya fokus melihat jalan.
"Tidak perlu pak, antar saja kami ke rumah," kata Sinta. Andre tidak menghiraukan perkataan Sinta. Dia tetap membawa Sinta ke rumah orang tuanya.
Andre menghentikan mobilnya. Papa Rahmat dan mama Ningsih sudah menunggu mereka di teras rumah. Andre sudah mengabari orangtuanya dan Andi tentang kejadian di kampus. Dengan malas Sinta turun dari mobilnya. Mama Ningsih mengulurkan tangannya mengambil baby Airia dari Tini. Baby Airia menjulurkan tangannya. Kini bayi itu sudah bergelayut manja di gendongan neneknya.
" Ya ampun, sampai begini Sinta?, Cindy memang keterlaluan," kata mama Ningsih geram. Tangannya kanannya menarik Sinta untuk masuk ke rumah. Papa Rahmat hanya bisa menggelengkan kepala melihat cakaran Cindy di wajah Sinta.
"Terima kasih ya nak, siapa namamu?" tanya mama Ningsih ke Tini.
"Tini Tante," jawab Tini sambil mengekor di belakang mama Ningsih dan Sinta.
"Silahkan duduk nak," kata papa Rahmat ketika mereka sudah di ruang tamu. Andre terlihat masuk ke ruang tamu dengan kotak obat di tangannya. Tanpa ragu Andre duduk di sebelah Sinta
"Tidak perlu pak, hanya luka cakaran kok, besok juga sudah sembuh," kata Sinta ketika melihat Andre hendak mengoleskan alkohol ke luka cakaran di wajahnya.
"Diam lah!, luka cakaran pun kalau dibiarkan bisa jadi infeksi," kata Andre. Sinta mengambil kapas itu dari tangan Andre.
__ADS_1
"Biar aku saja," tolak Sinta halus.
"Kenapa bisa sampai begitu. Bisa kamu ceritakan Tini," kata papa Rahmat. Tini pun bercerita mulai dari Andre menyapa mereka sampai kejadian duel itu terjadi. Papa Rahmat dan mama Ningsih sampai menggelengkan kepala mendengar cerita Tini.
"Kasihan Sinta dan cucuku," kata mama Ningsih sedih. Dia mendekap erat baby Airia.
"Keterlaluan Cindy Andre, bagaimana tindakanmu?" tanya Andi marah. Rasa tidak sukanya terhadap Cindy semakin menjadi jadi. Andre menghela nafas panjang.
"Kita dengar dulu penjelasannya nanti kak, aku juga semakin muak melihat kelakuannya seperti ini. Jelas jelas aku sudah jelaskan bahwa aku sibuk mengurus bisnis baru papa dan sering menginap di sini. Tetapi tetap saja dia mencurigai aku di tempat Sinta," jawab Andre.
"Apa kamu sudah melakukan apa yang aku suruh kemarin?" tanya Andi lagi.
"Melakukan apa kan?"
"Test DNA Alexa," jawab Andi singkat. Papa Rahmat dan mama Ningsih bingung. Mereka menatap Andre. Sinta dan Tini juga sama bingungnya seperti Papa Rahmat dan mama Ningsih.
"Apa maksud kamu Andi?" tanya papa Rahmat.
"Hanya ingin tahu saja pa, mereka menikah setelah Cindy hamil. Wajar kan kita curiga. Mana tahu benih orang lain tercecer di rahim Cindy. Kita kan tidak tahu," jawab Andi santai. Sinta semakin terkejut, tidak menyangka bahwa pernikahan Andre dan Cindy karena Cindy hamil terlebih dahulu.
"Aku sudah melakukan test itu kak," jawab Andre lesu. Andi merasa lega.
"Alexa memang putri kandungku," jawab Andre lagi. Andi memicingkan matanya.
"Benarkah?" tanya Andi tidak percaya. Andre mengangguk. Bersamaan dengan itu, Cindy masuk setelah mengucapkan salam. Di belakangnya baby sitter Alexa menggendong Alexa masuk ke rumah.
Semua orang yang duduk di ruang tamu memasang wajah tidak suka ketika melihat Cindy. Tanpa di suruh duduk Cindy menghempaskan badannya di sofa itu setalah mengambil Alexa dari baby sitter. Wanita itu seperti tidak tahu malu. Matanya menatap sinis Sinta yang duduk bersebelahan dengan Andre.
"Mau sama ayah?" tanya Cindy ke putrinya. Alexa berceloteh dan nampak berjingkrak di pangkuan Cindy. Cindy berdiri dan mendekat ke Andre. Cindy menyerahkan Alexa ke Andre. Bayi sepuluh bulan itu nampak senang. Ketika Cindy hendak kembali ke tempat duduknya. Cindy sengaja melewati Sinta dan menyenggol kaki Sinta. Sinta melotot dan memandang Cindy tajam sampai wanita itu duduk kembali.
"Apa mau kamu Cindy?" tanya Andi tajam. Andi bisa melihat kejadian barusan ketika Cindy menyenggol kaki Sinta.
"Kemauan ku seperti istri pada umumnya," jawab Cindy santai.
"Kemauan seperti apa yang kamu mau?" tanya Andre tajam.
__ADS_1
"Aku mau kamu seperti dulu mas, kamu berubah, kamu hanya memikirkan Sinta dan bayinya. Alexa butuh kasih sayang mu. Kalian sudah jadi mantan. Kenapa kamu selalu di rumahnya?" tanya Cindy sengit. Matanya memerah karena marah dan kesal.
"Aku sudah jelaskan bahwa aku hanya hari Sabtu menjumpai mereka tepatnya menjumpai putriku Airia. Beberapa bulan ini aku sibuk, aku di rumah ini. Ada bisnis baru yang kami kerjakan bersama dengan papa. Kenapa kamu tidak bisa mengerti,"
"Aku tidak percaya,"
"Cindy, apa yang dikatakan Andre itu benar semua. Kenapa kamu tidak bisa mempercayai suamimu?" kata papa Rahmat.
"Kamu tidak mempercayai Andre. Itu tandanya kamu juga tidak bisa dipercaya." Andi berkata tajam sambil menunjuk Cindy. Cindy menatap Andi tidak suka.
"Cindy, mama sangat kecewa denganmu. Kamu tega berbuat seperti itu kepada Sinta dan cucuku sama saja kamu menyakiti hatiku, tindakanmu itu tidak hanya membuat Sinta malu tapi semua keluarga besar papa Rahmat malu dengan kelakuanmu seperti itu. Apalagi kamu melakukan itu di kampus, tempat Andre mencari rejeki," kata mama Ningsih sedih. Matanya berkaca kaca menahan tangis. Rasa kasihan kepada Sinta membuat dadanya sesak.
"Aku juga kecewa sama mama, mama lebih membela wanita murahan itu dibanding menantu mama sendiri,"
Brakk.
Andre memukul meja pakai tangannya sendiri. Sinta terkejut dan memegang dadanya. Andre tidak menyangka Cindy bisa berkata seperti itu kepada mamanya. Papa Rahmat dan Andi memandang Cindy penuh kecewa. Andre memanggil baby sitter Alexa dan menyerahkan Alexa ke baby sitter tersebut.
"Cindy, berani kamu berkata seperti itu kepada mamaku?, Apa mau kamu?" tanya Andre marah. Matanya menatap tajam Cindy.
"Aku mau, kamu tidak berhubungan lagi dengan mantan istrimu. Kalau alasan putrimu kalian harus bertemu. Aku mau putrimu tinggal bersama kita. Jadi tidak ada alasan untuk kamu bertemu dengannya," jawab Cindy santai. Andi tertawa kencang. Tawa yang mengandung ejekan bagi Cindy.
"Wanita tidak punya hati kamu," kata Andi sambil menuding Cindy. Cindy tidak perduli dia hanya menatap Andi sinis. Sinta tentu saja terkejut. Dia tidak menyangka Cindy akan berkata seperti itu. Dia takut menunggu jawaban Andre. Apalagi dia tahu Andre sangat mencintai Cindy.
"Bagaimana Andre, apa kamu setuju dengan kemauan Cindy?" tanya papa Rahmat dingin. Sinta semakin takut. Jantungnya berdetak kencang menunggu jawaban Andre. Sinta menatap wajah Andre. Ini pertama kalinya dia menatap wajah Andre lama setelah mereka menjadi mantan. Sorot matanya memohon, Andre menoleh ke samping. Mata mereka bertemu.
"Aku tidak setuju pa. Baby Airia mempunyai bunda yang luar biasa. Tidak ada alasan untuk memisahkan mereka," jawab Andi. Sinta sedikit lega ada yang mendukungnya. Mama Ningsih juga mengangguk tanda setuju dengan apa yang diucapkan Andi. Tini yang merasa ini sudah pembicaraan keluarga. Akhirnya pamit ke taman belakang dengan membawa baby Airia.
"Bagaimana Andre?" tanya papa Rahmat. Andre masih terdiam. Dia memijit kepalanya yang sedikit pusing. Sinta semakin takut melihat Andre yang hanya diam.
"Sinta, kamu sudah banyak menderita selama ini. Sebanyak apapun kasih sayang kami terhadap Airia itu tidak bisa menyembuhkan luka di hatimu. Tapi percayalah!. Papa sudah menganggap kamu seperti putri kami sendiri. Airia akan mendapat hak yang sama dengan cucu cucuku yang lain. Apa yang menjadi hak Andre. Semuanya akan menjadi milik baby Airia," kata papa Rahmat tegas. Andi dan mama Ningsih terlihat mengangguk.
"Tidak boleh seperti itu pa, jadi Alexa dapat apa?" tanya Cindy sewot.
"Apa yang akan aku berikan kepada cucuku Airia, itu masih jerih payahku. Untuk Alexa, biar Andre yang memikirkan. Keputusan papa tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun termasuk Andre," kata papa Rahmat lagi.
__ADS_1
"Aku setuju saja dengan keputusan papa. Terserah papa," kata Andre pasrah. Cindy semakin kesal.
"Andre, aku rasa kamu salah memilih istri. Di keluarga kita mulai dari mama, Agnes, Mbak Maya dan Bella istriku adalah wanita berhati lembut dan baik. Juga tidak egois. Dan aku yakin baby Airia juga akan menjadi wanita yang baik kelak. Kalau Alexa aku tidak bisa jamin. Mamanya model begini, ajarannya pasti tidak jauh beda dengan pemikiran Cindy yang dangkal dan licik. Aku rasa, Alexa yang perlu dipisahkan dari mamanya," kata Andi lagi sinis. Sinta mendongak dan menatap Cindy. Sinta tersenyum mendapat pembelaan dari Andi. Ketika papa Rahmat dan yang lain lengah. Sinta menjulurkan lidahnya ke Cindy.